Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 82-Gertakan Celine


Vas bunga pun pecah berantakan membentur dinding kamar tersebut, sementara Ailen terduduk dengan gemetaran. Celine benar-benar marah dan Ailen terlalu syok, sampai-sampai berdiri pun tidak mampu. Yang artinya, Ailen tidak kuasa untuk mengambil ponselnya yang masih berada di atas meja di balkon kamar hotel tersebut.


Celine menghela napas. Detik berikutnya, ia berjalan menghampiri Ailen yang masih syok. Lantas, Celine menarik dagu lancip selebgram tersebut, kemudian berkata, “Aku bisa saja membuat wajah permakanmu itu babak belur, Nona Alien.”


“A-alien?” ucap Ailen saat Celine salah dalam menyebut namanya.


“Bahkan bisa lebih dari membuat babak belur, kakimu pun bisa patah jika aku sudah benar-benar marah.”


Ailen menelan saliva, lalu bergegas melindungi kedua kakinya.


”Tapi, aku enggak mau bikin masalah baru. Kamu bisa menuntutku atas kasus penganiayaan. Dan tindakanku barusan, enggak masuk dalam kasus itu, bukan?”


“Masuk! Kamu hampir mencelakaiku!”


Celine menyeringai. “Tidak! Vas bunga melewati dirimu dengan jarak setengah meter, yang artinya aku sengaja tidak mengarahkan benda itu padamu. Hanya saja, jika kamu masih menggoda suamiku, aku jamin salah satu anggota tubuhmu akan rusak!”


“Kamu menyukai Reksa? Silakan! Aku enggak peduli. Tapi, aku enggak akan membiarkan kamu menggodanya! Aku tahu Reksa tidak akan tergoda, tapi, seluruh tindakanmu sudah bikin aku terganggu, Nona Alien,” tambah Celine.


“A-alien lagi?”


“Kenapa? Enggak terima? Kenyataannya seperti itulah sifatmu, layaknya alien yang hendak merusak kehidupan manusia. Tapi, kamu si Ailen yang nyaris merusak rumah tanggaku. Kamu pikir orang miskin sepertiku akan langsung minder dan mengalah begitu saja? Oho! Tidak sama sekali. Reksa adalah suamiku, dan selamanya akan begitu. Dan lihat, Reksa sudah menjadikanku wanita kaya tanpa aku minta, yang artinya dia pun enggak keberatan kalau aku memanfaatkan kekayaannya!”


Celine menarik dirinya, setelah melepas dagu milik Ailen dengan kasar. Sesaat ia menatap wanita itu dengan nanar dan penuh kebencian. Tampak, Ailen sudah menitikkan air mata. Wanita selebgram itu sepertinya benar-benar ketakutan. Pasalnya, memang benar, tenaga Celine tidak main-main dan sejak awal, Celine sudah memberikan penekanan. Apalagi keadaan Ailen masih drop karena aksi salah satu petinggi hotel.


“Kenapa? Kenapa harus kamu yang jadi istrinya? Selama ini akulah yang menyukainya!” ucap Ailen yang sudah berhasil bangkit. Perkataannya berhasil menghentikan langkah Celine. ”Aku yang paling membutuhkan Reksa, Nona Celine. Hanya dia yang bisa aku cintai. Dia sosok yang dingin, membuktikan bahwa dirinya begitu setia dan bisa dipercaya. Tapi, kenapa harus kamu yang memilikinya?”


“Kamu hanya orang baru, selain itu kamu sudah sangat tangguh. Sementara aku, aku terus-terusan nyaris dilecehkan! Semua pria yang aku temui benar-benar jahat, dan hanya Reksa yang cocok untukku. Untuk diriku yang mengalami kejadian-kejadian seperti itu, Nona Celine. Tak bisakah kamu memberikan Reksa padaku?” tambah Ailen.


Celine mendengkus kesal. Detik berikutnya, ia berbalik badan dan kembali menatap Ailen. “Aiiish! Asal kamu tahu, ya! Aku sudah mengenalnya sejak aku masih balita, tahu! Lalu, itu terus-terusan nyaris dilecehkan? Bukankah kejadian itu bersumber dari dirimu sendiri? Kamu membangun image panas, yang artinya kamu tidak keberatan menjadi objek pandangan nakal para pria, bukan?”


Ailen menelan saliva. Ucapan Celine langsung mengenai inti hatinya.


“Tahu nggak? Kamu juga genit, ganjen, suka mengerlingkan mata sama cowok-cowok. Enggak banget deh pokoknya! Padahal muka kamu tuh enggak cantik-cantik banget. Banyak permakan! Haduh jadi julid kan, enggak elegan lagi gara-gara geram sama kelakuan kamu yang justru playing victim begitu. Banyak cewek pakaian sexy tapi tetap aman tuh, karena kelakuan mereka tetap elegan dan tegas! Sementara kamu tuh genitnya minta ampun, Woi! Sadar diri sebelum menyalahkan orang lain! Lagian, ya, mana mungkin aku kasih Reksa ke cewek macam kamu sih, Alien?! Mikir dong! Itu tuh enggak mungkin! Reksa juga bukan barang. Dia adalah manusia kutub yang super dingin, tapi sangat mencintai aku!”


