Dijebak Satu Malam Bersama Pria Asing

Dijebak Satu Malam Bersama Pria Asing
22. Pencuri di pagi hari


Pada keesokan harinya, masih pagi-pagi sekali, Jessica sudah sibuk di dapur bersama dengan Bunga.


Mereka berdua memasak untuk bekal Jessica bersama kedua anaknya yang akan pergi berlibur ke sebuah pulau kecil yang tak jauh dari kota tempat mereka tinggal.


"Apa yang dikatakan kakakmu? Kapan dia akan tiba di rumah??" Tanya Jessica pada Bunga yang sedang mengocok telur.


"Hm,, dia tidak mengatakannya, kemarin setelah aku memberitahu alamat rumah kita, dia hanya membaca pesanku tanpa membalasnya. Tapi, Aku yakin dia tidak akan tiba pagi hari. Mungkin saja dia akan tiba nanti malam, karena dia masih sibuk mengerjakan banyak pekerjaan sebelum datang kemari." Ucap Bunga langsung diangguki oleh Jessica.


"Tiket kami jam 08.00 pagi, Jadi kau masih bisa mengantar kami ke stasiun kereta api." Ucap Jessica langsung diangguki oleh Bunga.


"Aku pasti akan mengantar kalian ke stasiun kereta api, tapi aku merasa agak cemas, seperti ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi." Ucap Bunga yang sedari kemarin malam, hati perempuan itu tidak tenang memikirkan kedatangan kakaknya.


Tetapi Jessica menepuk pundak Bunga dan berkata, "jangan terlalu cemas."


Bunga hanya menghela nafas sembari menghembuskan nafasnya lalu kedua orang itu kembali sibuk memasak makanan.


Tiba-tiba saja, dari arah belakang mereka terdengar sebuah teriakan.


"Pencuri!! Pencuri!!!" Teriak Nita sembari berlari ke dapur dan mendapati ibu dan tantenya sedang melihatnya dengan apanik..


"Apa?! Pencuri?!!" Jessica langsung berlari meraih Nita dan menggendong anak kecil itu kembali ke lantai atas.


Jessica langsung masuk ke dalam kamar putranya dan melihat Nanta sedang duduk di tempat tidur sembari menggosok-gosok matanya.


"Ada pencuri!!!" Teriak nita ketakutan sembari memeluk erat leher ibunya, membuat Nanta yang baru bangun langsung tersentak turun dari tempat tidur.


"Dimana pencurinya?" Tanya pria kecil itu sembari mengambil sebuah tongkat bisbol yang diletakkan di sudut kamar, lalu berlari ke arah pintu untuk membuka pintu.


"Tidak Bu!!! Aku takut!!!" Ucap Nita terus memeluk leher ibunya membuat Jessica akhirnya menatap Nanta.


"Jaga adikmu di sini, kau harus melindunginya apapun yang terjadi. Ibu akan keluar untuk memeriksa dan memastikan Tante Bunga juga tidak kenapa-kenapa!" Ucap Jessica memaksa Nita lepas dari pelukannya lalu mengambil tongkat bisbol di tangan Nanta.


"Ingat untuk tetap di kamar dan kunci pintunya sampai Ibu yang mengetuknya kembali. Mengerti?!!"


"Iya Bu!!" Jawab Nanta sambil menganggukkan kepalanya, sementara Nita memeluk kakaknya dengan air mata memenuhi wajah gadis kecil itu melihat ibunya yang sudah menutup pintu kamar.


Dengan segera, Nanta mengunci pintu kamar lalu pria itu membawa adiknya ke ranjang dan menenangkannya di sana.


"Di mana kau melihat pencurinya?" Tanya Nanta sembari memperhatikan adiknya yang masih terus meneteskan air matanya.


"Aku tidak melihatnya, tapi ada banyak barang yang hilang. Foto-foto kita semuanya hilang!!! Hiks,, hiks,," membuat Nanta merasa sedih melihat adiknya, jadi pria itu memeluk Nita dengan erat sembari menepuk-nepuk punggungnya.


"Jangan khawatir, tante dan ibu sedang mencari pencurinya, nanti kalau ketahuan kita bisa mengambil lagi foto-foto kita." Ucap Nnata diangguki oleh Nita meski gadis kecil itu masih terus menangis.


Sementara di luar, Jessica dan Bunga sudah berkeliling rumah membawa senjata di tangan mereka masing-masing, tapi mereka tidak menemukan satupun hal janggal di rumah mereka.


"Apa kau sudah tanya Nita di mana Dia melihat pencurinya?" Tanya Bunga sembari memeriksa jendela yang masih terkunci rapat.


Bahkan tidak ada satupun pintu rumah mereka yang terbuka karena sejak bangun mereka belum melakukan hal apapun selain memasak di dapur.


Jessica menggelengkan kepalanya sembari berkata, "dia tidak mengatakannya, tapi dia sangat ketakutan."