
Reksa: Aku sudah berada di depan kantormu. Jangan mau disuruh lembur, katakan pada bosmu aku akan membuat masalah, jika dia masih memberimu banyak pekerjaan, Cel. Pokoknya aku tunggu sekarang dan cepatlah keluar!
Celine menghela napas sesaat setelah membaca sebuah pesan yang Reksa kirimkan padanya. Bukan karena keinginan Reksa agar ia melawan bosnya yang selalu menyebalkan, tetapi hari ini bosnya itu justru cenderung banyak diam. Namun, lantaran rencana Celine untuk menemui Keira harus menjadi gagal total. Sudah dua hari sejak ia pulang dari Rusia, ia belum sempat berjumpa dengan sahabatnya itu.
Lalu, sekarang? Sungguh, hati Celine semakin dibuat kesal, karena tanpa memberitahukan apa pun padanya, Reksa sudah ada di depan kantor dan memintanya lekas keluar.
“Oke, dia enggak salah kok. Aku yang salah karena enggak bicara sama dia, kalau aku mau bertemu dengan Keira terlebih dahulu,” ucap Celine yang berangsur menyadari kesalahannya sendiri. “Tapi, kenapa dia tiba-tiba perhatian seperti ini? Bahkan, tadi pagi dia mau mengantarku berangkat bekerja. Jadi, sebenarnya dia itu cinta enggak sih sama aku?”
Kebingungan Celine mengenai perasaan Reksa yang masih belum jelas, membuatnya hatinya kembali bertanya-tanya. Sejak kemarin ia bersikap acuh tak acuh pada Reksa, meski suaminya itu sudah berkenan untuk mendekatinya. Entah, perasaan Celine hanya belum lega. Sementara ingin langsung bertanya, ia merasa sangat malu. Bibir seribu bahasanya itupun mendadak kelu, ketika ia berusaha untuk mengumpulkan niat tentang mencari kepastian atas perasaan Reksa yang ambigu tersebut.
Danu yang tidak sengaja menatap Celine sedang menghela napas, menjadi sangat iba. Ia pikir Celine masih terbebani atas pernikahan itu. Sepertinya ucapan Keira memang benar, bahwasanya hubungan Celine dan Reksa sangat tidak baik-baik saja. Oh, seandainya Danu sudah memiliki rencana, mungkin ia akan segera menyelamatkan hidup Celine yang mendadak dibuat berantakan karena sebuah perjodohan.
Sesaat setelah bangkit dari duduknya, Danu bergegas untuk menghampiri meja kerja di mana Celine berada. Danu berhenti tepat di hadapan meja Celine yang tidak ada bilik penghalang.
“Cel? Ayo kita pulang. Pak Safrudin enggak memberikan lemburan padamu lagi, ‘kan?” ucap Danu menawarkan diri untuk menjadi teman perjalanan Celine dari ruang kerja menuju gerbang kantor.
Celine menatap Danu, lalu menggeleng pelan. “Enggak, Nu, kayaknya lubang belakang si Bos lagi bolong deh, makanya enggak menyiksa aku sama sekali hari ini. Dia benar-benar nggak kasih aku banyak pekerjaan. Entah, aneh sih, tapi ya aku sangat bersyukur. Mungkin saking kangennya sama aku kali ya? Makanya dia enggak mau bikin aku kesulitan?”
“Hahaha. Lubang belakang apa maksud kamu, Cel? Ada-ada saja!”
“Enggak perlu aku jelaskan, kamu pasti sudah tahu, Danu. Lagian jorok, hahaha. Well, kamu duluan saja, Nu, aku sudah dijemput sama Reksa. Jadi, agak santai pun tak apa. Biar dia juga tahu rasa, nunggu aku-nya lama, sekali-sekali bolehlah usil sama seorang konglomerat hahaha.”
Danu mengerjapkan matanya. Ada perasaan perih yang mendadak terasa di dalam hatinya. Reksa sudah menjemput Celine? Yang artinya saat ini, ia tidak memiliki banyak waktu lagi untuk bersama dengan Celine? Bahkan kesempatan untuk mengantarkan wanita pujaannya itu pulang, seperti yang selalu ia idam-idamkan selama ini, sudah benar-benar hilang?
Berbeda dengan Danu yang langsung menunjukkan respon berbeda, Celine justru tampak santai bak tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Namun, begitulah adanya. Setiap berbicara, Celine tidak pernah memiliki niat untuk membuat hati orang lain merasa risau. Ia cenderung ceplas-ceplos dan kerap tidak menyadari kosa kata yang ia kenakan cukup mengganggu perasaan orang.
“Enggak, Cel,” ucap Danu sesaat setelah sempat terdiam. “Aku bisa menunggumu sampai kamu mau keluar dari ruangan ini. Lagian, sudah sangat sepi.”
Celine mengernyitkan dahi. “Kenapa harus menungguku? Ini kan weekend, Nu, yang katanya mau kenalan sama Reksa saja sudah pada cabut, demi ketemu pacar mereka masing-masing tuh. Cuma Yulia sama Romeo yang masih sibuk sama laporan mereka, dengar-dengar sih ada yang salah sama datanya. Makanya mereka fokus banget dari tadi,” ucapnya melantur dan malah membahas orang lain.
