
Malam ini cukup dingin. Angin berembus membelai wajah Keira dan Kenny yang sudah duduk di salah satu bangku taman. Suasana pun tidak terlalu ramai, tetapi juga tidak terlalu sunyi. Mungkin karena bukan akhir minggu.
Sementara kotak-kotak makanan sudah Keira buka satu per satu. Ada dua jenis sayuran matang, tumis daging, tempe goreng, serta nasi yang cukup banyak. Sepertinya niat Keira untuk mengajak Kenny bersantap bersama tak sepenuhnya salah. Jadi, tak ada alasan untuk menyesalkan keputusannya lagi.
Lantas, Keira membagi dua bagian dari masing-masing makanan. Ia menyerahkan salah satu kotak yang sudah berisi makanan lengkap pada Kenny, sementara dirinya salah satu kotak yang lain. Aktivitas makan malam sederhana pun berlangsung di bawah langit kelam tanpa bintang, di taman berlampu cerah, serta suasana cukup melankolis.
“Capek ya, Ra? Kerja di perusahaan besar, pekerjaannya pun makin besar juga. Aku belum ada pengalaman kerja kayak begitu, cuma jadi operator warnet. Dan mungkin enggak seberapa capeknya dibandingkan kamu,” ucap Kenny memulai pembicaraan di kebersamaan yang masih diliputi kecanggungan.
Keira lantas mengangguk. “Semua pekerjaan itu bakalan capek kok, Ken. Mau di perusahaan besar, kecil, atau bahkan non perusahaan seperti misalnya kuli, pedagang, pekerja sosial. Semuanya capek!”
“Iya sih, kamu benar. Selain capek, setiap pekerjaan juga punya resikonya sendiri-sendiri.”
”Iya, Ken. Kayak aku yang bisa lembur sampai jam segini, terus kamu jadi operator yang bisa kerja sampai subuh. Hmm ... apa boleh buat, kalau manusia kerjanya cuma rebahan yang enggak baik juga. Kecuali kalau kayak Celine, yang punya suami super kaya.”
“Haha. Tapi, aku nggak percaya Celine bakalan diam, enggak lama lagi pasti dia dapat pekerjaan.”
“Hmm ... iya, sih. Celine kan orangnya begitu. Aku cuma khawatir kalau Reksa merasa enggak dihargai saja, kalau Celine maunya mandiri terus, apalagi menjadi dirinya yang seenaknya terus. Maksudku soal penampilan dan gaya bicaranya. Kan menikah dengan konglomerat banyak resikonya, Ken.”
“Dia memang harus segera dewasa, Ra, haha.”
“Mm, benar. Justru kamu yang jadi lebih dewasa, padahal lebih muda, Ken.”
“Bukan begitu, aku hanya ... enggak bisa kayak dia.”
“Dia memang unik,” kata Keira sembari tersenyum.
”Bin unik,” sahut Kenny.
Lantas mereka tertawa setelah sama-sama membahas perihal Celine sekaligus sifat-sifat uniknya. Memang tidak ada pembahasan lain, selain Celine, yang dapat mencairkan suasana. Apalagi Kenny dan Keira tidak pernag sedekat ini sebelumnya. Mereka hanya saling bertegur sapa ketika bertemu. Terlebih, sosok Kenny yang cenderung menghindar sejak menyadari bahwa hatinya menyukai Keira.
“By the way, kamu beneran enggak mau masuk ke perusahaan Reksa, Ken?” selidik Keira.
Kenny menghela napas, lalu mengangguk pelan. “Enggak, Ra,” jawabnya. “Bahkan sekalipun pada akhirnya enggak ada tujuan lain, selain masuk ke sana. Aku maunya pakai jalur seleksi dan tes sesuai prosedur yang ada. Aku enggak mau ada koneksi atau rekrutan dari Reksa.”
“Hmm ... susah sih. Reksa itu terkadang sering turun langsung ke perekrutan karyawan, terlebih kalau posisi yang misal kamu inginkan cukup penting. Reksa matanya juga jeli, dia bisa menilai orang dari argumen orang itu.”
Keira menghela napas, lalu melirik ke arah Kenny yang masih sibuk dengan porsi makanannya sendiri. “Keras kepala ya, Ken, kamu tuh. Tapi, di sisi lain niat kamu memang baik. Kalau aku jadi kamu, pasti aku akan melakukan hal yang sama. Yang aku inginkan adalah pengakuan atas kemampuan, bukan koneksi karena petinggi perusahaan adalah kerabat.”
