
“Aaaa!” Celine dan Keira kompak berteriak untuk kesekian kalinya. Yang kemudian, suara mereka diiringi dengan sebuah pelukan penuh kerinduan.
Sementara Danu hanya mampu tersenyum, dari seberang posisi kedua wanita yang tiga tahun lebih muda darinya tersebut. Seandainya saja diizinkan, ia pun sangat ingin mendekap tubuh Celine. Memberikan kasih sayang yang begitu besar untuk wanita pujaannya itu. Namun, sayang sebelum keinginannya terkabul, Celine justru sudah menikah dengan pria lain.
”Ah!” Celine kembali tersadar bahwa sudah ada Danu di hadapannya. “Maaf, Nu. Sudah lama enggak ketemu Keira, rasanya masih sangat kangen.”
Danu tersenyum lembut, sampai membuat kedua matanya menyipit seperti sedang terpejam. “Enggak apa-apa, Cel. Kalian boleh kok kayak gitu sepanjang jam makan siang. Itupun selama cacing-cacing di perut kalian enggak rewel minta diberi makan.”
“Ah, benar. Mereka enggak sabaran, Nu, padahal ya, perutku punya cadangan lemah super banyak hahaha.” Celine tidak malu sedikit pun dalam mengatakan keadaan perutnya yang memang agak buncit.
Keira menepuk lengan Celine. “Jaga harga diri, Cel! Masa iya umbar-umbar kondisi perut yang melar begitu?” katanya.
“Oh iya. Memang nih lidah sama mulutku sangat licin kayak mukanya Reksa hahaha,” sahut Celine.
Danu mengerjapkan matanya. Hatinya terenyak begitu Celine kembali membahas tentang Reksa. Selalu saja begitu. Pasca keluar untuk kegiatan pengadaan barang bersamanya, nama Reksa tak pernah sekalipun Celine tanggalkan. Padahal, wanita muda itu hidup di dalam pernikahan yang tidak bahagia. Namun, Celine justru nyaris tidak pernah memasang wajah penuh beban. Entah karena pandai menahan diri, atau memang mencoba untuk tidak peduli.
Melihat ekspresi Danu yang berubah drastis, tentu saja Keira langsung tahu. Ia turut prihatin dan simpatik. Meski ia pernah membujuk Danu untuk menyelamatkan hidup Celine, tetap saja pihak Celine-lah yang kurang memberikan persetujuan. Keira juga sangat memahami sosok Celine. Sahabatnya yang jarang pernah menderita beban pikiran. Meskipun kesedihan kerap bertandang, Celine mampu menyembuhkan nestapa itu hanya dengan hitungan hari atau bahkan jam.
“Kenapa malah pada diam seribu bahasa?” celetuk Celine sembari memasukkan burger tebal ke dalam mulutnya. Tak ada rasa malu sama sekali, sehingga ia tampak menikmati makanan tersebut.
Danu berusaha mengulas senyuman. ”Enggak kok, Cel. Nunggu kamu makan dulu, terus ngobrol lagi. Kamu kan kalau sekali bicara, bisa sepanjang rel kereta. Enggak peduli seberapa tebal burger di dalam rahangmu, kamu bakalan tetap banyak bicara, kalau kami ikut berkata-kata,” jawabnya.
“Hahaha. Memang sih, aneh banget ya aku?” sahut Celine.
Danu menggeleng. “Enggak sama sekali kok. Kamu unik dan can ... ah, unik pokoknya.”
Keira menghela napas. ”Kamu enggak apa-apa, 'kan, Cel?” selidiknya mencari informasi mengenai pernikahan Celine dengan Reksa, dengan maksud agar Danu pun semakin tahu perihal keadaan kedua mempelai itu.
”Enggak apa-apa, Ra. Memangnya aku kelihatan sakit?" balas Celine.
“Maksudku dengan suami kamu.”
Kali ini Celine tidak langsung menjawab, melainkan hanya diam. Makanan yang berada di tangannya pun berangsur diletakkan di atas box kemasan. Celine ingin sekali menceritakan kegalauannya belakangan ini. Perihal Reksa yang mengaku tidak lagi keberatan menerimanya menjadi seorang istri, tetapi malah tak pernah mengatakan tentang cinta sama sekali. Lalu, mengenai Celine sendiri yang mendadak bingung tentang makna dari perasaan cinta, selepas sang ibu mertua memintanya untuk belajar mencintai Reksa.
Namun keinginan Celine harus menjadi angan-angan belaka. Selain sedang ada Danu di hadapannya, pendapat dari Keira pasti tidak akan banyak membantunya. Lebih baik bercerita dengan Kenny yang tidak berat sebelah, meski harus mengeluarkan banyak uang sebagai tutup mulut. Sementara Keira pada dasarnya sudah sangat membenci Reksa, dan seperti kekhawatiran sebelumnya, Celine takut ia justru dituntut untuk berpisah saja.
“Cel?” ucap Keira. “Kamu benar-benar enggak apa-apa, 'kan?”
Celine menatap Keira, lalu mengangguk mantap. “Aku baik-baik saja, Ra. Lagian Reksa baik banget sama aku,” jawabnya.
“Masa?” selidik Keira tidak percaya.
Danu menelan saliva, kemudian menyela, “Mm ... ka-kalian saling mencintai, 'kan?”
