Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 19-Dia Bilang 'Suami Kamu'


Red Square menjadi pilihan tempat terakhir yang Reksa dan Celine kunjungi. Di seberang pintu masuk stasiun Metro Teatralnaya berdiri deretan tenda warna-warni. Tempat tersebut menjual berbagai macam souvenir khas Rusia. Yang mana, agenda Reksa dan Celine memang benar, hendak mencari buah tangan untuk mereka bawa pulang ke tanah air.


Mungkin destinasi tersebut bukan tempat terbaik untuk merealisasikan rencana Reksa dan Celine. Namun, karena waktu yang sangat sempit, membuat pasangan suami-istri itu tak punya pilihan lain. Besok, mereka akan kembali ke tanah air dan hari ini mereka sepakat berjalan-jalan untuk terakhir kalinya di kota Moskow.


Namun, suasana aneh justru melingkupi kebersamaan mereka. Jika tidak karena hubungan manis tadi malam, mungkin pertengkaran yang biasanya terjadi tetap akan terulang. Atau mungkin memang belum, sebab sejak keluar dari hotel untuk menuju Red Square, entah Celine atau Reksa, keduanya sama-sama diam. Ada rasa canggung yang sulit mereka redam, setiap kali mengingat kemesraan yang mereka lewati tadi malam.


Belum lagi, soal Reksa yang terus-terusan kepikiran tentang sosok Danurdara. Meskipun sangat angkuh dan menyebalkan, ia tetaplah seorang anak mama. Ia bisa ngambek dalam waktu yang lama, bahkan ia sanggup tak berbicara pada Celine selama seminggu atau lebih jika memang perlu.


“Kita beli pigura yuk, buat pasang foto pernikahan yang sama kedua orang tua kita kemarin,” ucap Celine sesaat setelah menghentikan langkahnya. Matanya terarah menatap penjual pigura antik di pinggir jalan. Karena benda tersebut, ia lantas lupa pada kecanggungan yang sudah membuatnya tersiksa sejak tadi.


“Buat apa? Di Indonesia juga banyak!” sahut Reksa ketus. “Lagi pula, barang seperti itu cuma bikin repot. Kita enggak bawa asisten sama sekali, Cel.”


Celine menghela napas. “Hmm ... benar juga, ya. Terus Ayah sama Ibu pantasnya dibelikan apa?”


“Matryoshka untuk pajangan, selendang pavloposadskie, atau mungkin imperial porcelain juga bagus. Intinya barang-barang yang enggak ada di Indonesia. Jangan malah sesuatu yang marak ada di sana! Soal makanan kamu bisa beli cokelat atau zefir.” Meskipun tatapan matanya masih sangat sengit, Reksa tetap tidak merasa keberatan untuk memberikan penjelasan.


“Zefir itu apa?”


“Aduh, Cel! Katanya suka perjalanan, masa enggak tahu sih? Zefir itu makanan khas negara ini yang bisa kita bawa pulang buat oleh-oleh. Rasanya manis, warnanya merah muda dan putih. Selain itu, zefir juga dibuat dari gelatin, gula, apel, dan putih telur kalau enggak salah.”


Celine tersenyum. “Kamu paham banget, Sa? Sudah sering jalan-jalan ke sini yah? Mm, iya sih aku memang menyukai perjalanan. Tapi, selama ini aku hanya membuat list dan hanya meneliti tempat-tempat wisata serta perhotelan saja. Enggak sampai se-detail itu risetnya. Lagi pula, wisata di luar negeri yang baru aku kunjungi baru negara Jepang. Yang lain masih dalam bayangan. Lebih banyaknya memang di Indonesia. Ke Bali, Pulau Seribu, Gunung Rinjani, Karimun Jawa, dan lain-lain. Ah! Ngomong soal Karimun Jawa, aku jadi ingin ke sana lagi deh, terus kita kemah di pinggir pantai. Ah, di Bali juga bagus, cari hotel yang view-nya langsung ke pantai.”


“Kalau membahas soal perjalanan, kamu lebih bawel 50 kali lipat ya, Cel?”


“Tentu saja, itu kan hobiku, Sa. Perjalanan ke mana pun asal bagus, pastinya aku akan senang. Meski belum kesampaian buat keliling dunia, yang penting beberapa destinasi di Indonesia sudah pernah aku jelajahi.”


“Kamu melakukannya sejak masih sekolah?”


