
Ada rasa bersalah yang membuat Celine harus segera meminta maaf. Memang benar, ia berhak untuk marah, tetapi etikanya tadi siang di hadapan Safrudin selaku atasannya tetap tidak bisa dibenarkan. Celine yang tidak mampu menyimpan ganjalan itu, lantas memutuskan untuk menemui Safrudin yang masih berada di tempat kerja, sementara semua rekan Celine sudah keluar.
Dengan ragu-ragu, Celine mulai melangkahkan kakinya. Ia menghentikan perjalanan singkat tersebut tepat di hadapan Safrudin yang masih sibuk mengerjakan beberapa berkas.
Celine menghela napas, kemudian berkata, “Pak Bos? Saya minta maaf soal sikap saya tadi siang.”
Detik di mana Celine mulai bersuara, Safrudin menghentikan kesibukan kedua tangannya. Ia berangsur menatap Celine dengan tatapan tajam, sementara hatinya cukup malas untuk meladeni wanita muda itu.
“Sudah sehatkah otakmu?” ucap Safrudin memberikan sindiran.
Celine menunduk. “Sudah, Pak,” jawabnya lirih.
“Celine?”
“Iya, Pak?”
“Seharusnya kamu bersyukur bisa diterima kerja di sini dengan nilai ujian kelulusan SMA yang tidak seberapa bagus. Meskipun sudah menjadi istri orang kaya, latar belakangmu tetap sama saja. Kamu bukan lulusan S1, bahkan menginjakkan kaki di universitas saja kamu tidak pernah.”
Celine menggigit bibirnya. Kenyataan yang diucapkan oleh Safrudin memang sangat menyakitkan, tetapi Celine juga tidak dapat menyangkal. Ia bukan Keira yang merupakan lulusan S1 dengan nilai luar biasa dan menyelesaikan pendidikan itu dengan cepat. Ia juga bukan anak pintar dan hanya lulus SMA dengan nilai ujian tidak bagus. Dan kenyataan itulah yang membuatnya terus bertahan bekerja di bawah naungan sang bos menyebalkan.
Namun, Celine sudah merusak prinsipnya sendiri untuk terus bertahan. Ia yang lepas kendali membuat Safrudin merasa sangat jengkel. Entah setan apa yang merasuki tubuh Celine siang tadi, sampai dirinya begitu nekat dalam melontarkan protesnya, bahkan mengatakan kata-kata pedas dan kurang ajar. Memang benar, ia sudah menderita kelelahan, tetapi seharusnya ia tetap mampu menahan segala kekesalan. Sayangnya, Celine sudah terlanjur berbuat.
“Maafkan saya, Pak,” ucap Celine lagi. Tidak peduli seberapa menyebalkannya Safrudin, Celine tetap menganggap tindakannya sudah salah.
Safrudin menghela napas, kemudian berkata, “Saya pikir awalnya kamu adalah anak yang cerdas. Kamu begitu percaya diri dan melewati proses interview dengan baik. Tapi, kenyataannya apa? Kamu benar-benar bodoh dan lamban. Kamu butuh waktu berapa lama untuk mengerti pekerjaanmu sendiri, coba? Setengah tahun? Astaga ... kalau bisa, saya sudah memecat kamu sejak dulu. Apalagi kamu selalu mengandalkan koneksi dari orang lain, membuatku semakin muak padamu saja, Cel.”
“A-apa?” Celine tercengang, lantas menatap Safrudin dengan bingung. “Koneksi? Maksud Bapak apa ya? Saya masuk ke perusahaan ini melalui lowongan kerja yang Bapak pasang sendiri kok, enggak pakai orang dalam atau—“
“Setelahnya, Cel, jangan pura-pura tidak tahu kamu!”
“Setelahnya bagaimana? Sungguh, saya benar-benar tidak mengerti apa yang Bapak maksud.”
Safrudin menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian berangsur bangkit dari duduknya. “Jangan pura-pura, Celine. Kamu pasti mengandalkan Danu untuk membela dirimu selama ini, bukan? Pastinya kamu juga tahu kalau saya begitu mengenal keluarga Danu, sehingga kamu memanfaatkan momen itu. Kamu tahu kalau keluarga Danu masih cukup terpandang dan saya amat segan.”
