Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 74-Kegalauan Kenny


Sudah jam satu malam waktu setempat, tetapi mata Kenny masih cerah dan segar. Ia tidak bisa tidur malam ini. Setiap posisi yang ia ambil untuk merilekskan tubuh pun tidak pernah berhasil membuatnya terlelap dalam tidur. Ia kebingungan sendiri ketika merasa ada yang aneh pada diri sendiri. Apalagi kondisi benaknya yang nyaris seperti orang gila, membuat Kenny benar-benar tidak menyangka.


Alasan yang paling tepat untuk mengartikan segala kecemasan itu adalah sosok Keira. Beberapa hari bersama Keira tanpa kehadiran Celine, membuat Kenny sangat kewalahan. Wanita cantik yang kerap tampil elegan tersebut memang tidak pernah membuat suatu permasalahan. Situasi yang menjadi buruk, melainkan ciptaan Kenny sendiri.


Pasalnya, alih-alih dapat meredam, Kenny justru semakin memperbesar. Ya, mengenai perasaannya itu pada sahabat kakaknya sendiri yang tidak kunjung surut, tetapi justru kian meletup-letup. Ada apa dengan Kenny sebenarnya? Setelah sekian tahun mampu menyimpan perasaan itu, tetapi hanya beberapa hari bersama Keira, dirinya justru semakin tidak beraturan. Memangnya wajar? Atau dirinya-lah yang sudah tidak waras?


“Ken! Lo harus ingat lo siapa! Cowok miskin yang saat ini menjadi pengangguran. Lo enggak jauh beda sama Celine yang bodoh itu. Lo juga cuma sosok yang pantas jadi adik, bukan sosok yang masuk kriteria pasangan buat Keira! Harusnya lo ingat terus soal itu, Ken!” ucap Kenny untuk dirinya sendiri menggunakan bahasa gaul seperti saat dirinya tengah berbicara dengan kawan di tongkrongan.


Pria pemilik lesung pipit yang sekaligus gigi gingsul tersebut lantas menghela napas dan membangunkan dirinya. Menyadari perasaan sukanya terhadap Keira semakin bertambah parah, jujur saja sangat melelahkan bagi dirinya. Ia pikir setelah impiannya terwujud tentang sebuah kebersamaan dengan Keira satu hari penuh, ia bisa melupakan wanita itu dengan lebih legawa. Sayangnya, kenyataan mengatakan bahwa definisi cinta itu jauh lebih rumit dari perkiraannya.


“Celine sudah tidur belum ya? Lagi enggak sibuk sama suami. ‘kan, dia?” gumam Kenny bertanya-tanya. Ya, mengenai kakaknya sendiri, yang ia pikir cukup lumayan untuk dijadikan sebagai seorang pendengar.


Hanya saja, situasi Celine saat ini pun sudah berbeda. Celine bisa saja melakukan olahraga malam bersama Reksa, jika memang belum tidur, dan Kenny tidak ingin menganggu. Apalagi, ia sudah sangat menginginkan keponakan dari kakaknya itu.


“Duh! Mampus gue!” keluh Kenny sembari menggaruk-garuk kepala dengan asal, sampai rambut agak gondrongnya semakin berantakan. “Mau bagaimana kalau kayak begini terus coba? Bisa gila gue! Makin gila, makin enggak jelas. Cuma gara-gara cewek, jadi pengangguran akut nanti!”


Kenny mengeram, lalu ia menatap layar ponselnya lagi yang selalu berada di genggamannya sepanjang malam tanpa kelelapan tersebut. Detik berikutnya, ia menuliskan pesan untuk Celine yang entah masih sibuk beraktivitas dengan Reksa, atau sudah tidur. Masa bodoh! Dibalas esok hari pun tak apa, asal Celine mau bertemu dengannya. Setidaknya ada pelampiasan dan tempat bercerita. Karena sungguh! Kenny sudah tidak kuat lagi membendung perasaan yang sudah ia simpan sejak bertahun-tahun. Bahkan, meski beberapa kali memiliki pacar, fokus utama soal wanita idaman terus mengarah pada sosok Keira.


