
Jangan-jangan Danu memang sudah sangat membutuhkannya? Menyukainya? Atau sedang mempertimbangkan untuk menjalin hubungan dengannya? Beberapa pertanyaan itu langsung bermunculan di benak Keira.
“By the way, kamu ada kencan sama siapa, Ra?” selidik Danu yang sangat ingin tahu. “Cowok mana? Mm, dia kerja di mana?”
Hati Keira terenyak. Ia menghela napas agar merasa lebih bebas. ”Mm, memangnya kenapa, Danu? Tanyanya kok sampai se-detail itu?” balasnya bertanya.
”Sebagai teman kamu, memangnya aku enggak boleh tahu ya? Waktu yang kita habiskan bersama baik akhir minggu, maupun hari biasa, apa enggak bermakna sekali buat kamu? Dan katanya kamu menyukai aku, 'kan, Ra?” Danu semakin kurang ajar dalam memberikan pertanyaan.
Bahkan, ketika pintu elevator sudah terbuka dan seharusnya mereka bergegas keluar, Danu justru menutupnya lagi. Dan entah kebetulan atau bagaimana, tidak ada orang lain yang masuk ke dalam elevator tersebut. Kondisi se-demikian mengejutkan benar-benar membuat Keira kebingungan.
“Apa-apaan sih, Danu? Kamu tuh ngapain? Kok ditutup lagi? Kok aku enggak boleh keluar? Kamu sudah gila ya?!” Kesal, Keira berucap dengan tegas. “Lepasin tanganku enggak?!”
“Jawab semua pertanyaan aku dulu, Ra. Aku butuh penjelasan kamu!” desak Danu, sementara cengkeramannya di lengan Keira semakin menguat saja.
Keira benar-benar tidak habis pikir. “Oke, aku akan kasih penjelasan. Tapi, please, lepaskan tanganku, ini sakit lho!”
Danu tidak punya pilihan lain. Beruntung baginya, sebelum melepaskan lengan Keira, elevator itu sudah membuka pintu ketika sampai di lantai di mana kediaman Keira berada. Cepat, Danu menarik Keira untuk keluar dari ruangan itu.
“Danu! Woi! Apa-apaan sih! Aku tuh mau sarapan! Kurang ajar banget sih lo! Lepasin!” tegas Keira sembari mengayunkan lengannya agar tangan Danu terlepas dan usahanya berhasil. Ia menatap Danu dengan api amarah yang begitu besar. “Kalau mau kurang ajar, lebih baik pergi saja sana!” tegasnya lagi diiringi sebuah umpatan.
“Jawab pertanyaan-pertanyaan aku dulu, Keira.”
Keira menghela napas, kesal. Namun, ia sudah tidak punya pilihan. “Dengar ya, Tuan Danurdara. Aku memang menyukai kamu, tapi itu dulu. Aku sudah pernah bilang kan kalau kamu harus menjauh dari aku! Dan saat ini aku sedang menyukai orang lain."
“Kenapa kamu jahat banget, Keira? Aku datang, aku mendekat, aku sedang mempertimbangkan hubungan kita selanjutnya bagaimana. Dan aku rasa, aku sudah menyukai kamu. Tapi, di saat aku sudah menyukai kamu, kenapa kamu malah menjauh dan bahkan sudah menyukai orang lain?!”
“Apa? Mempertimbangkan? Terus kalau enggak srek, aku dibuang, begitu? Kamu yang jahat, Danu. Dari awal aku sudah menjauh, aku ingin melupakan perasaan itu. Tapi, kamu tetap nekad mendekati aku. Kamu enggak mengenal siapa aku, Nu. Ketika aku berkata kalau aku ingin begitu, ya tetap harus begitu. Lagian, jika kita menjalin hubungan spesial, semuanya malah akan berantakan. Celine adalah sahabat aku. Kalau aku mau bertemu dengannya dan itu bersama kamu, sama saja aku membantu kalian bernostalgia tentang cinta di masa lalu lagi. Apalagi kamu pernah cinta mati sama dia, Danu. Kamu pikir aku bakalan baik-baik saja kalau pacaran sama kamu?”