“Aduuh ...,” gumam Celine sembari menggaruk-garuk kepalanya, karena otaknya sulit mencerna setiap perkataan Safrudin barusan. “Maksud Bapak bagaimana sih?”
“Danu menyukai dirimu, bukan? Dia juga berasal dari keluarga terpandang yang saya kenal dengan baik. Kamu pasti tahu betapa saya sangat sungkan jika berbicara dengan Danu. Tapi, kenapa kamu berbuat seperti itu? Apalagi sekarang saat sudah menikah, kamu masih saja memanfaatkan Danu, Celine. Dan karena permintaan Danu, saya selalu sulit memecat kamu, Celine. Itu mengapa saya tidak pernah menyukai kamu. Orang seperti kamu justru lebih pintar memanfaatkan orang lain demi kepentingan sendiri.”
“Pak!” kata Celine. “Saya bahkan tidak pernah tahu kalau Danu-lah yang selalu membela saya di hadapan Bapak, dan bahkan membuat posisi saya tetap aman di kantor ini. Saya benar-benar tidak memanfaatkan dia, atau meminta dia untuk selalu melindungi saya. Satu hal lagi, saya tidak pernah tahu kalau Bapak begitu mengenal keluarga Danu. Saya minta maaf karena saya tidak memiliki pendidikan tinggi dan sangat bodoh, tapi sejauh ini saya selalu bekerja dengan baik serta bertanggung jawab pada semua tugas yang Bapak berikan.”
“Benarkah begitu?” tanya Safrudin seolah tidak percaya pada semua penjelasan Celine. Ekspresinya songong, meremehkan Celine.
“Benar, dan saya sangat yakin. Saya cukup tahu diri tentang siapa diri saya ini, sehingga saya terus bertahan di kantor ini, karena menganggap Bapak sangat baik sampai bersedia menerima orang seperti saya. Kalau memang saya suka memanfaatkan orang lain, bukankah lebih baik saat ini saya memanfaatkan kekayaan suami saya saja, alih-alih Danu yang masih kalah jauh? Bapak tahu, bukan, seberapa tersohornya suami saya?”
“Tapi, saya tidak mau begitu dan saya bukan orang seperti itu. Walaupun saya bodoh dan miskin, saya masih ingin menghasilkan uang sendiri untuk mencapai cita-cita saya. Karena apa? Menggapai cita-cita dengan keringat sendiri, jauh lebih berkesan, ketimbang dari bantuan orang. Saya mohon maaf Pak Safrudin, tapi beberapa penilaian Bapak terhadap saya itu adalah salah besar. ”
Celine memutar badannya setelah mengatakan semuanya pada Safrudin. Ia benar-benar tidak menyukai situasi seperti ini. Dituduh memanfaatkan Danu, padahal tidak sama sekali. Hal yang mengesalkan lagi, adalah saat Danu membantunya sebanyak itu tanpa meminta izin sama sekali. Mungkin maksud Danu memang baik, tetapi Celine tidak bisa menerimanya begitu saja.
Saat sudah keluar dari ruang kerja, Celine mendapati Danu tengah duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari besi. Cepat, ia melangkah dengan segala kecamuk yang sedang memenuhi dadanya. Mendengar suara tapak kaki, Danu langsung tersadar, lantas menatap sumber suara tersebut. Ia tersenyum, kemudian bergegas bangkit.
“Hai, Cel. Aku sengaja menunggumu,” ucap Danu ramah seperti biasanya.
“Kenapa kamu harus menungguku?” tanya Celine sembari menghentikan langkahnya tepat di hadapan Danu.
Pria itu mengernyitkan dahi. “Ya, biasanya kita jalan—“
“Memangnya kamu siapa? Kenapa harus menungguku?”
“Ce-celine ...?” Danu mendadak dibuat bingung dengan sikap aneh Celine saat ini. “Ada apa memangnya?”
“Kenapa? Kenapa kamu selalu mengambil keputusan sendiri seperti ini? Aku enggak pernah meminta bantuan apa pun sama kamu. Tapi, kenapa kamu selalu menawarkan kebaikanmu buat aku? Dengan latar belakangmu kamu yang ternyata cukup disegani, kamu sudah merasa kalau kamu sudah pantas untuk menjadi seorang pahlawan, begitu?” Celine sudah benar-benar kecewa, lantas mengatakan apa pun yang ada di benak dan hatinya.
