
Jessica mengantar ketiga orang yang hendak pergi jalan-jalan itu, lalu dia kembali menemui Bunga yang sudah tampak tenang di kursinya.
"Apakah kau sudah baik-baik saja?" Tanya Jessica sembari memperhatikan perempuan yang tampak lusuh karena baru saja menangis dengan keras.
Bunga menganggukkan kepalanya, "iya, tapi ada hal penting yang harus diceritakan padamu." Ucap Bunga sambil menghilangkan nafas dengan panjang supaya air matanya tidak kembali jatuh dan merusak suasananya.
Mendengar itu, maka Jessica langsung duduk di samping Bunga dan menatap perempuan itu dengan lembut.
"Ceritanya pelan-pelan saja, aku akan mendengarkannya," ucap Jessica sembari mengulurkan tangannya memegang kedua tangan Bunga, agar perempuan itu lebih kuat lagi.
Merasakan kehangatan yang ditransfer Jessica padanya, maka Bunga menguatkan hatinya dan mulai bercerita.
Bercerita tentang segala hal yang terjadi di 6 tahun yang lalu.
Cerita Bunga sangat mengejutkan Jessica hingga perempuan itu tercengang di tempatnya dan tak bisa berkata apapun juga.
"Itu,, maafkan aku karena tidak bisa menceritakan semuanya lebih awal," ucap Bunga meneteskan air matanya saat dia melihat reaksi Jessica setelah mendengar semua ceritanya.
"Ini,,," Jessica melepaskan genggaman tangannya pada Bunga dan perempuan itu menghapus air matanya sendiri.
"Jadi maksudmu hari itu,,, kau,, sebenarnya tahu kalau aku tidur bersama kakakmu tapi,,, tapi kau tidak mengatakannya?" Tanya Jessica menatap perempuan di depannya dengan rasa berkecamuk di hatinya.
Dengan berat hati Bunga menganggukkan kepalanya, "iya,, saat itu aku sangat takut kalau kau dan kakakku akan membenciku. Padahal awalnya, aku berniat untuk melindungimu, tapi Siapa yang menyangka kalau Kakak aku akan pergi ke kamar itu dan,,, aku juga tidak tahu kenapa dia sampai pergi ke kamar itu,,,.
"Padahal aku sudah mengatakan pada seluruh pelayan kalau kamar itu sudah Aku booking untukmu." Ucap Bunga kembali meneteskan air matanya karena merasa sangat bersalah pada Jessica.
Jessica merasakan dadanya sesak, dia menatap Bunga sambil bertanya, "Jadi,, maksudnya Nanta dan Nita,,,??"
Bunga mengangguk, "Iya,, Mereka berdua adalah anak kakakku. Itu sebabnya aku memberikan nama Leo di depan nama mereka, karena suatu saat nanti aku akan membongkar semua rahasia ini.
"Tapi aku tidak tahu bahwa ternyata aku begitu pengecut hingga aku membutuhkan waktu 6 tahun untuk bisa mengatakannya.
"Bahkan, sekarang ini pun aku tidak akan mengatakannya seandainya Kakakku tidak datang ke tempat ini. Maaf,, maaf,," ucap Bunga sembari meneteskan air matanya karena sangat merasa bersalah pada Jessica.
Hati perempuan itu berkecamuk, dia merasa sangat marah pada apa yang terjadi di 6 tahun yang lalu.
Dan sekarang, ketika dia mengetahui segala faktanya,,, Dia sangat ingin marah, tetapi dia juga ingin bersyukur Karena sekarang dia sudah memiliki dua orang anak.
"Bagaimana ini,, sekarang ini aku sangat takut untuk menghadapi Kak Leo. Tapi,,, cepat atau lambat semua ini juga harus ku hadapi. Tapi bagaimana caraku untuk menceritakannya pada anak-anak? Apakah nantinya mereka akan menerimanya?" Jessica merasa sangat cemas.
Dia terus berpikir dalam kamarnya sampai akhirnya ponselnya yang diletakkan di atas ranjang tiba-tiba saja berdering.
Drrriiinnnggggg.....!
Drrriiinnnggggg.....!
Perempuan itu langsung melihat ponsel di atas tempat tidur dan yang menelpon adalah sebuah nomor baru.
Jadi Jessica langsung menenangkan dirinya dan berusaha memperbaiki suaranya lalu mengangkat panggilan itu.
"Halo?" Ucapnya pada orang di seberang telepon.
"Aku dan anak-anak ada di restoran xx. Kalau kau sudah berbicara dengan Bunga, maka susullah kami kemari." Terdengar suara Leo dari seberang telepon lalu diikuti suara ribut-ribut anak-anak.
"Kan sudah kubilang kalau kita itu punya ayah!! Dan sekarang kita sudah bersama ayah!!" Suara Nita berseru pada Nanta.
"Iya aku tahu, jadi makan makananmu cepat. Kau tidak mau kan kalau kenakalanmu terlihat di depan ayah?!" Suara Nanta yang terdengar tegas.
"Baik!! Ayah tolong suapin aku!!" Suara Nita.
"Baiklah," terdengar suara Leo diikuti bunyi sendok yang beradu dengan garpu.
Mendengar itu, Jessica memegangi ponselnya dengan erat lalu beberapa saat kemudian ia menekan tombol reject pada ponselnya lalu meletakkan ponsel itu di ranjang.
'Anak-anak sangat senang, jadi haruskah aku menghancurkan suasananya?' pikir Jessica dalam hati.