
Celine berdiri tepat di depan sebuah hotel biasa, yang tidak berbintang lima. Namun, meski begitu, Celine harus mengeluarkan uang kurang lebih lima ratus ribu untuk menginap satu malam di tempat itu. Nominal yang cukup membebani Celine, apalagi dirinya hanyalah karyawan kantor kecil, sementara gajinya sesuai upah minimum regional.
Celine memang tidak pernah meminta sepeser pun uang dari Reksa, kecuali ganti rugi atas barang hotel yang pernah ia pecahkan. Namun, hingga saat ini Reksa tak pernah membahas apa pun tentang jatah bulanannya. Sungguh, Celine tidak berharap, tetapi ... untuk saat ini saja, ia menganggap bahwa dirinya begitu menyedihkan. Sebagai seorang istri dari konglomerat, ia justru tetap miskin.
“Oke, enggak apa-apa. Lagian, kalau dia memberikanuang, pasti aku akan menolak mentah-mentah. Jadi, aku nggak boleh sesedih ini sama nasib sendiri,” gumam Celine sembari menyemangati dirinya sendiri.
Wanita muda itu lantas melangkah untuk memasuki pintu hotel tersebut. Tidak apa-apa, keluar uang banyak sesekali. Daripada harus pulang ke rumah sang ayah dan menimbulkan masalah lebih besar. Uang masih bisa dicari lagi, sementara masalah yang sudah terjadi biasanya akan lebih sulit diatasi.
“Celine!” seru seseorang yang sukses membuat langkah Celine terhenti.
“Siapa?” Mata Celine melebar, sementara sepasang kakinya lantas berputar. “Reksa?!”
Reksa masih berada di dalam mobilnya, tampak menatap Celine dengan mata yang tajam. Kegeraman memang sedang melanda hatinya, pasca Celine benar-benar keluar dari apartemennya beberapa menit yang lalu. Awalnya, Reksa ingin bersikap cuek saja, tetapi entah mengapa hati kecilnya merasa tidak tega. Terlebih ketika mengingat cerobohnya sang istri, yang bisa saja mengumbar masalah tanpa pikir panjang pada Rodian maupun Deswita. Sehingga, Reksa tidak punya pilihan lain, selain segera bergegas mengikuti Celine.
Apa yang Reksa pikirkan ternyata salah tentang kepulangan Celine ke rumah Rodian, saat dirinya justru mendapati Celine menghentikan taksi di depan sebuah hotel biasa. Reksa menduga bahwa Celine mungkin tidak mau pulang, karena takut diberikan banyak pertanyaan yang menyebalkan oleh Rodian, Deswita, bahkan Kenny.
”Kenapa kamu ada di sini, Sa?” tanya Celine berlagak bodoh, ah, ia memang cukup bodoh dan plinplan. Pertama kali bekerja sebagai admin saja, ia membutuhkan waktu setengah tahun untuk benar-benar paham. Itupun dengan bantuan para rekan, terutama Danurdara. Dan alasan tersebut merupakan penyebab betapa Safrudin begitu tidak menyukainya.
Reksa ingin marah, sungguh! Kalau saja tidak mengingat betapa nekatnya Celine, mungkin ia akan mengomel lagi. Setelah memutuskan untuk turun dari mobil, Reksa berjalan menuju keberadaan sang istri. Dengan usaha cukup keras, ia menahan segala ego dan gengsi, yang juga sekaligus emosi.
“Ayo kita pulang,” ajak Reksa.
Celine mengernyitkan dahinya. “Kamu sudah enggak marah?” tanyanya.
“Enggak kok. Sudah lega, setelah marah sepanjang hari, Cel.”
“Enggak apa-apa kok kalau belum lega, lagian kan aku sudah sampai sini. Tinggal masuk dan pesan kamar, jadi aman! Umm ... aku enggak benar-benar pergi ke rumah orang tuaku kok, takut kalau bikin masalah baru. Jadi, kamu enggak perlu khawatir lagi, Reksa”
Reksa menggeleng. “Ayo kita pulang.” Ia menghela napas sembari menundukkan kepala. “Aku minta maaf karena sudah kekanak-kanakan, Cel. Jadi, please ... mari kita pulang.”
”Cih.” Celine tersenyum. ”Kamu mengingatkanku seperti saat kita berada di Moskow. Aku yang kabur pagi-pagi demi jalan-jalan ke Kremlin, dan dengan alasan takut aku bikin masalah serta khawatir kedua orang tuaku marah-marah, kamu mengejarku sampai ngos-ngosan.”
“Ya, sekarang pun sama, Celine.”
“Masa?! Bukannya saat ini kamu sedang mengkhawatirkan diriku dan bukan karena takut pada ayah ibuku?”
