
Setelah memastikan rumah sudah aman, Bunga dan Jessica kemudian naik ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Nanta dan Nita.
"Sayang, ini ibu," ucap Jessica pada orang di dalam kamar, lalu beberapa saat kemudian terdengar suara pintu yang dibuka.
Clek, Nanta langsung menampakan wajahnya dengan Nita dibelakang pria kecil itu sedang bersembunyi di punggung Nanta.
"Ibu!!!" Langsung teriak Nita melompat ke arah ibunya ketika dia melihat yang datang adalah ibunya.
Maka Jessica segera menggendong gadis kecil itu dan berjalan ke tempat tidur sembari duduk di pinggir ranjang.
"Jangan takut, ibu dan tante sudah memeriksa semua sudut di rumah ini, semuanya sudah aman." Ucap Jessica menepuk-nepuk punggung kecil putrinya sembari melihat Nanta yang sedang berbicara dengan Bunga.
"Apa Kalian menemukan pencurinya?" Tanya Nanta pada Bunga.
Bunga menggelengkan kepalanya, "tidak, semua jendela dan pintu rumah masih terkunci." Ucap bunga sembari menoleh ke arah Nita.
"Kalau begitu,, mungkinkah pencurinya masih bersembunyi di dalam rumah?" Ucap Nnata langsung membuat Nita kembali histeris dan memeluk ibunya dengan sangat erat.
"Ibu,, aku takut!!!" Ucap Nita sembari terisak meneteskan air matanya.
"Jangan takut, Ibu ada di sini," ucap Jessica terus menepuk-nepuk punggung Nita lalu perempuan itu lanjut berkata, "tapi coba ingat-ingat lagi dan katakan pada Ibu di mana kau melihat pencurinya?"
Nita tetap mempererat pelukannya pada leher ibunya sembari berkata, "aku tidak melihat pencurinya, tapi banyak barang yang hilang!! Foto-fotoku dan kak Nanta, semuanya menghilang!!"
Begitu mendengar ucapan Nita, Jessica dan Bunga langsung tercengang di tempat mereka masing-masing.
Ternyata gadis kecil itu hanya menganggap bahwa semua foto-foto yang mereka sembunyikan sudah dicuri oleh seorang pencuri.
Jessica tersenyum mencium puncak kepala putrinya sembari berkata, "kalau begitu tidak ada pencuri di rumah ini. Ibu dan tante la yang sudah melepaskan semua foto-foto itu, karena semuanya harus dibersihkan. Jadi kami melepaskannya dulu."
Jessica menganggukkan kepalanya, "iya, bingkai fotonya sudah ada yang rusak dan ada juga yang penuh dengan debu, jadi tante dan ibu mengambil semuanya untuk dibersihkan."jawab Jessica langsung membuat Nita menjadi tenang.
"Kalau begitu, nanti aku akan membantu ibu dan tante untuk membersihkannya." Ucap Nita kembali memeluk erat ibunya karena perempuan itu masih merasa sedikit takut setelah apa yang terjadi.
"Baiklah,,, nanti setelah pulang berlibur, kita akan membersihkannya bersama-sama." Ucap Jessica menepuk-nebok punggung putrinya, lalu perempuan itu menatap anak laki-lakinya, "Nanta, pergilah bantu Tante Bunga memasak di dapur. Ibu akan menyusul kalian setelah adikmu menjadi lebih tenang."
"Baik Bu," jawab Nanta lalu dia dan Bunga segera keluar dari kamar.
Pria kecil itu memperhatikan tantenya yang sedang menahan tawanya lalu beberapa saat kemudian dia bertanya, katanya, "apa yang tante tertawakan?"
Bunga kembali tersenyum menatap keponakannya, dia merasa sangat konyol atas apa yang terjadi di pagi hari itu.
"Tante hanya teringat akan sesuatu yang lucu." Kata Bunga mempercepat langkahnya ke arah dapur lalu perempuan itu kembali tenggelam dalam masakannya.
Sementara Nanta, pria kecil itu melihat beberapa bawang yang belum selesai dikupas di meja. Jadi dia duduk di sana sembari memegang pisau dengan hati-hati.
Setelah beberapa saat keheningan, Nanta kemudian berkata, "Siapa nama kekasih Tante Bunga?"
Pertanyaan tiba-tiba dari keponakannya langsung membuat Bunga menatap pria kecil itu dengan bingung, "Siapa yang mengatakan padamu kalau Tante punya kekasih?" Tanya Bunga yang merasa heran.
"Kalau kekasih tante tidak datang ke rumah ini, kenapa Tante tidak mau ikut bersama kami untuk merayakan ulang tahun kami?" Tanya Nanta.
"Ahh,," bunga tersenyum, "bukannya tante tidak mau ikut, tetapi ada pekerjaan yang sedikit mendesak hari ini. Tapi Tante sudah menyiapkan hadiah untuk kalian, jadi sebelum kalian pergi, kita akan membuka hadiahnya." Ucap Bunga langsung membuat Nanta berpikir dalam hatinya.
'Kenapa Tante berbohong? Bukankah dia adalah seorang pengangguran? Pekerjaan Apa yang membuatnya begitu sibuk?' pikir Nanta dalam hati, tetapi dia tidak berniat menanyakan hal itu pada tantenya, sebab sekali tantenya tidak mau mengatakannya maka seterusnya tantenya tidak akan pernah mengatakannya.