Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 99-Interogasi Sang Suami


Celine ingin melarikan diri jika cerita kejutan yang ia rancang mendadak menjadi adegan tidak mengenakkan. Bagai seorang tersangka yang akan disidang karena kasus pencurian, Celine dihadapkan dengan sang hakim bermata tajam serta berekspresi menakutkan. Namun, kesalahannya juga karena pergi tidak bilang-bilang, padahal seharusnya ia meminta izin pada suaminya itu.


“Ke mana saja kamu, Cel? Jelaskan sejelas-jelasnya! Mulai dari kamu kenapa enggak bilang kalau mau pulang hari ini, setelah kamu pulang malah keluyuran sampai dengan nyaris malam, kenapa kamu baru menampakkan diri! Katakan padaku, Celine!” ucap Reksa bertubi-tubi, seolah tidak mau ada sedikit pun kebohongan yang bisa saja Celine katakana.


Celine menelan saliva. Sementara, matanya tampak melirik kanan dan kiri. Bingung juga ia harus memulai dari mana. Kalau hendak mengaku ingin memberikan kejutan pada Reksa, bukankah terdengar sangat konyol? Yang artinya ia sama saja mempermalukan diri sendiri karena nyatanya kejutan itu telah gagal total dan justru dirinya yang dibuat terkejut oleh keberadaan suaminya itu.


“Celine!” ucap Reksa lebih tegas pada saat Celine masih saja terdiam dengan pemikiran yang ia duga sama sekali tidak berbobot. “Apa kamu enggak punya pita suara lagi, sampai ngomong sama aku saja enggak bisa?”


“Uh!” Celine menekan keningnya. “Kamu galak banget sih, Sa? Lagian ke mana lagi coba, kalau enggak ke rumah orang tua, ya pastinya sama Keira. Dan sore ini aku tuh lagi belanja buat memasakkan kamu, sekalian ketemu sama Keira.”


“Belanja?” Dahi Reksa mengernyit. “Masak buat aku? Manaaa?!”


“Ini, sebentar mau dimasakkan kok. Lagian kan baru jam enam, jadi enggak telat kan masaknya?” Celine masih terus memberikan kata-kata balasan. Ia memang tidak ingin terus didesak, yang mengakibatkan dirinya mati langkah. “Eh?!”


Tiba-tiba saja, Celine teringat ada yang salah. Berbicara soal belanjaan, lantas di mana barang-barang yang ia belanjakan bersama Keira beberapa saat yang lalu?


“Astaga! Reksa!” Celine meraih lengan kekar suaminya dan memberikan tatapan dengan bola mata yang melebar. “Belanjaannya!”


“Apa? Belanjaannya kenapa? Kamu mau kabur dari interogasiku, ‘kan, Cel?!” Reksa curiga.


Celine menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. “Belanjaannya ketinggalan di mobil Keira, tahu, Sa! Aku tadi buru-buru karena takut kamu sudah di dalam perjalanan, eh, tahunya malah sudah sampai rumah. Duh, aku harus balik nih. Antarkan aku yaaa! Buat kamu juga, buat makan kamu.”


Reksa hanya terdiam, belum ingin terlalu memedulikan rengekan istrinya tersebut. Hatinya justru merasa sangat kesal. Interogasi kecil yang ia berikan tidak dijawab dengan baik oleh Celine. Keberadaannya juga tampaknya tidak terlalu penting. Bukankah seharusnya Celine memberikan rayuan maut dan manis agar ia tidak marah? Bukankah seharusnya Celine memberikan kecupan padanya yang sudah satu minggu ditinggalkan ke pulau lain?


Namun, keinginan Reksa justru tidak terkabul. Celine terus membalas perkataannya, dan kini justru minta diantarkan ke tempat Keira. Apa Keira memang lebih penting dari Reksa? Kalau memang kenyataannya seperti itu, Reksa jamin ia tidak akan memberikan izin pada Celine untuk bertemu dengan Keira lagi. Sungguh! Kalau soal belanjaan, bukankah itu gampang. Keira akan mengantarkan jika memang seorang sahabat yang baik, kalau tidak, Reksa bisa membelikan makanan yang jauh lebih lezat daripada hasil masakan Celine.


“Enggak mau. Aku capek, kalau butuh, ya nyetir sendiri sana, mobil kan ada, tinggal pakai saja!” ucap Reksa sesaat setelah berpikir. Tidak hanya memberikan  kata-kata penolakan, sikapnya pun mulai acuh tak acuh. Ia bahkan menjauh dari Celine dengan cara menepis pegangan tangan Celine di lengannya yang kekar. “Kalau enggak bisa ya naik taksi saja, uang kamu juga masih banyak, ‘kan?”


Celine menghela napas, lalu memasang wajah yang murung. “Kok kamu begitu sih? Lagian yang meninggalkan barang-barang itu kan aku bukan Keira, masa iya malah dia yang disuruh antar? Dan lagi, aku enggak bisa naik mobil, tahu!”


“Itu kan masalah kamu!”


“Masalah kamu juga, kan aku istri kamu. Kamu enggak boleh kayak begitu.”


“Kamunya yang duluan kayak begitu!”


