Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 70-Sebuah Pengakuan


“Aku apa? Jangan dipotong-potong dong, Sa! Sudah tahu otak aku itu super lemot, masih saja Pak Reksa ini!”


Celine meminta penjelasan pada Reksa yang mendadak memotong ucapannya sendiri. Hanya sebatas kata 'aku' di kalimat terakhir dan memberikan kesan cukup ambigu. Apalagi untuk otak Celine yang kurang pintar, tanpa penjelasan gamblang, dijamin Celine malah akan kebingungan.


Sementara Reksa juga masih bimbang. Selain malu, ia juga serba salah. Ingin mengatakan perasaannya, tetapi suasananya tidak mendukung. Celine masih terlihat murung. Lalu, tak ada cincin berlian, maksudnya belum ada. Reksa masih menunda pemesanannya. Dan dengan keadaan seperti itu, memangnya pantas bagi seorang suami menyatakan cinta dan memberikan lamaran ulang? Mungkin sah-sah saja, tetapi kurang etis dan berkesan.


“Su-susah tahu!” tukas Reksa sekian detik setelah banyak berpikir. “Kalau kamu tahu apa yang bakalan aku bilang, pasti kamu akan tahu bagaimana sulitnya, Cel! Selain itu juga malu.”


“Ciiih! Enggak usah bilang kalau begitu, gampang, 'kan? Soal Alien, ais! Ailen maksudku! Aku sudah bisa menerima keputusan kamu kok. Tenang saja. Tapi, ... kalau nanti aku marah-marah lagi, mohon maklumi ya. Soalnya, aku enggak bisa mengendalikan diri kadang-kadang.”


“Cel!” Reksa lantas menarik kursi yang Celine duduki, hingga istrinya itu semakin dekat dengannya. Lantas, ia meraih jemari Celine sembari memberikan tatapan penuh makna.


Tentu saja sikap Reksa tersebut sukses membuat Celine tertegun heran. Namun, biasanya, dengan sikap seperti itu, Reksa berakhir meminta jatah atas haknya sebagai seorang suami. Padahal masih siang dan terang benderang, rasanya tak etis jika Celine menuruti.


Celine harus mencari alasan. Apa pun itu. Supaya Reksa mau meredam hasratnya sampai nanti malam. Entah. Selain latar suasana yang masih panas-panasnya, mood Celine juga belum sepenuhnya membaik. Ia tidak bisa memberikan pelayanan dengan keadaan hati yang belum tenang. Jika nekat, ia yakin di setengah permainan rasanya tidak akan nyaman.


“Aku mau ke Kenny sama Keira dulu, boleh? Aku khawatir sama mereka, Reksa,” tanya Celine dengan ide yang tersemat di benaknya.


Reksa yang masih terus memberikan tatapan kini berangsur menggelengkan kepala. “Enggak boleh!” jawabnya. “Aku sengaja menunda banyak pekerjaan demi sama kamu hari ini, terus kamu mau pergi begitu saja? Kalau pun mau pergi, ya harus sama aku! Lagian mereka kan sudah dewasa, jangan khawatir soal mereka. Bahkan, aku rasa mereka jauh lebih hati-hati daripada kamu kok!”


“Tuh kan! Pekerjaanmu jadi terkendala gara-gara aku, makanya aku tuh nggak mau ikut kamu ya begini. Kalau bukan karena ide Keira buat detektif-detektifan aku mungkin nggak bakalan pergi.”


”Kamu nggak mau aku digoda Ailen lagi, 'kan, Cel? Kalau memang nggak mau, ya, nggak usah banyak komplen soal keputusanku dan diamlah di sini. Temani aku. Mm ... aku bisa bawa kamu ke mana pun kalau kamu mau, tapi harus sama aku! Aku juga bisa posesif lho!” ucap Reksa penuh penekanan.


“Iya, iya, Bawel! Aku bakalan di sini kok!”


