Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 43-Reksa dan Celine yang Berbeda


Sejak tadi Reksa mengamati kebersamaan Celine dan Keira. Sayangnya, ia tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, sebab selain suara mereka begitu pelan, Rodian terus saja mengatakan banyak hal. Reksa tidak punya pilihan lain, selain menyimpan rasa penasarannya sampai nanti ketika ia dan Celine sudah berada di apartemen pribadi.


“Nak Keira kenapa?” tanya Rodian pada Kenny sesaat setelah Keira menghilang dari balik pintu kedainya. “Apa Nak Keira bertengkar dengan kakakmu, Ken?”


Kenny menggedikkan bahu. “Aku enggak tahu, Ayah. Biasalah namanya pertemanan ya kadang ada pertengkaran, Ayah enggak perlu khawatir!” jawabnya mencoba meredam kecemasan sang ayah.


“Kalian tadi datang ke sini sama-sama, ‘kan? Apa kakak kamu enggak mengatakan apa pun?” Sayangnya, Rodian masih merasa bahwa ia harus menyelidiki situasi hubungan Celine dan Keira yang sudah ia anggap seperti putri sendiri.


Kenny mengerjapkan matanya. Canggung, tetapi ia harus tetap menyembunyikan fakta tentang tangisan Celine di sore tadi. “Enggak ada, lagian mana pernah Celine cerita sama aku? Sudahlah, Ayah, urusan cewek-cewek. Jangan terlalu khawatir, beberapa jam lagi pasti mereka baikan, kalau memang benar ada sedikit pertengkaran.”


“Tetap saja.” Rodian menghela napas. “Keira itu anak yang malang. Dia sudah seperti anak Ayah sendiri dan Ayah enggak pernah berharap dia bertengkar dengan Celine. Mereka sudah bersama selama bertahun-tahun. Ah iya, bukankah Keira bekerja di perusahaan Nak Reksa?”


Reksa menatap Rodian dengan gelagapan, setelah sebelumnya begitu fokus dalam memerhatikan istrinya. “I-iya, benar, Ayah Mertua. Dia salah satu bawahan saya.”


“Kalau begitu, Ayah boleh minta tolong pada Nak Reksa?”


“Te-tentu.”


“Kalau bertemu dengan Keira besok pagi, tolong tanyakan ada apa dia dengan Celine. Meski Celine anak yang bawe, dia paling enggak bisa membuat kami—kedua orang tuanya—merasa khawatir. Dia selalu menyimpan segala masalahnya sendiri dan setahu kami hanya pada Keira-lah dia bisa menumpahkan segalanya. Kalau mereka bertengkar, Celine akan bercerita pada siapa lagi? Dan Nak Keira pasti akan sangat kesepian di sana jika tanpa Celine. Ayah juga yakin Celine enggak akan mau menceritakan masalahnya pada Nak Reksa, oleh sebab itu Ayah meminta tolong pada Nak Reksa kalau besok ketemu Nak Keira.”


“Sa-saya akan mengusahakannya, Ayah Mertua,” jawab Reksa.


Kenny tersenyum melihat Reksa yang begitu canggung. “Dan Bang Reksa, jangan lupa untuk selalu mengatakan segala hal yang ada di hati Abang, apa pun itu pada Celine. Perasaan spesial misalnya.”


“Ah ... kenapa abang lagi? Dan perasaan spesial?”


Kenny mengangguk. “Benar, nanti Abang juga tahu sendiri.”


Reksa benar-benar tidak menyukai sebutan abang yang Kenny berikan untuknya. Namun, sejak tadi Kenny tetap tidak peduli pada tegurannya. Yah, setidaknya sifat seperti itu sudah membuktikan bahwa Kenny adalah adik kandung dari Celine, sebab mereka berdua sama-sama seenaknya sendiri. Dan entah apa yang akan Reksa lakukan untuk mencari tahu perihal masalah Celine dan Keira, sesungguhnya ia tidak pernah mau mengurusi hal-hal yang tidak penting. Buat apa? Lagi pula, sama sekali tidak berguna! Namun, ... saat mata Reksa kembali menatap Celine, kecamuk perasaan penasaran dan iba lagi-lagi ada di dalam hatinya.


***


Reksa dan Celine sudah sampai di apartemen di mana mereka tinggal setelah menikah. Tampak, Celine yang masih berwajah masam duduk di atas long sofa dengan tatapan kosong. Melihat istrinya yang selalu ceria, tiba-tiba bersikap selesu itu, tentu saja perasaan Reksa benar-benar khawatir.


