Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 84-Pemecatan


“Kita temui Ailen setelah ini, Ali. Aku ingin bicara dengannya,” ucap Reksa yang membuat keputusan luar biasa, bahkan sampai membuat Ali tercengang.


Menemui Ailen, di saat sang istri dibuat geram oleh wanita itu, bukankah keputusan paling berbahaya? Bahkan, meski nantinya akan membahas pekerjaan, interogasi layaknya yang Ali dapatkan, tetap saja orang lain akan merasa salah paham. Apalagi jika Reksa ketahuan hanya berduaan dengan Ailen, berita ekslusif pasti akan naik menjadi kabar paling mengejutkan. Misalnya saja; CEO Golden Rose terpotret hengpon jadul sedang bersama selebgram panas—Ailen Deolinda Davira, mereka diduga memiliki hubungan spesial tanpa sepengetahuan istri sah!


Ali benar-benar tidak bisa membayangkan betapa dahsyatnya dampak setelah artikel dengan judul mengerikan tersebut meluas di berbagai media. Pastinya, Reksa akan kena kecam, bahkan mengalami keretakan rumah tangga. Apalagi, zaman sekarang, jari-jari netizen itu sangat pedas melebihi sambal geprek level sepuluh! Pun pada media yang kerap membesar-besarkan berita, sehingga menjadi pernyataan yang tidak benar.


Namun, dengan keadaan media sosial yang begitu menyeramkan, mengapa Reksa masih berencana ingin bertemu dengan Ailen di luar jam pekerjaan? Apalagi di Bali! Tempat wisata terepic di negara ini. Mungkin judul artikel akan ditambahi kata 'mereka tengah liburan bersama!'.


“Bukankah untuk saat pertemuan Anda dengan Nona Ailen cukup berbahaya, Tuan?” Dengan segenap keberanian, akhirnya Ali mempertanyakan hal yang mengganggunya.


Reksa melirik tajam, dan matanya memang selalu setajam itu. Lantas, ia menghela napas, “Makanya diatur biar enggak berbahaya. Kok perasaan, otak kamu semakin bodoh saja sih, Ali? Pertama, sebagai sekretaris pribadi, kamu justru membocorkan nomor ponsel pribadiku. Meski dalam hal itu aku sudah mencoba mengerti, tetap saja kamu bersalah! Kedua, kamu enggak jujur mengenai kesalahanmu itu, lalu sekarang masih saja mempertanyakan hal yang seharusnya bisa kamu atur dengan benar agar enggak sampai membahayakan aku sebagai atasanmu! Otak kamu tuh di mana?!”


Glup! Ali menelan saliva. Namun ucapan Reksa benar adanya. Ia sudah membuat kesalahan fatal, dan bahkan sampai tidak jujur bahwa dirinya sudah membocorkan nomor ponsel sang atasan pada Ailen. Lalu, Ali tidak langsung tanggap mengenai rencana Ailen saat ini. Entah! Setelah terlibat di dalam masalah pribadi ketiga orang itu, Ali memang kerap gugup sendiri. Kinerjanya pun mungkin menjadi menurun karena perasaannya itu.


“Baik, Tuan, saya akan mengaturnya.”


”Memang sudah seharusnya begitu!”


Oh, Reksa benar-benar tidak habis pikir, mengapa sekretaris pribadinya mendadak linglung seperti itu. Kalau saja tidak menyayangkan masa kerja Ali yang sudah bertahun-tahun, mungkin Reksa sudah memecat pria itu tanpa pikir panjang. Lagi pula, Celine sudah bilang bahwa dirinya tidak boleh terlalu sombong, kalau menyangkut soal jabatan dan harta. Kalau Reksa memecat Ali, sama saja ia sewenang-wenang atas jabatannya.


Sementara itu, Ali sudah berlalu meninggalkan tempat makan yang masih ia dijadikan sebagai tempat interogasi pasca makan siang selesai. Ia berjalan menuju ke area yang cukup sepi. Pada lorong yang menuju toilet, Ali menghentikan langkah kaki.


