Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 7-Celine yang Kabur


Mentari kota Moskow kembali menampakkan diri, menandakan bahwa kegelapan sudah menghilang karena pagi telah kembali datang. Reksa yang sempat dibuat jengkel oleh istrinya, baru saja membuka mata. Pria tampan berhidung mancung itu merasa enggan untuk bangkit. Memang benar, ada sebuah rencana yang seharusnya ia lewati bersama Celine, tetapi ... Reksa sudah memutuskan untuk tidak keluar dari kamar hotelnya. Ia benar-benar tidak mau mengunjungi tempat-tempat wisata yang telah diatur oleh ibunya sendiri jika harus bersama Celine.


Oh, mengingat tentang Celine—si biang kerok yang menyebalkan itu—mata Reksa langsung terbuka lebih lebar. Resah, peduli atau abai, Reksa tidak dapat memilih di antara keduanya. Di satu sisi, Celine adalah istrinya sendiri yang sah secara hukum dan agama. Namun di sisi lain, wanita muda itu bukan wanita idamannya, yang saat ini justru selalu ia benci.


“Lebih baik aku tidur saja, daripada memedulikannya,” ucap Reksa yang akhirnya membuat keputusan. Namun, keputusan tersebut sama sekali tidak sejalan dengan otak dan hatinya.


Reksa yang sempat memejamkan matanya, kini terbangun secara tiba-tiba. “Ck, mau bagaimanapun dia tetap menjadi tanggung jawabku. Bagaimana jika dia kelaparan, karena mungkin sangat kampungan sampai enggak bisa memesan makanan? Atau, bagaimana jika dia kembali berbuat konyol dan bisa merugikanku lagi?” gumamnya dengan perasaan bimbang.


“Aaargh!” Reksa mengacak rambutnya sendiri sembari mengeram kasar. “Enggak, nggak bisa dibiarkan. Mau bagaimanapun dia harus tetap diawasi sebelum bikin rusuh lagi!”


Keputusan Reksa mendadak berubah, ketika hatinya terus dilanda resah dengan segala karakter Celine yang bisa bikin bencana. Kecerobohan Celine-lah yang saat ini Reksa khawatirkan. Bukan hanya di hotel itu saja, Celine bertingkah kurang normal, tetapi pada saat berada di apartemen Reksa, Celine juga berhasil merusak satu barang kesayangan pria itu.


Tanpa memedulikan penampilannya yang masih terbalut baju tidur, Reksa berjalan keluar dari ruang predential-nya. Ia menuju lantai yang berada lebih bawah daripada tempat inapnya. Meski malas dan enggan untuk bertatap muka dengan Celine, hatinya terus berkata bahwa ia harus tetap memeriksa keadaan istri tengilnya itu.


“Cel! Celine! Cel!” Sembari mengetuk pintu Celine, Reksa menyerukan nama istrinya itu.


Namun, sekian menit telah berlalu, tetapi Celine tak juga kunjung memberikan jawaban untuk Reksa. Seorang cleaning service tiba-tiba datang menghampiri Reksa. Dengan menggunakan bahasa Inggris, cleaning service tersebut berkata bahwa Celine sudah meninggalkan kamar sejak jam enam, atau satu jam yang lalu, tetapi ia tidak tahu Celine mau ke mana.


“Thank you, Miss,” ucap Reksa santun sembari merundukkan sedikit punggungnya.


“You’re welcome, Sir,” jawab sang petugas kebersihan, dan di detik berikutnya ia berlalu meninggalkan Reksa setelah mengulas senyuman tipis.


Mendengar kabar yang sangat menyebalkan, tentu saja hati Reksa langsung dirundung perasaan geram. Lagi dan lagi, Celine bertindak semaunya sendiri. Padahal, sudah jelas-jelas, Reksa memberikan larangan tentang perjalanan wisata ataupun sekadar keluar dari gedung hotel tersebut. Satu julukan untuk Celine yang saat ini tersemat di benak Reksa adalah ‘Si Trouble Maker’.


***


Celine melalui perjalanannya sendiri dan saat ini ia tengah berada di sebuah kompleks berbenteng. Kremlin Moskwa merupakan pusat sejarah, politik, dan spiritual kota Moskow. Sesuai jadwal yang diberikan oleh Sanny—ibu mertuanya—Celine memutuskan untuk menyambangi tempat itu tanpa meminta izin pada Reksa terlebih dahulu.


Celine bahkan tidak peduli perihal Reksa yang akan marah, atau mungkin Reksa justru tidak akan memedulikan dirinya yang pergi sendirian. Sebab Celine merasa, ketika sudah berada di kota nun jauh dari negaranya sendiri, sungguh sayang jika ia tidak memanfaatkan momen itu sebaik mungkin.


“Lihat, Ra, indah, ‘kan? Ada lima alun-alun, 20 menara dan situs-situs menarik seperti Katedral Dormition yang punya atap emas. Ini kota yang wajib masuk dalam list perjalanan kita nanti, Ra,” ucap Celine pada Keira melalui sambungan video call. Tak lupa, ia tunjukkan pemandangan indah di hadapannya pada sahabatnya tersebut.


