Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 64


Beberapa hati berlalu setelah, Feri dan Rendi berhasil menjebloskan, Vina ke penjara.


Kini mereka mulai menjalani kehidupannya seperti biasa, tak ada lagi rasa takut dalam, Sari karena yang selama ini dia takuti sudah mendekam dalam penjara.


Pagi itu, Sari sedang bersiap untuk pulang ke rumahnya setelah beberapa hari tinggal di rumah, Firman.


"Bu, Ibu yakin mau tinggal lagi di rumah itu?" tanya, Indah.


"Iya, sekarang kan tidak ada lagi yang perlu, Ibu takuti," sahut, Sari.


"Ibu, mau pulang bareng aku gak? Sekalian aku ke kantor," ucap, Rendi.


"Gak usah, biar Papa yang mengantarkan, Ibumu pulang," ucap, Firman.


"Yasudah kalau itu mau, Papa."


"Mas, nanti aku mau ikut ke rumah, Ibu ya. Mau bantuin, Ibu beres-beres rumah," ucap, Indah.


"Kalau mau ikut, ikut aja sayang," ucap,Rendi pada, Indah.


"Oh, ya Bu rumah sudah bersih dan rapi, Ibu tinggal merapikan sedikit saja," sambung, Rendi.


"Siapa yang membersihkan?" tanya, Sari.


"Kemarin aku nyuruh orang buat membersihkannya."


"Terimakasih, kamu baik banget."


"Itu sudah kewajiban aku sebagai anak lagi pula, kalau aku cinta sama anak Ibu aku juga harus sayang sama, Ibu juga kan."


Sari tersenyum ke arah, Rendi. Dia tak berucap lagi karena harus merapikan meja makan bekas mereka sarapan.


"Aku ke kantor dulu ya, Pa, Bu," ucap Rendi.


"Sayang, nanti setelah aku pulang dari kantor aku langsung jemput kamu ke rumah, Ibu ya," sambung, Rendi pada Indah.


"Iya, Mas terserah kamu saja, pulang sendiri pun aku tidak masalah."


"Nggak boleh, nanti kamu diculik lagi."


Rendi mencium kening, Indah sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan rumahnya.


"Hati-hati ya, Mas," ucap, Indah.


"Iya, sayang. Kamu juga," sahut, Rendi.


Rendi langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


*******


Di kediaman, Feri.


"Ma, aku berangkat ya," ucap, Feri kepada, Tari.


"Kalau capek, ambil cuti saja untuk beberapa hari," sahut, Tari.


"Nggak kok. Aku sama sekali tidak capek, Ma," sahut, Feri.


"Nak, Rendi itu kakakmu juga bukan hanya Bos mu. Kalau lelah dia pasti akan memberimu izin," ucap, Tari.


"Kalau pun dia bukan kakak aku, kalau aku minta libur ya dia pasti ngizinin, Mam."


"Dasar, keras kepala."


"Malah bercanda. Udah sana kalau mau kerja, ingat kerja yang baik agar cepat naik gaji."


"Gaji ku perbulannya udah cukup buat kita berdua, Mam."


"Udah ah, kalau bicara sama kamu tuh gak akan ada habisnya."


Feri tersenyum lalu segera pergi meninggalkan, Mamanya di tempat itu!


Tari menatap kepergian, Feri hingga sampai putranya itu tidak terlihat lagi.


"Kamu itu pandai sekali menyembunyikan kesedihanmu," gumam, Tari.


*******


Setibanya di kantor tempatnya bekerja, Feri langsung masuk ke ruangan kerjanya!


Feri duduk di kursi kerjanya dan mulai mengerjakan tugasnya.


Rendi datang ke ruangan itu, dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Feri menatap ke arah pintu karena dia mendengar suara pintu terbuka dengan sendirinya.


"Bos," ucap, Feri.


"Hari ini, gue yang tiba lebih dulu di kantor," ucap, Rendi.


"Benarkah? Apa yang membuat lo semangat seperti ini?"


Rendi berjalan mendekati, Feri! Dia berdiri dengan menyandarkan punggungnya di dinding dengan kedua tangannya yang dia masukan ke dalam saku celananya.


"Fer, sekarang masalah, Ibu Sari sudah selesai. Semua berkat lo, makasih ya."


"Gak cuma gue, lo juga ikut berperan kan. Ngapain harus berterimakasih, gue ini kan anaknya, Ibu Sari juga. Bukannya wajar ya seorang anak menyelamatkan, Ibunya dan seorang kakak berusaha membuat adiknya bahagia? Lo ingat kan kalau gue ini kakaknya, Indah? Ya walaupun bukan kakak kandung tapi gue sayang sama dia," ucap, Feri tanpa henti.


Rendi terdiam sejenak lalu kembali berucap.


"Fer, sebenarnya gue mau minta maaf sama lo," ucap, Rendi.


"Maaf untuk apa? Seingat gue, lo gak perlu melakukan kesalahan sama gue."


"Maaf untuk semuanya, maaf karena mungkin perkataan gue sudah menyakiti lo dan Mama lo."


"Gue bisa aja, gak merasa tersakiti oleh setiap ucapan lo karena yang lo katakan itu adalah benar."


"Tidak, Fer. Itu tidak benar, maafkan gue ya. Lo mau kan maafin gue dan menjadi adik gue yang sesungguh."


Feri tak langsung menjawab, dia terlihat sedang berpikir sesuatu.


"Fer, lo mau kan ajak, Mama lo tinggal sama, Papa? Gue sadar mereka saling mencintai dan saling menyayangi dan setelah gue pikirkan ternyata gue juga butuh seorang Ibu dalam hidup gue, ya meski bukan, Ibu kandung tapi lo mau kan berbagi, Mama lo sama gue."


Feri menatap, Rendi dengan tatapan tak percaya, dia merasa perkataan, Rendi barusan seperti mimpi dan tak akan pernah dia dengar dalam kehidupan nyata.


"Fer, lo mau kan bantuin gue buat menyatukan, Mama sama Papa?"


Feri tersenyum lalu mengangguk pelan.


Rendi juga tersenyum, dia merasa bahagia karena ternyata, Feri bersedia membagi kasih sayang, Ibunya.


Bersambung