
Hari ke-7, Moskow, Rusia. Sudah tiga hari sejak kejadian yang tidak disengaja terjadi, Celine memilih untuk mengurung diri. Semua agenda yang seharusnya ia lewati bersama Reksa menjadi gagal total. Beberapa destinasi wisata yang sudah Celine incar pun, tidak ada lagi di dalam list yang tersusun rapi di otaknya.
Kehilangan tanda dara, bahkan meski oleh suaminya sendiri dan atas kemauannya tanpa kesadaran penuh, membuat Celine berangsur merasa tertekan. Entah mengapa ia bisa bertindak sebodoh itu. Sudah jelas-jelas Reksa sangat membencinya, bahkan tidak akan pernah mau belajar mencintainya, dan ia menyerahkan sebuah harga diri. Fatalnya, yang masuk ke dalam kamar Reksa adalah dirinya, sementara suaminya itu tidak pernah memberikan undangan apa pun.
Celine ibarat korban pergaulan bebas yang kemudian menyesali perbuatannya. Ia meratap dan masih merenungkan kebodohannya. Ia bahkan lupa perihal makan. Tak ada gurat kegembiraan yang biasanya selalu tampak di wajahnya. Sebenarnya, yang Celine khawatirkan adalah rencana Reksa.
Bagaimana jika rencananya untuk membuat Reksa jatuh cinta justru gagal total? Dan, bagaimana jika pada akhirnya Reksa-lah yang menjadi pemenang? Dengan kata lain, pria itu bisa menceraikannya kapan saja. Kalau pada akhirnya, Celine yang kalah, tentu saja ia yang akan menyandang sebagai janda tanpa mahkota. Ia sudah tidak gadis lagi, memangnya pria mana yang akan menyukainya? Danurdara? Ironis, dan itu tidak mungkin. Danu adalah pria yang baik, Danu patut mendapatkan wanita lebih baik dan lebih terhormat daripada janda seperti Celine.
“Ah ... membayangkannya saja, aku sudah bergidik. Sepertinya aku enggak akan bisa hidup menjanda. Selain, akan kesulitan mencari pasangan baru, nama baik ayah dan ibuku pasti akan ikut terseret dan lantas menjadi jelek,” gumam Celine yang masih setia pada bantal dan gulingnya. “Kenapa aku bodoh sekali, sih?! Aku memang selalu yakin pada sebuah kemenangan. Aku bisa mengalahkan Reksa. Tapi, takdir kadang kala mempermainkan hidup manusia. Lagi pula, Reksa juga terlalu kuat. Dia sulit diatasi dan sulit dibujuk.”
“Jika nantinya rencanaku gagal, sementara Reksa menang, tinggal aku-lah yang akan jatuh menyedihkan. Sudah kehilangan pekerjaan, janda yang enggak gadis lagi, tabungan juga habis untuk membayar hutang atas ganti rugi dan otomatis uang untuk keliling dunia juga sudah enggak tersisa. Dan lagi, keluarga mana pun pasti akan menolak mentah-mentah sosok wanita yang pernah gagal berumah tangga. Sekalipun ada yang mau sama aku, keluarga orang itu pasti akan keberatan, uh ...!” Celine membenamkan wajahnya ke dalam bantal.
Lelah jika memikirkan tentang masa depannya yang sudah suram. Semua karena Reksa yang super kejam. Pria angkuh dan keras kepala itu masih saja egois. Reksa bahkan tak mau mengakui kesalahannya yang telah merampas hal berharga milik istrinya. Sungguh, ironis, sebagai pasangan suami-istri, bahkan masih menjadi pengantin baru, antara Celine dan Reksa tidak ada tanda-tanda baik untuk memupuk rasa cinta di kemudian hari.
“Celine?!” Tiba-tiba, suara pria yang tengah menjadi bahan pikiran Celine terdengar.
Karena kamar itu hanya kamar biasa yang mana posisi tempat tidur dan pintu masuk sangat dekat, Celine masih bisa mendengar suara suaminya sendiri. Terlebih, lagi-lagi ia tidak mengunci pintu pasca Reksa keluar dari kamarnya beberapa saat yang lalu demi membujuknya makan siang di luar.
“Kamu enggak kunci pintu lagi?!” Baru melangkah masuk, Reksa sudah mulai mengomel. “Aku sudah keluar satu jam sejak aku datang pertama kali lho!”
“Aaaa! Aku lagi enggak mood, Sa! Enggak mau diomelin. Kalau kamu datang, cuma mau mengomel, lebih baik pergi lagi saja!” tukas Celine yang sebenarnya sama saja, ia juga sangat keras kepala.
Reksa menghela napas. Lelah rasanya mendebat ucapan seorang wanita yang sedang galau selama tiga hari berturut-turut. Ini kedua kalinya ia datang demi membujuk Celine agar keluar dari kamar. Seandainya, tidak merasa bersalah, ia tidak akan sudi menghampiri wanita itu. Apalagi ketika dirinya sudah pernah melarang Celine untuk pergi ke mana pun, tentu diamnya Celine menjadi sebuah kemenangan untuknya. Namun, nyatanya hatinya merasa benar-benar tidak tega.