Celine menatap Reksa sekali lagi, lalu menghela napas. “Ya sudahlah kalau begitu. Aku minta maaf karena pulang enggak bilang-bilang dulu, terus aku minta maaf karena waktu sama Keira, aku justru lupa segalanya dan berakhir pulang telat. Padahal … niatnya mau bikin kejutan, tapi, malah gagal total dan berakhir bikin kamu marah. Maafkan aku ya, Reksa.”


Setelah mengatakan permintaan maafnya, Celine lantas bangkit dari sofa panjang yang sempat ia duduki bersama suaminya. Karena sepertinya Reksa benar-benar marah, maka ia tidak boleh merengek berlebihan lagi, yang berpotensi membuat suaminya itu semakin kesal.


Lagi pula, Celine kan sudah terbiasa bergerak sendiri. Jadi, untuk apa ia meminta bantuan, lebih tepatnya meminta diantarkan ke tempat Keira hanya untuk mengambil barang belanjaan? Seperti bukan dirinya saja. Lebih baik, berangkat sendiri dan kembali dengan harapan Reksa sudah tidak marah lagi.


“Celine!” seru Reksa, tetapi istrinya tidak memberikan tanggapan, entah tidak dengar atau sengaja tidak mendengar. “Aiiis!”


“Celine! Kamu dengar aku enggak sih?!” tegas Reksa sembari meraih lengan sang istri.


Celine memutar badan dengan dahi yang sudah berkerut samar. “Apaan? Kenapa maksudku?” tanyanya bingung.


“Kamu mau ke mana?”


“Mau ambil belanjaan-lah!”


“Benar-benar mau ke tempat Keira?”


“Terus ke mana lagi? Orang ketinggalannya di mobil dia kok!”


“Besok saja.”


“Nanti jadi bauk dagingnya!” jawab Celine sampai bibirnya mengerucut sempurna. “Sebentar doing.”


“Aku bilang, besok saja!” tegas Reksa. “Kamu mau dengar permintaan suami enggak sih? Apa Keira lebih penting dari suami, hah?! Aku tuh kecewa, waktu pulang kamu ternyata enggak ada. Ibu bilang kamu sudah sampai, aku sudah enggak sabar buat ketemu kamu tahu, Cel! Eh malah, keluyuran dan baru pulang. Terus waktu dimintai penjelasan, kamunya enggak kasih tahu, malah bilang mau ke Keira lagi. Belanjaan ketinggalan buat alasan? Belanjaan doing, Cel! Kita bisa makan yang lain, tanpa kamu harus memasak. Kamu istri aku lho, bukan pembantuku. Soal belanjaan itu, kamu bisa minta tolong Keira buat jaga dulu, besok baru diambil, atau kalau enggak kasih dia saja. Uang kita masih banyak buat belanja!”


“Waaah!”


Celine melebarkan mata dan rahang secara bersamaan. Perkataan yang Reksa yang super panjang akhirnya membuatnya lebih mengerti. Ternyata Reksa hanya rindu dan juga cemburu pada Keira, sekaligus kecewa ketika dirinya yang paling dicari justru tidak ada di rumah. Manisnya pria itu terbalut gengsi dan marah, justru menggemaskan sekali.


“Bilang dong kalau kamu kangen! Jangan malah memicingkan mata dengan tajam, kan aku jadinya takut, Reksa!” ucap Celine.


Reksa mengerjap-ngerjapkan matanya sembari memalingkan wajah. “Kamu yang enggak peka, seharusnya kalau aku marah tuh kamu masih kecupan. Kalau enggak ya, merayu biar aku enggak marah. Malah bukan membalas perkataan aku, dan lagi, muka kamu enggak ada takut-takutnya tuh!”


“Bukan begitu, aku cuma enggak mengerti harus bagaimana. Dan aku malu karena kejutan yang aku rencana justru aku gagalkan sendiri. Ya sudahlah, kalau begitu, aku manut kata-kata kamu buat mengabaikan belanjaan itu dulu. Aku mau mandi dulu, terus cari makan malam. Aku enggak terlalu lapar sih, tapi kalau makanannya enak, ya jadi lapar banget hahaha.”


Celine membubuhkan satu kecupan di pipi Reksa, lalu bergegas untuk melakukan aktivitas bebersih diri. Ia mengambil pakaian ganti di dalam lemari yang berada di kamar, sementara Reksa kembali duduk di sofa sebelumnya. Kalau bicara sama Celine, memang harus sejelas mungkin, piker Reksa. Dan tak seharusnya ia banyak memberikan kode, karena istrinya itu akan mengerti setelah tahun berganti.


“Sssttt … Reksa!” Celine nyaris berbelok ke arah lorong kecil yang menuju kamar mandi.


Reksa yang mendengar suara lirih Celine, lantas menoleh ke arah istrinya itu. “Ada apa?” tanyanya.


Mata Celine mengerling genit. “Mau ikut enggak? Mandi?”


“Mm?” Reksa tercenung dalam sesaat, lalu … ia bangkit sembari membuka kancing bajunya satu per satu. Senyumnya melebar dan wajahnya menunjukkan sebuah hasrat. “Berangkat!”


Celine lari lebih dahulu dengan ekspresi wajah menggemaskan, dengan rona yang sudah berwarna merah jambu.


***