Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 42-Aku Kecewa, Ra


Tadi sore, tepatnya pukul lima sore, Keira yang hendak masuk ke ruang meeting mendapat telepon dari Danu sebanyak lima kali. Awalnya ia enggan untuk menerima, karena masih dalam keadaan bekerja. Namun, karena Danu yang tak kunjung menyerah untuk menghubunginya, akhirnya ia terpaksa menerima panggilan dari pria itu.


“Halo, Danu,” sapa Keira pada saat itu.


“Ra, apa Celine ada sama kamu? Atau mungkin kamu melihat dia sama suaminya?” ucap Danu dari kejauhan yang tidak Keira ketahui di mana tempatnya berada.


“Enggak, Nu, aku ada rapat sekaligus lembur dan Reksa yang akan langsung memimpin. Jadi, tak mungkin Celine ada bersamanya saat ini. Memangnya kenapa?”


“Astaga ... Ra, aku membuat kesalahan. Celine keluar dari ruang kerja setelah bertemu atasanku, dan dia dalam keadaan menangis. Dia marah padaku, karena menganggap bahwa aku terlalu mencampuri urusan hidupnya. Selain itu, semua usahaku untuknya ternyata enggak membantunya sama sekali, tapi justru membuatnya semakin menyedihkan.”


Keira tercekat mendengarnya. “Ce-celine? Kok bisa??”


“Ini salahku, Ra. Aku memang terlalu berambisi jika berkaitan dengan Celine. Aku khawatir, aku enggak pernah melihat Celine seperti tadi. Dia kecewa banget, aku mencemaskannya. Dan ... aku juga sempat mengatakan bahwa aku tahu perihal pernikahannya dengan Reksa.”


“A-apa?!” Kian terperanjat hati seorang Keira, karena tidak menyangka bahwa Danu akan mengungkit hal sensitif seperti itu. “Kenapa kamu malah bilang padanya, Danu?! Katanya kamu mau mundur, ‘kan? Dan katanya kamu punya rencana lain, ‘kan?! Aduuuh! Dia pasti tahu kalau aku yang menyebarkan alasan di balik pernikahan itu. Bagaimana ini, Danu? Celine pasti merasa kecewa banget karena aku telah mengkhianatinya, sebab hanya aku yang tahu mengenai kondisi rumah tangganya sekaligus yang mengenal kamu.”


“Ra, aku minta maaf. Aku—“


Suara Danu lantas terpotong oleh sikap Keira yang langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Resah dan bersalah melanda hati Keira, tetapi apa daya, ia tidak bisa meninggalkan kantornya. Ada lemburan serta meeting penting sore ini dan Reksa menekankan agar dirinya serta rekan-rekan satu tim bisa hadir. Keira tidak punya pilihan lain, berangsur menghubungi Celine. Namun, hingga malam tiba, Celine tidak memberikan respons apa pun.


Kini, Keira yang sempat dilanda gelisah, sudah duduk di depan Celine, berlatar tempat di kedai orang tua sahabatnya itu. Melalui Reksa-lah, Keira tahu jika Celine sedang ada di kedai makan tersebut. Beberapa saat yang lalu, ia memberanikan diri untuk bertanya pada Reksa, atau meminta izin agar Reksa mempertemukannya dengan Celine yang masih saja tidak mau membalas pesan darinya, karena ia sendiri pun tidak tahu di mana Reksa dan Celine tinggal pasca menikah.


“Kenapa kamu datang ke sini, Ra? Apa Reksa yang memberitahukan padamu bahwa aku ada di sini? Kalian berdua datang bersamaan, meski menumpangi mobil berbeda,” ucap Celine yang teringat kedatangan Reksa yang lima menit kemudian disusul oleh Keira. Sementara ia bersama Keira, Reksa berada di meja lain dan berbincang bersama Rodian dan Kenny.


Keira menelan saliva. Tak seperti biasanya, suasana kebersamaannya dengan Celine kali ini terasa canggung dan penuh tekanan. Jika Celine sudah peka, mungkin Celine pun telah mengetahui bahwa dirinya-lah pelaku penyebar rahasia pernikahan.


“Cel, aku ... mm, kenapa kamu enggak jawab panggilan dariku?” selidik Keira, berbasa-basi terlebih dahulu sebelum mengutarakan permintaan maafnya.


Celine menghela napas. Tak ada raut bersabahat sama sekali di wajahnya yang selalu se-ayu sinar rembulan itu. Ia kesal, meski sudah menganggap dirinya-lah yang paling menyedihkan karena baru mengetahui beberapa hal. “Aku ... tadi lagi ngopi bareng Kenny, Ra,” jawabnya setelah itu.


“Tapi, kamu bisa kirim pesan ke Reksa, ‘kan? Dan memberitahukannya bahwa kamu ada di sini?”


“Dan aku sahabat kamu, Cel.”


