
Satu box kue masih terlihat di atas meja, yang sejak tadi malam Reksa biarkan begitu saja. Ailen memberikan kue tersebut untuknya, katanya dessert paling legendaris di salah satu toko di Pulau Bali tersebut. Reksa sempat menolak, bahkan memberikan cacian sesuai sifatnya selama ini. Namun, Ailen justru tidak peduli. Wanita itu meletakkan kue di ambang pintu kamar hotel Reksa, lalu pergi.
Masalah lain pun muncul saat Celine mendadak mematikan telepon dan menghilang tanpa kabar hingga detik ini. Sepertinya wanita itu sempat mendengar suara Ailen yang memberikan sapaan. Namun, ketika Reksa belum sempat memberikan penjelasan, istrinya tersebut sudah tak lagi bisa ia hubungi. Dan hilangnya Celine membuat Reksa tak bisa tidur dengan nyaman di sepanjang malam. Kini, yang tersisa adalah penat dan rasa pedas di kedua mata tajamnya.
Padahal, hari ini Reksa harus mengawasi proses pembuatan video yang berkaitan dengan Ailen untuk mempromosikan salah satu produk keluaran baru milik perusahaannya. Ia memang tidak terlalu dibutuhkan, lagi pula tim terkait sudah sangat hebat untuk mengurus masalah itu. Hanya saja, si CEO yang begitu tergila-gila pada kesempurnaan tersebut tidak mau membiarkan begitu saja pekerjaan berjalan tanpa melibatkan dirinya. Lagi pula, sudah kepalang tanggung, ia berada di Bali sekarang, walaupun pekerjaan utamanya bukan untuk mengawasi proses pembuatan video tersebut, tetap saja Reksa akan menyayangkan ketidakhadirannya.
Bunyi bel pintu kamar terdengar dan sukses mengejutkan Reksa yang tengah melamun sembari memikirkan istrinya di ujung sofa berukuran panjang itu. Lantas, ia tersadar dan langsung menuju keberadaan pintu. Sesampainya di sana, Reksa segera membukakan pintu untuk sang tamu. Melainkan Ali—sekretarisnya—yang sudah siap dengan beberapa alat pekerjaan.
“Tuan, pagi ini pukul sembilan pembuatan video promosi itu akan dilakukan sesuai jadwal. Pukul satu siang nanti, Anda harus berangkat untuk bertemu salah satu klien,” ucap Ali sesaat setelah Reksa membiarkannya masuk, sementara tuannya itu tampak duduk dengan tubuh melengkung di salah satu sofa yang kali ini berukuran kecil.
Reksa menghela napas. “Baik, terima kasih, Ali,” jawabnya setelah itu.
“Baik, Tuan.”
Mata Reksa tak sengaja bertemu dengan keberadaan box kue di meja yang dekat dengan posisinya. Detik berikutnya, ia melirik Ali yang masih tampak memeriksa jadwal kegiatannya di dalam sebuah ipad.
“Kamu doyan kue, bukan?” tanya Reksa.
“Mm?” Ali mengernyitkan dahi, mendadak heran atas pertanyaan sang tuan. Sebab, tak biasanya Reksa mempertanyakan masalah di luar pekerjaan, apalagi berkaitan dengan makanan. Tidak hanya karyawan, ia pun tahu, bahkan lebih tahu betapa judesnya seorang Reksa Wirya Pandega selama ini.
“Kue?” tanya Ali lagi untuk memastikan bahwa gendang telinganya tidak sedang salah dalam mendengar.
Reksa mengangguk, kemudian menunjuk box berisi kue tersebut. “Ambil itu, baru kemarin sore, enggak basi kok. Tapi, kalau kamu jijik, buang saja ke tempat sampah,” ucapnya.
Mata Ali beralih dari yang sebelumnya masih menatap Reksa, kini berangsur menatap sebuah kotak cantik dengan ikatan pita berwarna merah muda. Sejenak, ia merasa penasaran tentang keberadaan makanan manis yang terkemas romantis itu di dalam kamar Reksa, sementara istri Reksa tidak ikut ke Bali. Lantas, untuk apa Reksa membeli kue tersebut? Atau mungkin mendapatkan dari siapa? Jangan-jangan ... Ailen?
Ah! Ali tercenung membayangkannya, tentang Ailen yang bisa berbuat apa pun hanya demi mendapatkan akses untuk dekat dengan Reksa, sampai ia terpaksa memberikan nomor ponsel tuannya tersebut. Sepertinya Reksa sudah tahu, tetapi entah mengapa Reksa hanya diam, alih-alih memberikan sangsi keras pada Ali selaku sekretaris pribadinya.
“Mau nggak?” tanya Reksa sampai membuat Ali yang masih terpana begitu terkejut karena suara beratnya.
Ali gelagapan, lantas menatap Reksa dan mengangguk cepat. “Baik, Tuan.” Tidak ada pilihan selain menerima, ya, sebab sudah tugasnya memenuhi semua permintaan Reksa. “Saya akan menyiapkan sarapan untuk Anda, Tuan.”
“Ya.”
“Baik, saya permisi, Tuan.”
Ali merundukkan badannya dan setelah itu memutar untuk segera pergi dari tempat itu.
