Dijebak Satu Malam Bersama Pria Asing

Dijebak Satu Malam Bersama Pria Asing
41. Siapa keponakan yang dibicarakan Bunga


Setelah melihat tangan adiknya yang penuh darah, Leo kemudian membawa adiknya untuk duduk di meja makan lalu pria itu mengambil kotak P3K sesuai dengan arahan Bunga.


'Hah,,, bagaimana ini,,,, apa saja yang telah didengar oleh Kakak dari pembicaraanku dan Jessica?' Bunga menggigit bibir bawahnya sembari melihat pria yang berjalan ke arahnya dengan kotak P3K di tangannya.


Setelah langkah demi langkah yang dibuat oleh Leo, akhirnya pria itu tiba di depan Bunga, lalu pria itu segera membongkar kotak P3K nya.


"Kak... Aku bisa sendiri mengobati tanganku," ucap Bunga tidak mau membiarkan kakaknya menyentuh tangannya yang kotor penuh darah.


Tetapi Leo tidak mengatakan apapun, namun pria itu langsung memegang tangan Bunga dan menahan agar tangan perempuan itu tidak dipindahkan lagi dari tempatnya.


"Jangan banyak bergerak!" Tegas Leo sembari membersihkan noda darah pada tangan adiknya.


Bunga semakin kuat menggigit bibir bawahnya saat ia melihat darah di tangannya telah mengotori tangan kakaknya, bukan hanya itu saja, baju tidur milik kakaknya yang berlengan panjang telah terkena noda darah dari tangannya.


'Ya Tuhan,,, Tolong selamatkan aku!!!' Bunga terus berdoa dalam hatinya sebab dia tahu bahwa kakaknya adalah orang yang paling mencintai kebersihan, sedikitpun noda atau bahkan debu tidak boleh berada di sekitarnya.


Dan sekarang, darahnya telah mengotori tangan dan bahkan pakaian pria itu!!!


Set,, set,, set...


Leo dengan terampil membersihkan dan membalut luka Bunga hingga akhirnya dia selesai melakukannya.


"Baju kakak...." Bunga begitu gugup sembari menarik tangannya dengan mata perempuan itu melihat ke arah tangan dan baju Leo yang telah terkena noda darah.


"Istirahatlah, biar aku yang memasak." Suara dingin Leo membuat punggung Bunga memegang sempurna saat melihat pria itu pergi meninggalkan dapur sembari membawa kotak P3K nya.


'Kakak baru saja mengobati tanganku yang terluka. Dia bahkan tidak merasa jijik pada darahku yang kotor itu.' ucap Bunga yang tak percaya bahwa kakaknya baru saja menyentuh darahnya yang kotor demi mengobati tangannya yang terluka.


"Apakah masih sakit?" Tiba-tiba suara Leo yang kini kembali dari kamarnya langsung membuat Bunga mengangkat kepalanya menatap pria itu.


Leo telah mengganti pakaiannya hingga pria itu kini menggunakan kaos berwarna hitam lengan pendek.


Hanya beberapa detik berani menatap kakaknya lalu Bunga kembali menunduk dan berkata, "tid,, tidak!! Terima kasih karena kakak sudah mengobati tanganku."


"Hm," jawablah dengan singkat lalu pria itu kemudian berjalan ke arah talenan dan sayuran yang tadi dikerjakan oleh Bunga.


Pria itu kemudian mengambil celemek yang sudah dilepaskan Bunga di samping kursi, lalu pria itu mulai memotong-motong sayur yang tadi ditinggalkan oleh Bunga.


"Kak,, Biar aku saja yang mengerjakannya!" Ucap Bunga dengan kaget saat melihat pria itu sudah memegang pisau dan sayuran untuk ia potong.


Tetapi Bunga yang hendak mengambil alih pisau dari tangan kakaknya langsung menghentikan gerakan tangannya ketika dia melihat kakaknya kini menatapnya dengan dingin dan tajam.


"Istirahatlah!!" Perintah pria itu seperti sihir yang membuat Bunga dengan patuh berjalan ke arah kursi dan duduk di sana sembari mengintip kakaknya dari helaian rambutnya yang terurai lembut.


'Astaga,,, Ini pertama kalinya aku melihat Kakak memasak di dapur, dan ternyata dia benar-benar terampil. Bahkan dia kelihatan tampan saat memakai celemek sambil memotong-motong sayur.' pikir Bunga dalam hati sembari menahan nafasnya lalu dia berbalik menatap tangannya yang terluka.


"Siapa keponakan yang kau bicarakan dengan Jessica ditelepon?" Tiba-tiba suara Leo membuat Bunga yang sudah rileks duduk di tempat duduk kini kembali menegang di tempatnya.