Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 90-Tawaran Pekerjaan


Sanny—ibunda dari Reksa—telah duduk di ruang tamu dari apartemen milik putra serta menantunya. Ia tetap cantik, rasanya tidak ada perubahan sama sekali sejak dulu. Ia memang wanita sosialita, yang tidak hanya pandai berinvestasi untuk usaha, tetapi juga untuk badan dan wajahnya. Namun, meski begitu, ia tetap memiliki hati yang baik dan lembut.


Menantu mana pun pasti akan merasa minder setelah mengetahui sosok Sanny ini. Termasuk juga Celine yang setelah bisa berpikir lebih sehat, mulai menyadari bahwa dirinya benar-benar jauh jika dibandingkan dengan ibu mertuanya. Apalagi kata Reksa, Sanny memiliki segudang kehidupan elite dan prestasi di dunia bisnis. Sanny terlalu pintar, kaya, berkelas, dan juga anggun. Sementara Celine? Ahaha, mungkin semua orang akan tertawa seperti itu dengan nada yang keras dan sinis, sebab melihat perbedaan Celine dengan sang ibu mertua memang sangat mencolok sekali.


“Nak Celine ...? Kamu apa kabar? Bali indah sekali, ya?” tanya Sanny pada Celine yang masih terdiam.


Celine lantas mengusap tengkuk, salah tingkah. Ia mengangguk setelahnya lalu berkata, “I-iya, Ibu. Bali selalu indah.”


Sebuah senyum terulas manis menarik kedua sudut bibir Sanny yang terpoles lipstick berwarna nude. “Ibu pikir kamu juga akan menyukai sebuah pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan, Nak Celine.”


Reksa memicingkan mata. “Ada apa, Ibu? Maksudku kenapa Ibu berkata seperti itu?”


”Hanya ....” Sanny berangsur menatap putra semata wayangnya. “Ini soal pekerjaan. Mm, tapi, Ibu mau tanya satu hal dulu sama kalian. Apa ... Celine sudah isi?”


”Isi?” Celine mengernyitkan dahinya.


“Belum,” sahut Reksa. “Tiga bulan ini kami memutuskan untuk menunda memiliki anak, tapi mau memulai dalam menjalani pro—”


“Ah! Memangnya ada apa, Ibu?” Celine sengaja memotong ucapan suaminya, karena ia takut usaha dalam program hamil tidak berjalan lancar dan justru memberikan harapan palsu. Oleh sebab itu, ia berencana merahasiakan perjalanan untuk memiliki buah hati dari siapa pun, kecuali suaminya.


Sanny tersenyum dan kembali menatap Celine. “Salah satu teman Ibu adalah seorang CEO dari biro perjalanan, terutama perjalanan muda madu. Beliau kehilangan staf yang pandai soal perjalanan, atau paham tempat-tempat wisata terbaik. Beliau bercerita dengan Ibu, sulit mencari orang seperti dia. Nah, Ibu langsung teringat kamu, Nak Celine, jadi Ibu merekomendasikan kamu untuk beliau. Kamu kan sangat menyukai perjalanan, siapa tahu pengetahuanmu tentang tempat-tempat wisata bisa membantu.”


“Oh begitu.” Celine manggut-manggut.


Lalu keheningan menyapa saat Celine tampak berpikir. Ia sedang mempertimbangkan penawaran dari ibu mertuanya. Tentu saja bekerja di sebuah biro perjalanan adalah kesempatan yang bagus. Ia bisa bekerja bahkan melakukan perjalanan di waktu yang sama. Namun, di sisi lain, ia sudah mengutarakan niat untuk memiliki anak dan mempertimbangkan penawaran Reksa mengenai pembangunan usaha kedai makanan.


Mengapa kesempatan bagus justru datang di waktu yang tidak tepat? Celine benar-benar tidak habis pikir. Di saat ia berjibaku di kantor kecil milik bos menyebalkan, tawaran soal pekerjaan di biro perjalanan justru tidak datang. Dan di saat ia menganggur, tetapi sudah memiliki rencana punya momongan, penawaran itu justru datang.


Sanny tidak bersalah. Celine tidak mencoba menyalahkan sang ibu mertua. Hanya saja ... entah, terkadang waktu memang tidak berpihak pada seseorang. Jujur saja, Celine menginginkan pekerjaan itu. Ia masih muda dan memiliki mimpi. Hanya saja ia sudah terlanjur mengatakan ingin segera hamil pada suaminya. Sungguh! Celine tidak ingin mengecewakan Reksa, itu saja.


“Kamu bisa bekerja sampai hamil lho, Cel," ucap Sanny yang seolah dapat membaca pikiran Celine. “Sambil menunggu kehamilan kamu datang, kamu bisa bekerja di lapangan kalau ingin. Tapi, kalau memang sudah hamil, kamu bisa bekerja di tempat sambil membantu perancangan perjalanan bulan madu atau liburan biasa di kantor.”


