Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 48


"Apa, Feri adikku? Papa gak salahkan?"


"Gue berharap ini salah tapi sayangnya ini semua benar," ucap, Feri.


"Jadi lo udah tahu?"


"Sudah tepatnya baru tahu setelah gue menemukan, Ibu kandung gue dan sialnya di hari yang sama, laki-laki yang mengaku sebagai, Ayah gue juga datang."


"Kapan lo tahu ini semua?"


"Waktu hari ulang tahun gue yang ke-dua puluh tiga tahun."


"Papa tahu kalian butuh waktu untuk menerima kenyataan ini tapi, Papa harap kalian bisa menerima satu sama lain toh, hubungan kalian sebelum ini baik-baik saja bahkan, Papa lihat sangat baik," ucap, Firman.


"Jujur aku masih belum bisa menerima mereka. Maaf aku pergi duluan." Rendi beranjak dari duduknya lalu pergi keluar dari rumah, Feri.


"Surya! Surya tunggu dulu," ucap, Firman sembari berusaha mengejar, Rendi.


"Mas, sepertinya dia tidak bisa menerima kami. Kamu pergi saja dan kejar anak kamu itu jangan sampai karena kami, kamu kehilangan kasih sayang dari, Rendi," ucap, Tari.


"Lebih baik, Om lupakan aku dan juga, Mamaku. Aku harap kita jalani hidup kita masing-masing seperti dulu lagi. Anggap saja kita tidak pernah membicarakan hal ini," ucap, Feri.


Firman merasa serba salah, dia tak tahu harus berbuat apa, dia sayang pada, Rendi tapi disisi lain juga sebenarnya dia sangat merindukan, Tari dan juga anaknya yang telah lama menghilang.


Firman memilih mengejar, Rendi yang sudah pergi dengan menggunakan mobilnya! Untunglah ada taksi yang kebetulan lewat ke sana dan, Firman pun langsung menyetop taksi itu.


"Lihat, Ma bahkan setelah puluhan tahun lalu dia tidak pernah bertemu denganmu, laki-laki itu lebih memilih mengejar anaknya yang setiap hari bersamanya," ucap, Feri.


Tari hanya diam di tempat duduknya.


"Aku tidak masalah, laki-laki itu mau perduli atau tidak padaku toh sejak dari dalam kandungan aku sudah kehilangan sosok seorang Ayah. Tapi, Mama ... Mama adalah wanita yang dulu menjadi korban keteledorannya dan dia juga sempat mencintai,Mama kan? Setidaknya dia merasa simpati atau sedikit saja dia membela, Mama dihadapan, Rendi tadi."


"Sudahlah, Feri. Mama tidak perlu dibela didepan siapa pun. Mama hanya ingin kamu diakui di dalam keluarga itu."


"Ma, seharusnya aku tidak usah kenal sama, Papa kandungku kalau ternyata dia adalah, Bos di kantor tempat aku bekerja."


"Jangan berkata seperti itu, Nak. Papamu bukan tidak sayang terhadap kita tapi dia tidak bisa menemukan kita karena, Mama yang sengaja menyembunyikan kamu."


"Alasan. Dia itu banyak uang, Ma. Dia bisa melakukan semuanya dengan menggunakan uangnya itu."


Feri masuk ke dalam kamarnya karena tak ingin berdebat dengan, Mamanya!


"Fer! Feri dengarkan, Mama dulu, Nak. Sayang!" Tari berjalan berusaha mengejar, Feri namun, Feri sudah lebih dahulu masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya!


Tari berdiri didepan pintu kamar, Feri. Tak ada satu patah kata pun yang dia ucapkan, dirinya merasa serba salah dan tak tahu apa yang harus dia lakukan.


*******


Rendi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia terus melaju kencang meski tahu dibelakangnya ada, Firman yang berusaha mengejarnya dengan menggunakan taksi.


Di dalam taksi yang, Firman tumpangi.


"Astaga anak itu nyetir kencang sekali," gumam, Firman.


"Pak, tolong tambah lagi kecepatannya ya, kejar anak saya itu. Saya takut dia kenapa-kenapa," ucap, Firman kepada supir taksi itu.


"Maaf, Pak saya tidak bisa menambah kecepatan karena keselamatan saya dan penumpang saya adalah yang utama dan lagi ini saya sudah mengemudi dengan kecepatan di atas standar."


Firman hanya bisa diam, dia tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan, Rendi pergi jauh.


"Pak, sekarang saya harus mengantar, Anda ke mana?" tanya supir taksi itu.


Firman tak langsung menjawab pertanyaan supir taksi itu, dia berpikir sesuatu, dia mengingat kemana, Rendi akan pergi saat dirinya merasa kecewa ataupun marah.


Tak lama kemudian, Firman mengingat bahwa, Rendi akan pergi ke makam, Mananya saat dirinya sedang ada masalah ya, Rendi pasti pergi ke sana untuk mencurahkan isi hatinya pada, Mamanya.


"Pak, anterin saya ke pemakaman xxx ya," ucap, Firman.