Reksa menghela napas, jengah. “Ayo kita pulang, Cel. Sebentar lagi hujan.”
“Hmm ... daripada pulang, kenapa kita enggak nongkrong saja sekalian, Sa? Biar sekali-kali kamu tuh kena angin malam, atau bahkan air hujan. Cobalah membuka diri dan nikmati dunia ini, alih-alih mengekang diri seperti itu. Kamu bisa makin tua, tahu!”
“Jangan gila, ini sudah malam! Ayo kita pulang, Celine!”
Reksa merenggut jemari Celine, sebelum istrinya itu semakin banyak rencana yang tak seharusnya. Hari sudah sangat malam, bahkan kemungkinan sebentar lagi akan hujan. Gila jika Reksa menyetujui permintaan sang istri. Lagi pula, ia tidak pernah nongkrong yang tidak ada faedahnya sama sekali.
Berbeda dengan Celine yang sangat menyukai suasana malam ibukota. Menurutnya sangat syahdu dan bikin hati tentram. Ia sering melakukannya bersama Keira dan Kenny, jauh sebelum dirinya disibukkan dengan segala pekerjaan, sementara Keira sibuk kuliah, begitu juga Kenny.
”Ayolah, Reksa, sesekali?” Celine menahan gerakan Reksa sebelum suaminya itu berhasil memasukkannya ke dalam mobil.
Reksa menoleh ke arah Celine, lalu berkata, “Tidak! Titik!”
“Enggak asyik banget sih jadi laki!” Meski marah, Celine tetap menyerah.
Mobil yang mereka tumpangi langsung melaju menyusuri jalan raya yang perlu dilewati. Kecepatan yang Reksa gunakan pun terbilang cepat. Jalanan Jakarta memang tidak pernah kosong, tetapi kadang kala cukup lengang. Mungkin Reksa hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit untuk sampai di apartemen, dengan kondisi perjalanan yang begitu lancar.
***
Reksa membuka pintu, sementara Celine langsung menyerobot tanpa permisi sama sekali. Kini giliran Celine yang merasa dongkol, sebab penolakan Reksa terhadap idenya untuk menikmati udara malam sebentar.
“Cel?” ucap Reksa sebelum Celine berhasil masuk ke dalam kamar.
Langkah Celine terhenti detik itu juga. Ia menatap Reksa setelah berbalik badan. ”Iya?”
“Umm ....” Reksa mengusap-usap tengkuknya. Ada kecanggungan yang saat ini tengah meliputi seluruh dirinya. Meski begitu, ia tetap berencana untuk mempertanyakan apa yang ada di dalam benaknya saat ini. ”Katanya ... mm, mau tidur di kamarku.”
Dahi Celine berkerut. “Apa? Kapan aku bilang begitu?”
“Ta-tadi.” Reksa salah tingkah.
”Oh tadi. Bukannya kamu menolak dan justru mengusirku? Jadi, ya sudah.”
”Ya sudah bagaimana?”
“Enggak jadi-lah, Reksa!”
”Ke-kenapa begitu?”
“Memangnya harus bagaimana? Aku hanya menuruti semua ucapan kamu kok!”
Reksa mengumpat pelan. Jengkel pada Celine yang terlalu tidak peka. Apakah ia harus mengatakan secara gamblang jika ia ingin bersama Celine malam ini? Dan sebenarnya, itulah salah satu alasan mengapa ia menolak ide nongkrong dari istrinya.
“Cel!” ucap Reksa begitu tegas. “Apa kamu masih datang bulan?” Suaranya kembali melemah
Celine menggeleng polos. “Enggak, sudah selesai sejak dua hari yang lalu. Kenapa? Mau membelikan pembalut?”
”Astaga ... yang benar saja, Cel!”
“Terus kenapa?”
“Siaal!”
Reksa yang sudah tidak tahan, bergegas untuk mengambil langkah cepat. Ia menghampiri Celine yang masih berdiri begitu santai. Cepat, Reksa menarik sebelah lengan Celine dan lantas mengecup bibir istrinya itu.
Tentu saja, Celine yang tidak memiliki pikiran macam-macam begitu terkesiap sampai matanya terbuka lebar. Kini ia baru sadar apa yang sedang Reksa inginkan. Tentu saja sebuah kehangatan demi meredam besarnya hasrat yang datang.
Celine menutup matanya dan memberikan balasan yang setimpal. Kegiatan mereka berlanjut menjadi lebih dari sekadar kecupan. Sampai saat Reksa memutuskan untuk mengangkat tubuh Celine, sembari sesekali memberikan aksi nakal yang terbilang menggiurkan. Mereka menyatukan keinginan di dalam kamar Reksa yang begitu elegan.
“Reksa ....”
“Diamlah ....”
***