
Reksa sudah menyangka bahwa pekerjaan kali ini akan berjalan dengan lancar. Tidak ada penggemar yang mendekat, mungkin karena kebanyakan pengunjung adalah turis dan tidak terlalu ramai. Selain itu, Reksa memang tidak pernah salah dalam memilih orang untuk menjadi karyawannya. Sementara, Ailen Deolinda Davira—selebgram itu—juga memiliki bakat sebagai model yang tak perlu diragukan lagi. Bakat itulah yang membuat Reksa tak segan untuk mengajak Ailen melakukan kerja sama.
Namun, pada kenyataannya keberadaan Reksa justru menjadi momok tersendiri bagi semua tim yang sedang bekerja. Bahkan, meski Reksa sudah menilai proses syuting sudah sangat baik, tetap saja mulut Reksa tak pernah berhenti untuk mengeluarkan komentar dengan kata-kata pedas. Jujur saja, pekerjaan yang seharusnya bisa dinikmati malah harus menjadi beban tersendiri bagi para anggota tim tersebut.
Perasaan lain justru Ailen rasakan saat ini. Alih-alih terbebani oleh keberadaan Reksa, ia malah merasa sangat senang. Ia berusaha untuk menampilkan peforma terbaik, demi dapat memancing perhatian Reksa Wirya Pandega. Tak malu, ia tonjolkan bagian tubuh yang menurutnya mampu menarik perhatian kaum adam. Seperti saat sore kemarin, ketika dirinya mendatangi kamar Reksa dengan balutan dress super sexy, sekarang pun ia memiliki kostum lumayan terbuka.
Jika di sore kemarin, Ailen gagal dalam upayanya untuk masuk ke dalam kamar Reksa lalu hendak menggoda pria itu, maka hari ini ia harus berhasil. Selama Reksa ada di Bali bersamanya, maka ia masih memiliki banyak kesempatan untuk mencuri perhatian bahkan mungkin satu malam bersama pria itu. Kalau ada sedikit skandal antara dirinya dan Reksa, dijamin rumah tangga Reksa dan Celine akan berantakan. Di saat itulah, Ailen bisa masuk sebagai orang yang membutuhkan pertanggungjawaban CEO Golden Rose tersebut.
Rencana Ailen nyatanya bukanlah isapan jempol semata. Saat salah satu anggota tim berkata bahwa pekerjaan sudah selesai dengan cepat, Ailen bergegas untuk berjalan ke arah Reksa. Pria itu pun sudah berdiri dari duduknya, hendak berlalu sepertinya. Namun, sebelum Reksa benar-benar pergi, Ailen harus melakukan suatu tindakan.
“Aaaaakh!” pekik Ailen sembari menyandungkan kakinya sendiri tepat di hadapan Reksa yang hendak memberikan briefing terakhir, sementara tubuhnya langsung limbung ke depan dan jatuh ke pelukan pria itu.
“Nona enggak apa-apa?” Manager Ailen pun ambil sikap untuk membantu Ailen sebelum Reksa murka, tanpa peduli kekesalan Ailen terhadapnya.
“Enggak! Nggak apa-apa,” sahut Ailen dengan masih memegang lengan kekar milik Reksa yang begitu kuat dan membuat jantungnya lantas berdegup kencang.
Lengan ini harus menjadi milikku, pikir Ailen. Kemudian, ia berangsur menatap wajah Reksa yang masih saja diam. Tindakannya tersebut lantas disambut dengan ketajaman mata oleh Reksa, di mana rahang pria itu pun tampak mengeras. Glup! Ailen menelan saliva. Reksa tampak murka. Ailen harus cepat-cepat mencari alasan.
“Ma-maafkan saya, Tuan Reksa. Saya tidak sengaja sama sekali,” ucap Ailen berdalih menggunakan pengakuan yang berbeda dengan kejadian sebenarnya.
“Lain kali jalan pakai mata bukan pakai dengkul!” sahut Reksa, geram.
Anggota tim yang lain pun hanya bisa diam. Mereka mencari aman. Sejak Ailen jatuh, mereka menduga Reksa akan menunjukkan respons yang tidak manusiawi. Dan benar saja! Mata dan wajah Reksa benar-benar mengerikan.
Ailen kembali berkata, “Maafkan saya, Tuan Reksa. Sebagai gantinya, saya akan mencarikan makanan ter—”
“Simpan makananmu, daripada jadi sampah!” sahut Reksa cepat.
“Apa? Sampah?” Salah satu alis Ailen terangkat. Jangan-jangan kue yang ia kirim kemarin sore juga sudah ...?
Reksa pun segera mundur, lalu menemui semua karyawannya, tanpa peduli kegusaran hati Ailen saat ini. Ia memang tidak menyukai Ailen dan merasa risih, di luar pekerjaan yang memang harus ia lakukan bersama wanita itu. Kali ini pun, Reksa datang dengan pakaian biasa saja, untuk memanipulasi identitas dirinya sebenarnya. Ia hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian orang lain, tetapi Ailen justru terus saja membuatnya terganggu.
Akhirnya Reksa memutuskan untuk segera memberikan briefing sebelum pergi untuk melakukan agenda selanjutnya. Namun, suara anak-anak muda berlarian menuju lokasi syuting membuatnya agak terganggu. Ia lantas menatap ketiga orang itu, yang dua di antaranya adalah wanita dengan penampilan sama-sama nyentrik.
“Cih ... anak-anak muda enggak berfaedah,” gumam Reksa pada saat itu dan ia berbalik badan lagi, karena menganggap bahwa mereka akan lekas pergi ketika salah satu krunya mengatakan jika tempat itu sudah dijadikan sebagai lokasi syuting.
Namun ....
