
Kenny dan Keira tengah bersama di pinggir pantai. Mereka menikmati udara hangat, debur ombak, terutama pemandangan pantai yang begitu memanjakan mata. Namun, meski tampak lega atas persoalan Celine dan Reksa, antara Kenny dan Keira masih saja diliputi semacam kecanggungan yang sulit diartikan.
Bertahun-tahun menjalin persahabatan dengan Celine, bahkan sampai sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh kedua orang tua Celine, rasanya untuk Kenny, baru kali ini Keira bersama pria super manis itu. Ia hanya mendengar beberapa tingkah berandal yang kerap Kenny lakukan, terutama soal tawuran semasa SMA. Anak muda yang cukup berbahaya, tetapi mungkin pribadinya sangat seru.
Yang namanya hanya mungkin, berarti baru dugaan saja. Dan nyatanya dugaan itu tidak seratus persen benar. Pasalnya, sudah sekian menit bersama, Kenny masih saja terdiam. Entah apa yang membuat Kenny tak mau bicara pada Keira di kala berduaan seperti ini. Jika kecurigaan Keira perihal Kenny yang naksir padanya adalah benar, maka saat ini Kenny hanya tengah gugup dan serba salah.
Keira menghela napas, dan berusaha menekan asas praduga yang selalu muncul di beberapa situasi membingungkan. Lagi pula, jika prediksinya tidak benar, ia yang akan malu sendiri. Oleh sebab itu, bayangkan hal lain saja. Nikmati suasana sama-sama diam ini dengan mengingat beberapa hal yang lucu sembari menatap hampatan laut lepas yang begitu luas.
“Pft hahaha!” Kompak, setelah sekian menit berlalu lagi, Kenny dan Keira sama-sama tertawa.
Lantas, sejoli itu saling bertatapan mata. Tawa mereka telah usai, berganti ekspresi kesiap dan cukup keheranan.
“Ah!” pekik Keira sembari memukul pasir yang berada di tengah-tengah dirinya dan juga keberadaan Kenny. “Bagaimana bisa?”
Kenny mengusap tengkuk, salah tingkah. “Soal barengan, ya, maksud kamu?” tanyanya menebak.
Celine mengangguk. “Benar! Belakangan ini ketemu kamu, kita jadi sering berucap atau bergerak secara kompak tanpa kesengajaan.”
“Mungkin kita ... ah.” Kenny membatalkan perkataan yang hendak ia ucapkan. “Mungkin kebetulan maksudku, Ra!” Tidak, tetapi mungkin saja jodoh, sebenarnya ia ingin berkata seperti itu, tetapi kondisi tidak memungkinkan untuk mengungkapkan sebuah canda cukup sensitif.
“Ya sih. Kebetulan. Tapi, kalau keseringan ya namanya bukan kebetulan lagi, Ken!”
”Terus apa dong, Ra?”
”Enggak tahu deh! Hahaha.” Keira beralih dari Kenny dan kembali menatap lautan. “Hmm ... aku tadi lagi mengingat kelakuan Celine sama Ailen, Ken. Lucu saja hehehe.”
“Kok sama? Aku juga lagi ingat itu.”
“Apa?! Astaga, Ken! Jangan sama-samain dong!”
“Itu faktanya, Ra! Lagian buat apa juga aku bohong? Aku kan juga nggak sengaja.”
Keira menghela napas. “Iya, iya. Mungkin kita ini memang memiliki jalan pikiran yang sama, Ken.”
"Tapi, kayaknya kamu nggak suka kalau sering punya pikiran kayak aku, Ra?”
”Nggak, Ken! Biasa saja kok!”
Meski Keira menepis, tetap saja Kenny dapat melihat raut masam di wajah cantik milik wanita itu. Tentu saja Kenny merasa tidak senang dan jujur ia agak kecewa. Namun, mau bagaimana lagi, wanita sekelas Keira yang pintar dan punya karier cemerlang pasti akan resah ketika berhadapan dengan pria miskin dan belum bekerja. Layaknya Kenny yang belum memiliki tujuan pasti setelah wisuda nanti.
Sementara itu, Keira sebenarnya hanya merasa sungkan. Juga khawatir jika prediksinya mengenai perasaan Kenny padanya adalah benar. Keira tidak mau merusak segalanya, di saat semuanya telah berjalan dengan lancar. Mungkin hanya setitik masalah antara dirinya dan Danu yang belum terselesaikan. Bahkan, Keira memilih kabur daripada berbicara dengan pria yang ia sukai, sekaligus pria pemuja sahabatnya sendiri.
“Kalau sama Celine, kamu sering kerepotan ya, Ra?” tanya Kenny yang baru mendapatkan ide untuk membuka pembicaraan.
Keira berpikir sejenak, lalu menjawab, “Mm, benar. Dia enggak cuma sekali dua kali bertindak bodoh dan memalukan. Dia itu sering jatuh, kesandung, terus heboh sendiri. Apalagi dia itu orangnya ceroboh. Kalau makan ke suatu tempat dekat dengan tempat wisata, pasti kebingungan cari dompet yang selalu ketinggalan.”
“Kakakku memang unik.” Kenny menghela napas. “Tapi, nggak ada orang yang sebaik Celine. Dia bisa mengorbankan segalanya demi orang-orang yang dia sayang, bahkan demi orang-orang yang nggak dia kenal sekalipun.”
