Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 61


Feri kembali dengan membawa obat di tangannya!


"Sebenarnya kami sedang melakukan misi," ucap, Feri.


"Misi apa?" tanya, Firman.


"Misi untuk membebaskan, Ibu dari segala ancaman yang membahayakannya."


"Maksud, Aa apa?" tanya, Indah.


"Indah, aku ini kakakmu kan. Kemarin aku dari Bogor, aku penasaran dengan orang yang sudah memisahkan, Ibu dengan kamu dan juga keluarga kita dan aku memutuskan untuk menyelidikinya dan ternyata dugaan ku benar. Bu Vina lah yang melakukan ini semua pada, Ibu," jelas, Feri.


Sari menatap, Feri dan air matanya mulai menetes membasahi pipinya.


"Kamu melakukan itu untuk saya dan Indah?"


"Aku sudah berjanji pada, Ayah Ridwan kalau aku akan menjaga, Indah dengan baik dan sekarang ceritanya berbeda karena ternyata, Ibu juga masih ada. Aku tidak bisa mengingkari janjiku pada, Ayah."


"Siapa kamu?" Sari meraih pipi, Feri lalu menguap nya dengan lembut dengan telapak tangannya.


Feri meraih tangan, Sari lalu menggenggamnya dengan erat.


"Aku anaknya, Ayah. Yang, Ayah ambil dari panti asuhan. Aku adalah anak yang terbuang yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang, Ibu ataupun Ayah. Untunglah, Ayah Ridwan datang dan memberiku kesempatan untuk merasakan hangatnya kasih seorang, Ayah."


"Nak." Sari mendekap, Feri dengan sangat erat diusap nya punggung, Feri dengan penuh cinta dan sesekali, Sari mencium rambut, Feri.


"Ibu tidak usah sedih, aku sudah menemukan, Ibu kandungku dan aku juga sudah punya, Ibu. Aku sangat beruntung karena dalam satu kehidupan aku memiliki dua, Ibu."


Mendengar perkataan, Feri membuat, Rendi merasa tertampar. Bagaimana bisa dirinya tidak bisa menerima, Feri dalam hidupnya sedangkan dirinya sudah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya sejak dari dia kecil, sementara, Feri dari dia lahir ke dunia dia sudah tidak mendapatkan belaian dari kedua orang tuanya.


Firman hanya diam sembari menatap, Sari dan Feri yang sedang berpelukan, dirinya sangat merasa bersalah pada, Feri namun dia tidak bisa menebus semua kesalahan itu. Rupanya anak yang terlahir dari istri simpanannya itu sudah terlanjur membencinya.


Feri melerai pelukan, Sari lalu menghapus air matanya dengan telapak tangannya!


"Ibu jangan menangis. Penderitaan, Ibu sudah cukup sampai di sini saja, aku tidak akan membiarkan, Ibu menangis lagi."


"Nak, terimakasih."


"Jangan berterimakasih. Sudah menjadi tugas seorang anak untuk membuat orang tuanya bahagia. Tersenyumlah karena aku gak bisa melihat, Ibu menangis," ucap, Feri.


"Dan kalian. Kenapa kalian hanya diam dan menonton drama ini? Indah, cepatlah obati suamimu," sambung, Feri.


Indah tak berucap, dia langsung mengambil obat itu dari atas meja dan langsung menayangkan perban pada luka di perut, Rendi.


"Jangan menangis, Bu. Aku mau pulang dulu karena, Mamaku sedang menungguku di rumah, aku gak mau dia khawatir padaku karena aku pulang terlambat," ucap, Feri.


Feri beranjak dari duduknya dan bersiap untuk pergi.


Baru, Feri melangkah satu langkah, Indah mencekal tangannya dan mencoba untuk menghentikannya.


Feri berbalik badan dan tanpa aba-aba, Indah memeluk laki-laki yang selama ini selalu menjaganya itu!


"Baru aku bilang sama, Ibu untuk tidak menangis, sekarang kamu yang menangis," ucap, Feri.


Indah tak berucap, dia terus memeluk, Feri dengan erat dan hanya ada suara ishak tangis dari, Indah.


Feri tak berucap lagi, dia membiarkan, Indah menangis di pelukannya.


