Celine And Her Arrogant Husband

Celine And Her Arrogant Husband
Episode 51-Rahasia Kenny


Inilah rahasia Kenny. Pria muda yang super manis itu memiliki sebuah fakta yang sudah sejak lama ia simpan sendiri. Tidak seperti kakaknya, melainkan Celine yang kerap banyak bicara dan biasanya sulit menyimpan rahasia, Kenny justru begitu lihai dalam melakukan hal itu. Sesuatu yang menurutnya tidak tepat untuk diungkap, selalu ia tutup rapat-rapat. Seperti halnya tentang perasaan spesialnya pada wanita yang sudah tak asing lagi bagi keluarganya. Keira.


Sudah sekian tahun, Kenny menyukai Keira. Ia tidak tahu kapan pastinya, tetapi mungkin sejak dirinya masih berada di bangku SMA, atau mungkin sejak Celine membawa Keira ke rumah. Bagi Kenny, wanita yang saat ini terlihat sedang duduk bersama seorang pria tersebut adalah sosok yang luar biasa. Selain cantik dan pintar, Keira juga mampu menahan rasa sabar dalam menjalani hidup yang serba kesepian.


Sudah terlalu sering, Kenny mendengar cerita tentang Keira yang menjalani kencan bersama pria lain. Ada rasa cemburu jika sudah membahas tentang hal itu, tetapi Kenny selalu mampu menutup lukanya, ketika mengingat tentang siapa dirinya. Selain tidak mungkin memiliki Keira, karena dirinya lebih muda, Kenny juga bukan tipikal pria yang disukai oleh Keira. Ia tahu tentang hal itu dari Celine, saat pernah iseng untuk bertanya.


Namun, entah mengapa untuk kali ini Kenny merasa tidak nyaman. Keberadaan Keira bersama seorang pria di sebuah kafe yang juga ia kunjungi bersama salah satu teman laki-lakinya, membuat dadanya langsung bergemuruh hebat. Bahkan, Kenny menderita panas dingin saat mendapati Keira dan pria itu saling bersentuhan satu sama lain, meski sangat sederhana.


“Dia siapa? Kayaknya enggak asing?” gumam Kenny bertanya-tanya sembari memicingkan matanya menatap tampak belakang pria yang sedang bersama Keira.


“Kenapa, Ken?” tanya Yogi, teman Kenny. “Siapa yang lo lihat?”


“Ah, nggak, Bro! Cuma kenalan doang,” jawab Kenny yang lantas memalingkan wajahnya.


“Cewek ya? Mana?” Yogi tak menggubris keinginan tak langsung Kenny untuk tidak membahas hal itu lagi dan lantas menoleh ke arah belakang, mencari objek yang ditatap oleh temannya tersebut. “Mana, Ken? Yang cakep itu, yang sama cowok?”


“Apa sih, Gi! Enggak usah ditunjuk-tunjuk juga kali! Bikin malu saja!”


“Hahaha.”


Kenny tidak senang privasinya mulai dikulik oleh orang, bahkan sekalipun orang itu adalah keluarga dan teman terdekatnya. Apalagi sikap Yogi barusan benar-benar sudah keterlaluan. Yogi berani menunjuk keberadaan Keira, yang tentu saja berpotensi membuat Keira merasa tidak nyaman.


Lagi pula, sejak tadi Kenny sedang berusaha untuk tidak bertatap mata dengan Keira. Entah. Ia memang ingin tahu siapa yang sedang bersama Keira, tetapi di sisi lain, ia merasa tidak siap jika pria itu ternyata adalah kekasih baru dari sahabat terdekat dari kakaknya tersebut.


“By the way,” kata Yogi. “Sebentar lagi wisuda. Lo mau mencari kerja ke mana? Sudah ada perusahaan tujuan?”


Kenny menghela napas, lalu menggedikkan bahu. “Entah. Memang sudah ada, tapi gue enggak yakin,” jawabnya.


“Kenapa? Nilai lo cukup bagus, Ken. Gue rasa lo bisa bekerja di perusahaan keren. Ditambah lagi, suami kakak lo. Gue dengar dia adalah Reksa Wirya Pandega yang menjadi penerus perusahaan kosmetik terkenal itu, 'kan? Bisa kali, Ken, minta bantuan sama dia. Terus sekalian bantu gue, begitu.”


“Nggaklah!” tukas Kenny tegas. “Suami Celine cuma kakak ipar gue. Banyak orang cari kerja di dunia ini, Gi. Yang lebih master dari kita juga buanyak! Terus kita mau mengalahkan mereka dengan cara licik, begitu? Enggak adil, Gi. Tanpa Reksa pun, gue yakin gue bisa dapat kerja yang sesuai. Malahan, gue punya mimpi buat buka biro perjalanan sendiri. Yah, tentunya nanti kalau sudah punya modal.”