Bagaimana caranya bikin dia tertawa lagi? Lebih baik melihat dia berbuat seenaknya saja, daripada lesu seperti itu. Reksa ingin menghibur Celine, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia sendiri bukan tipikal orang yang pandai berkata-kata manis, tetapi justru pedas dan sering dihindari orang. Bahkan, meski Celine adalah istrinya, tetap saja Reksa tidak mampu untuk mengatakan ucapan cinta yang selalu ia dengar dari acara televisi.


“Cel? Jajan ... yuk!” ucap Reksa, tetapi kemudian ia mengumpat dan merutuk dirinya sendiri. Bagaimana tidak, pasalnya perkataan yang ia katakan justru terdengar konyol dan jauh dari kata romantis


Celine menatap Reksa yang berdiri di hadapannya dengan pandangan lemah. “Enggak mau, aku ingin mandi terus tidur. Sudah malam banget lagian, Sa. Nanti perutku makin buncit kalau diajak makan melulu!” jawabnya menolak mentah-mentah ajakan suaminya.


“Ya sudah, mandi saja yuk!” Reksa kembali berkata. “Ah ... maksudku, kamu dulu, baru aku terus tidur!” ralatnya.


Mendengar kalimat Reksa yang nyaris terdengar seperti sebuah ajakan spesial, membuat bibir Celine sedikit melengkung ke atas.


Dia tersenyum, batin Reksa.


“By the way, kenapa kamu enggak tanya aku kenapa, Sa? Dari tadi Kenny, Ayah, Ibu, tanya melulu pas mereka melihat mataku sembab. Tapi, kenapa kamu enggak?” selidik Celine yang mendadak dibuat penasaran oleh sikap Reksa. ”Kamu justru ngajak jajan, dan mandi.”


Reksa berangsur mengambil sikap duduk di samping istrinya tersebut. Lantas, ia menatap Celine. Tanpa ia sadari, jemari kanannya tergerak untuk menyelipkan rambut Celine yang berantakan sekaligua menghapus wajah Celine yang berantakan.


“Karena kamu terlihat enggak mau kasih tahu. Sama adik dan kedua orang tuamu saja, kamu diam. Jadi, buat apa aku tanya lagi? Aku sendiri juga paling malas ditanya-tanya kalau memang lagi enggak mood,” jawab Reksa.


Celine manggut-manggut. “Hmm ... kamu pengertian banget, Sa.”


“Benarkah? Kamu adalah orang kedua yang mengatakan hal itu padaku, Cel, tentu saja selain cinta pertamaku.”


“Cih!” Celine mendengkus kesal. ”Si Mawar-mawar itu? Yang kalau ngomong suaranya bindeng?”


”Terus siapa dong?! Kok berani-beraninya bahas cinta pertama di hadapan istri yang sedang kacau balau begini sih, Pak Reksa?”


“Memangnya kamu bisa cemburu?”


”Enggak sih.” Celine menghela napas. “Aku enggak tahu apa itu cemburu. Kalau punya pacar, aku enggak pernah cemburu. Kalau dia selingkuh ya, ya sudah aku ajak putus tanpa harus cemburu. Kalau dia marah-marah terus, ya sudah putus juga. Aku ... bahkan enggak ngerti apa itu cinta, Sa. Setelah punya mimpi buat keliling dunia, aku selalu fokus pada hal itu. Mungkin rasa cintaku habis buat sebuah impian.”


Reksa terenyak ketika mendengar perihal perasaan Celine dari bibir Celine sendiri. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghunjam dadanya, hingga membuatnya sulit menghela napas dalam beberapa saat. Ia pikir sudah ada perasaan spesial di antara dirinya dan Celine, tetapi ternyata belum. Namun, kalau dipikir-pikir ia sendiri juga belum mengatakan apa pun mengenai 'cinta'. Ia hanya sudah mulai menerima Celine sebagai istrinya, dan membutuhkan Celine untuk menemani hari-harinya yang sepi.


Reksa berdeham dan berusaha membuang segala macam kegusaran. Detik berikutnya, ia berkata, “Cinta pertama yang aku maksud adalah ibuku, Cel.”


“Ooo!” sahut Celine sampai bibirnya mengerucut bulat. “Aku pikir si Mawar bindeng.”


“Hmm ... sudah baikan sekarang?”


Celine menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”


“Tentu saja, memangnya ada siapa lagi di sini, selain kita?”