“Apa maksud kamu, Cel? Aku sama sekali enggak mengerti.”
Celine menitikkan air mata, saat hatinya merasakan keperihan yang tiada tara. Bagaimana tidak, beberapa hal yang baru ia dengar telah merobek sebagian besar dari harga dirinya. “Kamu justru bikin posisiku semakin rendah, tahu enggak? Aku sama sekali enggak membutuhkan koneksi kamu yang ternyata sangat ditakuti oleh atasan kita. Jika memang harus dipecat, aku pun enggak apa-apa. Kamu enggak perlu membantu, Danu, yang justru bikin orang lain salah paham dan membuatku seolah-olah memanfaatkan kamu. Oh ... jangan-jangan soal izin balik kerja buat aku yang sudah jelas-jelas resign itu juga ulah kamu? Kenapa? Apa aku memang serendah itu di mata kamu dan sangat patut dikasihani?”
“Aku enggak kasihan sama kamu, Cel. Aku melakukan semuanya, termasuk memohon pada Pak Saf untuk tetap mempertahankan kamu, karena apa?” Danu menelan saliva, sementara sepasang matany tampak mengerjap. “Karena ... aku sangat menyukaimu.”
Celine mengusap air matanya, lalu tersenyum kecut. “Suka? Kalau suka kenapa enggak dari dulu kamu mengatakannya padaku? Aku sudah tahu, Danu, Keira membahas ini lebih dari seribu kali. Karena alasan agar aku bisa mencapai cita-citaku, jadi kamu memutuskan untuk terus diam? Alasan macam apa itu? Danu, yang aku nilai saat ini, perasaan kamu untuk aku itu bukan suka, tapi memang kasihan. Dan aku enggak butuh rasa kasihan dari orang lain, kalau memang butuh lebih baik aku mengemis belas kasihan dari Reksa yang merupakan suami aku sendiri, bukan kamu yang hanya sekadar rekan kerja.”
Celine menghela napas, sesaat menatap Danu kemudian bergegas untuk melanjutkan langkah kakinya. Pergi memang lebih tepat daripada terus berdebat, yang akan membuatnya kian tak berharga. Celine memang bodoh, sungguh, ia tidak pernah menampik tentang hal ini, tetapi kasihan? Ia tidak membutuhkan semua itu. Ia masih memiliki harga diri sekaligus kekuatan untuk berdiri sendiri. Ia tidak membutuhkan bantuan apa pun, selama dirinya tidak pernah memintanya. Dan itulah yang membuatnya benar-benar kecewa pada sosok Danurdara, saat pria itu ternyata sering membuat keputusan tanpa seizinnya.
“Cel!” seru Danu. “Aku tahu kamu menikah dengan Reksa karena terpaksa. Kalian dijodohkan, bukan?”
Mendengar fakta yang Danu ucapkan, langkah Celine langsung terhenti. Bagaimana Danu bisa mengetahui akan hal itu? Keira-kah yang menceritakan segalanya? Jika memang begitu, apa alasan Keira sampai tidak bisa menjaga rahasia?
“Itulah yang membuat aku belum bisa menyerah tentang kamu, Cel,” ucap Danu lagi. “Dan aku sudah tahu siapa Reksa. Aku enggak akan membiarkan kamu hidup menderita di pernikahan kamu dengan pria itu, Cel. Lihat saja, Cel, aku pasti bisa menyelamatkanmu.”
“Aku enggak butuh diselamatkan. Aku bukan korban bencana alam!” tukas Celine tanpa menatap Danu.
“Tetap saja, aku ingin tetap melakukan hal itu, Cel.”
Celine menelan saliva dengan getir. Dibuat bingung dengan beberapa hal yang baru ia ketahui. Mulai dari alasan Safrudin begitu membencinya, lalu segala perbuatan Danu, dan fakta hidupnya yang diketahui oleh Danu. Ia ingin marah, tetapi pada siapa lagi? Haruskah pada Keira yang mungkin sudah berani membuka fakta kehidupannya pada Danurdara? Celine yakin Keira memanglah pelakunya, sebab hanya Keira tempatnya bercerita.
***