Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 80-Rencana Celine


Baju, tas, sepatu, accesories, serta barang-barang khas wanita lainnya, masing-masing berada di dalam paperbag yang memiliki logo dari toko yang terdapat di sebuah mal besar, tempat Celine berbelanja. Ya, setelah mendapatkan black card dari Reksa, ia tidak main-main dalam mengeluarkan banyak budget untuk bersenang-senang. Ia bahkan melupakan prinsipnya sejak awal untuk tidak mata duitan.


Namun, pesan dari Ailen sudah benar-benar membuat Celine naik pitam. Ia tidak senang, tetapi bingung harus melampiaskan kekesalannya pada siapa. Kalau pun pada Reksa, sebuah pertengkaran pasti akan terjadi, atau mungkin jawaban-jawaban tak jauh beda kembali terucap dari bibir Reksa.


Celine tidak mau hanya berdiam diri dan membiarkan Ailen semakin seenaknya sendiri, rasanya tidak puas, jika dirinya tidak memberikan semacam gertakan yang lebih menyakitkan daripada aksi jambak-jambakan. Celine yang selalu mengalah pada keadaan, mendadak ingin menjadi pemenang. Ia tidak akan membiarkan wanita mana pun merusak kebahagiaan yang belum lama ini ia dan Reksa dapatkan.


“Nona Celine? Apakah ini masih belum cukup?” tanya Ali Arsyid yang dikirim untuk menemani Celine, dan hatinya lantas merasa kebingungan. Belanjaan Celine memang luar biasa banyak, seolah-olah istri dari tuannya itu sedang tidak memiliki pakaian lagi. “Nona—”


Celine menghela napas, lalu bergerak dengan elegan, dan lantas menatap Ali. “Kurang banyak! Pokoknya kuraaang!” jawabnya setelah itu.


Suara Celine yang cukup keras, sukses membuat Ali tersentak. Pria itu memang tidak mengira kalau Celine akan memberikan sahutan tegas dan lantang.


“Ba-baik, Nona, baiklah,” ucap Ali yang memutuskan untuk menyudahi rasa herannya. Namun, ... diam-diam, ia mengirimkan pesan untuk Reksa yang berisi seputar aktivitas Celine hari ini.


“Kalau capek, Anda boleh kembali ke hotel kok. Enggak masalah, saya bisa bawa barang belanjaan sisa dengan tangan sendiri,” sindir Celine.


Ali langsung menggeleng cepat. “Tidak, Nona, tidak lelah sama sekali. Silakan, pilih-pilih lipstiknya lagi, saya akan mendampingi.”


“Oke! Bagus deh kalau begitu. Tenang saja, nanti saya traktir makan besar! Hehehe.”


Ali hanya tersenyum kecut, lantaran bingung harus kembali menjawab dengan kata-kata apa. Celine juga cukup unik menurut penilaiannya. Seorang Nyonya Pandega, tetapi sikap dan tingkah lakunya jauh dari kata sosialita. Gayanya dan cara bicaranya cenderung biasa saja, meskipun memiliki wajah yang cantik dan menawan. Namun, begitulah, yang Ali lihat dari sosok istri atasannya tersebut.


Mungkin, karena Celine berasal dari keluarga biasa, dan bukan keluarga konglomerat layaknya Reksa, sehingga wanita itu terlihat kurang anggun. Entah apa yang membuat Reksa bisa menikahi wanita seperti itu, apalagi Reksa memiliki status diri yang begitu tersohor dan kaya raya. Rasanya seperti tengah menyaksikan dongeng cinderella di dunia nyata. Atau mungkin banyak hal menarik yang tidak Ali ketahui dari sisi Celine serta keluarga wanita itu. Apalagi saat Reksa yang super angkuh bisa langsung berubah menjadi kucing manis di hadapan Celine, sungguh, sesuatu yang mustahil, tetapi justru bisa terjadi.


“Oh ya!” Celine mendadak menghentikan langkah, bahkan kegiatannya, lalu kembali menghadap ke arah Ali yang sejak tadi berada di belakangnya. Pria itu tampak kewalahan dalam membawa beberapa paperbag, tetapi Celine mencoba tidak peduli, sebab saat ini ia sedang belajar untuk berbuat jahat secara elegan. “Anda tahu di mana Alien ups ...! Maksud saya, Ailen menginap?”


”Ailen? Mm, maksudnya Nona Ailen Deolinda Davira, brand ambassador Golden Rose?” sahut Ali.