Kenny sampai pernah menganggap dirinya sudah kelainan jiwa, beberapa kali ia memikirkan tentang hal itu. Namun, karena jarang bertemu Keira, apalagi berbicara dengan wanita itu, Kenny masih mampu menahan rasa hatinya. Hanya saja setiap kali bertemu Keira, perasaan tersebut kembali meletup, ibarat air yang baru mendidih dan habis, lalu dididihkan lagi, begitu terus. Hingga tiba saat sini, ketika Kenny diberikan kesempatan untuk berdekatan dan menghabiskan beberapa waktu luangnya bersama dengan Keira. Barulah Kenny menyadari bahwa kecintaannya terhadap Keira tidak sesepele yang ia kira.


***


Kenken: Cel, temui aku di kafe yang masih satu gedung dengan hotelmu jam tujuh. Kalian sudah pindah ke hotel yang ini, ‘kan? Ada yang mau aku bilang sama kamu. Jadi, datang ya! Soalnya ini sangat serius!


Demikianlah isi pesan Kenny yang disertai sebuah gambar hotel, tempat inap baru untuk Celine dan Reksa. Setelah membaca pesan tersebut, dahi Celine berangsur mengernyit. Juga perasaan heran yang menyelimuti hatinya saat ini. Bukan hanya permintaan tak biasa dari adiknya, melainkan waktu mengirim pesan adalah jam satu malam atau mungkin sudah bisa dikatakan dini hari.


“Ada apa sama Kenny ya? Dia nggak bikin masalah, ‘kan? Ah, nggak mungkin, si Berandal itu kan sudah lama bertobat. Justru aku yang kerap bikin ulah. Tapi, masa jam segitu sudah kirim pesan minta bertemu?” ucap Celine bertanya-tanya.


Celine lantas menoleh ke arah suaminya itu, meski pergerakan lehernya agak sulit. “Ini si Kenny. Kayaknya tadi malam enggak tidur. Iya sih dia sering begadang, tapi nggak tahu kenapa perasaanku nggak enak. Ini kan liburan dan dia sudah lulus, jadi buat apa begadang lagi coba?”


“Mana coba lihat,” pinta Reksa sembari merampas ponsel dari tangan istrinya. “Dia mau ke sini?” tanyanya lagi sesaat setelah membaca pesan dari Kenny.


“Kayaknya.”


“Mm. Bagaimana? Aku enggak bisa temani kamu, ada agenda jam delapan ini, Cel. Yang berarti jam tujuh aku sudah harus berangkat ke tempat janji.”


“Ya ampun, Sayangku!” Celine menepuk pundak Reksa. “Enggak masalah kali, lagian yang aku temui kan adikku sendiri bukan orang lain!”


“Aku takut kalau ada masalah, itu saja.”


“Kamu kan tahu siapa aku, Reksa, juga Kenny yang jauh lebih tangguh. Mungkin saja karena ini hari terakhirnya di Bali, jadi mau ketemu sama aku dulu buat cari oleh-oleh bareng. Yang bikin aku cemas kan dia kemungkinan enggak tidur tadi malam, tapi kalau dipikir-pikir dia kan cowok, jadi enggak aneh kalau begadang.”


Reksa bernapas lega, kemudian berangsur mengusap rambut istrinya. “Ya sudah kalau begitu. Tapi, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya? Aku siap datang kapan pun kamu membutuhkan, Celine sa ... mm, yang.”


“Cieelah! Dasar!”


Reksa tersenyum. Ia yang sudah tidak tahan melihat wajah cantik sang istri yang dalam keadaan habis mandi keramas, lantas merengkuh pinggang istrinya itu. Mereka saling berpelukan, bahkan berkecup mesra. Sebuah hubungan yang memiliki progres sangat signifikan, seolah tidak pernah ada masalah dan kebencian di antara keduanya.


Mungkin itulah yang dinamakan indahnya berpacaran setelah pernikahan. Selain sudah sah dan diperbolehkan, mereka tak lagi takut untuk melakukan aktivitas yang cukup mendebarkan. Selama ada saling pengertian, maka hubungan sebagai suami istri pun akan tetap terjalin dengan manis. Setidaknya itulah yang berusaha Reksa dan Celine jaga, meskipun yang namanya badai di dalam rumah tangga akan datang berkali-kali. Seperti misalnya keberadaan Ailen, yang bisa saja ada sosok-sosok Ailen lainnya, dan jujur saja hal itu membuat Celine kerap merasa cemas. Namun, apa daya, ia tetap harus percaya, daripada berbuat gila layaknya beberapa hari yang lalu.


***