Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 15-Kamu Keren, Cel!


Semua tempat yang masuk dalam list perjalanan bulan madu, sudah Celine dan Reksa selesaikan. Sementara hari sudah kian sore, cahaya mentari kota Moskow pun tampak lebih jingga, tak lagi secerah siang tadi. Kedua sejoli yang masih saja sering terlibat percecokan tersebut membuat kesepakatan untuk mampir ke salah satu kedai ice cream sebelum kembali ke hotel.


Tidak perlu diragukan lagi, tentu saja Celine-lah yang membuat ide dan berakhir disetujui oleh Reksa. Tanpa bergandengan tangan, keduanya berjalan menyusuri jalanan ibukota dari Rusia tersebut. Suasana yang sarat akan kehidupan modern benua Eropa.


Para warga sipil memiliki rambut berona merah, hitam, atau bahkan pirang. Rasanya Celine seperti sedang berada di dunia antah-barantah yang berisi para peri asing. Apalagi perjalanan ke luar negeri kali ini tanpa ia rencanakan sama sekali. Terakhir sebelum saat ini, ia hanya mengunjungi Jepang bersama Keira, selebihnya tetap wisata-wisata indah yang berada di Indonesia.


“Enggak terasa sudah sebulan kita di sini, Reksa. Meskipun banyak konflik dan pertengkaran di antara kita, tetap saja aku mendapatkan kesan terbaik dalam perjalanan honeymoon ini. Tampaknya aku harus berterima kasih dengan sepenuh hati pada Tante Sanny,” ucap Celine kemudian menghirup udara sore yang sudah tercampur dengan alat pendingin kedai ice cream tersebut. “Tempat ini wajib masuk list rencana perjalananku dengan Keira suatu saat nanti.”


Mata Reksa mengerjap detik itu juga. Ada hal yang membuatnya agak terkesiap. “Kamu masih memikirkan tentang impian keliling dunia bersama temanmu itu?” selidiknya.


“Mm.” Celine menganggukkan kepala. “Tentu saja, sejak masih SMA kami sudah memimpikan cita-cita itu, Sa. Tapi, kan kamu tahu sendiri aku ini berasal dari keluarga enggak mampu. Bisa makan sampai lulus SMA saja aku sudah sangat bersyukur. Biar Kenny saja yang kuliah dan kedai makan milik Ayah tetap beroperasi. Dan meskipun aku masih menumpang hidup serta makan sama orang tua, aku tetap enggak lupa kok tanggung jawabku memberikan uang bulanan pada mereka, meskipun yah enggak seberapa. Yang penting aku bisa menabung sendiri, tanpa banyak minta lagi, dan kalau sudah terkumpul baru deh aku datangi setiap negara yang ada di dunia ini.”


Reksa kembali dibuat tertegun dengan pemikiran yang tak separah karakter milik istrinya tersebut. Rasanya, setiap kali bersama Celine, ada saja kejutan yang membuat hatinya merasa malu. Lihat saja, Celine yang super tengil dan ceroboh bisa semandiri itu, sementara Reksa yang gagah dan selalu berkharisma, tak pernah sekalipun mendapatkan uang dari jerih payahnya.


Meskipun sudah menjadi seorang pewaris sekaligus pimpinan utama, tetap saja semua harta dan aset yang Reksa miliki masih berasal dari keluarganya. Ia makan enak, punya kendaraan dan apartemen mewah, belasan perjalanan ke luar negeri, semua itu berkat kerja keras ayahnya. Namun, Celine? Wanita muda itu tidak pernah melupakan tentang tanggung jawab. Kendati tak seberapa, Celine tetap memberikan uang yang ia punya untuk membantu ekonomi keluarga.


“Cel?” ucap Reksa.


Celine menyambut riang kedatangan waitress yang baru saja mengantarkan ice cream serta wafel saus cokelat keju pesanannya, dan tentu saja milik Reksa. Baru setelah itu, ia menatap Reksa. “Iya? Kenapa? Jangan menghinaku dulu, aku mau menikmati ice cream dengan tenang.”


“Enggaklah! Aku juga punya lelah setelah seharian menuruti langkah kakimu yang enggak mau berhenti,” tandas Reksa. “Soal Kenny, adikmu. Memangnya yang membiayai kuliahnya adalah kamu?”


“Tentu saja orang tuaku, aku cuma bantu sedikiiit banget. Tapi, aku selalu siap uang buat jaga-jaga kalau Kenny ada kebutuhan penting. Namanya juga mahasiswa. Walaupun aku enggak pernah merasakan, seenggaknya aku masih sedikit paham. Apalagi Keira sering curhat sama aku sepusing apa dia pas masih kuliah. Tapi, kerennya dia langsung bisa masuk ke dalam perusahaan kamu lho, Sa! Ah, dia memang pintar sih. Walaupun anak gunung, otaknya tetap encer. Enggak seperti otakku yang di bawah rata-rata,” jelas Celine.


Reksa menghela napas. “Sesayang itu kamu sama Keira-keira itu?”


“Iya. Kami kan sudah menyatu. Ah, aku jadi kangen sama dia. Oh iya, ngomong-ngomong kenapa bahas soal Kenny? Kamu mau bantu bayar biaya kuliahnya? No, no ....” Celine menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku enggak mau menumpuk hutang sama kamu, Sa. Soal ganti rugi saja belum aku cicil sama sekali.”


