
Beralih pada kehidupan rumah tangga Celine dan Reksa. Di mana saat ini, mereka tengah berjalan-jalan di tepi pantai. Angin sepoi yang berembus mengusap wajah sepasang suami istri itu. Berjalan sembari bergandengan tangan, menikmati suasana malam pantai yang riuh akan pengunjung.
Setelah beberapa hari terganggu akan kehadiran Ailen, termasuk juga ancaman datangnya wanita-wanita serupa, akhirnya Celine bisa menghela napas lega. Suasana di tempat liburan memang lebih menyenangkan, daripada di kamar hotel meskipun tata ruangan hotel itu sangat mewah dan indah. Sebagai wanita petualang, nyatanya Celine lebih menyukai dunia luar.
Dan Reksa tahu tentang hal tersebut. Oleh sebab itu, beberapa saat yang lalu, ia berinisiatif untuk mengajak Celine jalan-jalan. Pantai yang ia kunjungi adalah pantai yang cukup ramai. Memang sebenarnya, orang yang galau diajak ke tempat sepi, tetapi sosok Celine ini berbeda. Reksa yakin, setelah berbaur dengan banyak orang, Celine akan menjadi jauh lebih baik.
“Duduk di sana saja, kamu mau nggak?” tanya Celine pada Reksa sembari menunjuk salah satu titik dari tempat itu.
“Asal sama kamu, aku mau saja kok,” jawab Reksa enteng, tanpa maksud merayu. Perkataan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Celine mendengkus, lalu menyikut tubuh Reksa. ”Kasih gombalan, tapi mukanya tetap datar ya? Hebat kamu, Sa! Hebat banget!”
“Mm?” Dahi Reksa mengernyit. “Gombalan? Siapa? Aku? Enggaklah, Cel. Itu tuh serius, bukan sekadar gombal doang. Lagian, kalau sama cewek lain memangnya boleh? Meskipun aku juga enggak bakalan mau.”
“Ya enggak bolehlah, Sa! Kamu kan suami aku, ngapain pakai bertanya kayak gitu? Lagian kenapa sih tinggal bilang 'iya' doang soal gombalan tadi, biar aku lega?”
“Iya sudah, iya.” Reksa tersenyum kaku, dan memilih mengalah daripada bikin hati Celine kembali kesal.
Namun, ternyata usaha Reksa tak membuahkan hasil. Alih-alih tersenyum puas, mata Celine justru menjadi lebih tajam plus raut wajahnya yang benar-benar masam. “Kamu iya-nya nggak ikhlas. Kalau enggak disuruh, pasti nggak bakalan bilang iya. Dasar enggak peka!”
“Kamu lebih-lebih enggak peka tahu, Cel!” tukas Reksa tidak terima. Pasalnya, dirinya berasa serba salah.
“Tuh kan! Lagi-lagi menyerang aku! Bilang iya saja kenapa sih! Atau nggak ya maaf!”
“Iya, maaf, Celine sayang.”
”Halah basi! Kalau enggak diomong juga nggak bakalan ngomong!” Celine mendengkus, lalu bergegas untuk menuju tempat yang sempat ia tunjuk.
Sementara, Reksa masih terdiam dan tercengang. Mood Celine sepertinya kembali ambyar. Kok bisa-bisanya istrinya itu membuatnya berada di posisi salah terus? Iya sih banyak wanita berkata bahwa pria itu selalu salah, tetapi Reksa merasa tidak berbuat salah. Bahkan, ia menuruti apa pun yang Celine mau sejak tadi. Namun, kenapa Reksa menjadi semakin seperti tersangkanya saat ini?
Reksa menghela napas panjang. Setelah memutuskan untuk menyudahi ketertegunan serta rasa herannya, ia berjalan dengan tujuan yang sama seperti langkah kaki sang istri. Dan ia juga berpikir akan diam apa pun yang Celine katakan, jika berbicara saja serba tidak benar.
Di tepi pantai yang tidak tersentuk gelombang tipis air laut, Reksa dan Celine duduk bersama. Sesaat tidak ada perbincangan di antara mereka. Celine yang masih mencemaskan beberapa hal, terutama ucapan Keira. Lalu, Reksa yang bingung harus memulai cerita dari mana. Tentu saja cerita mengenai Ailen, sekaligua pemecatannya terhadap selebgram itu.
“Aku ...,” ucap Celine sesaat setelah menghela napas. “Maafkan aku, aku menghabiskan banyak uang kamu. Aku enggak bermaksud matre kok, serius!”
“Kenapa harus dijelaskan lagi? Aku kan sudah bilang enggak keberatan, Cel,” jawab Reksa yang mau tidak mau harus mengambil kata-kata.
”Mm ... iya sih. Cuma rasanya enggak enak banget. Aku benar-benar menghabiskan banyak uang. Lagian, aku kan jarang memakai baju-baju itu. Tapi, aku malah—”
“Sudah, sudah. Lagian ya, Cel, kamu kan istri aku. Aku cari uang, kerja, itu juga kan hasilnya buat kamu. Dan tentunya nanti buat anak kita juga, keluarga besar kita juga.”
