
“Sampai kapan kamu pura-pura tidur begitu, Celine?” sindir Reksa setelah lima menit lamanya Celine bertahan untuk tetap menutup mata. “Apa kamu mau kabur setelah membuat masalah? Tahu, nggak, kalau video penjambakan rambut itu sudah beredar dan namaku ikut terseret? Apa kamu enggak ingin bertanggung jawab?
Mampus aku! Batin Celine. Video? Astaga! Ia benar-benar melupakan soal ini. Seseorang akan mengambil video atas aksi yang ia lakukan pada seorang selebgram terkenal. Lantas, bagaimana ini? Haruskah ia terus pura-pura tidur agar Reksa tidak memarahinya? Atau segera bangkit dan meminta maaf?
Duh! Celine sudah membuat masalah yang sama sekali tidak dapat ditoleransi lagi. Harus ia sembunyikan wajahnya dengan cara apa, ketika menghadapi sosok pria yang berangsur ia cintai?
“Celine!” Reksa kembali berkata tegas dalam menyebut nama istrinya, dan kini sembari mengangkat pundak Celine. “Buka matamu,” katanya lagi setelah berhasil mendapatkan wajah istrinya tersebut.
“Uh! Sial!” keluh Celine yang sudah tidak memiliki pilihan, selain menuruti ucapan suaminya.
Salah satu alis Reksa terangkat. “Apa? Kamu mengumpat padaku?”
“Bukaaan, bukan kamu. Tapi, ke aku sendiri, Sa! Maafkan aku.” Celine memberikan ekspresi memelas, dengan mata yang agak berkaca-kaca.
Dan ekspresi Celine tersebut sukses membuat Reksa berdebar. Imut, itulah kata yang pantas untuk mewakili wajah istrinya saat ini. Celine tak lagi seperti singa brangasan, tetapi kali ini layaknya kucing super lucu. Sungguh, rasanya Reksa ingin segera memberikan kecupan saking gemasnya, tetapi masih terhalang keinginannya untuk berbuat iseng pada istrinya tersebut.
“Soal video itu? Beneran sudah meluas dan viral? Terus nama kamu terseret juga? Apa wajahku sebagai istrimu pun kelihatan? Enggak, 'kan? Jadi, enggak terlalu jadi buruk, 'kan, Sa? Nama dan perusahaan kamu? Terus Alien bakalan nuntut nggak? Duh!” ceracau Celine begitu cemas.
Reksa segera mengambil sikap duduk di samping Celine lalu menghela napas. “Kenapa memangnya? Panik? Menyesal? Merasa bersalah? Kalau memanh iya, kenapa kamu melakukan kekerasan semacam itu, Cel? Kamu kan punya ilmu bela diri, kalau aku yang dapat seranganmu, mungkin bisa menahan. Kalau Ailen kan nggak mungkin. Sepertinya dia enggak jago kelahi.”
“Aku kalap. Lagian aku enggak mukul kok. Tapi, apa dia cidera? Katakan padaku apa yang terjadi setelah aku pergi, Reksa, biar aku bisa bertanggung jawab.” Celine menggenggam jemari Reksa dan semakin memelas. “Aku janji aku bakal bikin nama kamu jadi bersih lagi.”
“Oh ya? Barusan kamu pura-pura tidur yang artinya mau lari dari tanggung jawab, lalu kenapa sekarang mau sok bertanggung jawab, Cel? Lagian ya, Cel, namaku sudah buruk sejak dulu. Enggak ada yang bisa diperbaiki, dan kalau ada pemberitaan buruk lagi, ya bakalan lebih buruk. Itulah konsekuensi menjadi diriku.”
“Uh ... terus bagaimana dong? Aku ... aku benar-benar minta maaf. Kamu boleh kasih aku hukuman apa pun, kalau perlu kamu enggak bertemu aku dulu sampai pemberitaan itu surut.”
Mana bisa, Celine! Tiga hari enggak ketemu saja, rasanya mau gila! Pikir Reksa. Dan soal pemberitaan sebenarnya tidak ada sama sekali. Ia sudah memastikan hal itu setelah Kenny memintanya memeriksa apakah ada orang yang membuat video. Kemudian, Reksa meminta Ali untuk mencari tahu dan hasilnya nihil sekaligus aman terkendali. Tak lupa, Reksa meminta Ali untuk memberikan uang ganti rugi pada Ailen agar wanita itu tidak berbuat sesuatu yang merujuk ke sebuah tuntutan hukum. Semuanya beres dalam beberapa menit sebelum Reksa benar-benar masuk dan menemui istrinya.