“Cih! Siapa juga yang mau bantu. GR banget kamu, Cel!”


Tanpa rasa malu karena salah menebak, Celine tetap tertawa terbahak-bahak. Beberapa detik kemudian, ia redam gelak tawanya itu dan mulai menyantap wafel dengan saus cokelat keju kesukaannya. Kue renyah di luar dan lembut di dalam tersebut langsung tandas masuk ke dalam mulut hingga perut agak buncit milik Celine. Makan memang menjadi hobi terkeren setelah ‘perjalanan’ baginya. Ia bisa melahap apa pun di depan matanya, selama tidak membuatnya keracunan.


Di pertemuan pertamanya dengan Celine, setelah kabar perjodohan, Reksa sempat merasa jijik dan geli. Namun, sekarang tidak sama sekali, entah karena sudah terbiasa atau memang sudah tidak peduli. Dan lambat-laun, ia justru tersenyum ketika ekspresi yang Celine tunjukkan tampak konyol dan jauh dari kata anggun.


“Kamu keren, Cel, karena sudah mengalah pada adikmu. Memilih untuk langsung bekerja, dan membiarkan adikmu menempuh pendidikan tinggi,” ucap Reksa sembari mengusap noda cokelat yang menempel di pipi istrinya.


Glup! Reksa menelan saliva, seketika itu juga ia segera menarik tangannya yang tanpa ia sadari sudah terulur dan menyentuh pipi Celine. “Ma-mana mungkin! Aku sudah pernah mengatakan jangan pernah salah paham, ‘kan? Walaupun sudah tiga minggu, seharusnya kamu enggak lupa tentang hal itu, Cel!”


“Halah! Mulai heboh deh, mulai salah tingkah deh. Cieee! Ada yang tengsin nih!” goda Celine, lalu tertawa dengan rencana agar Reksa semakin tersudut.


“Ja-jangan sembarangan!”


Celine tersenyum. “Oke, oke! Enggak perlu tegang, santai saja. Aku masih sabar kok menunggu hatimu mencintai aku. Lagian, tadi kenapa bersikap enggak wajar? Sudah beberapa kali kamu melakukan hal semacam itu lho, Sa. Tapi, aku pura-pura enggak tahu saja. Waaah! Sepertinya kepintaran Keira sudah menular ke aku deh. Lihat! Aku jauh lebih peka, tahu!”


“Jangan ngaco lagi, Cel! Kamu hanya berspekulasi sendiri selama ini. Sudah aku katakan, aku enggak bakalan suka sama kamu. Lagian tadi cuma reflek saja, aku ini adalah sosok yang perfeksionis. Aku enggak bisa melihat satu pun kotoran yang bikin keadaan enggak lagi sempurna. Dan soal Kenny, oke, aku akui aku memang agak takjub sama pemikiranmu kali ini. Terus ... wajah konyolmu itu enggak pernah menunjukkan beban atau kekecewaan.”


“Cih! Okelah kalau begitu, terima kasih atas pujiannya.”


Tepat ketika Celine menyelesaikan ucapannya, ponselnya terdengar bersuara. Ada telepon masuk tampaknya. Celine merogoh benda tersebut dari dalam tas selempang yang ia kenakan. Detik berikutnya, ia mendapati nama Danurdara. Cepat, Celine menekan tombol terima dan setelah itu ia meletakkan ponsel tersebut di samping telinga kirinya.


“Halo, Danu? Ada apa?” Celine menyapa sekaligus bertanya.


“Danu?” gumam Reksa bertanya-tanya, sementara salah satu alisnya tampak naik satu senti.


“Aku lagi makan ice cream nih. Oh? Di sana sudah malam, ya? Kamu enggak tidur?” Celine menyantap sisa ice creamnya sembari mendengarkan jawaban dari Danu. “Oh, soal itu? Mm, aku sudah membuat keputusan kok. Satu minggu lagi aku bakal pulang, semua agenda di sini sudah beres, Nu. Sepertinya bakal aku ambil lagi, lagian aku butuh uang.”


“Keputusan? Ambil? Butuh uang?” Reksa semakin dibuat penasaran. Bahkan, ia sampai memajukan tubuhnya agar bisa menguping pembicaraan antara Celine dan pria yang bernama Danu tersebut.


“Oke, bye. Nanti aku hubungi lagi. Kalau kamu belum tidur aku telepon, tapi kalau sudah aku kirim pesan saja, ya?” Celine terdiam dalam beberapa saat. “Ahaha ... bisa saja kamu, Nu! Mm, sampai jumpa.”


Celine menurunkan ponselnya, kemudian menekan tombol matikan di layar benda pintar tersebut. Tepat ketika Celine memberikan tatapan, Reksa bergegas menarik dirinya lagi, beruntung ia tidak sampai terjengkang, selain hentak kursi yang ia duduki terdengar cukup keras.


Celine mengernyitkan dahi. “Kamu kenapa, Reksa?”


“Ah, enggak. Ha-ha-ha,” jawab Reksa, sementara matanya mengerjap-ngerjap begitu cepat, dan tubuhnya mendadak terasa hangat.


***