Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 85-Celine yang Sadar Diri


Celine kembali seperti dirinya di malam ini. Pakaian santai dan gaya rambut terkuncir asal-asalan. Meskipun begitu, kecantikannya seperti tidak pernah padam. Sebenarnya, ia ingin tampil elegan seperti hari sebelumnya, tetapi pertanyaan dari Reksa cukup mengganggunya. Suaminya tidak takjub, dan justru merasa heran. Dan kini, ia tengah terlibat komunikasi video call dengan Keira.


“Iya sih, Reksa pernah bilang sama aku kalau pengin aku begini saja. Dia enggak mau kalau aku tiba-tiba jadi wanita sosialita, tapi kok ya beneran enggak ada takjub-takjubnya sama penampilanku tadi malam? Terus buat apa juga buang-buang uang buat beli semua barang mahal itu? Kan aku malah jadi merasa bersalah kalau kayak begini,” ucap Celine pada Keira sembari merenungkan kejadian tadi malam, saat Reksa terus bertanya ada masalah apa.


“Ya sudah, Cel. Turuti saja kemauannya, daripada kamu juga memaksakan diri. Aku tahu kamu pasti enggak nyaman menjadi orang yang bukan kamu banget,” sahut Keira dari kejauhan.


“Kasus Ailen ini beneran bikin aku gelisah, Ra. Aku takut kalau ada wanita lain lagi setelah dia, apalagi aku ini kan dari keluarga biasa saja, bukan putri konglomerat. Pastinya wanita-wanita seperti Ailen tuh bakalan merendahkan aku banget. Apalagi kalau sampai membawa-bawa keluargaku.”


Keira menghela napas. Turut prihatin dengan apa yang terjadi pada Celine. Menjadi istri seorang pesohor, nyatanya tidak sepenuhnya dapat membahagiakan. Apalagi Reksa memiliki visual yang tampan, tubuh atletis, kekar, serta proporsional. Bahkan meski pria itu angkuh dan kejam, tetap akan ada wanita lain yang diam-diam menaruh perhatian.


Seperti misalnya Ailen, yang juga sudah mengetahui betapa Reksa sangat mencintai istrinya, padahal memiliki karakter super menyebalkan pada orang lain, khususnya para wanita. Keira pastikan, banyak wanita yang mengidam-idamkan sosok suami seperti atasannya tersebut. Dan jujur saja, ia pun begitu, kendati tentu saja bukan Reksa orangnya. Yang pasti, Keira juga ingin menemukan pria layaknya Reksa, terlepas dari kecintaannya terhadap Danu saat ini.


“Begini saja sih, Cel. Kalau sama Reksa kamu jadi diri kamu seperti biasanya, tapi kalau diajak keluar sama dia, atau bahkan keluar sendirian, barulah kamu menjelma jadi wanita sosialita hehehe. Enak, 'kan, tuh! Pasti orang lain akan tetap minder kalau melihat kecantikan paripurna milik kamu, apalagi penampilan kamu pasti didukung oleh barang dan pakaian super branded! Bagaimana?” usul Keira.


Celine menghela napas, kurang lega, dan belum sepenuhnya setuju. ”Ide bagus sih,” jawabnya. “Tapi, kok kayak mau pamer ya?”


“Jangan diniatkan pamer dong, Cel! Kamu kan cuma mau membuktikan kalau hanya dirimu yang pantas bersanding dengan Reksa!”


“Enggak begitu juga kali, Ra. Pokoknya kayak enggak pantas saja. Lagian, kalau aku mulai berdandan seperti itu, malah jatuhnya aku kayak morotin uangnya Reksa. Nah, alih-alih bikin perempuan lain minder, aku malah dikatai matre dong, Ra!”


”Duh!” Keira menepuk jidat. “Begini ya, Cel! Kalau kamu mendengar apa pun kata orang, pasti enggak akan ada habisnya! Lagian, mengubah penampilan enggak harus mahal kok! Cukup ubah gaya berpakaian kamu saja! Oke, kita skip soal barang-barang branded yang aku bilang tadi ya, anggap saja aku sedang bercanda,” ucap Keira.


Tak memberikan Celine kesempatan bicara, Keira terus berkata, “Tapi, coba pikirkan deh, Celine! Kamu kan sudah jadi istri seorang CEO bahkan pemilik perusahaan, terus mau sampai kapan kamu seperti itu? Maksudku jadi diri kamu yang seenaknya saja. Urakan dan enggak jelas itu? Kamu kan tetap harus mengikuti gaya hidup suami kamu, Cel! Bukan pamer, bukan matre, tapi itu kewajibanmu, Cel! Kamu kan seorang istri yang sudah seharusnya menjaga nama baik suami kamu. Kalau kamu kayak anak urakan setiap hari, yang ada kamu dikira pembantunya terus!”


