
“Kenny!” seru Keira saat mendapati seorang pria yang cukup ia kenali.
Kenny yang hendak melesat dengan motor gede bersama Yogi secara otomatis membatalkan rencananya tersebut. Lantas, ia menatap Keira yang sudah menghampirinya bersama seorang pria. Oh, Kenny tahu, pria itu ternyata adalah rekan kerja Celine. Kalau tidak salah namanya Danu, sosok yang kerap terlihat bersama Celine ketika pulang kerja dan ketika Kenny menjemput Celine pada saat itu.
“Hai, ... Keira,” sapa Kenny sembari tersenyum masygul. Kedatangan Keira tidak mampu membuat kerisauan hatinya lantas pergi, justru sebuah perih yang mendadak menghunjam dadanya pada saat ini. “Kamu di sini?”
Keira tersenyum. “Iya, Kenny. Bareng Danu, lagi ngopi saja. Sudah lama ya? Kok sudah mau balik?”
“Mm ... lumayan, lagi nugas bareng Yogi. Nih orangnya.”
Yogi tersenyum, lalu mengangguk sungkan. “Yogi, Kak.”
”Ah, Keira dan ini Danu, mm, Yogi.”
“Halo, Kak,” sapa Yogi sembari menatap Danu.
Dengan senyuman super manis, Danu memberikan balasan atas sapaan dari Yogi, sementara kepalanya tampak mengangguk sopan. Ah, pria itu sangat tampan rupanya. Sejak dulu sepertinya memang sudah seramah itu. Kenny ingat saat ia tengah menjemput Celine dan bertemu Danu. Tindak tanduk Danu wajib diacungi jempol. Tidak heran jika Keira akhirnya menjatuhkan hatinya pada pria semacam Danu. Meski Kenny tetap harus mengakui kekalahannya, bahkan sebelum genderang peperangan berbunyi.
“By the way, bagaimana kabar Celine, Ken?” tanya Keira ragu-ragu. Terbukti saat suaranya terdengar lirih sekali.
“Ce-celine?” tanya Kenny sembari mengernyitkan dahi. Jujur saja, ia tidak terlalu mendengar apa yang Keira ucapkan barusan, selain nama kakaknya saja.
Keira mengangguk. “I-iya, kabarnya bagaimana?” Kali ini, Keira berupaya memberanikan dirinya.
“Umm ... apa dia masih terlihat murung?” tambah Danu yang sungguh ingin tahu.
Kenny tak langsung menjawab, melainkan tengah mengamati kedua orang di hadapannya itu. Ada yang aneh, begitu pikirnya. Sepertinya, masalah Celine memang tidak hanya berkaitan dengan Keira dan sang bos, tetapi mungkin juga Danu. Lihat saja, ekspresi Danu benar-benar sendu, menunjukkan sebuah perasaan sesal yang mungkin sudah ada sejak beberapa hari bersamaan dengan tangisan Celine pecah untuk pertama kalinya sejak beberapa tahun.
“Dia baik-baik saja. Memangnya kakakku pernah menderita? Bahkan, meski hidup kami serba kekurangan, rasanya setiap hari dia tetap ceria,” ucap Kenny dengan sengaja, ingin memancing respons selanjutnya dari Danu dan Keira.
Sesuai dugaan Kenny, jika Danu memang terlibat, pria itu akan merespons dengan ekspresi lebih menyedihkan. Namun, dengan tipikal seramah itu, masa iya Danu ikut-ikutan merendahkan harga diri kakaknya? Sungguh rasanya tidak mungkin. Lalu, Keira, entah apa yang membuat Celine begitu kecewa pada Keira yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabat terbaiknya.
“Ya sudah, Ken. Terima kasih ya,” ucap Keira lalu tersenyum masygul.
Kenny menghela napas. ”Katakan padaku, Ra, ada apa sebenarnya dengan Celine? Sampai kamu dan dia tiba-tiba berjauhan seperti ini? Dan lagi, dia juga mendadak keluar kerja, menangis hebat, sampai merendahkan dirinya sendiri. Bahkan, belakangan ini, dia sering minta aku untuk mencarikan pekerjaan apa pun, paruh waktu pun tak apa.”
“Ken, pulang saja yuk! Sudah malam, Oey!” sela Yogi yang sudah memiliki agenda malam sendiri.
“Lo duluan saja, Gi! Nanti gue naik ojek,” jawab Kenny sembari menoleh ke arah temannya tersebut.
“Duluan saja, Gi! Jangan bikin gue ngomong tiga kali nih! Enggak apa-apa, gue masih ada ongkos lagi!”
