
“Aku cuma mau bilang, maafkan aku, Ra. Aku terlalu memikirkan Celine, dan sampai enggak tahu tentang perasaan kamu padaku,” ucap Danu setelah Keira bersedia untuk menahan telepon tetap tersambung.
Keira menghela napas, lalu berkata, “Well, ya, aku yang minta maaf, Danu. Sebab aku terlalu egois di saat kamu terpuruk. Dan sudah seharusnya aku enggak bilang kayak gitu, yang membuat kamu justru semakin terbebani.”
Keira sudah mendapatkan akal sehatnya. Memang benar, seharusnya ia menyelesaikan permasalahannya dengan Danu, daripada kabur dan melarikan diri ke Bali. Pria itu pasti sangat terbebani, tetapi Keira yang sudah termakan rasa muak memutuskan untuk tak terhubung. Akhirnya, keadaan yang sebenarnya bisa diatasi dengan cepat, harus memanjang bagaikan buku novel berjilid-jilid.
Dari kejauhan, tepatnya di sebuah kantor manajemen dari restoran seafood terkenal, Danu sedang menghela napas lega. Ia yang memang memiliki hati baik dan lembut, sebelum terpengaruh sakitnya luka tak terbalas, memang paling tidak bisa membiarkan janggalan di hatinya bersarang dalam waktu yang lama. Meski tidak tahu harus memberikan jawaban apa atas perasaan Keira, ia tetap menginginkan sebuah perdamaian.
Sekian detik terdiam, akhirnya Danu kembali berkata, “Ra, soal perasaan kamu, aku—”
“Enggak perlu bahas itu, Danu. Lupakan saja. Aku enggak mau ada masalah lagi di antara kita, yang membuat aku enggak tenang, dan tentu saja terutama kamu,” potong Keira. ”Tapi, aku sangat berharap setelah ini, kita enggak bertemu lagi.”
“Ra, aku justru berharap kita bisa berteman dengan baik kayak dulu.”
“Kamu memang lamban ya ternyata?” Keira mendengkus. “Kamu pikir aku bisa berteman dengan cowok yang aku sukai, tapi dia enggak suka sama aku? Enggak, Danu! Aku bukan manusia hebat, yang bisa menahan diri dengan sangat baik! Aku memaafkanmu, dan kamu memaafkanku, rasanya sudah cukup. Aku enggak berharap lebih, selain semua kesalahpahaman di antara kita bisa clear!”
“Keira, tapi aku, aku ....” Lidah Danu mendadak kaku. Dan akhirnya ia tidak kuasa melanjutkan perkataannya.
“Ya sudah ya, Nu. Aku mau nikmati liburan kali ini. Tinggal dua hari lagi nih di sini, sebelum berjibaku sama kesibukan dan atasan killer. By the way, selamat ya atas jabatan barumu di kantor keluargamu sendiri. Mm, aku sempat membaca timeline sebuah artikel yang memuat tentangmu.”
“I-iya, Keira, terima kasih.”
Tidak ada yang bisa Danu katakan lagi, selain hanya ucapan terima kasih, sampai panggilannya dengan Keira berakhir. Sesak melanda, saat segala hal berubah. Sejak pernikahan dan kepergian Celine, keluarnya Danu dari kantor kecil milik Safrudin, Keira yang ingin menjauh, dan sampai di titik di mana Danu harus mengalah pada keluarganya serta mulai belajar tentang manajemen restoran keluarga.
Mengapa waktu berlalu begitu cepat? Sejak lulus kuliah, Danu masih bekerja di kantor Safrudin sebagai cara hidup mandirinya. Ketika ingin keluar dari perusahaan itu, ia dipertemukan dengan Celine, dan akhirnya berakhir bertahan di kantor tersebut karena menyukai Celine.
Danu pikir masa-masa manis semacam itu akan berlangsung dalam waktu lebih lama, sampai suatu saat ketika Celine berhasil mewujudkan mimpinya, ia akan langsung memberikan lamaran untuk wanita tersebut. Namun, keadaan dan impian Danu berubah ketika tiba-tiba saja Celine menikah dengan seorang konglomerat. Ya, yang namanya takdir dan jalan kehidupan ke depannya nanti, hanyalah Tuhan yang tahu. Hanya saja ... mengapa harus Danu yang berakhir sendirian?
Keira. Wanita cantik yang selalu tampil elegan tersebut, sempat Danu anggap sebagai teman terbaik. Berkat Keira juga, Danu mampu mengatasi segala masalahnya. Tidak hanya tentang Celine, tetapi juga mengenai kerenggangan hubungannya dengan kedua orang tua. Namun, Danu justru kembali merusak dan kini Keira tidak ingin bertemu lagi.
“Apa aku memang seburuk itu sebagai manusia? Aku memiliki banyak kawan, tapi mengapa aku selalu merasa kesepian?” gumam Danu sembari menatap asal keadaan ruang kerja barunya itu.
Pria itu lantas menghela napas. “Keira ... maafkan aku. Kalau saja, aku menyadari perasaanmu sejak awal, mungkin aku akan lebih bisa menjaga sikapku.”