“Aku ... aku yang ingin berkenalan dengan Reksa, Cel. Boleh, ‘kan?”
“Kamu? Buat apa?” selidik Celine. “Dari semua orang yang ada di sini, seingatku cuma kamu dan si Bos yang enggak terlalu rempong membicarakan soal Reksa. Tapi, kenapa tiba-tiba kamu ingin berkenalan dengannya?”
“Aku cuma ... ingin tahu saja wajah asli suami kamu saja Cel. Lagian, waktu itu aku enggak datang ke resepsi pernikahan kalian.”
Celine yang sudah memberikan izin pada Danu, lantas bangkit dari duduknya. Selain agar Reksa dapat kenalan baru, sebenarnya Celine ingin melihat respon Reksa ketika suaminya itu benar-benar bertemu dengan seorang Danurdara. Selama di Rusia, Reksa tampak cemburu setiap kali Celine membahas mengenai Danu. Lantas, apakah kali ini Reksa akan semakin uring-uringan?
Sekalian iseng, Celine ingin menyelidiki lebih dalam mengenai perasaan suaminya lewat ide tersebut. Meski memang, ada perasaan bersalah yang tersemat di hati Celine lantaran ia nyaris sama saja memanfaatkan Danu, tetapi bukankah tidak salah? Sebab Danu sendiri yang menawarkan diri? Celine berjanji setelah rencananya berhasil, ia akan mengatakan sejujurnya pada Danu sekaligus meminta maaf pada pria itu.
Celine dan Danu berjalan bersama. Mereka masuk ke dalam sebuah elevator yang akan mengantarkan mereka menuju lantai pertama. Waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama, sebab kantor tersebut memang hanya memiliki tiga lantai saja. Keduanya melanjutkan langkah menuju gerbang untuk keluar sesaat setelah sampai di lantai bawah.
“Reksa!” seru Celine pada suaminya sendiri yang tampak berdiri dan bersandar pada badan mobil sembari menundukkan kepala, sementara salah satu tangan suaminya itu sibuk memegang ponsel.
“Kenapa baru keluar sih dari tadi?!” Sesaat setelah menatap Celine, Reksa mengucapkan sebuah pertanyaan yang sarat akan rasa kesal. “Aku sudah di sini sejak sepuluh menit yang lalu, Cel! Aku jadi pusat perhatian gara-gara kamu, dan itu bikin aku enggak nyaman, tahu! Belum lagi debu-debu jalanan, kalau aku sampai batuk berdarah bagaimana?!”
“Cih, sombong dan manja sekali,” lirih Danu.
“Halah!” kata Celine sembari mengibaskan telapak tangannya. “Lebay banget sih! Lagian ...?”
Mata Celine menatap sekeliling dan ia mendapati beberapa rekannya yang mengaku ingin bertemu pacar, justru masih berada di depan gerbang satu meter dari keberadaan Reksa. Mereka memberikan isyarat kedipan mata pada Celine, berharap agar Celine memperkenalkan suaminya. Dan memang benar, sejak tadi rekan-rekan Celine tersebut ingin sekali menyapa Reksa, tetapi tak ada satu pun yang berani mendekat, karena selain takut tidak digubris, mata Reksa kerap memberikan tatapan tajam.
Celine menggelengkan kepala, lalu mengusir teman-teman satu kantornya itu dengan kibasan telapak tangannya. Tampak Sofia yang menghela napas kecewa, juga seruan ‘huu!’ mengiringi kepergian mereka. Celine menghela napas lega, setelah itu ia kembali menatap Reksa.
“Sa, perkenalkan ini Danurdara,” ucap Celine, kemudian beralih menatap Danu. “Dan Danu, perkenalkan ini Reksa.”
“Danu.” Danu mengulurkan tangannya ke depan untuk isyarat bahwa ia ingin menjabat tangan Reksa. Namun, dalam beberapa saat yang ia dapatkan bukanlah sambutan hangat, melainkan tatapan super tajam bak belati yang sudah siap mengiris-iris.
“Reksa!” seru Celine sembari mengguncang lengan Reksa, berharap agar suaminya itu segera memberikan balasan setimpal untuk Danu.
Reksa menggertakkan gigi. Dengan terpaksa ia menyambar telapak tangan Danu, lalu berkata, “Reksa Wirya Pandega!”
Detik berikutnya, Reksa menguatkan cengkeramannya di telapak tangan Danu. Sesaat Danu merasa terkejut, tetapi kemudian ia memberikan hal yang serupa. Tak lama setelah itu, kedua wajah pria yang memiliki tinggi badan nyaris sama tersebut langsung memerah. Urat-urat hijau menghiasi paras mereka, dan genderang peperangan seolah telah mereka bunyikan.
Celine melongo. Kenapa jadi seperti ini? Meskipun kerap bersikap bodoh dan ceroboh, kalau soal mendeteksi sebuah emosi, sepertinya ia masih sanggup. Ia menyadari bahwa di antara Reksa dan Danu ada kebencian yang begitu besar.
Oh, begini toh rasanya diperebutkan dua pria tampan? Hihi, kan aku jadi malu, pikir Celine yang justru ke-PD-an sendiri. Bahkan, ia sampai tersenyum-senyum sendiri karena merasa dirinya seperti seorang tuan putri sekaligus wanita tercantik sedunia.
***