Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 47-Danu Salah Langkah, Reksa Tersipu


“Danu!” ucap Celine kembali menatap Danu. “Lancang banget sih? Kalau memang sudah tahu kisah pernikahan kami, kamu enggak perlu membukanya di sini. Kan kamu bisa tarik Reksa keluar dari ruangan ini. Aku malu tahu, semua orang jadi tahu begini,” keluhnya dengan suara lemah.


“Cel?” Reksa menyentuh lengan Celine yang tampak ingin menangis.


Sementara Danu masih seperti orang linglung. Baru ia sadari bahwa selama berdebat dengan Reksa, ia sudah membuka fakta mengenai pernikahan Celine. Sungguh, Danu tidak pernah berniat seperti itu. Ia sudah gelap mata, mencoba membuat Reksa sadar diri dan lantas pergi, tetapi dirinya justru membuat Celine merasa semakin malu.


“Cel, ma-maafkan aku. A-aku enggak berniat seperti itu,” ucap Danu mencoba meraih jemari Celine, tetapi Reksa justru menghadapnya.


“Jaga sikap Anda!” tegas Reksa, yang setelah itu memberikan sedikit dorongan pada tubuh Danu.


Celine menghela napas. “Ya sudahlah, sudah terjadi dan sudah terlanjur. Aku memaafkanmu kok. Dan semua orang pasti tahu aku enggak pernah bisa menyimpan dendam terlalu lama. Terima kasih buat semua niat baik kamu, Danu. Tapi, sekeras apa pun kamu berusaha, aku enggak akan pernah melepas Reksa. Pernikahan kami enggak seburuk apa yang kamu bayangkan. Memang benar bahwa Reksa memiliki karakter yang kata orang sangat buruk dan menyebalkan, tapi selama nyaris dua bulan hidup bersamanya, aku justru menilainya enggak seburuk itu. Dia manis dan penuh perhatian. Dan ya, yang namanya perjodohan, pasti kami berdua butuh adaptasi, jadi hubungan kami di awal-awal hidup bersama enggak bagus.”


Manis? Reksa mengerjap-ngerjapkan matanya sembari mengusap tengkuknya. Kalau lebih diamati lagi, wajahnya sudah bersemu merah muda. Baru kali ini ia mendengar pujian yang Celine berikan, mengenai sikapnya yang manis. Apalagi Celine mengatakannya tepat di hadapan Danu. Oh, sungguh, rasanya Reksa seperti sedang terbang ke angkasa.


Sementara Reksa yang malu-malu sendirian dan Danu yang terpaku diam, Celine berjalan menghampiri Safrudin. Ia merundukkan badannya dan mengucapkan permintaan maafnya. Seburuk-buruknya Safrudin, Celine merasa dirinya harus tetap hormat. Ia menyadari kemampuannya yang jelek, tetapi Safrudin tetap menerimanya hingga bertahun-tahun.


“Maafkan saya, Pak Bos, atas ketidaknyamanan ini. Saya berjanji hal semacam ini tidak terjadi lagi dan ucapan suami saya memang agak keras, tapi dia tidak memiliki niat buruk kok! Sumpah deh!” ucap Celine, kemudian menghela napas. “Dan ... saya pamit. Maaf kalau hari ini membolos tanpa ada keterangan apa pun. Terima kasih juga karena Bapak selalu sabar pada saya selama ini. Saya jamin, hari ini adalah hari pertemuan kita berdua di kantor ini.”


Safrudin menelan saliva. “Cel ... Nyonya Celine. Tak bisakah A-anda tetap bertahan? Ma-maafkan saya kalau perlakuan saya selama ini begitu buruk, tapi saya berjanji saya akan memperlakukan Nyo—“


“Maaf, Pak. Ini sudah menjadi keputusan saya, lagi pula saya tidak mau menjadi beban bagi Bapak dan Danu, sekaligus rekan-rekan semua.”


Sekali lagi, Celine merundukkan badannya di hadapan Safrudin yang kini tengah memasang ekspresi penuh penyesalan. Bukan karena habis dihardik oleh Reksa, tetapi karena kesalahannya pada Celine. Ia menuduh wanita itu tanpa dasar dan bukti. Membuat Celine berada di dalam posisi menyedihkan, padahal ia tahu Celine tidak pernah kabur dari segala macam tugas yang ia berikan. Dan ternyata Danu-lah yang begitu terobsesi pada Celine, sampai melakukan banyak hal untuk Celine tanpa meminta izin.