Celine menghela napas, lalu mendecapkan lidah. Ia mengingat semua sikap Keira di saat senang tidak habis pikir pada dirinya. ”Tentu saja-lah, Pak Ali! Memangnya siapa lagi?”


“Oh, tentu saya mengetahuinya, Nona. Beliau menginap di hotel tempat inap Tuan Reksa sebelumnya.”


“Waaah! Gila! Ah ... maksudnya, lu-luar biasa. Wanita itu benar-benar stalker ya?” Celine memasang ekspresi marah, tetapi wajahnya justru terlihat konyol.


Ali merasa ada yang salah. Mengenai Celine yang tiba-tiba saja menanyakan keberadaan Ailen. Jangan-jangan ... kegiatan berbelanja gila ini adalah salah satu rencana Celine untuk mengertak Ailen? Tunggu! Benar juga, pikir Ali. Setelah beberapa hari bertemu dengan Celine, Ali tidak pernah melihat wanita itu tampil berkelas, cenderung apa adanya dan lebih banyak menggunakan pakaian kasual. Lalu, kalau dihubungkan dengan pertanyaan mengenai Ailen barusan, sepertinya Celine memang berencana tampil maksimal untuk menemui selebgram tersebut.


“Kalau begitu, Pak Ali, bisa mengantarkan saya kan? Setelah ini?” Celine pun meminta.


Ali dibuat tercengang lagi, bahkan sampai gemetar. Keluar dingin muncul di dahinya setelah itu. ”Me-memangnya Nona Celine memiliki tujuan apa ketika sudah bertemu dengan Nona Ailen?” selidiknya terlebih dahulu.


“Hanya ... soal wanita saja.” Celine tersenyum, tetapi senyumnya terlihat aneh. ”Kenapa Pak Ali enggak mau? Ya sudah, enggak apa-apa kok!”


“Bu-bukan begitu, Nona. Hanya saja, mm, kita kan tidak tahu apa saja agenda Nona Ailen. Beliau belum tentu bisa diajak bertemu setelah ini. Apalagi tadi pagi, beliau masih menjalani beberapa photoshoot untuk produk Golden Rose.”


Celine menyeringai. “Tenang saja kalau itu sih gampang! Tapi, siang dan sore nanti, dia enggak bakalan ketemu sama Reksa, 'kan”


“Tidak, Nona. Tuan Reksa sedang bertemu relasi penting. Dan masalah photoshoot pagi ini pun sepertinya sudah Tuan Reksa serahkan pada tim terkait.”


“Waaah! Kayaknya dia salah paham. Hahaha.”


Dahi Ali mengernyit. “Mm?”


“Nggak kok. Hehehe.”


Otak Celine berada di mode cemerlang, mungkin lebih tepatnya licik. Tentu saja, ia memeras daya pikirnya untuk menghadapi situasi saat ini, sampai kebodohan yang selalu setia pada dirinya, perlahan bersedia menyingkir terlebih dahulu.


Lantas, Celine menyerahkan dua paperbag yang ia bawa sendiri sejak awal pada Ali. Detik berikutnya, ia merogoh tas jinjing yang ia kenakan, bahkan baru ia beli belum lama ini. Sebuah ponsel muncul, lalu Celine memainkan benda tersebut.


Celine: Ailen, ini saya Reksa Wirya Pandega. Saya menggunakan nomor ponsel lain untuk membalas pesanmu, karena khawatir istri saya mengetahuinya. Kosongkan waktumu sore nanti, dan saya akan menemuimu di hotel tempatmu berada. Jangan temui atau bertanya pada saya lagi, jika kamu bertemu dengan saya hari ini. Saya akan lekas datang dan persiapkan dirimu saja.


Demikianlah isi pesan yang Celine tulis. Tak berselang lama, ia mengirimkan pesan tersebut pada Ailen yang nomornya sudah ia hafal sekaligus tersimpan sebagai 'Wanita Ular' di dalam ponselnya.


Sementara itu, Ali semakin gelisah. Sepertinya Celine sedang merancang suatu rencana yang Ali yakini dapat menyebabkan kegaduhan. Apalagi saat mengingat betapa centilnya Ailen selama ini, selebgram itu sering menanyakan keberadaan Reksa, bahkan melesak masuk ke dalam ruang kerja Reksa. Kalau Celine sudah tahu, maka benar, Celine hendak membuat perhitungan.


Astaga! Jadi, apa yang harus Ali lakukan?


***