Namun, meskipun kenyataannya sudah sebaik itu, Reksa tetap ingin berbuat usil. Biar saja. Ia pernah dikerjai Celine, ia dipertemukan dengan ibu-ibu kompleks rumah Rodian yang cukup membuat Reksa kelimpungan. Dan kini waktunya membalas dendam!
“Yakin mau hukuman apa pun dariku?” tanya Reksa memastikan.
“Baiklah. Aku akan membuat list untuk itu, Cel.”
Dahi Celine berkerut samar. “List? Memangnya berapa hukuman yang bakalan kamu kasih ke aku, Reksa?”
“Banyak sekali. Mau menolak?”
“Ah ....” Celine mengusap tengkuk. “Enggak kok.”
“Bagus! Sebelum itu, katakan padaku apa yang membuat kamu bisa melakukan aksi seperti itu? Dan kenapa kamu ada di sini? Sejak kapan kamu ada di Bali, tanpa memberi tahu aku, Cel?”
Celine menghela napas. “Aku ada di Bali satu jam setelah kamu sampai. Yang artinya sejak tiga hari yang lalu. Aku mau bikin kejutan buat kamu, kejutan pernikahan ke tiga bulan. Yah, memang agak aneh dan berlebihan sih. Tapi, dengan kondisi pernikahan kita, bertahan sampai tiga bulan lebih pun rasanya berkah banget, Sa. Kupikir Bali bakalan jadi tempat terbaik buat merayakannya. Soal Alien emm ... Ailen, aku sudah merasa curiga sama dia, apalagi dia kan sering kirim pesan ke kamu. Akhirnya aku mau main detektif sama Keira. Tapi, aku justru lihat dia nempelin itunya yang gede ke badan kamu tadiii! Makanya aku marah banget! Kamu sih enak, akunya kesal dan mual, sampai kehilangan akal, tahu!”
“Tunggu, tunggu, tunggu! Maksud kamu? Itunya yang gede apa sih? Nempel bagaimana?”
“Iiiih! Mau pura-pura enggak tahu? Ya itu lho! Yang jumlahnya ada dua di depan bawah dagu dan leher! Terus menempel di badan kamu, tahu!”
“Pft ... hahaha! Aku bahkan enggak sadar, Celine. Aku kan langsung mundur tadi, seharusnya kamu lihat juga.”
“Tapi, tangan kamu dipegang dulu sama dia. Kamunya enggak melawan, 'kan, Sa? Keenakannya ya? Apa aku kurang enak, sampai kamu—”
“Apaan sih, Cel! Enggak begitu juga kali. Memangnya aku cowok apaan? Aku kan sudah punya istri unik dan sexy kayak kamu, ngapain juga keenakan sama cewek lain coba? Ada-ada saja otaknya deh! Enggak percayaan sama suami sendiri. Heraaan! Lagian ya, Cel, kalau aku memang keenakan, aku pasti bakalan godain dia langsung. Tapi, kan enggak! Aku malah menjauh, yang artinya aku juga merasa risih!”
“Kalau begitu ...,” kata Celine. “Pecat dia, Reksa. Aku bakal terima apa pun hukuman dari kamu, tapi tolong pecat dia jadi brand ambassador perusahaan kamu.”
“Apa?” Dahi Reksa mengernyit. “Enggak bisa, Celine.”
Penolakan Reksa pada permintaan Celine lantas membuat suasana pertemuan mereka menjadi tidak manis lagi. Tatapan tajam sepasang suami dan istri itu saling bertaut, dengan ekspresi yang sama-sama menunjukkan sebuah pertentangan. Perihal sikap Celine yang mendadak posesif pun membuat Reksa agak tercengang. Seperti bukan Celine saja. Apalagi urusan pribadi dilibatkan dalam pekerjaan, tentu bukan gaya Reksa. Ia memang kerap mengancam Ailen dengan kata-kata pemecatan, tetapi tak pernah ia lakukan hal itu demi sebuah keprofesionalan.
Lantas, apa yang akan terjadi pada Celine di saat suaminya memberikan penolakan telak seperti itu?