“Cinta?” Pikiran Celine mendadak kosong. Situasinya mirip seperti saat sang ibu mertua mengatakan tentang hal mencintai. “Itu—”
Brak! Tiba-tiba saja, seseorang menggebrak meja makan mereka dan memberikan serangan kaget yang sangat besar. Celine, Keira, dan Danu reflek membelalakkan mata ketika mereka mendapati sosok Reksa Wirya Pandega yang tiba-tiba saja berada di sana. Wajah Reksa begitu merah, pun pada napasnya yang terdengar memburu.
“Celine!” ucap Reksa tegas.
Detik itu juga, tubuh dan perasaan Celine langsung didera rasa gugup serta takut. Oh, sepertinya Reksa sukses membangkitkan sel penakut milik Celine yang selama ini kebanyakan tidur.
“Reksa ...?” Celine hendak bangkit, tetapi suara Reksa yang keras membuatnya terduduk lagi.
Keira tidak punya pilihan lain. Meski kesal, ia tetap berpindah dan duduk di samping Danu. Ia tidak ingin memiliki nasib seperti Katty.
Napas Reksa masih memburu saat ia telah duduk di samping Celine. Ia merampas burger milik istrinya itu meski sudah kena gigit sebanyak dua kali. Sembari mengunyah makanan tersebut, mata Reksa tak pernah lepas dalam menatap Danu. Sementara Danu juga melakukan hal yang sama.
Tiba-tiba bunyi ponsel terdengar dan ternyata milik Keira. Karena merasa bahwa pesan masuk tersebut dari Celine, Keira cepat-cepat meraih ponselnya dari dalam blazer.
Celine: Kamu tadi bilang sama Reksa kalau kita mau ke sini, Ra?
Keira mengirimkan balasan untuk Celine yang berisi sebuah ketidaktahuannya.
Celine menghela napas. “Reksa? Maafkan aku,” lirihnya.
Reksa berangsur menatap sang istri. Kesal memang, tetapi ia harus menunjukkan sebuah keromantisan tepat di hadapan Danu.
“Enggak apa-apa, Cel,” ucap Reksa sembari membelai rambut Celine. “Maaf aku mengejutkanmu, ya? Tadi memang buru-buru ke sini, takut kalau acara makan siang kalian selesai. Aku ingin bergabung.”
“Seorang konglomerat memangnya bisa menyantap hidangan rakyat biasa?” sindir Danu tanpa peduli apa pun lagi.
“Danu ...!” Celine menggeleng-gelengkan kepalanya, meminta agar Danu diam saja.
Terdengar gemelutuk gigi dari dalam rahang Reksa. “Tak ada aturan seorang konglomerat harus selalu menyantap hidangan mahal, bukan?” balasnya sembari melekatkan tatapannya pada sang pesaing cinta.
“Tentu ada, Tuan Reksa. Bukan rahasia umum lagi, bahwa orang-orang kaya biasanya langsung sakit perut setelah menyantap hidangan murah.”
Keira mencubit lengan Danu, sembari berbisik, ”Cari aman saja, Nu ...!”
“Reksa, pindah saja yuk!” ajak Celine.
Reksa balas bertanya, “Kenapa harus pindah?”
“Yaaa ... en-enggak kenapa-napa sih. Cuma—”
“Kamu diam saja dan nikmati makananmu. Kalau perlu pesan lagi yang banyak, sekaligus untuk teman-temanmu, aku akan membayar semuanya,” potong Reksa.
“Serius?! Asyiiik!” Inilah Celine yang tidak pernah mau kehilangan kesempatan ketika ada gratisan. Bahkan ia sudah tidak peduli dengan segala situasi.
Sikap Celine tersebut tentu saja membuat Keira sangat kesal. Celine memang bodoh dan kerap bikin malu, tetapi tak bisakah wanita muda itu melihat situasinya terlebih dahulu? Oh, sungguh, jika Reksa tidak ada, mungkin Keira akan segera memukul kepala Celine dengan sepatunya.
Alhasil, Keira dan Danu terpaksa mengikuti permainan Reksa. Acara makan siang yang seharusnya sangat seru bagi Keira serta Danu mendadak penuh tekanan. Dan kembali dibuat heran, saat Celine justru semakin serakah dalam memesan makanan, serta menikmati keadaan itu sembari asyik menceritakan pengalamannya di kota Moskow.
“Oh iya,” ucap Celine memotong kisah perjalanannya. “Aku enggak matre kalau soal duit, tapi kalau makanan bolehlah. Hihihi.”
“Uang atau perhiasan pun, aku enggak keberatan memberikannya padamu, Cel,” sahut Reksa.
Danu tersudut dibuatnya. Ada yang berbeda di antara mereka. Seolah tidak ada aroma kebencian seperti yang Keira katakan. Reksa justru tampak membencinya, seolah-oleh Reksa tahu bahwa ia sangat menyukai Celine, bahkan sampai saat ini.
Sementara Keira dibuat tertegun. Ada yang aneh, sepertinya hubungan Celine dan Reksa sudah berangsur baik-baik saja. Lantas, bagaimana dengan Danu yang mungkin sudah mulai berencana dalam membujuk Celine untuk meninggalkan Reksa?
***