“Aku tahu aku juga salah karena malah membuka pintu pertemanan dengan kamu lagi. Aku minta maaf. Aku pikir akulah yang akan terluka jika kita terus berhubungan baik. Tapi, tidak, nyatanya aku lebih kuat dari dugaanku sendiri. Alih-alih semakin menyukai kamu, aku justru berhasil menghilangkan perasaan itu. Aku sudah sangat terbiasa berteman dengan kamu, sampai perasaan dan harapan aku tentang kamu hilang semua, Danurdara.” Keira menundukkan kepala, matanya bergerak tidak beraturan. “Maafkan aku, tapi, ... mulai sekarang tolong jauhi aku. Aku ... sudah tertarik sama cowok itu. Aku ... merasa kalau dia yang paling sama kondisi hidup dan prinsip aku. Begitu pun aku untuknya. Jadi, please, jangan hubungi aku lagi, Danu. Aku enggak mau merusak sesuatu yang nyaris aku gapai.”
Ada perasaan yang sangat menyakitkan di bagian terdalam hati seorang Danurdara. Lagi dan lagi, ia kehilangan sosok yang ia kasihi. Sepertinya ia memang orang yang sangat lamban dalam bersikap, sampai dua kali ia kehilangan wanita pujaan. Padahal belum lama ini, Danu merasa yakin bahwa Keira juga bermakna baginya. Namun, sayang, sebelum mendapatkan wanita itu, Danu sudah kehilangan.
Entah mengapa nasib Danu dalam urusan asmara sangat buruk. Mengapa ia tidak berhasil seperti Reksa? Padahal, Reksa dan Celine hanya dijodohkan, dan mereka pernah saling membenci satu sama lain. Namun, tidak butuh waktu lama, mereka langsung jatuh cinta. Atau mungkin Keira dan gebetan barunya. Danu rasa Keira baru bertemu orang itu, tetapi Keira sudah bisa mendapatkan hubungan yang indah bersama orang itu.
Lunglai, Danu berjalan meninggalkan Keira dengan segenap rasa sakitnya. Karena tidak ingin membuat sang wanita terbebani seperti Celine sebelumnya, Danu tidak lagi ingin memaksa. Biarlah dirinya yang terluka, sebab sejak awal ia yang bodoh dan bersalah. Ia terlalu menunda untuk menyatakan cinta, dan imbasnya ia terlambat serta kehilangan.
“Maafkan aku, Danu. Tapi, mau bagaimana lagi, aku enggak menyukai kamu lagi. Belakangan ini, Kenny memang sukses menarik perhatianku. Dia menyukaiku, begitu menjagaku, dan membebaskanku dari kesepian yang membelenggu,” ucap Keira dengan suara yang lirih.
“Keira?” Lalu, muncul Kenny yang seharusnya menunggunya di luar. “Maaf, aku datang ke sini karena aku pikir ada apa-apa sama kamu. Kamu lama banget. Dan maaf, aku mendengar semuanya. Mm, kamu enggak apa-apa, 'kan?”
“Aku enggak apa-apa, Ken. Tapi, Danu kayaknya terluka banget. Ini untuk kedua kalinya dia kehilangan,” sahut Keira. ”Eh?! Kamu mendengar semuanya?!” Mata Keira terbelalak lebar. “Kenny, aku mm ... a-anu ....”
Kenny tersenyum. “Santai saja buat sekarang, Keira. Sampai kamu bisa lepas beban yang ada sekarang, sampai kamu siap buat memulai dengan orang yang kamu sukai itu hihi. Kamu enggak perlu menunggu, biar aku yang menunggu. Yang pasti, ....” Kenny menelan saliva. ”Aku menyukai kamu, Keira, sejak pertama kali kamu ke rumah bersama Celine dan sampai saat ini.”
“Terima kasih, Ken, terima kasih. Kasih aku waktu dulu ya.”
Begitulah akhir kisah antara Keira dan Danu yang hanya seperti iklan jangka waktu pendek. Dan hebatnya, Kenny mulai bisa meraih cinta pertama sekaligus cinta jangka panjangnya. Kalau takdir berkata mereka berjodoh, pasti selalu ada jalan untuk menuju sebuah pernikahan. Tidak peduli selisih usia, yang wanita lebih tua, dan pihak pria lebih muda.
Yang paling penting, cinta itu butuh kepastian. Wanita juga akan lebih tertarik pada pria yang bisa memberikan keyakinan. Bukan sebatas perhatian, tetapi tidak diiringi keseriusan.
****