“Uh ... aku takut jatuhnya kayak mantan pacar kamu.”
“Nggak! Enggaklah! Beda banget, jauuuh!”
“Tentu saja, Celine.”
Akhirnya sebuah senyum menarik kedua sudut bibir Celine. Hatinya pun berangsur lega. Kalau Reksa memang benar-benar tidak keberatan, maka Celine sudah tidak ada alasan untuk merasa tidak nyaman. Hanya saja, sebagai wanita yang selalu mencari uang sendiri pasca lulus dari SMA, membelanjakan uang orang lain, meskipun suaminya sendiri, rasanya tetap tidak enak hati.
“Celine? Maafkan aku karena sudah bikin kamu enggak nyaman. Demi pekerjaan, perusahaan, serta profesional, aku malah enggak memikirkan perasaan kamu,” ucap Reksa.
Celine berangsur menatap suaminya dan perlahan menepis rasa tidak enak hatinya. “Kok minta maaf? Buat apa?”
Reksa menghela napas. Sementara salah satu jemarinya berangsur menggenggam jemari sang istri. “Soal ... Ailen. Gara-gara mempertahankan dia sebagai brand ambasador perusahaanku, kamu harus terluka.”
“Hmm? Sepertinya kamu sudah dengar ceritanya dari Pak Ali ya? Maksudku Sekretaris Ali?”
Reksa mengangguk. “Benar. Aku enggak keberatan kamu belanja atau berubah, hanya saja kalau terlalu dadakan aku-nya tetap mempertanyakan. Makanya aku cari tahu dan ternyata sumbernya adalah Ailen. Maafkan aku, Cel.”
”Enggak kok, bukan salah kamu. Memang Ailen-nya saja yang enggak bermoral.”
“Kamu habis menghajarnya?”
“Pak Ali bilang begitu? Ah! Enggak, Sa! Aku cuma menekan, plus mengancam. Sedikit membuat kerusakan sih, aku lempar vas bunga di hotelnya. Habisnya, dia bilang aku miskin dan enggak pantas buat kamu, apalagi sampai merendahkan keluargaku. Sebenarnya, aku mau lempar benda itu langsung ke muka dia, tapi aku enggak mau masuk penjara dan enggak mau nama kamu jadi buruk, kalau ulahku dituntut sama dia.”
“Astaga, Istriku.” Reksa menarik kepala Celine dan memberikan sebuah pelukan. “Kamu benar-benar cemas ya? Apa se-begitu takutnya kehilangan aku?"
”Ya! Aku akui aku memang sangat cemas. Kamu kaya raya, Reksa, ganteng juga. Walaupun angkuh, nyatanya masih saja ada cewek lain yang suka sama kamu. Dengan kata lain, aku juga takut kehilangan kamu. Mau bagaimana lagi, aku kan cinta sama kamu.”
”Aku juga cinta sama kamu, Cel. Dan aku pastikan kesetiaanku benar-benae terjaga. Lagian, aku kan bukan remaja, bukan pula pria yang baru beranjak dewasa layaknya Kenny. Aku sudah nyaris 36 tahun, dan beberapa tahun lagi 40 tahun. Enggak ada kata main-main lagi di hidup aku, Cel. Perusahaan dan keluarga, terutama istri, adalah hal yang enggak bakalan bisa aku abaikan lagi. Apalagi aku adalah tipikal orang yang enggak mau ada noda, meski di dunia ini enggak ada yang sempurna.”
Celine menghela napas, lalu tersenyum tipis. Detik berikutnya, menarik diri dari pelukan Reksa. “Kalau begitu,” ucapnya. “Mari mulai rencanakan soal anak, Reksa. Aku sudah pengin punya anak. Supaya ikatan kita pun semakin kuat.”
“Mm?” Mata Reksa melebar.
“Ke-kenapa? Belum siap ya, kalau begitu tunda lagi sa—”
”Siap, Cel. Sangat siap, sudah kubilang aku sudah nyaris 40 tahun, enggak ada waktu buat main-main. Yang artinya, aku pun siap kalau jadi bapak. Cuma aku agak kaget saja, kamu kan masih muda dan punya mimpi, lalu tiba-tiba pengin punya anak?”
“Ya ... perjalanan keliling dunia akan semakin menyenangkan, bukan, jika ada anak dan suami, sahabat sekaligus adik aku? Termasuk juga keluarga kita?”
“Mm ... begitu. Ya sudah, berarti ... kita harus lebih rajin lagi ya bikin dedenya hehehe.”
“Eh? Ah! Hahaha, i-iyalah.”
Celine menjadi malu. Namun, ucapan Reksa juga benar. Mungkin juga akan ada agenda baru di hidup Celine ke depan. Dan anak, entah bagaimana ia memikirkan soal itu sejak kerap cemas. Ucapan Keira mengenai diri Celine yang harus perlahan berubah, juga membuat Celine mulai menatap rencana di masa depan.
***