Detik setelah keputusan untuk berhenti dilakukan, Ali lantas merogoh ponselnya dari dalam kantong blazernya. Nomor ponsel milik Ailen yang sudah ia simpan pasca wanita itu menjadi brand ambasador menjadi incaran mata dan ibu jarinya. Ali meletakkan ponsel tersebut di samping telinganya, sesaat setelah melakukan panggilan keluar pada nomor ponsel sang selebgram.


“Selamat siang, Nona Ailen,” sapa Ali dengan suara khas sekretaris pada umumnya.


“Ya?” sahut Ailen dari kejauhan. Menurut insting Ali, Ailen terdengar kurang berselera untuk berbicara.


”Apakah siang Anda memiliki waktu luang, Nona?”


“Tentu. Saya juga tidak ada jadwal untuk syuting apa pun lagi. Ada apa, Sekretaris Ali? Apa si ... umm, Nona Celine ingin bertemu dengan saya lagi?”


“Nyonya Pandega? Oh, tentu tidak, Nona Ailen.”


“Ny-nyonya Pandega?”


Ali tetap menganggukkan kepala. “Benar, beliau Nona Celine, istri Tuan Reksa alias Nyonya Pandega. Kalau begitu, langsung saja, saya ingin menyampaikan bahwa siang ini Tuan Reksa ingin bertemu dengan Anda. Mohon Anda datang di alamat restoran yang akan saya kirimkan. Sekaligus bawa serta manajer Anda, karena mungkin berkaitan dengan pekerjaan.”


“Tuan Reksa ingin bertemu dengan saya?”


“Benar, Nona, diharapkan Anda segera sampai di tempat. Beliau tidak bisa menoleransi orang yang kurang disiplin waktu. Kalau begitu, saya undur diri terlebih dahulu, Nona.”


“Ba-baik, Sekretaris Ali.”


***


Sekitar lima belas menit kemudian. Ailen Deolinda Davira beserta manajernya sudah sampai di tempat yang Ali maksud. Bahkan, mereka berdua telah berhadapan dengan Reksa yang sejak tadi memasang wajah tanpa ekspresi. Dan sikap Reksa tersebut sukses membuat Ailen sangat resah.


“Tu-tuan Reksa apakah ada yang salah pada pekerjaan Nona Ailen?” Sang manajer ambil sikap, mencoba mencari tahu alasan apa di balik pemanggilan artisnya.


Reksa menggeleng. “Tidak ada. Tapi, ada hal yang harus saya ketahui dari Nona Ailen. Mengenai kejadian kemarin, antara Anda dan istri kesayangan saya.”


Istri kesayangan katanya? Pikir Ailen. Matanya langsung mengerjap, hatinya pun bertambah gusar. ”Benar,” jawabnya memilih untuk tidak berkilah. ”Istri Tuan Reksa tiba-tiba datang, dan membuat kegaduhan. Istri Anda nyaris menganiaya saya, bahkan merusak salah satu barang milik hotel. Istri Anda sudah bertindak layaknya preman pasar.”


”Hanya nyaris, bukan? Dengan kata lain istri saya belum benar-benar menganiaya, bukan?” sahut Reksa masih santai, meski beberapa perkataan Ailen cukup membuatnya geram. ”Dia hanya wanita tangguh, bukan preman pasar. Anda perlu hati-hati saat menggunakan lidah. Lagi pula, apa yang Anda lakukan sampai membuatnya marah? Saya lebih mengenal istri saya ketimbang diri Anda. Dia bukan orang yang kerap bikin masalah, tanpa penyebab!” Suara Reksa mulai tegas dan nadanya cukup tinggi.


Ailen dan juga manajernya gemetaran. Diam adalah keputusan paling tepat sepertinya.


“Kenapa hanya diam?! Apa Anda tidak memiliki mulut lagi, setelah beberapa detik mengatakan hal yang tidak pantas pada istri saya?” desak Reksa. ”Katakan sejelas-jelasnya apa yang Anda lakukan sampai membuatnya marah, Nona Ail—”


“Saya mencintai Anda, Tuan Reksa!” Ailen yang sudah tidak betah diomeli, akhirnya membuat pengakuan secara langsung.


