
Sejak pulang bersama Celine sore tadi, hingga malam ini, Reksa masih saja terdiam seribu bahasa. Semua pertanyaan Celine, Reksa biarkan menggantung tanpa jawaban. Hal tersebut tentu saja membuat Celine benar-benar kesal. Baru kali ini, Celine menghadapi kemarahan seorang pria. Sejak dulu, setiap kali kekasihnya marah-marah, ia langsung mengutarakan kata putus tanpa ambil pusing.
Namun, situasinya dengan Reksa berbeda. Reksa adalah suaminya, bukan sekadar kekasih yang bisa dibuang kapan saja. Selain itu, sebenarnya Celine merasa tidak enak hati. Dan masih untuk pertama kalinya, ia menganggap kemarahan seorang Reksa benar-benar serius serta harus segera diatasi.
Awalnya Celine berpikir bahwa dengan meminta maaf mungkin Reksa akan segera membaik, terlebih suaminya itu sempat tidak keberatan untuk membayar semua makanan yang ia pesan. Alih-alih membaik seperti yang Celine sangkakan, keadaan hati Reksa justru kian memburuk. Jika biasanya Reksa banyak mengomel, kini cenderung lebih pendiam dan terus menghindar.
“Reksa? Malam ini aku tidur denganmu, ya?!” ucap Celine ketika tidak sengaja melihat Reksa sedang asyik menonton televisi, saat ia hendak mengambil air minum.
Reksa tak menjawab, masih bergeming, bahkan tidak menunjukkan perubahan sikap. Pria itu seolah-olah tidak pernah mendengar suara istrinya.
Celine menghela napas, lalu mengumpat pelan. “Benar kata Ibu Mertua, dia benar-benar manja,” lirihnya. “Terus bagaimana caraku membuatnya enggak marah lagi?”
“Aha!” Celine menemukan ide yang menurutnya sangat cemerlang, setelah beberapa saat memikirkannya.
Wanita itu lantas berbalik badan. Ia menatap batas karpet di depan matanya lalu tersenyum. Celine mulai mengambil langkah, berharap Reksa meperhatikannya dari belakang. Dan saat sudah tiba waktunya, ia lantas membuat kakinya terjegal batas karpet tersebut.
“Adududuuuh! Sa-sakiiit!” pekik Celine ketika dirinya benar-benar terjatuh ke depan dalam posisi setengah tengkurap. Ia sengaja melengkingkan suaranya dengan harapan Reksa segera membantunya. ”Aduuuh! Sakiiit!”
“Cih, asem! Dia enggak terpengaruh sama sekali ...,” gumam Celine, sementara wajahnya tampak benar-benar masam. Pasalnya, ide yang ia anggap cemerlang tersebut berakhir gagal dan fatalnya, ia menderita luka lebam di bagian lutut.
Oh, rumor mengenai kekejaman Reksa yang ia dengar dari Keira, sepertinya memang benar. Apalagi Keira sempat membicarakan tentang nasib Katty yang belum terlepas dari siksaan seorang Reksa Wirya Pandega.
Merasa tidak berhasil, Celine lantas bangkit. Ia menatap Reksa dengan penuh amarah. Detik berikutnya, ia memutuskan untuk pergi saja. Lebih baik tidur, daripada mengatasi seorang pria dewasa yang sikapnya seperti gadis remaja.
Celine berjalan dalam keadaan pincang, karena akting yang ia lakukan tetap memberikan resiko kesakitan. Namun, ia tidak peduli asal cepat sampai kamar dan bisa beristirahat. Lagi pula, Celine sudah banyak meminta maaf, tetapi Reksa-lah yang terlalu keras kepala. Alangkah baiknya bagi Celine untuk bersikap acuh seperti saat ia menghadapi kemarahan mantan-mantan kekasihnya.
Sepeninggalan Celine, Reksa baru menunjukkan perubahan pada ekspresi wajah serta sikapnya. Sebenarnya, ia sempat melihat kondisi Celine yang berjalan dalam keadaan pincang. Namun, egonya masih terlalu besar, sehingga rasa ibanya harus kalah, yang berakhir membuatnya tetap mengabaikan Celine.
“Biarkan saja, biar tahu rasa! Aku sudah pernah bilang, jangan pernah jalan sama cowok itu. Sekadar jalan pulang saja, dilarang, eh justru makan siang bersama!” keluh Reksa yang belum dapat melupakan kesalahan Celine, bahkan meski ia sempat bersikap manis pada Celine di hadapan Danu siang tadi.
”Berani-beraninya dia melanggar perintahku. Aku ini kan suaminya, orang yang wajib dia turuti. Aku bukan sekadar pimpinan yang masih kerap tak ditaati, aku ini kepala rumah tangga!” lanjut Reksa saat merasa belum tuntas dalam mengeluarkan unek-uneknya. “Lagian, kenapa cowok itu malah semakin gencar dalam mendekati Celine, sih? Bukankah seharusnya dia tahu diri? Dia enggak lebih tampan dan lebih kaya dariku! Kalau menyukai Celine, kenapa enggak dari dulu pendekatannya saat Celine belum menikah, hah?!”