“Ya, memang seperti itu. Buat apa sekolah tinggi, kalau pada akhirnya kamu tetap minta bantuan orang dalam? Sekolah yang kita lewati selama bertahun-tahun, skripsi-skripsi yang kita susun, ujian-ujian yang menyebalkan, akan sia-sia kalau kita enggak mencoba buat menggunakan hasilnya untuk menembus sebuah pertahanan. Ilmu yang kita dapat pun sebenarnya bisa jadi modal buat bikin usaha, tapi kan kalau aku tetap harus cari modal duit dulu, Ra.”
”Hahaha. Memangnya duit itu berkontribusi besar atas kesuksesan seseorang.”
”Enggak dong! Kalau banyak uang, tapi orangnya bodoh kayak Celine bagaimana?”
“Hei, hei! Dia kakak kamu sendiri, Ken! Lagian dia itu cukup ulet kok orangnya, dia enggak mudah menyerah. Dia juga pernah rela belajar bahasa inggris selama bertahun-tahun, padahal dia itu sering muak sama buku pelajaran. Tapi, apa? Akhirnya dia tetap berhasil. Dan bahasa inggris menjadi satu-satunya mata pelajaran yang bikin Celine bangga, karena nilainya cukup memuaskan. Harusnya kamu bangga juga punya kakak kayak dia, Ken!"
“Aku bangga, Ra, sayang banget malah. Tapi, ... kamu kan tahu aku juga jarang akur sama Celine.”
Keira mendengkus. ”Kamu sih! Suka usil, terus rese lagi.”
“Habisnya gemes sendiri kadang sama sifat tulalitnya, Ra, hahaha.”
“Kenny, Kenny!”
Keira juga gemas pada Kenny pada saat ini. Bukan karena menyukai pria itu secara spesial, hanya saja cara Kenny membicarakan Celine memang cukup seru, tetapi sangat menyebalkan. Adik yang sayang kakak, tetapi sangat gengsian. Bukankah cukup kuat untuk dijadikan sebagai alasan mengapa Keira pun turut gemas?
Lalu, setelah pembicaraan serius mengenai pekerjaan yang akhirnya kembali mengarah pada persoalan Celine berakhir, antara Kenny dan Keira tidak ada perbincangan lagi. Mereka memutuskan untuk segera menghabiskan sisa makan malam.
Lagi pula, suhu sudah semakin dingin, dan hari pun kian beranjak semakin malam. Meskipun ingin bersama Keira lebih lama, Kenny harus tetap mengingat bahwa Keira baru pulang kerja dan dalam keadaan lelah. Jadi, tak seharusnya bagi Kenny mencari alasan-alasan lain lagi agar bersama wanita pujaannya itu dalam waktu yang lebih lama.
Dan Keira berpikir sejenak. Perbincangan yang berlangsur barusan sudah membuatnya lupa perihal perasaan spesial Kenny terhadapnya. Kini rasa bersalah pun hadir membuat Keira tak lagi berselera menyantap makanannya. Ia teringat akan sikap-sikap Danu padanya, di saat hatinya menyukai pria itu. Bukankah ia tidak jauh beda dari Danu, jika berbuat hal serupa terhadap Kenny yang mencintainya?
Baiklah, ini terakhir. Aku enggak mau menyiksa Kenny. Danu saja sudah sangat membuat aku terluka. Kalau aku melakukan ini pada Kenny, dia juga bakalan terluka. Setelah makanan habis, dan dia pulang, aku berjanji enggak akan mengajaknya kayak gini lagi, pikir Keira. Pada akhirnya, ia kembali menyalahkan dirinya sendiri karena sudah berbuat lancang. Ia mengajak Kenny makan malam, yang berpotensi membuat pria itu berharap lebih pada dirinya.
Mengapa Keira mendadak bodoh? Hanya demi tidak mau kesepian-kah, ia nyaris mengorbankan orang? Sungguh, benar-benar keterlaluan.
Sementara itu, Kenny kerap tersenyum diam-diam. Ia merasa sangat senang. Lebih senangnya lagi, saat Keira mengajaknya berbincang panjang lebar dan tanpa beban.
***