Gadis Bogor

Gadis Bogor
Gadis Bogor bab 42


Karena tak tahan ingin buang air kecil, Feri membuka pintunya lalu masuk ke dalam gubuk itu!


"A, gak baik loh, masuk rumah orang tanpa seizin pemiliknya," ucap Indah.


Feri menghentikan langkahnya! "iya juga ya."


"Belum tentu juga, tempat ini ada penghuninya," ucap Rendi.


"Ah, terserah. Aku udah kebelet!" ucap Feri sembari melangkah masuk ke dalam.


Tempat itu sangat kecil tak butuh waktu lama, Feri langsung menemukan kamar mandi yang ukurannya sangat kecil dan bisa dibilang tidak layak untuk dipakai.


Di ruang depan Firman sedang melihat-lihat keadaan gubuk itu, sementara Indah dan Rendi menunggu di halaman.


"Kayaknya, ada yang nempatin tempat ini deh," ucap Rendi.


"Iya mas, tempat ini bersih dan terurus," sahut Indah.


Rendi dan Indah menatap sekeliling gubuk itu dan mereka mendapati berbagai jenis tanaman sayuran di samping bangunan tua itu.


"Lihat, Ndah bukannya itu tanaman sayuran ya." Rendi menunjukkan jarinya ke arah tanam itu.


Indah mengikuti arah telunjuk, Rendi dan memang benar yang dikatakan oleh, Rendi bahwa tanaman itu adalah tanaman sayuran.


"Eh, itu kangkung dan ada bayam juga."


Rendi berjalan lebih jauh lagi tepat dibelakang gubuk ada pohon singkong dan jagung.


"Aneh, disini seperti kebun mini yang terdapat beberapa jenis sayuran," gumam, Rendi.


"Ada apa, Mas?" Indah berjalan menghampiri suaminya.


Didalam gubuk tua itu, Firman masih berdiri di salah satu ruangan. Dia enggan untuk duduk karena lantai di dalam sana terlihat berdebu.


"Uhuk! uhuk!"


Tiba-tiba Firman mendengar suara orang batuk dari dalam kamar yang hanya ditutup oleh goreng yang jelek dan sudah usang.


Firman melangkahkan kakinya perlahan, ia membuka sedikit goreng itu! terlihat ada seseorang yang terbaring di lantai dan hanya beralaskan tikar butut dan hanya berselimutkan kain jarik saja.


Firman segera menghampiri orang itu! takutnya orang itu butuh bantuan!


"Permisi, maaf saya lancang mauk tanpa izin. Saya lihat anda lemah sekali, apa anda butuh bantuan?" ucap Firman.


Orang itu mendongak memandang wajah orang yang sudah masuk ke dalam rumahnya!


"Sari," ucap Firman terkejut.


"Mas Firman," lirih Sari.


"Sari, kenapa bisa gini?" Firman langsung bertekuk lutut lalu mengangkat tubuh, Sari agar dia dapat duduk.


"aku akan bawa kamu ke rumah sakit," sambung, Firman.


"Aku gak mau ke rumah sakit, mas."


Kondisi wanita itu semakin lemah, Firman menjadi semakin khawatir.


"Feri! Rendi!" teriak Firman.


Feri yang baru selesai buang air kecil langsung lari menghampiri arah suara, Firman.


"Papa," ucap Rendi.


Rendi dan Indah pun yang sedang berada di belakang gubuk itu segera berlari memasuki gubuk tersebut


"Papa!" ucap Rendi yang baru tiba di kamar itu.


"Ada apa, Om?" ucap Feri.


"Cepat bawa orang ini ke rumah sakit," ucap Firman.


Tanpa bertanya lagi Feri dan Rendi segera menggotong tubuh wanita paruh baya yang hampir tak sadarkan diri itu!


Mereka berjalan dengan sangat cepat! Firman dan Indah mengekor di belakang, Rendi dan Feri.


"Sabar, Sari. Kamu pasti selamat," ucap Firman pada wanita itu.


Firman terus berjalan dengan raut wajahnya yang terlihat begitu panik.


"Sari? jangan-jangan?" Indah bertanya-tanya didalam hatinya.


Indah tahu bahwa Ibunya bernama, Dari dia juga tahu bagaimana wajah, Ibunya itu tapi karena, Rendi dan Feri langsung membawa wanita itu. Jadinya, Indah tak memiliki kesempatan untuk melihat wajahnya.


10 menit berjalan kaki, akhirnya mereka sampai di mobil mereka.


Indah membukakan pintu belakang! agar Rendi dan Feri tidak kesulitan untuk memasukkan tubuh wanita itu.


Mereka semua langsung masuk ke dalam mobil setelah, Sari berhasil masuk ke dalam mobilnya!


