Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 75-Fakta Baru Dari Kenny


Celine melihat Kenny sudah berada di dalam ruangan kafe, sementara dirinya masih berdiri di ambang pintu dari tempat itu. Lantas, Celine menghela napas, detik berikutnya ia berjalan untuk masuk sekaligus menghampiri adik kesayangannya.


Satu hal yang membuat Celine semakin khawatir, hingga sepasang kakinya sempat berhenti adalah wajah murung dan lamunan Kenny. Sepertinya, memang ada masalah, selain persoalan oleh-oleh yang hendak dibawa pulang di keesokan harinya. Padahal, pagi ini sangat cerah, tetapi wajah Kenny benar-benar mendung, seolah pria itu memiliki hutang berjibun.


“Hei, Ken!” sapa Celine sembari melesakkan di antara kursi dan meja, lantas ia duduk tepat di hadapan adiknya tersebut. “Kenapa? Ada masalah? Apa uang kamu sudah habis?”


Kenny menghela napas, lalu tersenyum kecut. “Bukan. Lagi pula, uangku masih banyak kok. Bahkan, uang saku darimu masih utuh,” jawabnya setelah itu.


”Ciiih, kenapa enggak dipakai coba? Takut kalau uang itu dari Reksa? Lagian, dari mana sih kamu punya uang? Dari Ayah dan Ibu? Kok aku enggak dikasih sama mereka? Parah banget!”


“Gila! Mana ada anak sudah punya suami, masih minta duit sama orang tua, Cel? Lagian, bukan Ayah atau Ibu kok yang kasih. Cuma kamu dan hasil kerjaku.”


”Apa? Hasil kerja?" sahut Celine agak terkejut. “Kamu kerja di mana memangnya? Baru saja lulus dan ada di sini.”


“Ah.” Kenny mengusap tengkuk, merasa salah tingkah saat menyadari bahwa dirinya sudah keceplosan. Ia pun menelan saliva, ketika tidak mendapatkan ide untuk berkilah. “A-aku kerja paruh waktu ... mm, sudah dua tahun ini. I-itu sebabnya, aku sering pulang malam.”


“Astaga! Bocah ini!” Celine bangkit, lalu menepuk pundak Kenny sampai beberapa kali. “Siapa yang suruh kamu kerja sih, Ken! Kalau Ayah dan Ibu sampai tahu bahwa kamu kuliah sambil kerja, dijamin mereka merasa bersalah. Duh! Uuuh!”


”Stop, Cel! Sakit tahu!” Kenny mendorong kursi yang ia duduki sekaligus membawa dirinya menjauh dari serangan sang kakak. “Makanya jangan bilang, please ... lagian kan aku juga mau punya duit, Cel! Enggak cuma karena takut bikin kalian susah, makanya ambil pekerjaan yang bisa menyesuaikan jam kuliah. Begitu! Tapi, stop deh bahas soal. Ada yang pengin aku omongin sama kamu dan ini sangat serius, bahkan sepertinya kamu akan jauh lebih histeris. Mm, ke pantai yuk? Demi menghindari teriakan mautmu memekikkan telinga pengunjung lain.”


Celine melemahkan otot-ototnya yang sempat menegang. Ia duduk lagi sembari bersandar dengan santai, alih-alih segera menyetujui permintaan Kenny. Sesaat ia menatap Kenny dengan tatapan yang menunjukkan rasa iba. Sepertinya, Kenny juga kesulitan selama ini. Kalau dipikir-pikir adiknya itu jarang mengeluhkan banyak hal ketika sedang di rumah, seolah Kenny tak memiliki beban hidup sedikit pun, selain masalah kuliah.


Perlahan Celine menyadari bahwa dirinya tidak terlalu mengenal Kenny. Keberandalan Kenny di masa remaja, sudah menjadi cerita umum. Pun pada kecerdasan Kenny sejak menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sudah tidak diragukan lagi. Karena sejak bertobat Kenny berjanji akan belajar dengan lebih serius dan giat. Kenny juga sering mengajak bertengkar, dengan masalah yang sangat sepele, mungkin lebih tepatnya melakukan hal iseng untuk meledek. Namun, ... kapan Kenny menunjukkan kesedihan, tidak, tetapi perasaan sebenarnya dengan segala masalah dalam hidup, terutama ia sempat libur kuliah dalam waktu lumayan lama, karena terkendala biasa?