Keira mengangguk mantap. “Iya, coba lari cari cermin sana! Lihat rambut kamu yang jarang kamu sisir! Kalau suami kamu dari kalangan biasa sih oke saja! Itu Reksa lho, Cel, CEO di mana aku bekerja! Dan lagi, masa iya Reksa selalu tampil trendi, keren, berkarisma, dengan setelan kemeja, dasi, bahkan blazernya, kamu justru pakai pakaian kasual—kaos oblong, celana kolor, dengan rambut jarang sisiran?”


Jleb! Setidaknya ucapan Keira mampu menusuk bagian terdalam dari jantung dan hati Celine. Mengapa semua pernyataan Keira tidak ada yang salah satu pun? Mengapa wanita itu begitu pintar? Ah, andai saja otak Keira adalah milik Celine, mungkin Celine tidak perlu pusing tujuh keliling dalam memikirkan ancaman mengenai kehadiran wanita lain. Keira pintar, elegan, berkelas, dan juga cantik. Wanita idaman yang bisa menarik perhatian kaum adam, juga membuat minder wanita lain, bahkan Keira bisa membuat Kenny saja sampai klepek-klepek. Sementara Celine? Jangan ditanya lagi, tentu saja ia unik, nyeleneh, banyak omong, pembully kelas kakap, cerewet, bodoh, plinplan, tidak peka, dan masih banyak lagi!


Astaga! Batin Celine ketika menyadari betapa banyaknya sikap buruk yang melekat pada dirinya. Kata orang, dirinyalah adalah orang yang baik, mudah iba, asyik, dan seru. Tipikal orang yang paling dicari untuk dijadikan sebagai teman. Namun, bagi Celine dirinya justru menyedihkan. Ia tidak pandai menjadi istri yang baik, terbilang menyebalkan dan kampungan!


“Pusing kepala aku tuh, Ra! Begini banget sih aku? Menyedihkan! Pantas saja si Safrudin enggak suka banget sama aku. Ya Tuhan, Ra, aku memang sebodoh itu lho ternyata! Bahkan adaptasi sama pekerjaan pun nyaris satu tahun hahaha! Tapi, modelan kayak aku kok ya dijodohkan sama anak konglomerat hahaha! Kok lucu banget jalan hidupku, Ra! Aneh, tapi ajaib, tapi kok enggak masuk akal hahaha!” ceracau Celine diselingi gelak tawanya.


“Apaan sih, Cel? Sudah gila ya? Kamu tuh ngomong apa? Terus tertawa buat apa coba? Modelan kayak kamu tuh kenapa? Kamu cantik kok, paling beda, cuma perlu diasah sedikit biar semakin mantul! Lagian, kamu kan baru jadi istri orang kaya, ya wajar kalau masih harus belajar. Aku cuma mengingatkan, biar kamu enggak terus-terusan jadi anak muda bar-bar. Begitu! Jangan suka ngomong soal dirimu menyedihkan-lah, Cel! Enggak baik, kayak nggak ada rasa syukurnya. Harusnya kamu lihat aku, bayangkan, aku hidup sendiri. Punya bapak pun jarang menghubungi. Latar belakangku aneh, Cel!”


“Aih! Bapak dan ibu kamu tuh ya orang tua aku, Ra. Jangan pernah merasa sendiri, apalagi sampai sebatang kara. Kan siapa tahu kamu beneran jadi saudara perempuanku hahaha.”


Dahi Keira mengernyit. “Hmm? Apa?”


“Nggak kok nggak, lupakan saja! Hehehe. By the way, bagaimana soal Danu? Apa dia masih hubungi kamu?”


Keira tampak menghela napas, bahkan sampai memejamkan mata. Ngomong-ngomong soal Danu, alih-alih menjauh dari pria itu, ia justru mengembalikan keadaan seperti sebelumnya. Keira malu untuk menceritakannya. Rasanya tak pantas, apalagi ia sudah berkata bahwa apa pun yang terjadi tidak akan pernah berpacaran dengan Danu, disebabkan oleh beberapa konsekuensi.


Akhirnya, Keira memilih menggelengkan kepala. Kemudian, membahas mengenai belanjaan Celine kemarin siang yang cukup menarik untuk diulas.


***