Detik berikutnya, Reksa berjalan mendekati keberadaan Celine yang masih terkapar bagaikan anak kucing kelaparan. Melalui mata Reksa, Celine tampak kusam dan lemah. Tak ada tanda-tanda ceria seperti biasanya di wajah istrinya itu. Aneh dan sangat menjengkelkan. Lebih baik, Celine berbuat konyol, daripada diam dan enggak bersemangat seperti itu, batin Reksa saat mendadak merasa ada yang kurang.
“Bangunlah dan makan ini,” ucap Reksa sembari menyodorkan seporsi hidangan khas Rusia. “Beef stroganoff, makanan Rusia yang isinya potongan daging sapi. Aku jamin kamu suka. Aku membelinya di salah satu restoran mewah, dan tentu saja sangat mahal.”
Celine mengernyitkan dahi, agak heran tentang mengapa Reksa tiba-tiba memedulikannya. “Aku ... sudah makan tadi.”
“Kapan?”
“Mm ... aku sudah memesan dari staf hotel.”
“Benarkah?” selidik Reksa, tidak percaya.
Celine menelan saliva, kemudian berusaha menganggukkan kepala. “Te-tentu saja.”
“Ya sudah.” Reksa menghela napas. “Aku bisa membuang makanan ini.”
“Kenapa harus dibuang?!” Suara Celine mendadak keras. “Kamu kan bisa memakannya sendiri.”
“Mulai lagi dia.”
Celine memutar bola matanya dan mencoba untuk tidak peduli. Masa bodoh dengan makanan yang katanya sangat mahal, lagi pula ia tidak pernah memintanya. Celine mencoba memejamkan matanya, tanpa mau memedulikan Reksa.
Namun, ... pikiran Celine justru tak bisa tenang. Celine membayangkan tentang bagaimana sikap Reksa ketika sedang memesan hidangan tersebut sembari memikirkannya. Pastinya pada saat itu, Reksa sangat terpaksa sembari menahan kedongkolan. Kendati begitu, Reksa tetap bersedia mencarikan makan siang untuk Celine, dengan kata lain Reksa masih menyimpan sedikit rasa iba untuknya.
Tepat ketika bunyi tempat sampah sedang dibuka, Celine cepat-cepat membuka mata. Ia segera bangkit dari posisinya, kemudian bergerak lebih gesit untuk menghampiri Reksa yang hendak membuang hidangan tersebut.
“Tunggu! Aku lapar!” seru Celine detik itu juga.
Reksa langsung menatap Celine. “Mau makan? Ini sudah menjadi calon sampah,” ucapnya
“Baru calon, belum sepenuhnya jadi. Biar aku makan.”
“Jorok sekali. Memang pada dasarnya mental orang miskin, meski sudah jadi sampah sekalipun sepertinya kamu tetap akan menyantapnya.”
Celine menghela napas. “Ya, benar!” katanya dengan lantang. “Terlebih, aku punya hutang sama kamu, di mana aku harus tetap berhemat.”
“Hutang itu sudah lunas.”
“Aku enggak sudi, kalau bayarannya adalah aku harus melupakan kejadian di malam itu. Dan lagi, aku enggak pernah membuat keputusan untuk menyetujui permintan kamu kok!”
“Aku yang berhak mengambil keputusan.”
Celine merampas hidangan dari tangan Reksa dan bergegas menuju tempat duduk, sembari menjawab, “Enak saja! Kamu memang seorang CEO besar. Tapi, bagiku kamu hanya cowok biasa yang sama saja seperti cowok pada umumnya. Mm ... ralat, kamu jauh lebih buruk daripada mereka!”
“Ah, berisik! Cepat makan saja! Habiskan, karena itu mahal. Gajimu di perusahaan kecil itu sepertinya enggak akan cukup untuk membeli makanan semahal itu.”
Celine mengambil sikap duduk dan mulai membuka bungkus makanan yang terbuat dari wadah aesthetic. Sepertinya Reksa tidak berbohong, hidangan itu berasal dari salah satu restoran mahal di negara ini.
“Kamu enggak mau? Sini, sepiring berdua.” Celine mengerlingkan matanya.
“Waaah ... cepat sekali perubahan mood-nya?” Heran Reksa bergumam. Pasalnya, belum ada satu menit Celine berani menghinanya, tetapi lihat! Wanita muda itu sudah berani bersikap genit. Bisa-bisanya seseorang yang dirundung kegalauan selama berhari-hari, bisa berubah dalam waktu sangat cepat.
Dia memang aneh, seharusnya aku enggak perlu mempertanyakan tentang perubahan itu, pikir Reksa. Tak lama kemudian, ia berjalan menghampiri keberadaan Celine. Di kursi yang lain, Reksa mengambil sikap duduknya. Tanpa sadar, ia memperhatikan sikap makan Celine. Istrinya itu tampak lahap dan antusias, sepertinya dalam tiga hari ini, pola makan Celine sangat berantakan.
Reksa tersenyum, tanpa berkedip sekalipun. Bahkan, ia masih tidak menyadari perubahan parasnya saat ini.
***