Dahi Reksa mengernyit. “Apa?”


“Nona Ailen!” ucap sang manager, berusaha membuat Ailen tidak bertindak sembrono.


Namun, Ailen mengabaikan permintaan manajernya. “Sepertinya Anda tidak membaca pesan yang saya kirimkan memakai nomor lain, setelah nomor saya Anda blokir. Saya ... memberi tahu bahwa saya siap menjadi istri kedua Anda, Tuan Reksa. Perasaan ini, cinta ini benar-benar nyata. Bagi saya, tidak ada pria baik selain Anda yang dingin pada orang lain, tapi begitu hangat pada istri! Sungguh, saya mencintai Anda, Tuan Reksa!”


”Apa?" Reksa tidak habis pikir. ”Pft, hahaha! Konyol sekali! Memangnya Anda ini siapa? Sampai begitu berani menawarkan diri sebagai istri kedua? Anda bahkan tidak lebih menarik dari istri saya. Pantas saja kalau istri saya sampai mengamuk. Permintaan Anda cukup konyol, tapi sangat menyebalkan! Dipikir saya mau begitu? Enggak! Kalau begini ceritanya, memang lebih baik Anda tidak lagi menjadi brand ambasador kami! Terlalu berbahaya! Dan ketahuilah, Nona Ailen, cinta yang Anda maksud itu bukanlah cinta sebenarnya. Anda hanya terobsesi, Anda iri pada orang lain yang bisa menikah dengan orang sehebat dan sekaya saya. Namanya cinta murni tidak akan pernah sekotor itu!”


“Ali!” kata Reksa lagi memanggil nama sekretarisnya. “Urus pembatalan kontrak kerja sama. Beri dia ganti rugi sesuai kesepakatan. Batalkan semua iklan promosi, yang menampilkan wajahnya.”


“Tidak! Kenapa Anda seperti itu, Tuan Reksa! Tidak bisa! Tidak boleh!” Ailen meronta, bahkan sampai menyembah di hadapan Reksa. “Apa Anda tidak takut jika saya menyebar rumor tentang perusahaan dan diri Anda. Anda lupa berapa banyak pengikut sa—”


“Lakukan saja! Rumor-rumor aneh, gosip tidak benar, adalah makanan sehari-hari untuk saya. Jadi, saya tidak akan pernah takut. Justru Anda yang harus hati-hati, karena pihak kami bisa memberikan dampak buruk bagi karier Anda.”


”Tidak! Tidak boleh!”


Reksa menghela napas. “Asal Anda tahu, Nona Ailen, setelah kejadian tidak mengenakkan yang menimpa Anda di hotel pada saat itu, pihak kami sudah berusaha untuk membuat sang pelaku jera. Yang mana, salah satu tim kami menjadi saksi atas pelecehan yang nyaris salah satu petinggi hotel itu lakukan pada Anda. Sebesar itulah tanggung jawab yang kami berikan untuk Anda. Saya pun sudah berusaha mempertahankan diri Anda, di saat istri saya meminta pemecatan soal Anda. Tapi, sikap Anda yang begitu kurang ajar kali ini sudah benar-benar tidak bisa ditoleransi lagi. Tindakan Anda sangat lancang!”


Reksa bangkit dari duduknya, lantas ia keluar dari ruangan privasi di restoran tersebut diiringi oleh Ali. Sementara Ailen menangis histeris, bersama manajernya yang juga masih gemetaran. Siapa pun pasti tidak akan bisa melawan Reksa, jika tidak memiliki kekuasaan sejajar dengan pria itu. Dan meskipun Ailen menyebar rumor, pasti Reksa bisa menangani segalanya. Sayangnya, berkat pesan lancang yang dikirimkan tanpa pikir panjang, Ailen menjadi kehilangan salah satu pekerjaan terbaiknya.


***