Reksa mengumpat kasar. Kalau saja Danu ada di hadapannya saat ini, mungkin ia sudah menghajar rival cintanya tersebut tanpa basa-basi. Pun pada siang tadi, seandainya tidak ada Celine dan Keira atau pengunjung lain, mungkin Danu sudah babak belur di tangannya.
Ketika tak sengaja menatap waktu di jam dinding bagian ruang televisi, Reksa berangsur menghela napas dan mengatasi emosinya. Sudah malam rupanya. Ia harus segera pergi beristirahat, daripada memikirkan masalah Danu yang menyebalkan.
Reksa memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Sepasang kaki panjangnya terayun setelah itu. Ia menapaki lantai marmer yang super indah, untuk menuju keberadaan kamarnya. Selanjutnya, ia membuka pintu kamar yang memiliki gagang mengkilap.
Namun ....
“Tungguuu!” Tiba-tiba Celine berseru sembari mendorong pintu yang hendak Reksa tutup menggunakan tendangan kakinya.
”Reksa? Reksa? Kamu di mana?” ucap Celine sembari celingukan mencari keberadaan suaminya yang tiba-tiba saja menghilang.
“Di sini, Bodoh!” ucap Reksa datar, tetapi wajahnya sangat masam.
Celine menoleh dan mendapati suaminya itu berdiri tegas di belakang daun pintu. “Kok kamu ada di situ?!” tanyanya berlagak polos dan pura-pura tidak tahu, sebab ia khawatir Reksa akan semakin marah padanya.
“Menurutmu?!” Geram, Reksa mempertajam mata sekaligus suaranya.
Celine menggaruk-garuk kepalanya sambil meringis. “Maaf, tadi reflek kok. Keburu pintunya kamu kunci. Maaf ya?”
“Reflek sih reflek, tapi enggak begini juga. Untung badanku bisa menahan, jadi kepalaku enggak sampai terbentur dinding. Kalau sampai seperti itu dan aku gegar otak bagaimana?! Lagian kamu ini kan perempuan, Celine! Kok sama sekali enggak punya tata krama sih?! Kamu istriku lho! Istri seorang Reksa Wirya Pandega yang terhormat! Seharusnya kamu harus menjaga tata krama, atau mungkin mulai belajar menjadi wanita yang berkelas! Bukan malah seperti ini!” omel Reksa.
Alih-alih merasa bersalah atau memberikan sangggahan seperti biasanya, Celine justru tersenyum-senyum dan menatap suaminya. “Nah, begitu dong. Jangan cuma diam saja.”
“Kamu dengar nggak sih, Cel?! Kok malah berlagak kayak orang bodoh begitu?”
“Aku memang bodoh kok, Sa. Kamu kan juga tahu tentang hal itu.”
“Cih! Ada saja jawabanmu!” Reksa sudah merasa jengah, memutuskan untuk segera menyudahi perdebatan dan lekas tidur. “Kamu mau ngapain di sini, Cel? Aku mau tidur, jadi keluar saja.”
“Aku mau tidur di sini sama kamu.”
“Aku nggak mau.”
”Kenapa? Masih marah soal Danu? Aku kan sudah memberikan penjelasan, Sa. Ada pekerjaan yang melibatkan kita berdua. Karena enggak mau berduaan sama dia, makanya aku panggil Keira. Aku kan enggak mungkin tiba-tiba mengusirnya yang nggak bikin salah sama sekali, Reksa. Kamu sampai kapan mau marah terus? Sudah beberapa jam lho kamu diam saja. Apa lebih baik aku pulang saja ke rumah ayahku, biar kamu bisa lega? Enggak apa-apa kok, daripada mata kamu sepet setiap kali melihatku.”
Ketus, Reksa menjawab, “Ya sudah pulang saja sana!”
Mata Celine mengerjap, ia merasa tidak percaya Reksa akan memberikan jawaban seperti itu.
”O-oke. Aku bakalan pulang kok.” Meski kecewa, Celine tetap menyanggupi ucapan Reksa.
Detik berikutnya, Celine berjalan keluar dari kamar Reksa dan benar-benar akan pulang ke rumah Rodian. Tidak, mungkin ke penginapan murah. Sebab fatal jadinya, jika ia memutuskan pulang dan bisa membuat hati kedua orang tuanya menjadi cemas.
Celine memasuki kamar lain di apartemen Reksa yang sampai saat ini masih ia tempati. Suasana hatinya sangat kacau. Lelah juga marah. Namun, apa boleh buat. Jika Reksa setuju ia pulang, maka ia akan benar-benar pergi. Celine tahu dirinya pandai melupakan segala permasalahan, jadi meski saat ini sangat kecewa, ia yakin esok hari kekecewaan itu akan sirna, dan ia dapat kembali ke apartemen Reksa yang kemungkinan juga sudah memaafkannya.
Sementara itu, Reksa mematung di ambang pintu kamarnya sembari mengamati ruang tidur milik Celine. “Apa dia benar-benar akan pulang?” gumamnya bertanya-tanya.
***