“Well, aku akan mencatatnya, Cel. Jangan lupa kunjungi juga Katedral Santo Basil, salah satu simbol Rusia yang sangat terkenal,” sahut Keira. “Tapi, Cel, kita skip dulu soal obrolan perjalananmu. Aku mau tanya sama kamu, mm, apa ... kamu pergi sendirian? Tuan Muda di mana? Sudah setengah jam kita berbincang, tapi, aku sama sekali enggak mendengar suara suami kamu.”


Celine menghela napas. Awalnya, ia tidak ingin membahas apa pun tentang Reksa. Ia hanya ingin menikmati udara pagi di Moskow dengan bebas serta berbincang hangat dengan Keira yang saat ini tengah menikmati makan siang di Jakarta. Namun, tampaknya Keira sulit untuk dibohongi.


“Aku keluar sendirian, Ra, Reksa enggak mau melakukan perjalanan denganku dan sebenarnya aku dilarang keluar olehnya. Makanya aku kabur. Sayang sekali kalau sudah ada di sini, tapi enggak ke mana-mana. Lagian ya, Ra, kasihan ibu mertuaku yang sudah menyusun semua agenda untuk kami. Tapi, kamu enggak perlu khawatir, Ra. Kamu tahu aku paling jago soal perjalanan, bahkan di hutan sekalipun aku tetap bisa cari jalan pulang,” ungkap Celine memilih jujur.


“Ya ampun, Cel! Aku tahu kamu memang jago, tapi, sekarang kamu sedang berada di negara asing lho! Kalau ada orang jahat bagaimana? Kupikir meskipun terpaksa, suami kamu tetap akan menjaga kamu. Aduh, Cel! Lebih baik kamu cepat-cepat pikirkan tentang pisah deh! Jangan mau hidup terlalu lama dengan pria yang enggak bisa diandalkan dan seburuk Reksa!” saran Keira yang terlanjur geram pada sosok atasannya sendiri dan sangat mencemaskan keamanan Celine.


Celine tersenyum. “Ayolah, Ra, jangan bahas masalah itu lagi. Kami sudah menikah. Kamu pasti juga masih ingat tentang rencanaku, ‘kan, Ra?”


“Aku ingat, Cel. Tapi, tetap saja Reksa sudah keterlaluan. Kamu enggak ditemani, bahkan seperti yang kamu bilang tadi, Reksa melarang. Aku enggak bisa membayangkan bagaimana kamu hidup serba terkekang, Cel. Itu bukan gaya hidup kamu, kita berdua menyukai alam bebas.”


“Sssttt!” Celine meletakkan jari telunjuknya di atas hidungnya sendiri. “Dasar bawel! Semakin lama, kamu semakin mirip ibuku, Ra. Sudahlah, jangan memikirkan hal-hal yang enggak penting. Aku ini Celine yang bisa ke mana-mana sendirian, aku juga jago bela diri. Dan lagi, aku pasti berhasil mengalahkan Reksa. Lagian ya, Ra, semuanya sudah terlambat. Kalau aku memutuskan pisah dengan cowok tua itu, hati kedua orang tua kami yang jadi taruhan, terutama hati ayahku. Aku enggak mau bikin mereka menderita, Ra.”


Keira tampak menghela napas. “Kamu memang selalu begitu, Cel. Kamu anak nakal yang kerap bikin masalah, tapi, kalau soal rasa iba kamu nomor satu, Cel! Ya sudahlah, hati-hati saja, Cel. Langsung gebuk kalau tiba-tiba ada orang jahat.”


“Siap, Nenek!”


Celine mematikan panggilan video tersebut dan langsung menghela napas. Keira memang sahabat terbaik yang ia miliki sampai saat ini. Namun, semua saran yang Keira katakan sama sekali tidak membuat hati Celine goyah. Rencana untuk membuat Reksa jatuh cinta masih menjadi tujuan pertama di dalam hidup Celine yang sudah terjebak di sebuah pernikahan paksa. Jadi, perpisahan yang Keira katakan dan perceraian yang Reksa inginkan tidak akan pernah Celine terima.


Suara seruan tiba-tiba terdengar. Awalnya, Celine memutuskan untuk abai, karena ia menganggap bahwa suara itu milik warga lokal. Namun, keadaan menjadi berubah saat tiba-tiba, sosok Reksa berada di samping Celine dalam keadaan terengah-engah.


“Kamu sudah gila, ya?!” Tegas, Reksa bertanya pada Celine. “Kalau keluar itu ngomong, Celine!”


Celine menepis semua kebingungannya terhadap keberadaan Reksa. Ia berdecap, kemudian berkata, “Kalau aku ngomong, memangnya kamu mau memberiku izin?”


“Enggak. Oleh sebab itu, kenapa kamu begitu berani keluar dari hotel dan melanggar perintahku, hah?! Se-begitu tidak tahu malunya kamu, Cel, seharusnya kamu itu tetap tinggal. Orang miskin sepertimu enggak pantas dapat tiket perjalanan ini, apalagi setelah membuat onar. Tapi, kenapa kamu terus-terusan kurang ajar dan bikin orang kerepotan?!”