Selepas Ali pergi, Reksa kembali melemah dengan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa yang empuk. Matanya yang pedas sulit untuk diajak terjaga terlalu lama. Masih jam enam pagi waktu setempat, hm ... Ali rajin sekali, mungkin sudah sangat memahami sifat disiplinnya yang selalu on time dalam bekerja. Namun sayang, kali ini Reksa butuh tidur ... oh, tidak! Namun, ia butuh Celine. Sungguh! Sekadar kabar darinya pun tak apa. Karena hal itu pula, Reksa menjadi malas melakukan apa pun termasuk bekerja.
Nyatanya wanita yang pernah Reksa benci dari pucuk kepala hingga ujung kaki tersebut telah sukses membuat Reksa begitu tergila-gila. Belum ada satu minggu berpisah, rasa rindu hadir teruntuk wanita itu dan membuat Reksa menderita perasaan gelisah sepanjang waktu. Belum lagi soal Ailen yang datang kemarin sore, Reksa yakin saat ini Celine sedang marah besar, mengingat seberapa bencinya istrinya tersebut pada sang selebgram.
Reksa mulai mempertimbangkan ide tersebut. Tak semata karena rindu, tetapi hilangnya Celine yang mungkin saja merasa kecewa pada keberadaan Ailen telah membuat hati Reksa benar-benar tidak bisa tenang. Lantas, apakah Reksa benar-benar akan pergi dari Bali dan sejenak pulang ke Jakarta hanya demi menemui sang istri?
***
Selepas mentari terbit dari ufuk timur, Celine, Keira, dan Kenny sudah membuat sarapan ala kadarnya dengan memanfaatkan apa pun yang ia bawa. Kebersamaan mereka ditemani suasana pagi yang cerah di atas bukit dengan bentangan lautan yang begitu memanjakan mata. Soal udara tidak perlu ditanya, pastinya jauh lebih segar dibandingkan dengan udara perkotaan yang sudah tercemar.
“Kita bakalan balik jam tujuh nanti, Cel?” tanya Kenny yang sebenarnya masih ingin menikmati satu malam di perkemahan tersebut.
Celine mengangguk setelah menyantap mie instan hangat yang baru ia masak menggunakan panci kecil dan kompor portabel. “Iya. Jadwal syuting yang melibatkan si Ailen itu hari ini jam sembilan, ‘kan, Ra?” Ia memberikan jawaban untuk Kenny, lalu langsung bertanya pada Keira.
“Hmm ... tumben sebut nama Ailen dengan benar, Cel?” sahut Keira, sementara Celine hanya tertawa dalam menanggapi ucapannya. “Mm, soal itu, iya. Kata salah satu rekanku, Cel. Di salah satu pantai dekat dengan hotel mereka kayaknya. Kita terlalu nekat buat berangkat ke sini, terlalu sempit waktunya.”
“Nah,” sahut Kenny. “Benar, Keira, masa camping cuma satu malam doang? Kan nggak seru!”
“Kalau kalian mau menginap lagi, juga enggak masalah kok! Aku bisa balik ke hotel sendiri, asal kabari aku kalau kamu sudah dapat di mana pantainya, Ra.” Celine memberikan saran begitu enteng.
“Eh!” Keira dan Kenny terpekik secara bersamaan.
“Haha ... aneh-aneh saja, masa iya aku sama Kenny doang? Kita beda kali, Cel, dia cowok dan aku cewek lho, Cel!”
Hati Kenny terenyak setelah mendengar perkataan Keira yang sudah seperti sebuah penolakan saja. Namun, mau bagaimana lagi ucapan wanita cantik itu tidak salah. Lantas, ia mengusap tengkuk karena terlalu malu. “Keira benar, Cel,” lirihnya setelah itu.
“Yaelah! Kayak baru kenal saja kalian ini, sudah sekian tahun masih mau sok malu-malu? Alah! Lagian, Kenny kan bukan cowok, Ra!”
“Sembarangan!” tukas Kenny sembari menarik bibir Celine yang seenaknya saja dalam berbicara.
Tarikan tangan Kenny terlepas, ketika Celine memberikan pukulan super keras ke arah bahunya.
“Po-pokoknya aku ikut balik! Aku mau temani kamu jadi detektif cinta, sekalian kalau ada pergerakan enggak benar, aku bisa bantu kamu hajar si Alien!” ucap Keira cepat sebelum ada perkataan Celine yang berpotensi menjebaknya di alam bebas bersama Kenny.
“Ya, begitu saja.” Kenny berucap pelan dengan wajah yang masam, tetapi sebisa mungkin ia menyembunyikan ekspresinya itu ke dalam tundukan.
Cih, padahal aku mau bikin kamu melupakan Danu untuk sejenak waktu, pikir Celine. Namun, ia tidak berhak mengatakan hal itu secara gamblang, meskipun sangat ingin, sebab Kenny ada di dekatnya saat ini. Ia yang pernah merasa dikhianati tak ingin membalas mengkhianati dengan cara membuka rahasia milik Keira tersebut.
Akhirnya keputusan terakhir telah dibuat. Celine, Keira, dan Kenny akan kembali ke hotel mereka pukul tujuh nanti. Sesuai perhitungan dari keberadaan mereka saat ini menuju tempat tersebut mungkin sekitar satu jam. Jadi, tidak akan terlalu terlambat bagi mereka untuk menyusul Reksa yang memiliki agenda mengawasi pembuatan video promosi.
***