“Tentu saja enggak! Mana punya uang aku, Sa?! Aku mulai setelah bekerja,kalau sekolah mungkin hanya study tour atau outbond saja. Oh, sama pecinta alam yang perginya enggak terlalu jauh. Lagian, aku pergi kalau punya uang, nah aku ambil cuti tahunan buat jalan-jalan sama Keira. Dulu sempat tuh, Sa, aku mau ke Bali kalau enggak salah, terus ada tetangga sakit keras. Aku kasih uang tabunganku buat mereka. Eh namanya rejeki ya, Sa, Keira enggak keberatan memijamkan uangnya buat aku, lalu kami tetap berangkat meski agak terlambat tiga bulan dari waktu yang sudah kami rencanakan. Dia memang best banget jadi sahabat aku.”


“Kasih uang ke tetangga?” selidik Reksa seolah tidak percaya.


Celine mengangguk. Ia sama sekali tidak berniat pamer, ia hanya terlalu jujur. Namun, hanya pada Reksa, Celine mengatakan soal hal itu, bahkan kedua orang tuanya saja tidak tahu, sebab jika Deswita sampai tahu, ia akan mendapatkan omelan super panjang. Fatalnya, jika Deswita memintanya untuk menagih uang tersebut dari sang tetangga. Jadi, Celine dan Keira sekaligus tetangga tersebut sepakat untuk merahasiakan kebaikan Celine dari Rodian dan Deswita, juga termasuk Kenny.


Setelah mendengar pengakuan Celine dengan wajah polosnya tersebut, diam-diam Reksa merasa takjub. Celine memberinya sebuah kejutan lagi. Kalau memberikan uang tabungan pada keluarga mungkin wajar, tetapi Celine memberinya pada tetangga yang bisa saja hanya orang lain bagi istrinya tersebut. Semakin lama mengenal Celine, rasanya wanita itu memanglah wanita baik-baik yang memiliki sampul keras dan bodoh, wanita unik dengan segala warna cerah di dalam hidupnya.


Reksa tersenyum. “Ayo kita beli semua barang-barang khas negara ini,” katanya sembari menarik lengan sang istri.


“Eh?” Celine tetap mengikuti langkah Reksa, tetapi dahinya tetap mengernyit heran. “Jangan semua, uangku terbatas, Reksa!”


“Suami kamu ini adalah seorang CEO dan sudah sah menjadi penerus perusahaan kosmetik terbesar. Masih berkata bahwa uangmu terbatas? Aku bisa membelikan semuanya untukmu, bahkan membiayai perjalanan impianmu, bagiku hanya semudah membalikkan telapak tangan, Cel!”


“Haah? Aku enggak salah dengar, ‘kan, dia bilang kata ‘suami kamu ini’?” lirih Celine yang semakin tercengang.


Celine menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha untuk menepis perasaan herannya terlebih dahulu. Ia mengikuti arah langkah kaki Reksa dan menghampiri beberapa penjual souvenir. Sekilas, keduanya tampak seperti pasangan suami-istri yang sangat bahagia. Terlebih, kali ini banyak tawa di antara mereka. Semua kerisauan Reksa mengenai sosok Danurdara pun sesaat sudah terlupa, kecanggungan karena kemesraan tadi malam juga sudah tiada.


***


Sore hari waktu setempat, Reksa dan Celine sudah berhasil kembali ke hotel dengan selamat menggunakan jasa taksi yang telah diatur oleh biro perjalanan bulan madu mereka. Kini, sepasang suami-istri yang selalu bertentangan itu sudah sampai di hadapan kamar Celine.


“Mandi terus istirahat, jangan bergadang lagi. Besok ada penerbangan pagi,” ucap Reksa.


“Cih, tuan muda? Aneh sekali jika yang mengatakan sebutan itu adalah kamu, Cel. Biasanya juga, sa, sa, sa! Aku sebagai seorang pesohor, kayak enggak harganya di mata kamu. Tahukah kamu? Semua orang akan langsung tunduk jika bertemu denganku, Cel!”


“Mau pesohor kek, mau aktor, idola, atau CEO papan atas di dunia, kalian tetap manusia. Yang punya, mata, hidung, dan kaki dengan jumlah sama kayak manusia biasa lainnya. Bedanya kalau hidung kamu terlalu besar lubangnya! Hahaha!”


“Mulai deh!” Reksa menghela napas, kesal. “Kamu sendiri enggak cantik. Badan kurus, perutnya buncit lagi. Cewek tengil yang kalau makan kayak gajah kelaparan!”


