
Celine dan Reksa menepati janji mereka untuk menyantap sarapan di rumah besar milik Wirya Utama. Karena semua kedua mertua Celine tersebut memang kerap sibuk dengan pekerjaan yang sama sekali tidak Celine ketahui sama sekali, keputusan bertandang pagi hari terpaksa diambil. Sebagai menantu dan juga anak, akan terlihat aneh jika tidak pernah bertandang sama sekali. Dan Celine yang sudah aneh, tidak mau memperaneh dirinya lagi.
Tidak ada hidangan lezat, misalnya daging sapi berukuran jumbo, ikan berbagai jenis, atau daging ayam yang dimasak dengan berbagai resep. Hanya potongan roti tawar, susu, selai cokelat dan strawberry. Mungkin karena kedatangan Celine dan Reksa tanpa kabar, membuat Sanny tidak bisa memasak secara dadakan. Alhasil, hidangan khas orang kaya menjadi pilihan terakhir.
“Memangnya ada apa sih, sampai kalian tiba-tiba datang ke sini pagi-pagi begini? Kok ya enggak kasih kabar dulu? Terus itu Mbak sudah Ibu kirim ke apartemen kalian lho buat bantu mempersiapkan sarapan,” ucap Sanny.
Celine meringis. “Soalnya ide buat mampir juga dadakan, Ibu Mertua. Apalagi Ibu dan Ayah Mertua kan sering sibuk, kami enggak ada pilihan, selain datang di pagi hari,” jawabnya setelah itu.
“Hmm ... begitu rupanya. Sebenarnya asal kalian kasih tahu dulu, Ayah dan Ibu pasti meluangkan waktu kok, Celine, Reksa,” sahut Wirya lebih cepat dari istrinya. “Ayah pikir memang ada kabat bagus, sampai datang secara mendadak seperti ini.”
”Tentu saja ada, Ayah.” Reksa menyantap roti tawar berselai cokelat setelah berkata-kata.
”Oh ya? Kabar apa itu, Reksa? Mm, Celine sudah dapat untung?” Wirya menyahut cepat.
Dahi Celine mengernyit. “Dapat untung bagaimana, Ayah?”
“Itu lho, Celine sudah isi-kah? Sudah hamil, begitu?” jelas Sanny sekaligus bertanya.
Mata Celine mengerjap, dirinya bingung, dan agak terkesiap. Hamil? Persoalan itu belakangan ini cukup membuatnya lebih sensitif. Selain masih ingin bekerja, program hamil yang terus ia lakukan bersama Reksa belum juga membuahkan hasil. Rahimnya masih kosong melompong, belum ada janinnya.
Bagaimana jika Celine dianggap mandul? Bagaimana jika kedua mertuanya tidak memercayai dirinya lagi? Pemikiran itu yang muncul saat ini. Celine menjadi serba salah sendiri, meskipun pemikirannya belum tentu terjadi.
“Reksa masih ingin menundanya terlebih dahulu, Ayah. Lagi pula, kami baru menikmati masa pacaran setelah menikah,” jelas Reksa yang mengambil alih pertanyaan ayahnya dengan memberikan sebuah jawaban. Ia pun tahu seberapa bimbang istrinya yang baru datang justru diserang pertanyaan sensitif seperti itu.
Wirya Utama menghela napas. ”Benar juga sih. Ayah seharusnya paham, kalian masih membutuhkan waktu untuk saling memahami terlebih dahulu. Orang berpacaran selama bertahun-tahun saja masih sering salah paham saat sudah menikah. Apalagi kalian," sahutnya. “Tapi, ya jangan lama-lama juga, ya? Maksimal satu tahun-lah. Ini kan sudah nyaris setengah tahun, untuk menggenapi pernikahan satu tahun, rasanya sudah cukup untuk kalian berdua saling mengenal satu sama lain.”
“Semoga saja, Ayah. Kita juga maunya seperti itu.” Reksa mengulas senyumnya setelah berkata-kata.
Namun, di sisi lain, Sanny tampak memperhatikan Celine. Ia tahu bahwa menantunya itu merasa terganggu oleh pertanyaan dari Wirya Utama. Mungkin karena alasan pekerjaan atau belum diberi oleh Tuhan, sampai Celine belum mendapatkan rezeki berupa kehamilan. Sebagai seorang wanita, Sanny cukup paham. Meski memiliki Reksa tak lama setelah melakukan pernikahan Wirya, Sanny tidak lantas menyombongkan diri sebagai wanita yang subur.