Reksa menghela napas lebih lega. Setidaknya, untuk hari ini ia bisa bersama sang istri dalam waktu yang lama dan tanpa gangguan apa pun, termasuk pekerjaan. Bayangkan satu sampai dua hari penuh bersama Celine, pasti akan sangat membahagiakan! Oleh sebab itu, Reksa menentang habis-habisan rencana Celine yang hendak menemui Keira dan Kenny, sebab kesempatan berduaan tanpa kendala seperti ini jarang terjadi. Biasanya di hari libur pun, Reksa memiliki banyak lemburan, atau ada agenda pulang ke rumah orang tua.


Sebenarnya, Celine sih mau-mau saja. Hanya saja, gara-gara sosok Ailen, selera bercandanya nyaris hilang. Iya, ia akui dirinya-lah yang bersalah. Namun, rasa bersalah itu juga tertuju pada Ailen dan sangat membuatnya terganggu. Mau tersenyum pun rasanya sangat sulit.


“Cel?” ucap Reksa lagi memecah kesunyian yang berlangsung beberapa saat. “Sudah nyaris jam sepuluh.”


“Terus kenapa?” tanya Celine mulai was-was.


“Nggak. Mau tanya saja. Menurut kamu, orang yang melamar tanpa perhiasan itu bagaimana?”


”Sah-sah saja. Cincin cuma sebagai tanda, ucapannya soal ajakan menikah itu yang paling berkesan. Aku sih begitu, ya! Kenapa memangnya? Siapa yang mau lamaran? Bukan kamu, 'kan?! Kamu kan sudah menikah sama aku, Sa!”


“Ih! Apaan sih!” sahut Reksa. “Pikirannya jauh banget. Kalau pun mau melamar, ya pastinya lamar kamu dong, Cel!”


“Cih! Mana bisa? Orang aku sudah jadi istri kamu kok! Mau dilamar jadi apa lagi coba? Habisnya ya, kamu kan enggak punya teman atau saudara, makanya agak aneh saja kalau kamu tiba-tiba tanya begitu. Kan aku jadi curiga, Reksa, wajar dong!”


“Hmm ... dari tadi ngomongnya pakai urat melulu ya! Katanya nggak marah?!” sindir Reksa.


Reksa menghela napas dan jujur ia sangat geregetan. Pasalnya, sejak tadi suara Celine selalu lantang dan berapi-api. Tampaknya, memang benar bahwa Celine masih menyimpan sejumlah kedongkolan.


Haruskah Reksa mengutarakan perasaannya demi meredam kekhawatiran istrinya? Entah Celine sudah mencintainya atau belum, tetapi respons Celine sudah menunjukkan seseorang yang sangat cemburu. Reksa yakin setidaknya ada sedikit rasa cinta yang Celine berikan untuknya.


“Jangan curiga terus, Celine Aurora Rodiya! Aku ini punya kamu, suami kamu, ya milik kamu!” ucap Reksa tegas.


Celine mendesis seolah meremehkan. “Faktanya memang begitu kok. Enggak perlu dibilang lagi,” jawabnya.


“Makanya nggak usah cemburu lagi!”


”Aku enggak cemburu, Reksa! Buat apa? Aku cuma ... cu-cuma—”


“Cuma apa?” Reksa menghela napas, lalu mengecup bibir Celine setelahnya. Detik berikutnya, ia menangkup wajah istrinya itu menggunakan kedua telapak tangannya. “Aku cuma milikmu, lebih tepatnya seperti itu. Aku ... mencintai dirimu, Cel. Maaf karena aku mengatakan ini tanpa hadiah apa pun, tanpa cincin, atau perhiasan lain. Tapi, percayalah, sejak berada di Moskow perasaan ini sudah ada buat kamu. Tapi, aku terlalu bodoh dan memilih buat enggak bilang apa-apa. Kupikir kemajuan hubungan kita itu sudah cukup. Tapi, melihat kamu yang belakangan ini tertekan oleh kehadiran Ailen, akhirnya aku sadar bahwa aku harus memperjelas perasaanku padamu yang super enggak peka ini.”