“Eh, eh! Kamu enggak tahu, ya, kalau makan adalah hobi terbaik kedua setelah perjalanan? Lagian, soal perutu yang buncit bagaimana kamu bisa tahu sih?! Ah ....” Celine mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu menelan saliva. “Benar juga, kamu pasti sudah tahu lebih dari perutku.”


Tidak hanya Celine yang mendadak malu sendiri, tetapi juga Reksa. Wajah mereka kompak memerah. Ah, seharusnya Celine tidak perlu bertanya seperti itu. Dan Reksa seharusnya tidak perlu membahas soal perut Celine yang buncit. Namun, manusia memanglah tempatnya salah dan lupa.


Reksa mengusap tengkuk dan gerakan tubuhnya tampak serba salah. Sementara, Celine terdiam dalam tundukannya, sembari menyembunyikan wajah merah jambunya. Gemas sekali, keduanya bagaikan pasangan yang berada di drama Korea.


“Ah, mm, Cel?” ucap Reksa.


Dalam waktu bersamaan, Celine berkata, “A-anu ... Reksa?”


“Kamu duluan saja, Cel.”


“Enggak, kamu saja deh!” tandas Celine sembari salah tingkah sendiri.


“Mm.” Detik berikutnya, Reksa menyerahkan sebuah bingkisan besar tepat di hadapan istrinya itu. “Ini untukmu.”


“U-untukku? Bukankah ini barang yang kamu pesan dari Pak Sopir?”


Reksa mengangguk. “Benar. Ini kosmetik pure love. Kosmetik alami, tapi organik asli milik Rusia. Pemesanannya membutuhkan waktu, tapi di beberapa tempat kadang masih menjualnya. Aku sengaja meminta bantuan driver kita buat menemukan barang ini. Aku sendiri kan memimpin perusahaan kosmetik, jadi aku cukup tahu betapa populernya barang ini. Dan, sejak pernikahan kita digelar, aku belum memberikan hadiah apa pun untukmu.”


“Ke-kenapa tiba-tiba? Mm, aku enggak membeli apa pun untukmu sama sekali lho.”


“Tak masalah, lagi pula kamu enggak punya uang, ‘kan? Dan lagi, aku ini jauh lebih kaya.”


“Astaga ... kupikir sudah sembuh, ternyata masih saja. Narsis dan angkuh!” keluh Celine.


Reksa tersenyum. “Ya sudah, terimalah. Simpan dengan baik, kalau sudah dibuka pastikan selalu tersimpan di dalam lemari pendingin. Oh ya, kamu tadi mau bilang apa?”


“Ah ... terima kasih. Mm, soal tadi, enggak kok, enggak penting.”


“Katakan saja, Cel, meskipun enggak penting sama sekali. Aku benci dibuat penasaran. Aku sudah pusing sama satu orang yang bikin aku sangat penasaran.”


Celine menghela napas. “Mm ... anu, mm, a-anu. Malam ini kan malam terakhir, mm, bisakah kamu mengundangku ke kamar mewahmu? Ah ... se-sebenarnya aku cuma ingin mengambil beberapa foto di sana. Ka-kalau sudah puas, aku bakal balik kok. Maklumlah, aku kan memang miskin dan kampungan. Aku ingin menunjukkan ruangan elite itu pada keluargaku dan Keira. Ta-tapi, kalau kamu keberatan enggak masalah kok, aku akan membatalkan—“


“Ayo,” sahut Reksa. “Kita naik ke atas bersama, Cel.”


Mata Celine berhenti berkedip. Apa ini? Batinnya. Ia pikir Reksa akan menolak dengan keras, atau bahkan menghinanya seperti sebelumnya. Meski sudah melewati malam indah sebanyak dua kali, tetap saja perubahan sikap Reksa masih terasa aneh. Selain tiba-tiba memberikan hadiah, Reksa juga tak keberatan menyetujui permintaan Celine yang sejak awal Reksa benci. Atau mungkinkah, rencana Celine untuk membuat Reksa jatuh cinta mulai membuahkan hasil?


Bagaimana mungkin? Aku bahkan enggak pernah berusaha maksimal. Bahkan, daripada bersikap manis untuk menarik perhatiannya, aku masih bertindak asal-asalan. Ahaha, tentu saja nggak mungkin Reksa langsung jatuh cinta padaku, pikir Celine.


***