Rendi dan Firman tak bisa berucap apapun setelah mendengar semua perkataan, Feri. Mereka berdua sama-sama merasa bersalah pada, Feri.


Setelah beberapa menit, Indah mulai berhenti menangis, dia mulai melepaskan pelukannya dari, Feri!


"Kamu membuat bajuku basah," goda, Feri.


Disaat seperti itu pun, Feri mencoba untuk menyembunyikan kesedihannya, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka semua.


Indah memukul dada, Feri pelan lalu memeluk, Feri lagi.


"Ndah, kamu sadar gak sih, suamimu cemburu tuh," ucap, Feri.


"Aa ih, Aa mah bikin aku kesal mulu," ucap, Indah.


Feri tersenyum lalu mengelus pipi mulus, Indah untuk menghapus air matanya.


"Om, Ren. Aku pulang ya."


Feri pergi dari ruangan itu untuk segera pulang karena, Tari sudah menunggunya di rumahnya!


Firman berjalan membuntuti, Feri dari belakang!


"Fer, tunggu," ucap, Firman saat Feri akan masuk ke dalam mobilnya.


Feri menghentikan gerakan tangannya yang akan membuka pintu mobilnya lalu menatap, Firman.


"Ada apa, Om?" tanyanya.


"Feri maafkan, Papa."


"Maaf untuk apa? Aku rasa, Om tidak pernah berbuat salah padaku."


"Panggil saya, 'Papa' Nak."


"Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak mau merebut kebahagiaan orang lain, aku sudah cukup bahagia dengan hanya memiliki, Mama. Permisi."


Feri langsung masuk ke dalam mobilnya lalu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Maafkan aku, Pa. Aku tidak bisa. Jujur aku juga sangat menginginkan keluarga kita bersama tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Rendi sangat menyayangi, Om Firman, aku gak mau menjadi orang yang merusak hubungan kalian," gumam, Feri sembari terus menyetir.


Dua puluh menit berlalu akhirnya, Feri tiba di depan rumahnya. Dia menghentikan laju mobilnya dan segera turun dari mobilnya.


Tari sudah menunggunya di teras rumahnya, senyum mengembang dari bibirnya saat melihat, Feri sudah tiba di rumahnya.


Feri berjalan cepat menghampiri, Tari lalu mencium punggung tangan sang ibu!


"Mama, kenapa di luar?" ucap, Feri.


"Mama menunggu kamu. Masuklah, kamu pasti capek."


Feri masuk ke dalam rumahnya lalu duduk di kursi yang ada di ruang keluarga.


Tari datang dengan membawakan teh untuk, Feri.


"Minum, Nak."


Tari baru ngeh kalau ada luka di wajah putranya, dia terkejut dan langsung meraih pipi sang putra.


"Astaga, Nak. Kamu kenapa? Kenapa banyak luka seperti ini? Siapa yang melakukan ini padamu?"


"Mama, jangan khawatir seperti ini. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja."


"Baik-baik saja gimana, ini kamu terluka. Diam di sini, Mama akan mengambil air untuk membersihkan lukamu." Tari segera pergi ke dapur untuk mengambil air hangat untuk membersihkan luka yang terdapat di kening dan sudut bibir, Feri!


Bersambung.


Rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca. Pastinya ceritanya seru dan gak ngebosenin.


Yuk mampir ke karya temanku ini!


Judul: posesif husband (ceo kejam jatuh cinta)


Karya: Rahayu Ningtiyas Bunga Kinanti


blurb:


harap bijak dalam memilih bacaan, terdapat adegan kekerasan, Kata-kata vulgar dan kotor


spin of novel Mr. Arogant


Alexander Yudista Miller. laki-laki yang menjabat sebagai CEO, calon pengurus perusahaan milik sang ayah. Alex terkenal dengan ketampanannya dan juga kekejamannya jika menghukum.


di balik wajah tampan Alex, laki-laki itu memiliki rahasia yang besar. perjalanan cintanya tidak sebaik kehidupannya. ia terpikat dengan seorang wanita yang sebenarnya ia hanya menginginkan anak dari wanita itu.


bagaimana kisah mereka? apakah mereka akan saling jatuh hati atau sebaliknya? skuyy langsung baca aja.