“Re-reksa ...?”


Wajah Celine memerah sempurna. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Inilah yang ia tunggu. Momen berarti yang sangat penting. Suami pembencinya sudah menjadi suami idaman yang juga ia cintai. Sejak awal hanyalah kepastian yang ia butuhkan, tetapi karena memiliki pemahaman yang agak berbeda akhirnya pengakuan sesederhana itu menjadi terabaikan.


Lalu, setelah mengatakan perasaannya, Reksa lantas mendekap tubuh istrinya. Ada kelegaan yang luar biasa setelah membuat pengakuan itu. Layaknya gas dalam tubuh yang sempat tertahan, kemudian berhasil dikeluarkan. Agak jorok sih, tetapi kenyataannya memang selega itu.


“Maafkan aku, Celine, karena aku yang selalu bikin kamu sakit hati. Aku yang pernah membuat rencana soal perceraian dan bahkan kasih hinaan-hinaan buruk buat kamu. Aku gila. Rumor mengatakan bahwa aku monster, atasan killer, angkuh, dan menyebalkan memang benar adanya. Bahkan, mungkin saja sebagai seorang suami aku juga memiliki sifat-sifat seburuk itu. Tapi, yakinlah! Sejak aku menahan kamu di Moskow, perasaan ini sudah ada. Aku kalah dan kamu menang. Kamu memenangkan tujuan buat bikin aku jatuh cinta, dan sekarang aku kapok! Rasanya enggak bisa jauh dari kamu sedikit pun. Tapi, aku juga lega karena itu kamu, kamu yang sabar menghadapiku adalah istriku. Aku mencintai dirimu, Cel,” jelas Reksa.


“Aku ... juga,” sahut Celine.


Dahi Reksa mengernyit. “Mm? Apa?”


“Nggak, nggak jadi.”


Reksa melepaskan dekapannya dari tubuh Celine dan lantas mencengkeram kedua lengan istrinya tersebut. ”Katakan lagi apa yang kamu katakan tadi, Cel!"


“Ih!” Wajah Celine memerah. Ia sangat malu, sampai tak sanggup menatap netra milik suaminya. Namun, sudah tidak ada kesempatan untuk berkilah. “Aku ... juga jatuh cinta sama kamu. Aku mencintaimu juga, Reksa! Dengar baik-baik, ya! Aku cinta sama kamu! Makanya aku cemburu banget dan marah waktu melihat Ailen menggoda kamu. Tahu, nggak! Makanya kamu minta kamu pecat dia! Aku nggak tahu kenapa kayak gini, kenapa cinta itu begini! Ah, ribet deh!” Mendadak lantang lagi suara Celine sesaat setelah sempat mengatakan perasaannya dengan lembut.


“Uh ...!” Celine menepuk kening sendiri. ”Aku sudah gila. Aku egois dan enggak bisa mengendalikan diri. Aku punya beberapa mantan pacar, tapi aku rasa, kamu adalah cinta pertamaku, Reksa.”


“Ya,” kata Reksa. “Waktu masih kecil, kamu pernah mengajak aku menikah, Cel. Aku ingat. Saat itu aku baru masuk SMP, sementara kamu masih lima tahunan. Entah.”


“Apa?! Aku pernah bilang begitu? Jadi, sejak kecil aku memang sudah enggak tahu malu ya?”


Celine melongo. Dan Reksa justru merasa gemas pada ekspresinya saat ini. Mengenai pengakuan Reksa memang benar adanya. Celine kecil pernah memberikan lamaran untuknya. Hanya saja, pada saat itu Celine masih sangat kecil. Yang namanya anak kecil pasti ucapannya ngawur. Sementara Reksa yang sempat terluka karena sang mantan dan pernah tidak menerima keberadaan Celine, sampai mengabaikan kenangan masa kecil yang singkat tersebut. Namun, nyatanya takdir Tuhan tidak pernah salah. Reksa dipersatukan dengan gadis cilik yang pernah mengajaknya menikah.


***