“Memangnya kamu siapa sampai aku harus menuruti perintah darimu, hah?!” Rasa kesal mendadak menyelimuti hati Celine, saat Reksa kembali mencercanya. “Aku memang orang miskin, Sa! Tapi, aku enggak serendah itu juga kali, Sa! Kalau enggak memikirkan bagaimana repotnya emak kamu bikin agenda buat kita, mana sudi aku ke sini sama kamu. Well, aku akui aku memang senang mendapat tiket gratis ke Rusia. Tapi, Sa, kalau kamu ingin aku mengganti rugi semua biaya, aku akan memberinya!”


“Memangnya kamu punya uang berapa, sampai begitu berani mengatakan janji seperti itu, hah?! Kalau sudah miskin, ya miskin saja, enggak perlu pencitraan. Cara satu-satunya biar kamu tetap terhormat adalah diam dan menuruti semua perintahku, Cel. Bukan terus-terusan melawan seperti ini, pakai acara bawa-bawa nama ibuku lagi!”


“Kamu bukan atasanku, Reksa! Lagian, kenapa sih sampai mau kerepotan kalau kamu memang sangat membenciku? Kalau aku hilang, bukannya justru menguntungkan buat kamu? Kenapa juga harus lari-larian demi menghampiriku sekarang?” sindir Celine. “Atau ... jangan-jangan kamu memang khawatir sama aku?”


“Hahaha, jangan mimpi kamu, Cel! Kalau kamu hilang, untungnya di mana? Aku bakal dikecam oleh keluargamu kalau kamu sampai kenapa-napa, tahu!”


“Egois banget!” sahut Celine. “Nih, aku kasih informasi akurat tentang aku ya, Pak Reksa. Aku ini adalah Celine, cewek tangguh dan jago bela diri. Aku pandai menghapal rute, karena sejatinya aku memang anak petualang. Jadi, enggak perlu deh kamu sampai bikin repot dirimu sendiri. Kalau memang demi nama baikmu di depan keluargaku, aku bisa menjaganya untukmu kok. Jadi, stop mengatur-atur aku, Sa. Tenang saja, aku enggak bakalan lari dari hutang kok. Sebisa mungkin pasti aku bayar, tapi, ya sabaaar! Aku kan orang miskin, bukan orang kaya dan manja kayak kamu! Sudah ya, Sa, aku ingin berjalan-jalan bukan bertengkar. Nanti saja, kalau mau sayang-sayangan.”


Celine tersenyum kaku pada Reksa, setelah akhirnya ia kembali melanjutkan perjalanannya untuk mengelilingi Kremlin Moskwa. Semua ucapannya juga benar, tanpa ada satu pun hal yang dibuat-buat. Ia ingin bersenang-senang, bukan untuk bertengkar di negara indah tersebut.


Sementara Celine yang sudah berlalu, Reksa masih saja terdiam. Hatinya terenyak, tetapi jujur saja, ada kelegaan yang menyusup di dalamnya. Entah karena apa, Reksa hanya menduga bahwa berkat Celine yang tidak lagi membuat masalah. Namun, sebenarnya perkataan terakhir Celine sedikit mengandung hal yang dapat membuat perasaan Reksa tersinggung. Dan lagi-lagi, Reksa tidak tahu di bagian mana ia merasa tertohok oleh ucapan istrinya tersebut.


“Celine!” seru Reksa sembari berlarian menuju keberadaan Celine.


“Ya?” Celine menjawab sembari menghentikan langkah dan menoleh pada suaminya.


“Sudah berada di sini, aku bisa ikut jalan. Kita butuh bukti untuk membuat hati ayah dan ibuku senang,” ucap Reksa beralasan.


Celine tersenyum. “Dengan senang hati, Sayangku!”


Reksa melajukan kaki terlebih dahulu, lalu menjawab, “Jangan bikin perutku mual lagi, Cel!”


“Why? Kalau mual ya bagus, berarti positif!”


“Aku laki-laki, Gila! Dan lagi, aku enggak mau berbuat macam-macam denganmu, jijik!”


“Astaga Bapak ini!”


“Jangan memanggilku bapak!”


“Kamu sudah tuir, Sa! Kenapa enggak pernah mau dipanggil bapak, sih?!”


“Aku seorang tuan, bukan bapak-bapak. Aku orang terhormat, enggak rendahan sepertimu!”


“Haaah! Kumat!”


Celine mengejar Reksa yang sudah berada dua meter di depannya. Ia berlari dan kali ini mendahului suaminya sendiri. Masih terdengar beberapa celoteh dari bibir Celine yang kerap membuat perasaan Reksa dirundung rasa kesal. Namun, pada saat Celine berjalan mundur dan tersandung sebuah gundukan hingga terjatuh, barulah Reksa tidak lagi dapat meredam gelak tawanya.


***