
Keira tampak sibuk merapikan beberapa tempat makanan yang sudah tak ada isinya. Sementara itu, Kenny diam-diam asyik dalam mengamati wajahnya.
“Aku enggak nyangka kamu mau makan malam bareng aku lagi, Ra,” ucap Kenny setelah menyelesaikan acara makan malam sederhana di taman dekat dengan apartemen Keira sekaligus tempat pertama ia memiliki kesan termanis dengan wanita tersebut.
Keira mengulas senyumnya sampai kedua sudut bibirnya terangkat. Ada kelegaan yang entah bagaimana bisa menyusup ke dalam hatinya saat ini. Seharusnya, ia bersikap biasa saja ketika bersama Kenny. Namun, pendekatan yang Kenny lakukan padanya, sungguh manis sekali.
“Iya, sama-sama, Ken. By the way kamu enggak penasaran soal Danu yang membawakan makanan untukku?” selidik Keira untuk mengetahui apakah Kenny merasa cemburu, atau mungkin agak cemburu.
Kenny menghela napas dan tampak berpikir sejenak. “Iya, awalnya sih. Aku pikir kalian dekat sekali, pacar gitu contohnya. Tapi, Danu kan pernah menyukai Celine, masa iya dia suka sama kamu juga?”
“Mm ….” Keira menurunkan arah pandangnya sembari bergumam demikian. “Bisa saja lho, Ken. Namanya juga cinta kan kadang-kadang buta.”
“Ya sih. Tapi, agak mainstream saja, Ra. Kalau aku jadi kamu, aku enggak bakalan mau jadian sama orang yang pernah suka sama sahabat aku. Nanti waktu aku mau ketemu sahabat aku dengan membawa pacarku, rasanya kayak membantu mereka bertemu lagi, lalu mereka bisa saling jatuh cinta lagi. Kayak ketemu mantan begitu rasanya, terus akunya bakalan enggak kuat hati. Enggak jauh beda sama membunuh diri hahaha.”
“Hahaha, kamu terlalu mendramatisir deh, Ken, bagaimana ya, kok bisa cowok berandalan kayak kamu berpikir sejauh itu, Ken?”
Kenny tersenyum kecut. “Jadi maksud kamu aku enggak wajar begitu?”
“Ih!” Keira menepuk lengan Kenny yang berotot. “Bukan kayak begitu maksud aku, Ken!”
“Hahaha, iya deh, aku juga cuma bercanda doing. Dan soal Danu, aku enggak mau tahu sih soal dia dan kamu.”
Keira langsung terdiam. Katanya Kenny menyukainya, bahkan Kenny mengakui perasaan itu secara jelas di hadapan Celine. Namun, mengapa Kenny justru tidak ingin tahu soal Danu. Memangnya Kenny tidak penasaran, dan kalau ternyata Keira dan Danu memiliki hubungan spesial, apakah Kenny tidak keberatan. Hanya karena lebih muda-kah, sehingga Kenny merasa dirinya harus menyerah soal Keira.
Kalau seperti itu ceritanya, Keira juga menjadi tidak yakin mengenai Kenny. Ia akan mengikuti langkah Celine yang langsung mengabaikan pria lamban, lalu tiba-tiba saja mendapatkan suami yang super hebat dan kaya raya. Ya, kalau seandainya nasib Keira seperti nasib Celine. Kalau tidak, maka lebih baik ia hidup sendiri untuk selamanya. Lagi pula, pria mana yang bisa Keira percaya, di saat ia dihadapkan dua pria yang salah satunya tak menyukainya, sementara yang lain justru tampak menyerah tentang dirinya.
“Aku … pernah menyukai Danu dan aku enggak tahu perasaan itu kayak apa saat ini,” ungkap Keira memutuskan untuk memancing respons Kenny untuk yang terakhir.
Tentu saja hati Kenny menjadi terenyak sakit. Ucapan Keira sudah seperti sebuah belati yang bermata tajam lalu menghunjam bagian inti dalam dadanya. Keira menyukai Danu? Ini mengejutkan dan yang paling mengejutkan lagi adalah saat wanita itu mengaku setelah Kenny mengatakan pendapatnya soal menjalin hubungan dengan orang yang pernah menyukai sahabat sendiri.
