Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 48-Nomor Tak Dikenal?


Reksa memang kerap malu-malu kucing, cenderung gengsian, dan memiliki banyak kata-kata yang tajam. Namun, soal urusan ranjang, kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Ia selalu berhasil membuat Celine sampai kehabisan tenaga, bahkan mengalami kelelahan yang luar biasa. Dan kenyataan itu tentu saja kerap membuat Celine bertanya-tanya; katanya tak pernah memiliki pacar, selain si Mawar, tetapi mengapa Reksa begitu lihai? Apakah dia kerap jajan di luar—membeli jasa para kupu-kupu malam?


Celine ingin sekali mempertanyakan hal itu, tetapi ia tidak berani. Ia lebih memilih menekan rasa penasarannya dengan sekuat tenaga, daripada mencari tahu sementara Reksa memberikan respons murka padanya. Yah, setidaknya Celine yang selalu blak-blakan, sudah berencana untuk berubah menjadi wanita yang sedikit lebih normal. Walaupun pasti akan sangat sulit sekali.


“Hmm ... kamu sudah bangun, Cel?” Reksa yang baru membuka mata dan lantas mendapati istrinya sudah terjaga sepenuhnya, lantas mengucapkan kalimat yang sebenarnya tidak perlu ia pertanyakan lagi.


Perlahan, tetapi pasti, Celine menoleh ke arah suaminya, setelah sejak tadi asyik menatap langit-langit kamar sembari bertanya-tanya. Lantas, ia menganggukkan kepala, kemudian menjawab, “Iya. Sudah bangun. Aneh, ya? Pas masih kerja bangunnya kesiangan, tapi pas jadi pengangguran malah bangun lebih awal. Ya, mau bagaimana lagi namanya juga Celine hehehe.”


“Enggak apa-apa, nikmati hidup dulu. Kamu bisa bersantai atau olahraga, kalau enggak kerja, Cel.” Reksa berucap sembari memeluk tubuh Celine yang masih tertutup satu selimut dengannya.


“Mm ... eh!” Celine terpekik, saat sesuatu terasa di salah satu bagian tubuhnya. “Jangan kayak gitu, Reksa!”


“Kenapa memangnya? Mau melarang? Kamu enggak punya hak buat menolak, Cel. Ingat ya—“


“Iya, iya, iya. Sudah. Enggak usah bawel,” potong Celine sebelum Reksa semakin banyak bicara. “Tapi, aku mau masak dulu lho, buat kamu.”


“Aku panggil pelayan ibuku saja.”


“Aku kan sudah bilang, enggak perlu, Reksa!”


“Ingat, Cel, aku yang memiliki hak buat mengambil keputusan. Aku sudah menunda keputusan ini karena kamu, jadi, sekarang aku boleh membuatnya lagi tanpa peduli kemauan kamu. Lagian kan, kalau ada Mbak Pelayan itu kamu enggak perlu capek-capek masak sendiri. Kamu bisa jalan-jalan, menikmati hidup, dan benar-benar jadi wanita sosialita. Kamu sudah bekerja keras selama beberapa tahun, bukan? Jadi, buat apa bekerja keras lagi setelah nasib kamu sudah lumayan mujur? Kamu itu menikah dengan aku, Celine, aku Reksa yang punya segalanya!”


 


Celine menghela napas sembari memutar bola matanya. “Akhirnya dia tetap ngomel juga ... sudah kayak ibuku saja, hih!” lirihnya setelah itu.


“Apa kamu bilang?”


“Enggak! Enggak bilang apa-apa, selain iya, Reksa.”


“Bagus!”


Kesal sih, tetapi apa boleh buat. Jika tetap didebat, maka ucapan Reksa akan semakin panjang, melebihi rel kereta api. Celine membayangkan bagaimana Keira kewalahan saat menjadi karyawan Reksa selama ini. Karena selain terkenal angkuh, Reksa juga bawel dan tidak pernah puas dengan keputusan orang lain.


Namun, meski begitu, Reksa sudah berhasil membuat senyum Celine kembali terlukis. Cara Reksa dalam memberikan perhatian padanya begitu berbeda dari kebanyakan pria. Seperti misal saat Reksa datang ke kantor Safrudin, Reksa tidak lupa berbicara dengan Celine terlebih dahulu. Walau memang pada akhirnya Reksa tetap membuat keputusan sendiri, tetap saja pria itu masih berusaha menghargai hati Celine dan tidak mau jika istrinya itu semakin merasa rendah diri atas pembelaannya sebagai sang suami.


“Aaah! Malas sekali. Hari sabtu begini tetap harus ke kantor,” gumam Reksa yang kemudian menjauhkan dirinya dari Celine, dan tentu saja secara otomatis ia menghentikan segala aktivitas nakalnya pada istrinya itu.


“Enggak boleh kayak gitu! Harus semangat. Walaupun perusahaan kamu sudah gede banget, kamu tetap harus menjaganya, Reksa. Kamu harus selalu ingat kerja keras yang dibangun oleh ayah kamu selama ini,” sahut Celine memberikan dukungan untuk sang suami.


