
Reksa dan Celine masih belum membicarakan soal pekerjaan yang ditawarkan oleh Sanny. Siang tadi, ketika kecanggungan masih meradang, keduanya memutuskan untuk mengabaikan penawaran itu terlebih dahulu. Apalagi di saat hati Celine baru mendapatkan ketenangan, pasca melabrak Ailen di salah satu hotel yang berada di Bali. Ia juga sempat gelap mata dan menghabiskan uang Reksa secara ugal-ugalan.
Kalau ditanya menginginkan pekerjaan itu, tentu saja, Celine tetap akan menjawab ‘iya’. Namun, kembali lagi pada posisinya sebagai seorang istri, yang membuatnya harus meminta izin dari sang suami atas segala keputusan yang akan ia ambil. Tidak hanya soal pekerjaan, tetapi juga hal-hal yang lain. Setidaknya, meski belum menjadi istri yang baik, Celine sudah berusaha untuk menjadi istri patuh.
“Mm ... kamu boleh ambil pekerjaan itu kok, Cel, kalau memang sangat ingin. Aku enggak mau jadi suami yang kerap mengekang. Asal jujur dan tahu batasan, tentu saja aku akan biarkan,” celetuk Reksa setelah berpikir panjang. Dan akhirnya, ia menganggap dirinya tidak boleh egois. Celine juga masih terlalu muda untuk bisa menjadi istri yang terkekang aturan rumah tangga.
Celine menghela napas. Ada perasaan kurang nyaman, meskipun suaminya sudah memberikan lampu hijau agar ia mencoba pekerjaan yang memang sesuai minatnya. Rasanya ada hal lain yang Reksa sembunyikan, seperti misalnya saja sebuah larangan.
“Kamu kan tadi bilang kalau kamu kaya raya, dan bisa bertanggung jawab atas diriku, Reksa?” selidik Celine.
“Aduh!” Reksa menyentil dahi istrinya itu.
“Auh! Sakit tahu!” Akhirnya suara khas milik Celine keluar, lantang dan tegas. “Aku kan tanya, kenapa malah disentil dahiku, hah?! Yang salah bagian mana memangnya?”
Reksa menaikkan kedua kakinya ke atas sofa yang berukuran panjang, tempat di mana ia tengah duduk dengan Celine dalam balutan kecanggungan sampai nyaris satu jam. Lantas, ia menarik sang istri agar mengambil sikap yang sama.
Detik berikutnya, Reksa berkata, “Aku kan sudah bilang, kalau aku enggak mau jadi suami yang kerap mengekang istri. Kenapa masih bertanya lagi? Alasan itu tuh sudah paling kuat, Celine sayang.”
“Oh ....” Celine mengusap tengkuknya dan tersenyum malu-malu, sampai sepasang matanya menyipit membentuk bulan sabit. “Ehehe, namanya juga Celine. Maaf ya. Cuma kan biasanya suami itu melarang banget istrinya kerja.”
“Kata siapa?”
“Mm ... kata aku barusan.”
“Hmm.” Reksa menggeleng-gelengkan kepala, tidak habis pikir. “Iya, kata kamu. Aku tahu itu, Celine. Tapi, kan pasti ada sumbernya. Ngomong-ngomong soal suami melarang istri kerja, itu juga enggak sepenuhnya benar. Banyak kok, istri di luaran sana yang justru jadi tulang punggung keluarga. Entah alasan, suaminya pengangguran, suaminya habis di-PHK, suaminya malesan, atau suaminya sama-sama kerja, tapi gajinya enggak cukup buat memenuhi kehidupan rumah tangga mereka.”
Sesaat, Celine tercenung, mencoba mencerna perkataan Reksa sebelum kembali bertanya. Beberapa detik kemudian, ia lantas berkata, “Kamu tahu dari mana? Maksudku kamu kan sudah terbiasa jadi orang kaya dari dulu. Waktu diajak ke rumah aku terus ketemu sama tetangga aku saja kamu sampai keringat dingin. Tapi, kok tahu kisah-kisah rumah tangganya orang biasa?”
“Entah. Kupikir masalah itu sudah umum terjadi dan bukan rahasia pribadi lagi. Lagian, beberapa karyawanku pun memiliki kisah seperti itu. Dan satu hal lagi, kamu wajib ingat soal ini, Cel.”
Dahi Celine mengernyit. “Apaan?”
“Aku ... sangat pintar. Enggak seperti—“
“Iya, iya, enggak seperti aku!” sahut Celine cepat dan ketus, selanjutnya ia mendengkus kesal.
Sementara Reksa justru tertawa. Di saat hal yang berkaitan dengan kebodohan, istrinya justru langsung peka. Memang benar-benar istri yang unik, bukan? Dan bisa-bisanya Reksa begitu tergila-gila dengan wanita semacam itu, bahkan ia tidak mungkin bisa kehilangan Celine.