“Benar, kamu sahabat aku, Ra. Sejak lama, sejak kita masih remaja, kita bahkan punya impian yang sama untuk mengelilingi penjuru dunia. Tapi, Ra, aku ... hanyalah seseorang yang begitu menyedihkan, yang seharusnya enggak perlu membuntuti dirimu terus-terusan. Kamu pintar, cantik, dan berpendidikan tinggi. Attitude kamu sangat bagus, sangat berbeda jika dibandingkan dengan aku yang kerap bikin malu.”


Keira berangsur meraih jemari Celine, lalu memberikan genggaman. “Kenapa kamu bicara seperti itu?”


“Karena itu sebuah kenyataan. Sudah waktunya kamu membiarkan aku mengurus masalahku sendiri, Keira. Apalagi aku sudah menjadi seorang istri. Meski aku adalah Celine yang bodoh serta miskin, ... kamu harus tahu jika aku bukanlah Celine yang patut dikasihani.” Celine menitikkan air matanya. “Lihat, Ra, perut aku buncit. Menandakan bahwa aku masih bisa makan enak. Aku sudah jadi istri orang super kaya. Yang mana, sudah membuktikan bahwa aku bisa melampaui diri kamu, Ra. Lagi pula, pernikahanku enggak seburuk itu kok. Sampai kamu dan Danu begitu mengasihaniku dan berencana menyelamatkan aku dari Reksa.”


“Cel? Maafkan aku, Cel. Aku yang bersalah.”


Celine menggeleng pelan. “Enggak, Keira. Memang benar bahwa aku sempat kecewa setelah mendengar pengakuan Danu yang ternyata mengetahui bagaimana pernikahanku dengan Reksa terjadi, dia juga tahu jika Reksa memiliki karakter yang buruk. Dan yang paling membuat aku kecewa adalah dugaanku sendiri yang mengatakan mungkin Keira-lah yang memberitahukannya.”


“Celine, please ...?”


“Aku sempat bertanya-tanya. Kenapa? Kenapa Keira begitu tega? Untuk apa? Untuk apa Keira mengatakan hal privasi pada orang lain, yang jelas-jelas enggak perlu tahu semua itu? Mungkin Keira memang sangat mengkhawatirkanku, mungkin Danu juga begitu. Tapi, sikap Keira justru bikin aku malu. Aku malu pada Danu, seorang pria yang sudah aku tolak mentah-mentah, tapi dia justru mengetahui jika pernikahanku enggak bahagia. Aku malu, Keira.”


“Maafkan aku, Cel, aku benar-benar minta maaf.”


Keira tidak dapat membendung air matanya yang sejak tadi sudah mendesak meminta dikeluarkan. Ia yang sudah bertahun-tahun mengenal Celine, baru kali ini melihat Celine sekecewa saat ini. Jika Keira berada di posisi Celine, mungkin ia juga akan sangat marah dan malu. Namun, bisa-bisanya Keira yang selalu dipuji sebagai wanita pintar justru bertindak begitu bodoh? Mengapa Keira yang begitu dipercaya malah menyebarkan rahasia? Lantas, apa bedanya Keira dengan Katty?


“Lebih baik,” kata Celine mengambil suara lagi. “Kita jangan bertemu dulu untuk beberapa waktu, Ra. Kamu enggak bersalah, justru aku yang berterima kasih karena mungkin kamu begitu mencemaskan aku. Tapi, untuk saat ini saja, beri aku waktu untuk mendapatkan ketenangan hati lagi. Kamu percaya, ‘kan, bahwa Celine paling enggak bisa menyimpan kecewa terlalu lama? Pada saat sudah lega, aku akan datang menemui kamu lagi, membicarakan banyak hal denganmu, terutama tentang rencana perjalanan kita nanti. Jangan khawatir lagi, kehidupan pernikahanku dengan Reksa sudah enggak seburuk pada saat itu. Bahkan, kami sudah menjadi benar-benar sepasang suami-istri.”


“Cel? Uh ....” Keira mencengkeram kepalanya. Ingin rasanya ia menolak permintaan Celine, tetapi ia tetap harus tahu diri bahwa saat ini dirinya sedang berada di posisi sebagai orang yang bersalah. “Baik. Aku berharap kamu memaafkan aku dan lekas menemuiku lagi. Enggak, tapi hubungi aku jika kamu sudah lega, maka aku akan datang untukmu, Celine.”


Celine menganggukkan kepala, kemudian hanya diam. Ia tidak mau membicarakan apa pun lagi untuk sekarang. Dan tak berselang lama, Keira bangkit dari duduknya, lantas memutuskan untuk segera pergi. Ia pamit pada Kenny, Rodian, dan juga Reksa. Sayangnya, Deswita sedang pulang ke rumah, mencari kesempatan saat kedua anaknya datang.


***