“Ya sudah. Gue cabut, ya! Ada acara lain.”
“Sip!”
Sementara Yogi yang sudah melaju motor gedenya, Keira dan Danu mulai gelisah. Terlebih Keira yang sedikit tahu tentang sifat adik dari sahabatnya itu. Sebaik apa pun Kenny, Kenny tetaplah mantan berandal SMA yang gemar tawuran dan baku hantam. Kenny juga tidak akan tinggal diam pada seseorang yang tega menyakiti keluarganya, termasuk Celine tentunya.
Namun, di sisi lain, Keira sudah tidak bisa berkilah. Jika ia memutuskan untuk pamit bersama Danu, tentu saja Kenny akan kecewa dan semakin curiga. Mungkin keputusan terbaik adalah mengatakan beberapa hal. Yang membuat Keira lagi-lagi harus membocorkan rahasia. Sebab Kenny pun pastinya tidak akan menyerah untuk mencari tahu segalanya.
“Bisa kita duduk lagi? Di teras saja, Ra. Aku yang traktir deh. Aku masih ada uang dari kerja paruh waktu, tapi soal ini jangan ngomong apa pun ke ayah dan ibuku, termasuk Celine,” ucap Kenny yang berangsur menepis perasaannya pada Keira terlebih dahulu, hanya demi memastikan masalah apa yang menimpa kakaknya saat ini.
“Biar saya saja yang traktir, Mas,” ralat Danu menawarkan diri.
Kenny yang tidak senang, selain Danu terlihat dekat dengan Keira, juga berpotensi terlibat di dalam masalah Celine, lantas memicingkan matanya. “Saya memang miskin. Tapi enggak kere. Duduk saja, saya yang menunda kepergian kalian, jadi biar saya saja yang bertanggung jawab atas hidangan kalian,” jelasnya.
“Iya, Kenny,” jawab Keira sembari menahan niat Danu yang hendaj berbicara dengan cara mengenggam tangan pria itu.
Kenny menurunkan arah pandangnya, tepat di genggaman tangan mereka berdua. Sesak melanda dadanya detik itu juga. Namun, bukan Kenny namanya jika tak pandai menyembunyikan perasaan pelik apa pun yang kerap muncul di dalam hatinya.
Kemudian, demi meredam suasana tak nyaman, Kenny segera menanyakan apa yang Keira dan Danu inginkan agar dirinya bisa segera memesan dan duduk sembari menunggu.
“Ra? Apa enggak masalah?” tanya Danu saat Kenny berlalu, sementara dirinya dan Keira sudah duduk di meja terdekat.
Keira menghela napas dan tampak gelisah. “Entah, Nu. Kenny itu lebih keras dan sulit diatasi. Selain itu, dia juga pintar. Dia enggak bakal melepaskan kita sebelum mendapat penjelasan soal Celine. Maklum, Celine kan memang selalu baik-baik saja, dan tiba-tiba mengalami masa-masa seperti ini. Tentu saja Kenny akan merasa curiga. Belum lagi soal kebersamaan kita di sini tanpa Celine.”
“Aku hanya takut, Celine kecewa lagi jika kita kembali membuka masalah ini dan langsung pada keluarganya, Ra.”
“Soal itu ... sebenarnya aku juga sangat takut. Tapi kembali lagi pada karakter Kenny. Aku yang bodoh, Nu, seharusnya aku tadi enggak menyapanya. Aku pikir dia bakal biasa saja dan langsung cabut, makanya aku memberanikan diri buat sapa dan tanya kabar soal Celine. Memang benar kemarin aku lihat Celine ada di kantor Reksa, tapi itu enggak cukup.”
“Kalau begitu, kamu hanya perlu diam saja, Keira. Biar aku yang menjelaskan semuanya. Jangan semakin merusak hubunganmu dengan Celine, Ra. Cukup aku saja, aku biang keladi dari semuanya. Lagian, kalau seandainya Celine semakin membenciku, aku jadi memiliki alasan buat enggak jatuh cinta sama dia lagi.”
“Danu ....”
Tak lama berselang, Kenny muncul kembali. Dan lantas membuat Danu serta Keira langsung terdiam. Wajah Kenny yang memiliki rahang tegas, hidung mancung sempurna, lesung pipit, serta gigi gingsul manis, mendadak menjadi menyeramkan. Sepertinya, Kenny benar-benar akan menggali semua informasi yang Danu dan Keira ketahui seputar permasalahan sang kakak satu-satunya.
***