”Oh, sudah sih. Tapi, belum sepenuhnya.” Celine menatap lantai marmer yang berada di bawah sofa. “Aku enggak pernah merasa seperti ini sebelumnya, Sa. Baru aku sadari kalau diriku benar-benar menyedihkan dan enggak berguna, sampai membuat orang lain begitu iba padaku.”


“Menyedihkan bagaimana? Kamu selalu ceria begitu kok!”


“Ya, 'kan! Seharusnya mereka pun tahu kalau aku sangat ceria!” sahut Celine cepat lalu menatap Reksa. “Uh ....” Ia melemah lagi. “Tapi, tetap saja latar belakangku menyedihkan. Aku bodoh, enggak sekolah tinggi, dan orang miskin. Padahal ayah dan ibuku punya kedai sendiri, meski kecil, tetap saja kedai itu usaha mereka sendiri.”


“Siapa yang mengataimu seperti itu memangnya, Cel? Bos kamu? Kalau memang benar, jangan halangi aku buat mengambil alih perusahaannya bagaimanapun caranya pasti akan aku lakukan!” Reksa mendadak naik pitam.


Celine menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari memegangi lengan kekar milik Reksa. “Jangan! Jangan mengganggu perusahaan milik orang lain, enggak baik! Lagian ya, Sa, sejahat apa pun orang sama kita, biarkan saja! Selama kita enggak mengalami kerugian besar. Enggak baik jadi pendendam, siapa tahu kan kehidupan mereka jauh lebih sulit dari kita.”


Reksa menatap Celine, takjub. Bisa-bisanya wanita muda itu masih memikirkan orang lain, di saat dirinya tampak begitu rapuh. Namun, itulah yang Reksa sukai dari Celine, terlepas dari semua sifat-sifat buruk yang Celine miliki. Wanita yang bisa merelakan apa pun di saat orang lain lebih membutuhkan dari dirinya.


Cup! Gemas, Reksa membubuhkan satu kecupan singkat di bibir istrinya. Tentu saja sikapnya tersebut membuat Celine melongo dan heran.


”Apa-apaan?!” kata Celine tegas.


Reksa tersenyum. “Entah. Cuma ingin saja. Memangnya enggak boleh?”


“Boleh sih. Kamu kan sudah melakukan lebih dari itu.”


“Ya sudah, terus ngapain melotot?”


“Enggak apa-apa, terkejut saja dibuatnya.”


Reksa berangsur merengkuh tubuh Celine ke dalam pelukannya, tanpa memedulikan respons di wajah istrinya itu. “Cel, mungkin boleh saja kamu mementingkan orang lain, tapi ya jangan bodoh-bodoh banget kalau soal ini. Kalau memang orang itu sudah sangat jahat sama kamu, sekali-kali gertak dia.”


”Bagaimana aku bisa menggertak dia, kalau sebagian besar ucapannya itu benar, Sa? Aku justru bakalan malu sendiri.”


“Kenapa harus malu? Mau miskin, mau bodoh, mau tak berpendidikin tinggi itu bukan sebuah dosa. Aku tahu aku pernah memperlakukanmu seburuk itu dan aku minta maaf. Tapi, alasan kamu untuk enggak kuliah demi membantu Kenny sudah bikin aku takjub, Cel. Berangsur aku sadari bahwa itulah sisi terbaik yang pada dirimu, yang mungkin sangat disukai oleh ayah ibuku, sehingga mereka tak segan menjodohkanmu denganku. Mungkin hanya kamu satu-satunya wanita yang enggak melihat statusku yang sebagai seorang CEO, sementara banyak gadis-gadis, yang meskipun kaya mereka tetap materialistis. Kamu berbeda, Cel, dan kamu enggak se-menyedihkan itu.”


“Uh ... terima kasih, Reksa. Dan kamu, meskipun sombong kata orang-orang, di mataku kamu justru penuh perhatian. Dan mungkin hanya kamu yang enggak harus menjatuhkan rasa iba padaku, sebab aku enggak suka dikasihani di saat diriku enggak memintanya sama sekali.”


Memang benar yang Celine ucapkan barusan. Reksa tidak pernah memperlihatkan rasa ibanya untuk Celine. Meski awalnya, pria itu banyak memberikan hujatan, tetap saja ia sudah berubah. Bahkan, Reksa tak segan untuk meminta maaf. Bukan seperti Safrudin yang terus-terusan bertindak sembarangan, atau Keira dan Danu yang memutuskan sesuatu tanpa persetujuan. Celine tidak membenci mereka, tetapi untuk kali ini saja, ia cukup kecewa.


***