“Cel—”


“Ce-celine!” seru Ailen, membuat Celine lagi-lagi membatalkan niatnya untuk pergi. “Jangan panggil aku alien! Aku tuh punya nama!”


“Siapa suruh punya nama susah disebut, bikin lidah ketekuk saja. Alien Deodoran? Haaaah!”


“Apa?! Alien Deodoran? Iiiih!”


Ailen ingin mengejar Celine, tetapi ia sangat takut. Akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah menangis sesenggukan dan lantas meluruhkan badan di atas lantai hotel itu. Sementara Celine tampak tersenyum puas. Segala unek-uneknya pun keluar bagaikan kotoran yang sudah lama tak dikeluarkan, lega rasanya! Ia berjalan dengan kemayu meninggalkan Ailen serta kamar hotel itu.


***


Malam harinya, di kamar hotel. Reksa menatap Celine yang duduk dengan posisi tak biasa. Istrinya itu menaikkan salah satu kaki di atas kaki lainnya, kedua lengan yang terlipat, sorot mata menatap lurus ke depan, dan wajah yang datar, tetapi memancarkan sebuah aura berbahaya. Reksa merasa ada yang tidak beres, apalagi ia sempat mendapatkan pesan dari Ali mengenai aktivitas Celine pada siang hari ini.


Mengenai Celine yang belanja gila-gilaan, dengan barang-barang branded di salah satu mal di Kuta, Bali. Bukan tidak senang, atau marah karena Celine telah menghabiskan banyak uang. Hanya saja ... cukup heran, oh, mungkin sudah sangat heran. Ada apa gerangan? Pikir Reksa yang belum mendapatkan pemberitahuan dari Ali lagi, seolah sekretarisnya itu dibungkam tak boleh banyak bicara.


“Kenapa? Lihat-lihat begitu? Aku cantik ya?” Menyadari Reksa tengah memberikan tatapan, Celine lantas bertanya. Sementaranya sikapnya tidak banyak berubah, selain hanya lirikan mata yang sudah tertuju pada diri suaminya itu.


Reksa menghela napas. Merasa harus bicara dengan serius, ia lantas menghampiri keberadaan istrinya itu. Dan sebelum memutuskan untuk benar-benar duduk, ia memberikan sebuah kecup manis di dahi sang istri.


“Iya, kamu cantik kok. Aku enggak mungkin bisa suka sama kamu kalau kamu enggak cantik, terlepas dari semua sifat-sifat unikmu,” jawab Reksa atas pertanyaan Celine yang sempat mengambang dalam beberapa saat.


“Alah!” tukas Celine, lalu memberikan cibiran.


“Eh, nggak percaya! Lagian, ada apa sih sebenarnya? Kenapa mendadak berubah seperti ini?”


“Ya enggak ada apa-apa! Memangnya salah ya kalau aku mau berubah lebih baik, biar setara sama kamu yang super berkharisma? Kalau soal belanjaan banyak, kamu bisa kok potong dari jatah bulananku, Sa. Enggak masalah. Lagian, aku enggak begitu suka shopping, penginnya melancong ke semua negara di dunia ini. Itupun pastinya setelah aku mendapatkan pekerjaan dan bisa kumpulin uang sendiri. Ingat, cita-cita dengan hasil jerih payah sendiri pasti jauh lebih membahagiakan!”


Reksa menghela napas, agak kesal sebenarnya. Namun, ia tetap harus bersabar demi menyelidiki apa yang terjadi dengan perubahan sikap sang istri. “Aku enggak pernah permasalahkan soal uang, yang penting kamu bilang jujur dan enggak cuma matre doang, Cel, tapi juga cinta sama aku. Kamu kan tahu kalau suami kamu ini kaya raya. Barang-barang yang kamu beli saat ini pun rasanya masih belum seberapa. Cuma ... penyebab yang bikin kamu tiba-tiba berubah itu apa?"


“Kan sudah aku bilang tadi, aku mau jadi istri yang pas buat kamu, Sa. Yang setara gitu kalau dilihat lagi bareng sama kamu. Aku kan dari keluarga biasa, nah aku mau merangkap jadi wanita sosialita! Yang cantik, elegan, pintar, dan cekatan kayak Keira. Yaaa ... meskipun otak aku enggak bisa langsung cemerlang. Tapi, ambisi aku yang besar dan diriku yang mau kerja keras, aku pasti bisa mewujudkannya. Saat bekerja sebagai admin di kantor Pak Culun saja aku bisa kok, meskipun harus beradaptasi sampai berbulan-bulan.”


Reksa tidak bisa berkata-kata lagi. Ucapan Celine sudah terlalu panjang. Dengan kata lain, sudah tidak ada alasan lagi baginya untuk mendesak istrinya itu. Mungkin besok ia akan memastikan faktanya sendiri dari Ali yang seharian ini mendampingi sang istri.


***