
Feri menatap wanita di depannya tanpa berkedip satu kali pun, mulutnya bungkam dari seribu bahasa. Saat itu perasaan sedih, bahagia, tak percaya dan kecewa bercampur aduk dalam hati, Feri.
"Tari Ayunda, dia lah wanita yang menitipkan kamu ke pihak panti ini dua puluh dua tahun lebih tujuh bulan lalu. Dia lah orang yang selama ini kamu cari, Nak," jelas, Bu Salma karena, Feri hanya diam sambil menatap, Tari.
"Maafkan, Mana, Nak. Mana terpaksa harus melakukan ini padamu dan membiarkan kamu mencari-cari dimana keberadaan, Mama." Tari terus meneteskan air matanya, dia tak kuasa menahan kesedihannya.
"Mama," gumam, Feri.
Feri meneteskan air matanya yang dari tadi dia tahan agar tidak jatuh namun akhirnya air mata itu meluncur juga di pipinya.
"Nak, boleh, Mama memelukmu? Dua puluh tiga tahun, Mama menahan rasa ini." Tari merentangkan kedua tangannya di hadapan, Feri.
Feri menatap, Bu Salma dan Bu Salma menganggukkan kepalanya perlahan.
Grep!
Feri memeluk, Tari dengan sangat erat. Ini kali pertamanya dirinya memeluk orang yang selama ini dicarinya.
"Maafkan, Mama, Nak. Mama tidak bermaksud membuat kamu kehilangan sosok seorang, Ibu."
Feri hanya diam dia tak mengucapkan sesuatu apapun hanya terdengar suara isak tangis dari pemuda yang baru saja menginjak usia dua puluh tiga tahun itu.
Tari menangkup kedua belah pipi, Feri lalu mencium keningnya dengan penuh cinta. Rasa rindu terhadap putranya yang dia pendam selama puluhan tahun itu, kini bisa terobati.
"Aku mencari, Mama ke mana-mana namun aku tidak pernah menemukan, Mama. Mama tahu? Aku sangat tersiksa hidup sendirian tapi aku tetap bertahan karena ada orang yang masih menyayangi aku dan memperdulikan aku. Dia adalah, Bu Salma. Aku sudah menganggapnya sebagai, Ibu kandungku dan ada satu lagi, Ayah Ridwan. Dia adalah sosok Ayah terbaik yang pernah aku miliki." Feri berucap dengan air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Feri, anakku," gumam, Firman.
Feri terkejut mendengar perkataan, Firman barusan. Dia menatap, Firman yang kini tengah berjalan menghampirinya.
Tak ingin ikut campur dalam urusan mereka, Bu Salma memilih pergi dari ruangan itu!
Dia keluar dari ruangan itu sembari mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.
"Nak, Papa ingin sekali memelukmu. Tolong berikan, Papa kesempatan untuk memelukmu sekali saja."
"Om Firman?"
"Dia adalah, Papa mu, Nak," ucap Tari.
Air mata, Feri kembali meluncur dari pelupuk nya. Entah apa yang dia rasakan saat ini.
"Gak mungkin," ucap, Feri sembari menggelengkan kepalanya.
"Kenyataannya, saya memang Papa mu, Feri."
Feri sangat tak percaya dengan keadaan saat ini, rasanya itu adalah mimpi indah sekaligus mimpi buruk.
*******
"Bu, kak Feri di mana?" tanya, Dinda.
"Dia sedang bersama orang tuanya," sahut, Bu Salma.
"Apa?" Dinda tersenyum, raut wajah penuh kebahagiaan terpancar di wajahnya.
"Alhamdulillah, akhirnya kak Feri menemukan orang tuanya."
"Ya, semoga saja ini awal kebahagiaan kakakmu itu."
"Amin."
*******
"Suntuk juga kerja gak ada, Feri. Tuh anak pasti sekarang lagi bersenang-senang sama adik-adiknya di panti," gumam, Rendi.
Rendi tidak mengerjakan apa-apa, dia hanya sibuk memutar-mutar ponselnya di atas meja.
Tak lama seseorang mengetuk pintu ruangan, Rendi. Setelah mengetuk pintu orang itu langsung membuka pintu ruangan itu lalu masuk ke dalam ruangan yang didalamnya terdapat, Rendi yang sedang badmood karena kerja sendirian.
"Hai sayang," ucap, Indah dengan senyum manis nya.
Rendi menatap orang yang memanggilnya dengan sebutan sayang itu.
"Indah, kamu kok ke sini gak bilang-bilang?"
"Kenapa? Takut ketahuan selingkuh?" Indah berjalan menghampiri, Rendi.
"Nggak gitu. Kalau kamu gak bilang, gimana kalau ternyata aku sedang tidak di kantor, bagaimana kalau ternyata aku sedang ada meeting di luar."
Indah tersenyum manis kepada sang suami. "Iya, aku salah, lain kali kalau aku mau ke sini, aku telpon dulu deh.
"Iya, emang seharusnya seperti itu."
"Mas, ini aku bawain makanan untuk kamu makan siang." Indah memperlihatkan rantang kecil yang dia bawa.
"Aku gak lapar, aku lagi suntuk."
"Kenapa bisa gitu, emang kamu gak ada pekerjaan?"
"Kerjaan banyak, tapi gak ada, Feri jadinya aku gak semangat."
"Ya udah aku temani deh biar kamu gak bosan lagi."
*******
"Ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada kalian sampai aku gak tahu harus memulai dari mana," ucap, Feri.
"Akan, Mama jelaskan. Semuanya akan, Mama jelaskan tanpa harus kamu bertanya terlebih dahulu."
"Aku masih gak percaya dengan kenyataan ini apalagi dengan, Om Firman yang mengaku sebagai, Papaku. Aku butuh waktu untuk mencerna semua ini. Boleh aku pergi sekarang?"
"Feri apa kamu tidak bahagia bisa bertemu dengan, Mama?"
"Anak yang mana sih yang gak bahagia saat bertemu dengan, Ibunya? Apalagi sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu. Aku bahagia, bahkan sangat bahagia."
"Mama tahu kamu pasti sangat membenci, Mama sama, Papa tapi, Mama harap kamu bisa menerima kami dalam hidupmu," ucap, Tari.
Feri terdiam sejenak lalu pergi meninggalkan ruangan itu! Dia bejalan menghampiri, Bu Salma!
Bersambung
Rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca.
Judul: Secret Wedding
Karya: Sendi Andriani
Jangan lupa mampir ya ke karya temanku yang ini.