“Mau ke pantai?” tanya Celine lagi sesaat setelah memikirkan akan hal itu.


Kenny mengangguk. “Ya,” jawabnya singkat.


“Cuuus!”


“Iyalah! Nih sudah berdiri. Di sana, katakan semua keluhan yang kamu simpan sendiri, Ken. Aku memang kakak yang bodoh, tapi aku adalah pendengar yang baik.” Celine tersenyum manis. “Aku khawatir, kamu tampak muram dan berbeda pagi ini. Ada sesuatu yang sangat mengganjal, bukan?”


Kenny memilih tidak menjawab, melainkan langsung bangkit dari duduknya. Ia menghampiri Celine, lalu meletakkan lengannya di atas pundak Celine, dari arah belakang. Celine hanya mendesis setelah diperlakukan se-demikian rupa, sebab baru kali ini dirinya sampai seakran ini dengan Kenny, biasanya sudah seperti tikus dan kucing yang sangat gaduh ketika sedang bertengkar.


Sepasang kakak dan adik tersebut lantas melangkah, kemudian keluar dari ruangan kafe. Tujuan mereka adalah pantai yang terletak tak jauh dari tempat itu. Suasana memang masih pagi, tetapi tetap terasa terik, sehingga Kenny memutuskan untuk membeli minuman dingin di sekitar pantai, sesampainya di sana.


Di atas hamparan pasir putih, Celine dan Kenny duduk bersama. Sesaat masih tidak ada kata-kata, karena pandangan mata mereka langsung terarah ke laut lepas yang begitu memanjakan mata.


“Kamu kerja paruh waktu di mana, Ken?” tanya Celine saat kembali teringat akan fakta baru yang adiknya sembunyikan selama dua tahun.


Kenny menghela napas, lalu menurunkan arah pandang. “Di warnet, Cel. Biasanya ramai sampai malam, 'kan? Makanya aku langsung melamar saat tahu ada lowongan sebagai penjaga. Memang gajinya enggak seberapa sih, setengahnya dari UMR Jakarta, tapi lumayan buat tabunganku selama kuliah.”


“Mm, jadi itu sebabnya kamu sering keluyuran malam ya? Kupikir cuma nongkrong, tapi ada pekerjaan toh. Mm, apa kamu enggak capek? Begadang setiap malam, lalu paginya harus kuliah? Padahal kan aku sama Ayah serta Ibu sudah bekerja keras buat sekolahin kamu, agar kamu tetap fokus sama belajarmu.”


“Entah. Kalau hanya diam, belajar, selebihnya main, aku cuma makin merasa bersalah sama kalian. Seenggaknya dari gaji itu, buat beli hal-hal kecil, aku enggak perlu minta uang. Dan ... jujur saja, uang yang kamu kasih ke aku, setiap kali bercerita, sudah aku masukkan ke dalam tabungan. Suatu saat, ketika kamu hendak keliling dunia, baru aku kasih lagi. Konyol ya? Tapi, begitulah. Aku masih ingat kalau kamu enggak mau menggapai mimpi, pakai uang orang lain.”


“Astaga ... uh! Sejak kapan sih preman kayak kamu jadi sedewasa ini?!” Gemas Celine mencubit kedua pipi Kenny, yang sebenarnya cukup tirus.


Tindakan usil Celine tersebut membuat Kenny kesakitan. Pasalnya, Celine tidak sedang pura-pura mencubit, melainkan sudah memakai urat untuk melakukan hal itu. Apalagi untuk ukuran wanita kurus agak tinggi, tenaga Celine bukan main besarnya. Mungkin karena memiliki ilmu bela diri sejak lama, sehingga tenaga Celine sangat kuat.


Wanita itu, memang sudah pas untuk dibawa ke pantai, yang meskipun ramai orang, Kenny yakin segala sikap konyol Celine tidak menimbulkan decak heran sekaligus bikin malu. Seandainya masih bertahan di kafe untuk berbincang, Kenny yakin kakaknya tersebut sudah diusir oleh petugas keamanan.


“By the way,” kata Celine sesaat setelah memuaskan rasa gemasnya terhadap Kenny. “Mengenai masalah serius yang kata kamu bisa bikin aku histeris itu memangnya soal apa?”


Kenny menelan saliva. Gugup. “Anu, i-itu ....”


***