Celine berlalu meninggalkan Safrudin, kemudian menyapa rekan-rekannya yang lain. Ia berjanji akan membuat pesta perpisahan setelah suasana hatinya sudah jauh lebih tenang. Ia juga berterima kasih untuk kesekian kalinya pada Danu, meski pria itu masih saja mematung tanpa memberikan satu pun kata-kata balasan. Dan terakhir, ia merangkul lengan Reksa, lantas pergi dari ruangan itu bersama suaminya tersebut.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Reksa ketika sudah memasuki mobil pribadinya bersama sang istri.


Celine menghela napas, lalu menggelengkan kepala. “Enggak. Aku sedih. Semua orang tahu tentang kronologi pernikahan kita. Lalu, aku keluar dari pekerjaan yang sudah lama aku geluti. Saat ini hatiku benar-benar campur aduk, tapi enggak bisa menyalahkan siapa pun, Sa. Kamu, Danu, dan mm ... Keira melakukan banyak hal dengan alasan yang sama, demi aku, ‘kan?”


“Aku enggak melakukannya demi kamu kok!” tukas Reksa sembari memutar setir, lalu melaju kendaraan pribadinya itu.


“Aku mendengar beberapa, tahu! Apa saja yang kamu bicarakan buat membela aku, meskipun mungkin enggak menyeluruh, tapi tetap saja aku mendengar perdebatanmu dengan Danu. Aku ngebut sama tukang ojek, biar cepat sampai karena takut kalau kamu membuat masalah besar. Untung saja, enggak terlalu macet, mungkin jam operasional belum berakhir.”


“Cih!” Reksa tersenyum. “Pantas saja, penampilanmu benar-benar berantakan. Sama sekali enggak mencerminkan istri seorang pesohor hebat!”


“Kamu cantik, Cel. Baik dan pemaaf. Kamu enggak matre, dan enggak pendendam. Kamu memang tulalit, tapi, yah, aku akui jika dirimu punya pesona tersendiri. Bahkan, si Tengik itu sampai tergila-gila padamu.”


“Cih ... ya, mungkin kamu benar, Sa. By the way, terima kasih karena kamu sudah berusaha membela aku. Mm ... sebagai balasannya aku sudah bikin camilan enak buat kamu. Seperti yang aku bilang tadi, aku belum lama masaknnya.”


“Camilan yang lain dong, Cel.”


Dahi Celine mengernyit. “Aku bikin tiga jenis kok, jadi ada yang lain.”


“Yang lain lagi, Celine.”


“Yang lain lagi? Ya sudah, tinggal mampir ke toko camilan, ‘kan?”


“Astaga ... cewek ini.”


Reksa menepuk jidatnya sendiri, menggunakan salah satu tangannya yang tidak sibuk mengendalikan setir mobil. Haruskah ia mengatakan sejelas-jelasnya agar Celine segera mengetahui camilan yang ia maksud tersebut? Oh, tidak, rasanya akan sangat memalukan. Tidak hanya sekali dua kali, Celine sering tidak peka, dan membuat Reksa harus menahan rasa malunya ketika sedang meminta.


“Itu tuh, Sa!” ucap Celine tiba-tiba sembari menunjuk sebuah toko kue. “Cari di sana saja.”


“Enggak usah! Lupakan saja!” tukas Reksa, kesal.


“Kok dilupakan? Katanya kamu mau camilan yang lain? Di sana ada kue kering yang enak tahu, Sa! Harganya murah lagi.”


“Enggak, Cel!”


“Ih! Bagaimana sih?! Lagian ya, Sa, aku sudah bikin tiga jenis. Ngapain mau yang lain lagi, coba?”


Reksa menghela napas, lalu berkata dengan lantang, “Aku mau kamu, Cel, mau kamu, dirimu! Ah ... siaaal!”


“Aku?” Celine mengernyitkan dahinya. “Oooh ... Hahaha! Ngomong dong, Reksa! Hahaha! Kamu sih selalu kode-kode begitu, sudah tahu otak bininya kayak jaringan lemot! Hahaha.”


Alih-alih merasa bersalah, Celine justru terbahak-bahak sendirian. Tak peduli tentang suaminya yang sudah dirundung perasaan salah tingkah. Hingga tubuh Reksa menghangat, dan wajahnya sudah memerah.


***