“Ngapain harus jadi babu perusahaan orang, kalau gue bisa bikin perusahaan sendiri coba? Yah, memang buat sekarang pastinya harus jadi karyawan dulu-lah. Tapi, bolehlah gue punya mimpi. Kakak gue, tahu kan, lo? Si Celine?”


Yogi mengangguk. “Kakak lo yang cantik tapi super unik itu? Hahaha, tahulah. Barusan kan gue juga bahas suami kakak lo, Pea! Lagian, gue juga pernah minta dikenalin sama dia. Tapi, lo-nya enggak mau. Heran saja, kayak enggak pernah akur, tapi lo se-protektif itu sama si Celine. Okelah, namanya juga saudara serahim. Tapi, memangnya kenapa sama Celine?”


“Dia penggila perjalanan, Gi. Kalau gue bisa punya biro perjalanan, gue pasti bisa bantu dia mewujudkan cita-citanya. Ya sih, dia memang sudah jadi istri orang kaya. Tapi, dia pernah bilang, tiket keliling dunia harus dia dapatkan dengan kerja keras sendiri, karena pasti rasanya bakalan beda. Kecuali pas bulan madu kemarin, dia ambil gratisan buat dia, tapi juga buat bikin usaha mertuanya enggak sia-sia. Sementara kalau dari bantuan gue, dia pasti enggak bakal bisa menolak. Secara, gue punya hutang banyak sama dia, Gi. Kuliah gue dia ikutan bantu biaya. Padahal, dia sendiri enggak kuliah.”


Yogi manggut-manggut. “Baik kali si Celine ternyata, Ken. Masih mau gue kalau dia masih gadis. Lo sih, kenapa dulu enggak kasih izin gue buat kenal dia?”


“Gue tahu siapa lo, Gi! Mana mau gue kasih kakak gue buat lo yang super ganjen! Banyak tuh adik-adik kelas yang lo genitin, sementara muka lo sendiri macam kresek begitu! Benar-benar enggak tahu diri!”


Alih-alih tersinggung, Yogi justru tergelak. “Parah lo, Ken! Hahaha.”


Tak berselang lama setelah percakapan itu berlangsung, Yogi meminta izin untuk ke toilet sebentar. Meninggalkan Kenny yang kembali menatap Keira dan pria tak asing itu secara diam-diam. Ya, Keira memang selalu cantik, bahkan meski wajahnya tampak sendu seperti saat ini. Namun, tak pernah sekalipun Kenny berhasil mengutarakan pujian itu untuk Keira. Rasanya ada dinding penghalang di antara dirinya dan wanita itu, sebuah dinding yang pastinya akan sulit i


untuk diruntuhkan.


Sementara pada meja yang terletak di ujung ruangan sekaligus tempat yang sedang Kenny pandang, Keira tengah duduk bersama Danu. Belakangan ini, ia memang sering menghabiskan waktu bersama pria itu. Pembahasan utama tentu saja masih mengenai Celine yang belum memberikan kabar. Dan nasib Danu yang semakin menyedihkan lantas membuat Keira turut prihatin.


Rasanya, Keira ingin mendekap tubuh Danu. Lalu menghibur pria itu, sembari memberikan belaian halus di rambutnya yang selalu tersisir rapi. Keira hanya merasa bahwa tidak ada yang salah dengan sebuah perasaan. Ia tidak membenarkan tindakannya dan juga ulah Danu terhadap Celine, tetapi ia juga tidak berhak menghakimi semua kesalahan yang sudah terjadi.


“Jadi, kamu masih ingin melanjutkan rencana kamu itu, Nu?” tanya Keira.


Danu menggeleng lemah. “Tentu saja enggak, Ra. Buat apa? Tadinya aku pikir aku bisa membantu mereka saling menyadari perasaan masing-masing. Tapi, tampaknya perasaanku sendiri terhadap Celine memang se-begitu besarnya,” jawabnya.


Keira mengerjapkan mata, merasa sesak di bagian dadanya. Sejak awal berjumpa, Danu memang membahas soal Celine dan Celine. Keira pun begitu, tetapi penyesalan di wajah Danu telah menunjukkan seberapa menderitanya pria itu pasca kehilangan kesempatan untuk bisa mendapatkan hati Celine.


Lantas, ... apakah Danu sudah benar-benar tidak bisa mencoba belajar mencintai wanita lain? Keira ... misalnya?


***