“Ibu,” sahut Reksa. “Anak Ibu yang sekaligus suami Celine sudah kaya, sudah sukses dengan perusahaan warisan dari Ayah. Jadi, kenapa Celine harus bekerja lagi?”


Sanny menatap putranya, lalu tersenyum lembut. “Ibu hanya mencoba membantu, Sayang. Ibu dengar Celine punya mimpi ingin keliling dunia tanpa bantuan kamu sebagai suaminya. Ibu bukan ingin meminta menantu Ibu kerja, hanya membantunya saja. Tapi, kalau kalian menolak pun, Ibu enggak apa-apa. Lagian, ini hanya penawaran tanpa kewajiban menerima.”


”A-apa Celine boleh mempertimbangkannya terlebih dahulu, Ibu?"


“Ah, i-iya, Ibu. Pasti Celine akan segera memberikan keputusan kok.”


“Baiklah. Pikirkan saja pelan-pelan, Nak Celine. Kalau kamu atau suami kamu memang enggak cocok sama penawaran ini, kasih tahu saja, enggak apa-apa. Ibu hanya menawarkan saja, siapa tahu Nak Celine-nya mau.”


“Iya, Ibu.” Kini giliran Reksa yang memberikan jawaban. Wajahnya sangat masam, sepertinya penawaran dari ibunya untuk Celine memang sangat mengganggu hatinya.


Reksa sendiri tidak mau jika Celine kembali bekerja. Ia sudah punya banyak uang, ia pesohor hebat yang kaya raya. Bukan hal sulit memberikan nafkah pada Celine, bahkan keluarga Celine. Ia akui perusahaan itu hanyalah warisan, tetapi ia tidak peduli. Toh, ia sudah mencurahkan segala ilmu, pikiran, waktu, hingga tenaganya untuk perusahaan itu. Lagi pula, kalau bukan dirinya, siapa lagi yang akan menjaga perusahaan yang ayahnya bangun dengan susah payah tersebut?


Namun, di sisi lain, Celine masih sangat muda. Wanita itu hanya dipaksa menikah dan mendadak menjadi istri seorang pria. Secara otomatis, Celine nyaris kehilangan semua mimpinya. Dengan kenyataan tersebut, tentu saja Reksa merasa tidak tega. Siapa tahu penawaran dari ibundanya menjadi jalan bagi Celine untuk menggapai cita-cita sesuai keinginann Celine sendiri.


Hanya saja ... jika Celine sudah mulai bekerja dan ikut turun ke lapangan untuk meninjau tempat-tempat wisata sebelum klien biro perjalanan berangkat, artinya waktu Celine pun akan tersita. Dengan kata lain, ada kalanya Reksa tidak bertemu dengan istrinya itu, dan keinginan punya anak akan kembali tertunda.


”Ya sudah kalau begitu, Ibu harus pamit. Masih ada agenda lain, hari ini. Kedatangan Ibu hanya untuk memberi tahu soal penawaran ini saja. Kalian bisa pikirkan pelan-pelan selama satu minggu ini,” ucap Sanny kemudian berangsur bangkit dari duduknya.


Celine turut bangkit. “Ibu enggak menunggu makan siang dulu? Saya sudah masak untuk siang ini,” tawarnya.


Sanny tersenyum, lalu menggeleng. “Maaf, Nak Celine. Ibu pun memiliki janji buat makan siang dengan teman Ibu.”


“Oh ... ya sudah kalau begitu. Mari saya antarkan.”


“Enggak, enggak perlu, Nak Celine. Jangan diantar, Ibu mau jalan sendiri. Kamu di sini saja sama Reksa. Kalian kan juga habis dari Bali, pastinya perlu waktu buat istirahat,” sergah Sanny.


Reksa turut bangkit. “Ya sudah. Hati-hati di jalan, Ibu. Bilang Reksa kalau ada apa-apa.”


“Iya, Sayang.” Sanny mengangguk. “Dan kamu jangan terlalu dingin lagi sama istri kamu lho, ya! Ingat, rezeki suami itu tergantung sikap suami pada istrinya."


“Iya, Ibu, iya. Lagian Reksa sudah tergila-gila kok sama Celine, jadi buat apa harus bersikap dingin lagi.”


“Waaah! Bagus, bagus! Cintai istrimu dengan baik, Sayang!”


Sanny kegirangan. Namun, sayang, ia tidak bisa bergabung lebih lama dengan pasangan pengantin yang baru merasakan jatuh cinta. Lantas, ia berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar, dengan diantarkan oleh Reksa dan Celine.


Selepas Sanny keluar, barulah Reksa dan Celine menghela napas. Mereka canggung. Pemikiran mengenai tawaran dari Sanny cukup membuat keduanya merasa tidak nyaman satu sama lain, dalam arti takut saling menyakiti.


***