“Yap! Karena dia juga aku terbebas dari rasa kesepian, Ken. Makanya, seburuk apa pun sifat-sifat Celine, aku enggak pernah keberatan. Lagi pula, aku juga memiliki banyak sifat buruk dan masih banyak kekurangan. Dan rasanya, kalau ada Celine tuh diriku jadi lengkap.”
Kenny berangsur menatap Keira. “Tapi, sekarang dia sudah menikah, Ra, bagaimana dengan kamu? Apa kamu kembali kesepian?”
Kenny tertegun, merasa takjub dengan pemikiran wanita tersebut. Meski tak menutup kemungkinan bahwa hatinya agak nyeri di bagian pembahasan 'ingin menikah'. Andai saja Kenny lebih tua, andaikan dirinya seorang pria pekerja kantor yang cemerlang atau mungkin CEO sekalian, andaikan ia bukan adik kandung sahabatnya Keira, sungguh! Kenny tidak akan ragu-ragu untuk mengutarakan perasaan yang sudah sekian tahun ia pendam dalam-dalam.
Demi membuang segala kegusaran itu, Kenny memilih menghela napas untuk setidaknya membuat dadanya bisa lebih lega. Lalu, matanya menatap hamparan laut lepas yang menyajikan gulungan ombak berdebur keras. Sesekali terlihat burung-burung terbang tepat di atas lautan. Awan putih juga tampak menambah kesan cerah atas lukisan alam yang nyata. Indah.
“Ken? Boleh aku minta sesuatu sama kamu?” tawar Keira.
Kenny menatap Keira lagi dan mengabaikan pemandangan indah yang sempat ia nikmati dengan sepenuh hati. “Bilang saja, Ra, kalau aku bisa ya aku kasih. Asal jangan berkaitan dengan uang, kamu tahu sendiri aku baru lulus kuliah. Sementara pekerjaan paruh waktuku gajinya enggak seberapa,” sahutnya.
”Hahaha! Nggaklah, Ken. Simpel kok. Mm ... aku pengin deh dengar kamu panggil aku Kak Keira.”
“Apa?!” Salah satu alis Kenny terangkat, saat permintaan Keira membuatnya terkejut. “Celine saja enggak pernah aku panggil kakak, kenapa harus—”
”Ayolah, Ken! Kamu kan lebih muda dari aku, nyaris dua tahun perbedaan usia kita. Aku lahir awal tahun sebelumnya, nah kamu lahir di akhir tahun setelahnya, 'kan?”
“Enggak beda jauh kali, Ra.”
”Mmm ... ayolah, Kennyyy!”
Mata Kenny mengerjap. Hatinya bingung. Wajah Keira begitu imut, membuatnya kesulitan untuk memberikan penolakan. Lantas, ia menghela napas sedalam mungkin. “Mm ... Ka ... mm, Ka ... aaarrrgh! Enggak bisa, Ra. Enggak terbiasa!”
“Halah! Dasar berandal! Begitu saja kok kesulitan,” omel Keira sembari melemparkan segenggam pasir ke bagian tubuh Kenny. “Kalau tawuran dan baku hantam saja jago, giliran sesimpel itu enggak becus, hih!”
“Ya maaf, mau bagaimana lagi. Kalau pun bisa, aku sudah panggil Celine dengan sebutan kakak sejak lama. Mm, by the way, kenapa kamu kok kayak hapal banget mengenai aku, Ra? Pertama soal umur dan waktu kelahiranku, kedua berandal dan tawuran?”
“Ah ... i-itu?” Keira mendadak salah tingkah. “Y-ya dari Celine-lah, Ken! Kan kamu tahu sendiri bawelnya dia!”
“Oh begitu toh!”
“Jangan berprasangka yang enggak-enggak lho ya!”
Kenny tertawa kecil. “Memangnya yang enggak-enggak itu kayak apa, Keira?”
“Ya, ya kayak—”
Ucapan Keira terpotong ketika tiba-tiba saja ponselnya berdering kencang. Lantas, ia sebagai pemilik memeriksa tentang siapa yang tengah menghubunginya. Nama Danurdara tertera begitu jelas, membuat Keira menelan saliva. Gelisah dan cukup heran. Mengapa Danu masih terus menghubunginya, padahal jelas-jelas ia sudah meminta agar Danu menghindar saja.
“Kok enggak diangkat, Ra?” tanya Kenny sesaat setelah melihat sikap Keira yang justru mengabaikan panggilan dari Danurdara. Dan jujur, hatinya terasa nyeri pada saat mendapati ekspresi Keira berubah. Sepertinya ada yang tidak beres dengan mereka berdua. Kenny yakin pasti ada apa-apa.
Keira tersenyum. “Enggaklah, nggak penting. Lagian, aku masih di sini liburan. Masih sisa dua hari lagi, oleh sebab itu aku enggak mau terganggu sama siapa pun,” jawabnya berbohong.
“Pacar kamu ya? Lagi berantem?” pancing Kenny yang sangat ingin tahu.
“Bu-bukan! Hanya teman. Si Danu, kamu tahu, 'kan?”
“Oh.”
Jawaban super singkat yang Kenny berikan berhasil membuat Keira tidak nyaman. Fatalnya, kebersamaan hangat yang mereka bangun setelah saling canggung harus berakhur sia-sia, dan kecanggungan itu kembali menyapa.
***