Supir taksi itu pun langsung mengarahkan arah laju mobilnya ke tempat yang akan dituju oleh, Firman.


*******


Di kampung.


Vina mulai gelisah karena dia tak kunjung menemukan, Sari. Orang-orang yang dia tugaskan untuk mencari, Sari tak satupun dari mereka yang tahu dimana keberadaan, Sari.


"Bu, kenapa sih udah berhari-hari, Ibu tuh bawaannya gelisah terus. Ada apa sih, Bu?" tanya, Vira.


Vina memang tidak pernah memberitahu, Vina tentang dirinya yang menyingkirkan, Sari demi masuk ke dalam kehidupannya, Ridwan.


Bukan tanpa alasan, Vina menyingkirkan, Sari dari kehidupan, Ridwan. Dirinya yang ditinggalkan oleh suaminya dalam keadaan punya anak yang harus dibiayai sengaja membuang, Sari ke hutan dan berusaha masuk ke dalam kehidupannya, Ridwan yang menang sudah kaya dari sebelum menikah dengan, Sari.


"Bukan urusan kamu. Sekarang kamu masuk kamar kamu dan beristirahatlah," ucap, Vina dengan nada judes.


"Bu, kalau ada masalah, ada baiknya diceritakan. Aku siap untuk mendengarkan semua keluhan, Ibu."


"Ibu bilang, Ibu tidak apa-apa. Pergi kamu dari sini!" Vina membentak, Vira karena anaknya itu tak juga pergi dari hadapannya.


*******


Firman tiba di tempat pemakaman dimana, Mamanya, Rendi dimakamkan.


Benar dugaannya, saat dia tiba di sana dia langsung mendapati, Rendi yang sedang memeluk nisan yang bertuliskan nama, Mamanya.


Firman berjalan menghampiri, Rendi lalu berjongkok di sampingnya.


"Papa tahu kamu sedih tapi ini kenyataannya menang seperti ini. Maafkan, Papa ya," ucap, Firman kepada, Rendi.


Rendi tak berucap, dia terus menangis sembari memeluk nisan itu.


"Lihatlah anakmu, Nandini. Dia menangis di hadapan kamu karena tak bisa menerima kenyataan bahwa aku punya anak dari wanita yang lain. Aku tahu aku salah tapi apa ini adil bagi mereka yang menjadi korban dari kesalahanku itu?" ucap, Firman kepada makam istrinya itu.


Firman mengusap rumput hijau yang tumbuh di atas tanah makam istrinya itu.


"Jika saja hidup bisa menawar, aku juga tidak ingin melakukan kesalahan itu, Nandini. Aku mohon maafkan aku." Firman menangis di sana. Mengingat masa lalunya yang kelam membuat luka lamanya mencuat lagi.


"Surya, Papa tidak berharap kamu mengizinkan, Papa kembali sama, Mamanya, Feri yang, Papa harapkan kamu bisa mengakui bahwa dia itu adalah, adikmu."


"Pa, tolong tinggalkan aku disini sendiri. Aku butuh waktu untuk sendiri," ucap, Rendi.


Firman berdiri! "Papa akan kasih kamu waktu untuk sendiri tapi ingat kamu harus pulang tepat waktu karena istrimu sedang menunggumu."


Firman mulai melangkahkan kakinya meninggalkan, Rendi sendiri di makam itu!


*******


"Bu, sebenarnya, Ayah sudah meninggal," ucap, Indah.


Terpaksa, Indah mengatakan bahwa, Ayahnya sudah meninggal karena, Sari terus menanyakan tentang, Ayahnya itu.


"Apa, Ayahmu sudah meninggal?" Tak terasa air mata, Sari meluncur begitu saja di pipinya.


"Bu, yang sabar ya. Aku tahu, Ibu pasti sedih mendengar ini."


"Tidak mungkin, Ayahmu meninggalkan kita secepat ini. Tidak mungkin." Sari menangis histeris.


Indah memeluk sang Ibu yang kini sedang menangis! "Ibu, ibu tenang dulu. Ibu jangan menangis."


Indah ikut menangis karena melihat sang Ibu menangis.


"Sudah lama, Ibu tidak bertemu dengannya tapi kenapa dia pergi meninggalkan, Ibu?"


"Bu, ini sudah takdir kita. Kita hanya bisa menerima semua kenyataan ini."


Sari menangis tersedu sedan di pelukan putri satu-satunya.


"Semua ini gara-gara kamu, Vina. Lihat saja suatu saat nanti akan ada masanya saat semua kejahatan kamu terbongkar dan kamu akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kamu itu," ucap, Sari didalam hatinya.


"Ibu sabar ya. Aku tahu, Ibu adalah wanita yang kuat. Ibu pasti bisa melewati semua ini."


"Ibu sangat merindukannya, Ibu sangat merindukan, Ayahmu, Nak."


Indah terus memeluk, Ibunya agar, Ibunya itu merasa lebih tenang.


Bersambung.


Hai teman-teman, selamat malam. Untuk menemani malam kalian setelah membaca Gadis Bogor, yuk mampir ke karya temanku yang satu ini!


Judul: Karet Nikah


Karya: Alya lii