
Bunga yang belum sempat membersihkan wajahnya yang penuh air mata kini bolak-balik di depan pintu kamar Jessica, karena dia sangat cemas dan takut akan reaksi Jessica.
'Bagaimana ini? Bagaimana kalau Jessica tidak mau memaafkanku dan memilih untuk berpisah denganku?' Bunga ketakutan sambil menggigit jarinya sendiri.
Perempuan itu langsung menghentikan langkahnya saat terdengar suara pintu terbuka, lalu dia langsung menatap Jessica yang keluar dari kamar.
Dengan bibir gemetar dia berkata, "Jes,,,,"
"Pergilah bersihkan dirimu dan kita akan menyusul anak-anak." Ucap Jessica pada Bunga lalu perempuan itu kembali masuk ke kamarnya.
Meskipun sikap Jessica masih begitu dingin, tetapi Bunga masih merasa lega karena perempuan itu masih mau berbicara dengannya.
Jadi Bunga langsung berlari ke kamarnya dan membersihkan dirinya sendiri lalu memilih sebuah gaun untuk dikenakan.
Begitu dia keluar dari kamar, didapatinya Jessica sudah menunggunya di sofa, perempuan itu duduk sembari memegang sebuah paper bag yang entah apa isinya.
Bunga menelan air liurnya mendekati Jessica, "Apakah kita pergi sekarang?" Tanya perempuan itu langsung membuat Jessica berdiri dan berjalan ke arah pintu tanpa berbicara lagi pada Bunga.
'Tenanglah Bunga, jangan mengganggu Jessica, saat ini dia pasti sangat marah, jadi biarkan dia menyenangkan dirinya dulu,' ucap Bunga dalam hati sembari mengikuti langkah Jessica.
Perempuan itu memperhatikan punggung Jessica yang terlihat dingin dan dalam hatinya dia merasa sangat menyesal.
Mereka menaiki sebuah taksi yang telah dipesan oleh Jessica lalu duduk dalam keheningan hingga mereka tiba di restoran.
"Ibu!!! Tante!!!" Teriak Nita saat dia melihat ibu dan tantenya memasuki restoran.
Jessica tersenyum ke arah putrinya lalu dia langsung mendekati Ketiga orang itu dan duduk bersama mereka diikuti dengan Bunga yang duduk di samping Jessica.
'Aku sangat senang melihat Kakak kini tampak bahagia bersama putrinya, kalau seandainya aku mengatakan hal ini lebih awal, apakah kebahagiaan seperti ini akan tercipta lebih awal?' Bunga merasa menyesal dalam hatinya sembari perempuan itu melirik Jessica yang duduk di sampingnya.
"Aku akan memesan dulu," ucap Bunga hendak berdiri untuk pergi ketika Leo menghentikannya.
"Aku sudah memesan makanan untuk kalian." Ucap pria itu langsung membuat Bunga kembali duduk di kursinya lalu dia menatap kedua keponakannya yang tampak menikmati makan malam mereka.
"Apa yang Ibu bawa?" Tiba-tiba Nanta bertanya pada Jessica sembari melihat ke arah paper bag yang diletakkan Jessica di atas meja.
"Ah,, tadi ibu melihat kalian tidak membawa jaket, jadi ibu membawa jaket untuk kalian." Ucap Jessica.
Nita yang mendengar itu langsung tersenyum dan berkata, "Ibu tidak perlu khawatir, tadi kami sudah dibelikan jaket oleh ayah. Jaketnya sangat bagus dan aku sangat menyukainya!!!"
Seruan gadis kecil itu langsung membuat Jessica dan Bunga terdiam.
Mereka bisa melihat bahwa gadis kecil itu terlihat sangat senang bisa bertemu dengan Leo.
Sementara Nanta, pria kecil itu juga ikut berkata, "Aku juga sudah dibelikan jaket oleh,, ayah."
Meski Nanta mengatakannya dengan suara yang datar, tetapi semua orang yang ada di situ bisa melihat bahwa pria itu berpura-pura bersikap dewasa dengan menyembunyikan rasa bahagianya.
Jessica yang mendengar itu langsung mengepal kuat tangannya, 'kalau begini reaksi kedua anakku, bagaimana mungkin aku tidak merasa senang karena mereka memiliki Ayah yang bisa bertanggung jawab pada mereka. Tapi,,,' Jessica menatap Leo dan perempuan itu langsung merasakan sedikit trauma yang masih tersisa di hatinya.
'Aku tidak boleh begini, demi anak-anakku, Aku harus bisa melawan perasaan ini. Lagi pula itu sudah 6 tahun yang lalu, dan semuanya terjadi karena kecelakaan. Bukan sesuatu yang disengaja.' ucap Jessica dalam hati berusaha menyihir dirinya sendiri bahwa tidak ada yang perlu ia salahkan atas masalah enam tahun yang lalu.