Reksa tersenyum. “Tentu saja, aku enggak akan lupa. Tapi, aku tetap manusia, yang masih punya rasa lelah dan kadang suka mengeluh.”


“Hm? Apa maksud kamu, Cel?” Reksa menatap Celine yang sudah menghadapkan diri padanya.


“Kupikir monster! Hahaha.”


“Cih ... kamu mau ikut-ikutan si Tengik itu?”


“Si Tengik siapa sih? Danu? Hmm ... sudahlah, Sa, enggak boleh begitu.” Celine mewanti-wanti. “Lagian aku bercanda kok dan cuma ikut-ikutan kamu saja. Kamu kan pernah cerita sama aku kalau kamu dijuluki monster. Tapi, jujur deh, buat aku kamu justru mirip kelinci tahu!”


“Kelinci? Waaah! Enggaklah, Cel. Aku ini jantan, keren, berkharisma, dan menakutkan. Masa iya kelinci?”


Celine terkikik geli ketika mendengar kenarsisan suaminya. “Narsis banget sih, Pak Reksa! Hahaha.”


“Bukan narsis, tapi memang kenyataannya begitu.”


“Hmm ... okelah, oke. Tuan Reksa memang selalu benar!”


 


Reksa mendengkus kesal, karena menganggap ucapan Celine terdapat unsur ejekan. Namun, kecantikan Celine pasca bangun tidur, justru mampu meredam semua kekesalan itu. Reksa ingin menguasai diri istrinya itu lagi. Sayangnya, ia sudah berencana untuk datang ke kantor lebih pagi. Ada beberapa pekerjaan yang harus ia urus secepatnya, tak peduli bahwa hari ini sudah tiba di akhir pekan.


Tak lama setelah itu, Reksa bergegas bangkit. Sebelum benar-benar memutuskan untuk turun dari ranjangnya, ia membubuhkan kecupan-kecupan manis di wajah istrinya. Memang tidak ada satu pun kata romantis, tetapi sikap Reksa sudah mampu membuat perasaan Celine mendadak bergelora. Detik berikutnya, Reksa benar-benar beranjak untuk segera membersihkan dirinya.


“Cih ... kenapa semakin lama dia manis sekali sih? Benar-benar kayak kelinci!” gumam Celine masih belum turun dari ranjang itu, selain sudah mengubah posisinya dari yang sebelumnya masih tiduran, kini sudah duduk sembari mencengkeram selimut. “Seperti bukan Reksa yang pertama kali aku temui. Hmm, baiklah, aku akan membuatkan makanan lezat untuknya.”


Celine hendak beranjak, tetapi bunyi ponsel yang cukup keras membuatnya mengurungkan niatnya. Dari nakas sebelah kanan, Celine mendapati ponsel Reksa tengah berdering. Awalnya, ia ragu karena menganggap bahwa benda itu merupakan salah satu privasi dari suaminya. Namun, ia merasa cemas—takut jika ada hal penting yang membutuhkan jawaban Reksa detik itu juga.


“Mm? Nomor baru?” gumam Celine bertanya-tanya, mendapati nomor tanpa nama di layar ponsel suaminya yang memang tidak memiliki kode pengaman tersebut. “Haruskah aku ... eh, ah! Mati deh!” Sayang, saat ia hendak menerima panggilan itu, pihak penelepon justru membatalkan panggilan terlebih dahulu.


“Eh, ada pesan?” Celine melihat pesan masuk yang cukup membuatnya penasaran. “A-alien? Selamat pagi, Tuan Reksa, ini Alien. Eh Ailen maksudku. Maaf salah baca, Mbak. Tapi, ... kenapa dia kirim pesan begitu ke Reksa? Kayak teman dekatnya saja. Nomornya saja enggak disimpan kok.”


“Hmm ... apa kata-kata Keira waktu itu benar, ya, kalau si Alien ini suka sama Reksa? Bukan urusanku sih, selama Reksa enggak menanggapi. Tapi, kok? Dia punya nomor Reksa? Reksa kan CEO-nya. Orang paling penting yang enggak mungkin sembarangan kasih nomor ponsel ke orang lain. Apalagi si Alien Deodoran ini cuma sebatas brand ambassador. Memangnya, CEO wajib punya kontak BA perusahaannya? Bukannya ada sekretaris pribadi? Atau apa aku-nya saja yang terlalu cupu?”


“Ais! Masa bodoh-lah!” Sayangnya, kata-kata tidak peduli ini hanya mampu Celine ucapkan, tanpa bisa ia terapkan. Saat sudah memutuskan untuk beranjak, mengenakan pakaian, lalu menuju dapur, pesan dari Ailen tersebut justru terus-terusan mengusik hati dan pikirannya. Apalagi Keira pernah mengatakan bahwa Ailen tampaknya sedang menyukai Reksa.


Celine memang belum memahami perasaannya sendiri pada Reksa, tetapi demi Tuhan! Ia tidak akan membiarkan wanita lain datang dan merusak rumah tangganya.


 


***