“Dasar wanita ular!” Salah satu dari ketiga anak muda tersebut, tiba-tiba datang dan menarik rambut panjang Ailen.
“Aaaaakh!” pekik Ailen kesakitan sembari merintih minta dilepaskan. “Lepaskan aku! Aduh sakit!”
“Murahan banget sih lo! Rasakan nih, rasakan! Dasar ular, ular, ular, ulaaar!”
Para anggota tim pun segera bertindak untuk memisahkan mereka, tetapi seorang pria muda berkacamata hitam tiba-tiba menghadang, melainkan Kenny yang masih berusaha menyembunyikan identitas Celine.
“Maafkan kami, maafkan kami. Mbak ini lagi kambuh, Tuan-tuan. Maafkan kami, maafkan kami,” ucap Kenny sembari merundukkan badannya.
“Kamu yang lepasin dia dong! Dasar Ular! Gatel!” Celine semakin berapi-api.
”Aaaaakh!”
“Lepas!” tambah manager Ailen, sampai akhirnya Ailen benar-benar terselamatkan.
“Siapa sih?! Enggak sopan banget! Aaaakh!” pekik Ailen geram dengan napas terengah-engah.
“Lo ular!” sahut Celine lagi tak mau kalah, meski pergerakannya sudah sulit karena Keira.
Ya, Keira yang terus berusaha menutupi wajahnya dengan salah satu tangannya, sementara tangan yang lain sibuk menarik wajah Celine. Mengapa wajah Celine yang ditarik, alih-alih lengan atau bahunya? Sebab, Keira tidak ingin topi dan kacamata Celine terlepas dan hanya dengan cengkeraman tangannya-lah rencana itu bisa terjadi.
“Rodiyaaaa! Ayo minum obat dulu!” seru Keira menggunakan suara palsu.
“Ro-rodiya?” Celine yang masih terengah-engah lantas menatap Keira. Namun, sebelum ucapannya dijawab, Keira sudah berhasil menariknya pergi.
Untuk beberapa kalinya, Kenny merundukkan badan. Ia meminta maaf lagi dan lagi. Berbeda dengan Keira, ia tidak bermaksud menyembunyikan identitas. Lagi pula, tidak ada yang mengenalinya. Kacamata hitam pun sudah cukup untuk menutupi wajahnya.
“Saya benar-benar minta maaf, Tuan-tuan, Pak, Bu, dan Nona.” Kenny berangsur menatap Reksa, hanya sebentar. Setelah akhirnya, ia memutuskan untuk memeriksa kondisi Ailen. Waaah! Katanya dalam hati. Celine memang kasar! Lagi pula, kakaknya itu memiliki ilmu bela diri. Bahkan, meski hanya menggunakan ilmu asal yaitu menjambak rambut, tetap saja Celine meninggalkan bekas yang cukup bikin tercengang.
Bagaimana tidak, penampilan Ailen saat ini benar-benar berantakan. Rambutnya sudah seperti rambut orang gila yang tidak keramas selama bertahun-tahun.
“Kalau sudah tahu dia gila, seharusnya kamu enggak bawa dia liburan dong, Mas!” seru Ailen ketus. “Kalian harus bertanggung jawab! Aku akan menuntut kalian.”
“Mampus,” gumam Kenny. “Saya akan membayar berapa pun untuk Anda, Nona,” katanya agak keras.
“Halah! Memangnya kamu siapa? Pengusaha? Artis? Pejabat? Presiden, begitu? Mana mungkin kamu bisa ganti rugi sesuai budget yang aku inginkan! Enggak, 'kan?! Dasar gembel!”
“Aku yang akan membayarnya. Aku yang memiliki proyek ini dan aku yang harus bertanggung jawab. Jadi, tutup mulutmu, Ailen!” sahut Reksa. Kemudian, ia menatap Kenny yang sudah mengalihkan perhatiannya sejak tadi. Ia cukup mengenal pria itu. Tentu saja pria itu adalah Kenny. Tidak mungkin ada orang lain semirip itu, sampai lesung pipi dan gigi gingsulnya pun sama. Meskipun, masih belum menemukan alasan di balik keberadaan Kenny di pantai tersebut, terutama di Bali, Reksa harus tetap menjaga keadaan.
“Kamu boleh kembali. Saya yang akan bertanggung jawab soal ini,” lanjut Reksa pada pria super manis tersebut.
Kenny mengangguk. ”Baik, Tuan. Saya akan mencoba bertemu dengan Anda siang atau mungkin sore nanti, untuk membahas soal ganti rugi.”
Giliran Reksa yang mengangguk, dan ia berangsur memberikan kartu namanya. Tentu saja hanya untuk memanipulasi keadaan. Tanpa kartu itu pun, Reksa bisa menghubungi Kenny.
Karena keputusan Reksa yang secara suka rela akan bertanggung jawab, Ailen menjadi tidak bisa berbuat apa-apa. Perih di kepalanya tidak mendapatkan ganti rugi yang setimpal. Ia bisa memperoleh uang, tetapi si Wanita Gila itu tetap bebas berkeliaran. Rasanya tak adil! Namun, mau bagaimana lagi. Kalau sudah didiagnosa sebagai pasien gangguan jiwa, pihak berwajib pun tidak bisa berbuat apa-apa.
”Tuan.” Ali pun mendekati Reksa. “Anda harus segera kembali, Nyonya Ibra sudah di perjalanan.”
Ucapan Ali disambut anggukan pelan oleh Reksa yang sudah membatalkan briefing, sementara para kru pun memutuskan bubar untuk beristirahat, lagi pula masih ada beberapa pemotretan lagi. Tanpa terkecuali Ailen serta managernya yang sudah berantakan tersebut yang juga ikut pergi.
***