Lalu, Celine mulai berpikir kalau Reksa sudah menyatakan kebebasan mengenai pengambilan pekerjaan, mungkin bisa ia jadikan sebagai jalan. Ia menginginkan pekerjaan itu, sungguh! Namun, ia juga harus berpikir dan meyakinkan suaminya sebelum menyatakan keputusannya. Ia tidak akan melupakan kewajibannya.
“Mm ... aku boleh jujur enggak?” tanya Celine pada Reksa sembari menatap netra tajam milik suaminya itu.
Reksa mengangguk dan membalas tatapan dari istrinya. “Silakan, Nona Cantik,” jawabnya.
“Hmm ... sudah aku duga, kamu pasti menginginkannya.” Reksa menghela napas. “Dan sudah aku katakan aku akan membebaskanmu soal pilihan itu. Hanya saja, kalau sambil menunggu kehamilan sih sepertinya agak sulit, Cel. Apalagi biro perjalanan itu cukup besar, yang mana membutuhkan banyak survey oleh tim terkait di tempat-tempat yang diinginkan oleh klien. Dan misalnya kamu serta tim terkait mendapatkan lebih dari tiga pekerjaan, artinya kamu harus mendatangi tempat itu secara berututan, bisa saja tanpa jeda hari. Yang artinya waktu kita buat bersama enggak akan banyak.”
Celine merengut, merasa tidak siap. “Terus bagaimana? Aku juga nggak mungkin menarik niat buat secepatnya punya anak sama kamu, Sa. Tapi—“
“Tapi, di sisi lain kamu menginginkan pekerjaan itu, ‘kan? Salah satu jalan agar impianmu tercapai tanpa harus meminta uang dari aku, ‘kan? Well, pemikiranmu memang bagus, Cel. Di sisi lain, semua keputusan pasti akan ada resikonya. Kamu masih muda, masih panjang waktu kamu buat kejar impian, seandainya enggak menikah denganku yang sudah nyaris kepala empat, tapi malah masih bujangan, bahkan sampai kena rumor enggak suka sama sesama jenis. Perjodohan kita memang keputusan sepihak dari orang tua kita, tapi seandainya aku—“
“Cukup, cukup!” Kini giliran Celine yang memotong ucapan suaminya. “Jangan menyalahkan dirimu, lagian aku juga setuju menikah, padahal kamu sudah datang buat bikin aku enggak menerima perjodohan itu. Aaa! Pokoknya jangan melihat masa lalu lagi, Reksa. Toh, enggak ada yang kita sesali lagi. Saat ini kita berdua justru merasakan rasa yang sama yaitu jatuh cinta. Cuma memang, aku yang egois karena belum mampu mengubah pandangan diri dan masih terpaku pada impianmu. Kalau memang keputusan ini begitu berat, meskipun kamu memberikan kebebasan, lebih baik aku enggak mengambilnya.”
“Hmm, jadinya malah aku yang egois.” Reksa berpikir dalam beberapa saat, lalu kembali berkata, “Begini saja, ambil saja pekerjaan itu, siapa tahu kesibukannya enggak sebanyak bayanganku. Sambil terus melakukan program hamil, jalani saja. Tak perlu berpikir terlalu jauh dulu.”
“Tapi, kalau kontraknya jangka panjang bagaimana?” tanya Celine cemas.
Reksa tertawa kecil. “Keluar di waktu yang tepat, dan aku bayarkan biaya penalti buat kamu.”
“Alah! Sama saja jatuhnya, aku tetap memakai uang kamu. Keliling dunia enggak tercapai, tapi malah bayar biaya penalti. Duh, duh, entahlah.”
“Ya sudah, ambil saja, Celine. Siapa tahu kan kinerja kamu buruk dan langsung dipecat.”
Celine melongo. “A-apa katamu?”
“Lo-love you.”
“Ih! Nggak mau!”
“Yee! Kok begitu?”
Celine marah. Ia bergegas untuk turun dari kursi empuk dan panjang tersebut, lalu berjalan menuju kamar. Reksa masih memandangi kepergian Celine, tanpa bertindak apa pun, selain hanya tersenyum. Hingga beberapa detik kemudian, tepatnya ketika Celine nyaris sampai di pintu kamar, Reksa langsung ambil tindakan.
Cepat, Reksa berlari menuju keberadaan istrinya itu. Ia merangkul pinggang Celine, tanpa sedikit pun meminta izin, sampai sang istri terpekik karena terkejut. Reksa mendorong tubuh Celine ke dalam kamar, sementara dirinya sibuk menutup pintu selepas berhasil memasuki tempat itu. Dengan kelihaian jemarinya yang tak hanya andal dalam memainkan kursor dan keyboard, Reksa berbuat usil pada disi sang istri.
“Aku masih ngambek lho, Sa. Kok enggak dihargai, ya? Malah begini?” ucap Celine lirih, saat tubuhnya terhimpit antara dinding kamar dan tubuh suaminya.
Reksa tersenyum dengan wajah yang sudah sayu. “Ini jurus andalan biar kamu enggak ngambek lagi.”
“Uh ... nakal sekali!”
“Enggak masalah, bukan.”
“Hmm ....”
***