
"Sekarang aku ingin kau menjawab satu pertanyaanku, Apakah saat ini jantungmu berdegup kencang sama seperti aku? Apakah kau teringat akan ciuman itu karena kau juga sebenarnya merindukanku?
"Apakah dari 6 tahun yang lalu kau pernah berpikir untuk menemuiku? Apakah setelah kita bertemu sekarang kau merasa senang?" Tanya Leo dengan tatapan pria itu tak pernah teralihkan dari mata hitam milik Jessicca.
Sementara Jessica yang ditatap lekat oleh Leo langsung menahan nafasnya dan tangannya semakin erat memegang pisau.
"Itu,, bukankah kau bilang satu pertanyaan saja? Kenapa malah mengajukan banyak pertanyaan?" Tanya Jessica kini melepaskan tatapannya dari Leo dan beralih menatap ke arah tembok.
Leo tersenyum, "tadinya kau juga mengatakan hanya akan memberiku satu pertanyaan. Tapi malah memberiku 4 pertanyaan. Sekarang aku sudah menjawab keempat pertanyaanmu, jadi tidakkah Kau harus menjawab keempat pertanyaanku juga?" Tanya Leo langsung membuat perempuan yang menatap ke dinding kini menjadi sangat malu dan wajahnya yang tadi sudah memerah kini semakin merah padam lagi.
Apa-apaan itu??
"Tidak apa-apa kalau kau tidak bisa menjawab pertanyaanku sekarang, aku bisa menunggu sampai kapanpun kau siap menjawabnya." Kata Leo yang bisa melihat perempuan di depannya sangat gugup menghadapinya.
Jadi pria itu kemudian berbalik pergi meninggalkan Jessica sembari mengencangkan selimut yang sedari tadi membungkus tubuhnya yang terasa dingin.
Pria itu lalu masuk ke dalam kamar Nita dan melihat gadis kecil yang tidur dengan posisi yang begitu buruk.
Hal itu sangat menghibur Leo, jadi pria itu langsung tersenyum mendekati Nita dan memperbaiki selimut gadis kecil itu serta memperbaiki posisi tidurnya.
"Ayah!!!" Tiba-tiba Mita berteriak kencang sembari menghempaskan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Apakah kau sudah bangun?" Tanya Leo sembari mengambil kembali selimut dan menutupi tubuh gadis kecil itu.
Tetapi Nita sama sekali tidak menjawab dan mata gadis kecil itu terpejam sempurna dengan nafas teratur.
Tetapi mengingat bahwa saat itu dirinya sedang sakit maka Leo tidak jadi melakukannya dan dia hanya berbaring di samping Mita sembari membungkus tubuhnya dengan selimut lain agar dia tidak membuat gadis kecil itu tertular sakitnya.
Pria itu tertidur dengan lelap sampai pada pagi hari ketika dia terbangun Dia sangat terkejut saat melihat dua wajah anak kecil sedang menetapnya dengan seksama.
"Ayah!!! Ayah sudah bangun?!!" Langsung ucap Nita memeluk pria itu dengan Nanta yang terus berdiri menatap Leo.
"Ibuku bilang kau sedang sakit, jadi adiku mengkhawatirkanmu." Kata Nanta sembari memperhatikan wajah Leo yang memang tampak pucat dengan bibir pria itu agak pecah-pecah.
Leo yang mendengar itu merasa begitu terharu karena itu pertama kalinya saat dia sedang sakit dia tidak sendirian di apartemennya namun bersama dengan orang-orang yang mencintainya.
"Ayah sudah baik-baik saja," ucap Leo sembari mengulurkan tangannya mengusap kepala putrinya.
"Kalau begitu, ayah cepat bangun dan pergi ke meja makan untuk makan bubur." Kata Nanta, lalu pria kecil itu berbalik pergi meninggalkan dua orang yang masih berpelukan.
Leo yang melihat sikap putranya hanya bisa tersenyum, 'Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan memiliki seorang Putra yang begitu dingin. Namun begitu, dia masih tetap khawatir pada ayahnya.' ucap Leo dalam hati terus mengusap gadis kecil yang memeluknya sembari menatapnya dengan cemas.
Sementara Nanta yang keluar, pria kecil itu melihat ke arah Tante Bunga yang sedang memotong-motong apel.
"Apakah hari ini ibuku tidak akan pulang cepat lagi?" Tanya Nanta langsung membuat Bunga mengangkat wajahnya.
"Tante juga tidak tahu, karena hari ini adalah hari pertama syuting. Dan biasanya hari pertama syuting itu adalah hari yang panjang dan melelahkan." Jawab Bunga langsung diangguki oleh Nanta sembari pria kecil itu duduk di salah satu kursi dan menculik satu potong apel yang telah dipotong-potong oleh tantenya.