Pasalnya, Sanny juga pernah berada di posisi Celine. Bedanya ia menanti anak kedua. Hanya saja, sampai saat ini keinginan itu tidak menjadi kenyataan. Entah mengapa. Pola hidupnya sehat, rahimnya bagus, tetapi Sanny tidak berhasil hamil untuk kedua kalinya. Anak memang rezeki dari Sang Maha Kuasa. Sebagai manusia, Sanny atau bahkan Celine tidak bisa memaksa kehendak dari Tuhan Sang Maha Pencipta.
“Kita makan dulu saja, cuma ada roti. Sarapan terpraktis, Cel, hihi.” Sanny memutuskan untuk menghentikan pembicaraan perihal kehamilan.
“Waktunya juga sudah semakin mepet. Mau makan lebih berat kayaknya juga enggak cukup,” tambah Reksa.
“Iya. Yang penting ada asupan energi dulu.” Wirya Utama menimpali.
Akhirnya sarapan pagi kembali dilanjutbkan. Tidak ada perbincangan yang sensitif, selain hanya banyolan yang kadang lucu, kadang juga garing. Apalagi Wirya Utama sama sekali tidak pandai berkelakar. Namun, sebisa mungkin Celine mengeluarkan gelak tawanya untuk menghargai usaha sang ayah mertua dalam mengeluarkan sebuah humor absurd.
Pada saat itulah, Reksa semakin mengagumi sang istri. Celine begitu pandai dalam menghargai perasaan yang lebih tua. Meski terkadang wanita itu kerap bicara blak-blackan serta asal-asalan. Celine memang beda dan yang paling penting Reksa begitu mencintainya.
***
Di sisi lain, ketika hendak mencari sarapan bersama Kenny yang telah menunggunya di luar, Keira justru dikejutkan oleh kedatangan seorang pria. Melainkan Danurdara yang sudah berdiri tegak di depan pintu apartemennya. Sejenak, Keira tertegun. Hatinya merasa heran dan juga bingung. Mengapa Danu datang sepagi ini?
“Danu? Ada apa ya?” tanya Keira mencari tahu. “Ini masih pagi banget lho. Kok sudah di sini? Masih hari kerja lagi. Ada apa memangnya? Ada masalah penting? Atau ada barang yang ketinggalan di sekitar sini?”
Wajah Danu tampak masam. Pria itu tampak tidak baik-baik saja. Seperti sedang menggelisahkan sesuatu yang hilang atau sesuatu yang menyedihkan. “Itu, Ra. Kenapa belakangan ini kamu mengabaikan pesan dan telepon dariku?” tanyanya setelah itu.
Dahi Keira mengernyit. ”Oh, maaf, Nu. Perasaan baru satu hari deh aku enggak jawab pesan dan telepon dari kamu. Ya bagaimana ya, soalnya aku sibuk kerja, terus ada kencan sama cowok hehe.”
”Ke-kencan?”
Keira mengangguk, lalu keluar dari kediamannya. Sejenak, ia berbalik badan untuk menutup pintu. “Aku mau cari sarapan dulu, Nu. Takut telat. Ngobrolnya sambil jalan keluar gedung ini saja ya? Sorry nih, aku enggak bisa ajak mampir kamu. Aku paling risih kalau ada cowok, maksudku berduaan sama cowok di dalam rumah.”
“Iya, enggak masalah kok. Lagian aku cuma mau mampir sebentar, Ra."
Keira tersenyum santai pada Danu. Detik berikutnya, ia berjalan menuju sebuah elevator bersama pria itu. Keira masih belum mengerti mengapa Danu mendadak datang hanya karena dirinya tidak memberikan balasan pesan maupun telepon atau mungkin video call. Mendengarnya saja cukup aneh. Tidak akan aneh, jika Danu menyukai Keira dan merasa kehilangan ketika Keira tiba-tiba menghilang.
Ah! Keira tercenung. Sesaat setelah memasuki elevator bersama Danu, Keira mulai mencerna beberapa sikap Danu yang aneh belakangan ini dan juga saat ini.
***