"Feri, tolong agak cepat sedikit ya," ucap Firman.


"Sari, Sari!" Firman menggoyahkan tubuh, Sari berharap wanita itu tersadar.


"Fer, cepat. Sari pingsan," ucap, Firman kepada, Feri. Jelas terlihat ada kekhawatiran yang besar diwajahnya.


Di tangan wanita itu ada sebuah liontin foto yang di genggamnya. Liontin itu terjatuh dipangkuan, Indah.


Indah mengambil liontin itu lalu melihat apa yang ada didalam liontin tersebut.


Tanpa sengaja Indah melihat foto itu, "ini kan foto aku," ucap Indah.


"Indah, wanita ini memang ibu kamu," ucap Firman.


"Apa, Ibu? tapi Ibuku sudah meninggal saat aku masih bayi, pa," ucap Indah.


Dari awal melihat wajah perempuan itu, Indah memang merasa bahwa dirinya seperti mengenal wanita itu tapi dia lupa wajah siapa itu.


"Papa juga tahu hal itu. Makanya, biar kita tahu yang sebenarnya, kita harus bawa Ibu kamu ke rumah sakit agar dia selamat," jelas Firman.


"Ibu," lirih Indah.


Indah meneteskan air matanya sambil menggenggam tangan ibunya.


"Sabar ya, 'Ndah. Sebentar lagi kita akan tahu kebenarannya," ucap Feri.


"Selama ini, aku menganggap Ibu sudah meninggal, tapi ternyata Ibu masih hidup. Anak macam apa aku ini, sampai-sampai tidak tahu bahkan tidak mengenali Ibu kandungku sendiri," lirih Indah.


"Sudah, nak. Ceritanya panjang, nanti Papa ceritakan tentang yang sebenarnya terjadi 23 tahun silam," ucap Firman.


"Maafkan Indah, bu." Indah menangis sambil memeluk ibunya yang tak sadarkan diri.


"Kamu gak salah. Aku yakin kamu gak salah, Ndah," ucap Rendi menenangkan istrinya.


Setengah hari berlalu namun mereka belum sampai ke rumah sakit, mengingat jarak dari hutan ke pemukiman sangatlah jauh.


Hari sudah semakin gelap, dengan kondisi jalan yang terjal membuat Feri kesulitan untuk melintasi jalan itu.


10 menit melintasi jalanan yang rusak kini mereka sudah tiba di pedesaan.


Sayangnya di desa itu tak ada rumah sakit, jadi mereka harus ke kota karena rumah sakit hanya ada di kota.


"Aa, cepetan atuh," ucap Indah.


"Iya, 'Ndah. Ini juga aku ngebut," sahut Feri.


Waktu menunjukan sudah pukul dua puluh dua lewat empat puluh lima menit, mereka baru tiba di rumah sakit, Mereka segera turun dan membawa Ibunya Indah ke dalam rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dokter.


"Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk dia," ucap Firman.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Tolong Anda tunggu di luar saja," ucap dokter itu.


Dokter itu segera masuk kedalam ruangan itu! untuk memeriksa keadaan Sari.


Diluar ruangan itu, Firman sangat gelisah. Indah juga tak hentinya menangis.


"Indah, jangan nangis terus. Ibu pasti selamat," ucap Rendi.


Diusap nya punggung, Indah agar wanita itu bisa sedikit lebih tenang.


"Mas, aku khawatir," lirih Indah.


Rendi duduk disebelah Indah lalu memeluk istrinya dengan penuh cinta! "Sabar ya, apapun yang terjadi, aku selalu ada untuk kamu."


Indah membalas pelukan Rendi lalu membenamkan kepalanya di pundak Rendi.


"Makasih, mas."


Mereka menunggu dokter itu keluar dari ruangan tempat Sari ditangani.


"Om, apa benar perempuan itu adalah, Ibunya, Indah?" tanya, Feri mencoba memastikan.


"Benar. Om masih ingat, itu adalah wajah, Sari istrinya, Ridwan."


"Om yakin? Mungkin saja dia hanya memiliki wajah yang mirip dengan, Ibunya, Indah."


"Om yakin bahkan yakin sekali. Tadi dia sempat menyebutkan nama, Om saat kami pertama bertemu."


"Kalau memang benar. Siapa yang sudah mengasingkan, Bu Sari?" Feri berpikir sesuatu mencoba menduga-duga orang yang sudah memisahkan, Sari dari keluarganya.


"Semoga, Sari dapat diselamatkan agar kita tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Bersambung


Hai teman-teman sambil nunggu Gadis Bogor up lagi, yuk mampir juga ke karya temanku yang satu ini. Pokoknya ceritanya dijamin seru deh.


Judul: Daddy Is My Husband


Karya: Nita.P