Tidak mendapatkan tanggapan apa pun dari Kenny, Keira langsung mengarahkan lirikkan matanya ke arah pria itu. Wajah Kenny tampak kebas, bibirnya terkunci rapat, matanya bergerak tak beraturan, dan yang paling terlihat adalah kondisi rahang yang sering menggertak. Respons tubuh yang diberikan oleh Kenny sukses membuat Keira tertegun sekaligus agak senang.
“Mm, aku suka sama dia waktu dia lagi terluka gara-gara Celine. Aneh ya, Ken?” Keira terus memancing api cemburu di hati Kenny.
“Iya,” jawab Kenny tanpa ekspresi. “Kamu aneh karena menyukai cowok yang pernah sangat menyukai sahabat kamu, Ra.”
“Aku enggak waras, ya?”
“Benar.”
“Hmm … tapi, yang namanya rasa suka itu enggak ada yang salah, Ken. Mau dia pernah suka sama sahabat kita, kalau kitanya tetap suka bagaimana? Mau dia jauuuh lebih tua dari kita, kalau kitanya suka ya bagaimana dong?! Namanya suka ya suka, enggak ada yang salah soal itu, Ken!”
“Mm?”
Kenny tertegun sembari menatap Keira dengan tajam. Agak terkejut sih, ternyata Keira tidak menyalahkan perasaan suka yang didera oleh pasangan beda usia. Dan rasa suka itu sendiri katanya tidak ada salahnya sama sekali. Kalau begitu … haruskah Kenny berkata jujur saja dengan cara mengungkapkan perasaannya pada Keira? Atau ia harus tetap diam, karena ternyata Keira menyukai pria lain?
Sementara itu, Keira justru berharap-harap cemas. Ia yang pernah merasa takut perihal perasaan Kenny terhadapnya bisa menjauhkan dirinya dari Celine, dan terutama orang tua Celine dan Kenny, kini justru merasa tergiur untuk mencoba menerima perasaan suka dari pria yang lebih muda nyaris dua tahun darinya tersebut. Apalagi setelah mendengar dari mulut Celine sendiri saat Celine mendengar curahan hati Kenny, yang mengatakan bahwa tak ada yang salah soal rasa cinta, lantas membuat Keira tidak lagi banyak berpikir kejauhan.
“Mm, terus sekarang kamu masih suka sama Danu? Atau sudah lebih dekat lagi dengan pria itu?” selidik Kenny untuk mencari tahu soal Keira dengan Danu, sebelum membuat keputusan besar untuk hidupnya.
Keira menghela napas, ingin tarik ulur lagi, tetapi takut jika Kenny semakin menyerah terhadapnya. “Aku tadi sudah bilang kalau aku enggak tahu perasaanku padanya. Tapi, yang pasti aku merasa kalau aku enggak mau sama dia lagi. Maksudku untuk menjalin hubungan, belakangan ini aku merasa kalau Danu justru membuatku terbebani. Aku enggak suka waktu dia kasih perhatian, yang seharusnya membuat aku merasa senang, apalagi kan aku menyukainya. Tapi, nyatanya enggak kayak gitu, pokoknya aku merasa kurang nyaman sama dia. Itu saja sih, Ken! Enggak tahu karena aku takut rasa sukaku buat dia semakin besar, atau aku memang sudah benar-benar enggak suka sama dia.”
“Aku tadi lihat lho waktu dia kasih makanan itu buat kamu, kalian tampak sudah sangat dekat,” sahut Kenny.
“Iya, dekat sebagai teman. Enggak lebih dari itu, bahkan aku enggak berminat punya hubungan lebih dari itu. Kayaknya … aku memang sudah menyerah tentangnya, Ken, lagian aku punya pemikiran sama kayak kamu, Ken. Bahwa menyukai seseorang yang pernah menyukai sahabat kita sama halnya seperti bunuh diri.”
Kenny menghela napas lega, lalu tersenyum tipis. Setidaknya ia masih memiliki kesempatan. Bodo amat soal niat ingin melupakan Keira yang pernah singgah pada dirinya. Jika Keira tidak masalah soal perbedaan usia, berarti Kenny boleh mencoba mengutarakan perasaannya, bukan?
***