
Setelah meneguk minumannya, Leo kemudian menatap Nita dan berkata, "orang dewasa perlu membicarakan sesuatu, bolehkah kau dan kakakmu kembali ke kamar lebih dulu?"
Nita terdiam beberapa detik mendengarkan ucapan Leo, sebab gadis kecil itu tak rela untuk meninggalkan ayahnya yang baru saja bertemu dengannya.
"Tapi,, Ayah harus janji kalau ayah tidak akan pergi lagi!! Ya?!!" Ucap Nita dengan tangan gadis kecil itu memegang tangan Leo dengan erat.
Leo belum memastikan situasi yang terjadi, jadi pria itu merasa enggan untuk menjawab, tetapi melihat mata berkaca-kaca kita maka dia tidak tega melukai hati gadis kecil itu.
Oleh sebab itu, Leo menganggukkan kepalanya, "tentu saja, kita akan makan malam bersama." Ucap Leo langsung membuat Nita berseru kegirangan.
"Baik Ayah!!!" Kata gadis kecil itu segera turun dari pangkuan Leo dan menarik kakaknya ke arah kamar.
Meski Nanta enggan untuk mengikuti langkah Nita, tetapi dia tetap saja berjalan mengikuti gadis kecil itu sambil sesekali melihat ke arah belakang untuk menatap 3 orang yang hanya terdiam.
'Ada yang aneh, mereka pasti hendak membicarakan rahasia,' ucap pria kecil itu dalam hati merasa begitu penasaran dengan rahasia yang akan dibicarakan oleh ketiga orang dewasa itu.
Tetapi dia tidak mungkin tinggal untuk mendengarkannya, sebab terlihat jelas bahwa Ketiga orang itu tidak ingin melibatkan anak kecil dalam pembicaraan mereka.
Sementara di luar, Bunga semakin gugup dan jantungnya berdetak tak karuan saat dia melihat dua orang yang ada di hadapannya kini menatap ke arahnya.
Dua orang itu seolah meminta penjelasan padanya tentang apa yang sudah terjadi, Mereka terlihat ingin menghakiminya dan menghitung-hitung kesalahannya.
"Bunga, Apa kau bisa menceritakan semuanya? Maksudku,," Jessica menoleh ke arah Leo dan tatapan mereka bertemu.
Deg!!
Deg!!
"Itu karena aku merasa bersalah!!" Sela Bunga dengan air mata perempuan itu sudah menetas merembes di pipinya membuat Jessica sangat terkejut.
Perempuan itu berdiri hendak menghampiri Bunga dan menenangkan perempuan itu ketika dia terkejut saat Bunga tiba-tiba saja turun dari kursi dan berlutut di lantai.
"Apa yang aku lakukan?? Mengapa begini??" Kata Jessica menghampiri Bunga dan membantu perempuan itu untuk berdiri.
Tetapi Bunga menolak dan menggelengkan kepalanya sambil berkata, "hiksss,, hikss,,, hikss,,, ini semua salahku,, aku memang patut dihukum jadi jangan menghentikanku!!! Kau hanya perlu duduk dan mendengarkan ucapanku saja!!!"
Jessica yang melihat Bunga begitu berisikuku untuk terus bersujud di lantai akhirnya dia hanya bisa menghela nafas, lalu dia ikut duduk di lantai dan memperhatikan perempuan yang terus menangis dalam posisinya yang masih berlutut.
"Hiks,, hiks,, maaf,, seharusnya aku mengatakan ini lebih awal... Tapi aku tidak punya keberanian melakukannya karena aku tahu kalian berdua akan membenciku,, hiks,, hiks,,," tangisan Bunga semakin keras hingga dua orang anak yang bersembunyi di kamar bisa mendengarkan tangisan perempuan itu.
Hal itu membuat Nita menatap kakaknya yang sedang berdiri di pintu dan menempelkan telinganya ke pintu.
"Tante Bunga menangis," ucap gadis kecil itu meraih handle pintu untuk membuka pintu.
Tetapi Nanta menghentikannya dan berkata, "tante akan merasa malu kalau kita melihatnya menangis. Jadi kau diam saja di sini dan dengarkan Lalu nanti pura-pura tidak tahu bahwa Tante sudah menangis. Mengerti?!"
Dengan spontan Nita menganggukkan kepalanya lalu dia ikut menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan percakapan dari luar.
Tapi sayangnya, hanya suara isakan saja yang mereka dengar, dan setiap kali Bunga berbicara, perempuan itu berbicara dengan suara yang tak dapat mereka dengar.