
Tetapi belum sesuai nasi pun masuk ke mulutnya ketika salah seorang perempuan tiba-tiba berteriak.
"Ahh!! Cincinku hilang!!!" Teriak perempuan itu sembari membongkar tasnya.
"Apa?"
"Apa yang hilang?"
"Cincin!!! Cincin milikku telah hilang!! Itu adalah cincin pemberian ibuku ketika dia kembali dari Paris!!!" Kata perempuan itu dengan suara yang begitu khawatir sambil terisak.
Semua orang menjadi panik melihat perempuan yang menangis tersedu-sedu itu.
Dan salah satu teman dari perempuan yang menangis itu tiba-tiba berdiri dan berkata, "jelas-jelas cincin itu masih ada di atas meja tadi!! Pasti ada yang mencurinya!!!"
Teriakan perempuan itu langsung membuat Welly mengerutkan keningnya, lalu dia menatap ke arah sutradara yang duduk agak jauh dari mereka untuk makan.
"Hah,, masalah ini akan membuat sutradara marah lagi." Geram Welly dalam hati lalu pria itu segera berdiri menghampiri perempuan yang terisak.
"Apakah kau sudah memeriksa barang-barangmu dengan baik?" Tanya Welly menatap perempuan yang sedang sesegukan.
"Hiks,, hiks,, aku sudah memeriksanya berkali-kali, tapi aku tidak menemukannya!! Itu cincin yang sangat berharga, cincin pemberian Ibuku sebelum dia meninggal!! Hiks,, hiks,," perempuan itu terus terisak membuat Welly merasa kepalanya ingin pecah saja, karena kejadian minggu lalu belum sepenuhnya pulih dan masih membekas di ingatannya.
Sekarang ada lagi kejadian,, sangat merepotkannya!!!
"Astaga,, itu kan cincin yang selalu saja ia pakai. Yang katanya berharga 150 juta."
"Ya ampun,, pantas saja dia menangis seperti itu, cincin itu adalah barang pemberian terakhir ibunya sebelum Ibunya meninggal. Aku lihat dia sangat menyayangi cincin itu dan selalu menjaganya dengan hati-hati."
"Benar sekali, barang berharga seperti itu jika hilang, pasti akan membuat pemiliknya merasa sangat histeris."
"Agar masalah ini cepat selesai semua orang Tolong cari cincinnya dan katakan padaku jika kalian menemukannya. Kalau dalam 1 jam kita tidak menemukan cincin itu maka aku akan menghubungi polisi," ucap Welly sembari berjalan pergi untuk melanjutkan makannya.
Maka begitu, semua orang buru-buru makan lalu membantu mencari cincin yang telah hilang itu.
Tapi sejauh apapun mereka mencari cincin itu, tetap saja tidak ditemukan.
Lalu tiba-tiba saja Shiro yang Minggu lalu tertusuk pedang Jessica berdiri di tengah-tengah sambil berkata, "semua orang sudah mencari cincin itu kemana-mana, tapi kita tidak menemukannya. Tapi dari tadi aku memperhatikan Lasya sama sekali tidak memeriksa tasnya. Kenapa?"
Ucapan Shiro langsung menarik perhatian semua orang.
"Apa maksudmu? Kau pikir aku berpura-pura kehilangan cincin itu dan membuat semua orang panik, sementara cincin itu masih berada dalam tasku?" Tanya Lasya sambil menatap Shiro dengan mata yang sembab karena baru saja menangis.
"Aku tidak mengatakannya tapi kau yang mengatakannya sendiri. Cobalah periksa tasmu lagi mungkin saja terselip di dalam dan jangan merepotkan semua orang. Minggu lalu kau juga salah satu orang yang membuat keributan, menjebak Jessica telah menukar pedang itu, tapi pada akhirnya kalianlah yang mengakui sendiri perbuatan kalian!!" Tegas Shiro.
"A,, apa?!! Jadi Kau pikir aku mempermainkan cincin milik ibuku hanya untuk menjebak seseorang? Kau pik--"
"Kenapa tidak? Bahkan Minggu lalu kau juga mempermainkan nyawaku hanya untuk menjebak Jessica bukan?" Sela Shiro langsung membuat Lasya terdiam di tempatnya dan menatap semua orang yang kini berbisik-bisik melihatnya.
"Benar sekali, Minggu lalu dia bahkan hampir membunuh Kak Shiro hanya untuk menjebak Jessica, jadi mungkinkah Dia tidak berani mempermainkan benda mati pemberian ibunya hanya untuk kembali menjebak seseorang?"
"Ah benar,,, jangan-jangan minggu ini dia kembali menjebak Jessica?"
Semua orang kini melihat ke arah Jessica membuat Jessica begitu kikuk dan berdiri diam di tempatnya.
'Kenapa aku lagi?' pikir Jessica dalam hati kini tidak tahu harus mengatakan apa.