Ibarat nasi yang sudah menjadi bubur, segala yang terjadi tentu sudah terlanjur. Kini Danu hanya bisa mengenang Celine yang telah menikah dengan pria lain. Mengenang manisnya masa-masa ketika bekerja di perusahaan Safrudin. Mengenang Keira yang selalu mendampinginya di saat-saat terluka. Tidak ada pilihan lain, selain pasrah pada keadaan dan menjalani apa yang akan ia jalani setelah ini. Mencari teman baru, dan bersikap seperti biasa, itupun jika ia mampu.
***
Keira mampir ke sebuah kadai kopi yang masih satu gedung dengan hotel di mana ia menginap. Setelah berbicara dengan Danu melalui sambungan telepon, jujur saja ada sedikit kelegaan. Namun, tetap tidak menyangkal mengenai luka hati atas kasihnya yang tak kesampaian.
Keira tidak tahu mengapa ia menyukai Danu, yang jelas-jelas sangat tergila-gila dengan Celine. Hanya karena sedikit perhatian tanpa niat spesial? Oh, betapa konyolnya Keira yang bisa terbuai oleh sikap-sikap Danu tersebut. Seperti bukan dirinya saja, sungguh!
Keira tersenyum, lalu mengangguk. “Iya, Ken. Ngantuk nih, nanti malam pengin main, jadi ngopi-lah. Kamu sudah lama di sini?”
“Lumayan, setengah jam lalu. Tuh di sana,” kata Kenny sembari menunju meja bekas tempat singgahnya yang berada di ujung ruangan kafe. “Aku melihat kamu, kupikir salah, karena penasaran ya sudah aku datangi saja. Ternyata benar.”
”Duduk lagi, Ken, mau ngopi lagi nggak?”
”Nggak, nggak, Ra. Sudah secangkir penuh, bisa kembung perutku. Mm ... by the way, kamu kenapa? Kayaknya murung banget? Kangen Celine? Apa kangen rumah?” Sesaat setelah duduk tepat di hadapan Keira, Kenny melontarkan pertanyaan secara bertubi-tubi.
”Mm, maybe kangen Celine deh, Ken. Kalau rumah nggak sih, lagian kan aku di rumah sendiri. Kamu kan pasti juga tahu aku sudah enggak punya ibu, dan ayahku jarang datang setelah menikah lagi, Ken.”
Kenny mengerjapkan matanya, salah tingkah dan merasa bersalah. “Sorry, topiknya mengarah ke situ ya?”
“Nggak, nggak! Nggak kok, Ken. Aku-nya saja yang sensitif. Biasalah, kalau detik-detik terakhir liburan, suka galau. Kayak enggak mau balik ke Jakarta dan kembali bekerja. Maunya pelesir terus.”
“Hahaha. Namanya juga hobi, Ra. Kamu kayak Celine kan sama saja. Suka heran kadang, apa kalian itu enggak capek?”
“Nggaklah, Ken, justru bahagia banget. Kayak kamu tuh yang hobi nongkrong sama gitaran di pinggir jalan, enggak berfaedah banget, 'kan? Lebih baik kan liburan ke pulai-pulau cantik!”
“Kamu kan sudah cantik, Ra. Kenapa ... ah!” Kenny mengusap tengkuk, ketika menyadari mulutnya keceplosan. “Ya, maksudku—”
“Hihi ... tahu saja sama cewek cantik kami, Ken. Ternyata si Adik satu ini sudah dewasa ya? Sudah mau wisuda terus cari kerja. Aku jamin kamu sukses, Ken, kamu kan pintar!”
Kenny tersenyum kaku. “Adik ya, Ra? Hmm ... doakan saja, Ra. Mau tahu rahasiaku nggak?”
Dahi Keira mengernyit. “Rahasia? Apa nih?”
“Aku pengin jadi pengusaha. Tapi, bukan pengusaha manufaktur atau real estate, tapi pengusaha di bidang jasa, Ra. Aku pengin buka kantor biro perjalanan.”
“Hah?! Kok?!”
Kenny menghela napas, lalu tersenyum. “Cuma, ingin membalas kebaikan Celine saja. Dan kupikir itulah tujuanku kuliah di bidang itu, Ra. Kalau aku punya biro perjalanan sendiri, pasti kakak tengilku itu enggak akan kesulitan buat keliling dunia. Aku tahu Reksa sudah memiliki segalanya dan hal mudah baginya buat mewujudkan impian Celine. Tapi, nggak tahu kenapa, aku juga ingin ikut andil untuk impian Celine, Ra. Selain karena Celine, tentu saja aku juga mau bikin orang tuaku bahagia. Ya, biar mereka juga liburan dan enggak buka kedai mulu. Kasihan.”
Keira tertegun. Lalu, ia tersenyum ketika merasa takjub. Cowok super manis yang terkenal berandal tersebut ternyata memiliki impian mulai. Jarang ada sepertinya. Biasanya para pria ingin memulai usaha demi kesuksesannya sendiri. Namun, Kenny termasuk orang yang mengedepankan keluarganya. Indahnya keluarga mereka. Baik Rodian dan Deswita, sama-sama berhasil mendidik Celine dan Kenny untuk memiliki pribadi yang begitu baik.
Sebagai seseorang yang jarang mendapatkan kasih sayang, Keira merasa sangat beruntung ketika mengenal keluarga Rodian. Oleh sebab itu, ia harus segera melupakan Danu, ia harus bersyukur atas hidupnya yang meski serba sepi masih ada orang-orang baik di sekitarnya dan tidak seharusnya dirinya begitu galau hanya karena satu pria.
***