Dijebak Satu Malam Bersama Pria Asing

Dijebak Satu Malam Bersama Pria Asing
69. Dia tidak terlalu buruk


"Hiks,, hiks,, maaf,, seharusnya aku menyatakan ini lebih awal... Tapi aku tidak punya keberanian untuk melakukannya, karena aku tahu kalian berdua akan membenciku,, hiks,, hiks,,," tangisan Bunga semakin keras membuat Jessica semakin yakin bahwa perempuan itu telah menyembunyikan sesuatu dalam hatinya yang membuat perempuan itu tersiksa sendirian.


Jadi Jessica langsung memeluk Bunga sambil berkata, "tenangkan dirimu dan ceritakanlah saat kau sudah mulai tenang."


Bunga yang mendengar ucapan itu semakin tidak bisa menahan air matanya dan dia kembali menangis dengan sangat keras.


"Hhhhiikkkkss,,,, Hhhhiikkkkss,,,, jangan menghiburku, karena,,,, karena akulah penyebab kalian berdua.. Hhhhiikkkkss,,,, Hhhhiikkkkss,,,, aku,,, aku,, hiks,, sudah menyembunyikan sesuatu dari kalian semua,,, Hhhhiikkkkss,,,, Hhhhiikkkkss,,,," Bunga tak bisa menahan tangisnya dan perempuan itu terus terisak sembari sesekali berbicara.


Hal itu membuat Jessica menjadi sangat cemas kalau sampai perempuan itu kembali pingsan untuk kedua kalinya, jadi dia mempererat pelukannya pada perempuan itu.


"Cukup!!! Jangan bicara lagi!!! Tahanlah apa yang ingin kau katakan sampai kau benar-benar bisa menguasai dirimu sendiri. Jangan membuatku cemas seperti ini." Ucap Jessica membuat Bunga berusaha menahan tangisnya.


"Maafkan aku,, Hhhhiikkkkss,,,, Hhhhiikkkkss,,,," Isak Bunga kini berbalik memeluk Jessica dengan erat, berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum menceritakan semuanya.


"Iya, aku akan selalu memaafkanmu. Jadi sekarang tenangkan dulu dirimu, baru kita berbicara baik-baik." Ucap Jessica mengusap-usap punggung Bunga sampai akhirnya perempuan itu menjadi lebih tenang.


Ia kemudian membantu Bunga untuk duduk di sofa, lalu dia mengambil minuman untuk diberikan pada perempuan itu.


"Minumlah ini dan tenangkan dirimu sebentar, lalu kita lanjut berbicara." Kata Jessica sembari mengusap air mata Bunga yang terus bercucuran di pipinya.


Sementara Leo yang memperhatikan dua perempuan itu, dia hanya diam di tempatnya dan apa yang hendak dikatakan oleh Bunga kini sudah tertebak dalam hatinya.


Jadi pria itu menatap Jessica dengan dalam, 'Jadi sebenarnya, apa yang terjadi 6 tahun yang lalu itu,,, apa yang membuatku selalu tidak tenang memikirkan Jessica,,,' Leo tersenyum konyol kepada dirinya sendiri.


Bisa-bisanya dia dibodohi oleh adiknya sendiri, adiknya yang selalu terlihat lugu dan selalu ketakutan saat berhadapan dengannya.


"Aku akan ke toilet sebentar," ucap Leo sembari berdiri langsung membuat Jessica menunjukkan arah toilet di rumah mereka.


Setelah beberapa detik, pria itu tersenyum dan perasaannya mulai membaik sembari pria itu tertunduk dan membasuh wajahnya dengan air dingin.


Setelah beberapa menit Dia kemudian keluar dari toilet dan melihat Bunga masih duduk sesegukan di tempatnya.


"Kalian berbicaralah, aku akan mengajak anak-anak keluar." Ucap Leo langsung membuat Jessica terkenal dengan pria itu yang kini berjalan ke arah kamar Nita.


"Itu,," Jessica hendak menghentikannya ketika Bunga meraih lengan perempuan itu dan menahannya.


"Biarkan mereka pergi," ucap Bunga sembari menetaskan air matanya.


"Ah,, baik," kata Jessica tak bisa menolak permintaan Bunga karena dia juga melihat perempuan itu sangat menderita.


Jadi akhirnya dia hanya membiarkan Leo memasuki kamar Nita.


"Ayah!!" Seru Nita langsung melompat-lompat ke arah ayahnya sembari menjulurkan kedua tangannya sebagai pertanda bahwa dia ingin digendong oleh pria itu.


Jadi Leo langsung mengangkat perempuan kecil itu ke gendongannya dan mencubit pipinya dengan pelan.


"Iya, aku ayahmu," ucap Leo langsung membuat Nita berseru kesenangan.


"Ayah!!!" Teriak gadis kecil itu langsung memeluk leher Leo dengan hangat.


Sementara Nanta yang melihat pria tinggi di depannya yang sedang menggendong adiknya, pria kecil itu menyipitkan matanya.


'Kata Tante Bunga, Ibu sangat ketakutan melihat pria ini. Tapi aku melihat bahwa dia tidak terlalu buruk. Dia bahkan bisa tersenyum pada Nita.' pikir pria kecil itu dalam hati.