
Setelah menghabiskan makan siang yang diantarkan oleh Celine, Reksa menginginkan keberadaan istrinya itu untuk menemaninya sampai ia kembali bekerja. Lagi pula, Celine sedang tidak memiliki pekerjaan, dan pasti akan kesepian ketika sedang berada di apartemen. Mengingat sang pelayan hanya datang di pagi dan sore, demi membantu Celine memasak dan bersih-bersih saja. Sementara kantor juga tidak terlalu ramai, karena beberapa tim di dalam tempat itu hanya bekerja dalam waktu setengah hari.
“Kamu boleh tiduran, joget-joget, atau mungkin bersih-bersih, Cel. Yang penting jangan pulang dulu sampai aku beresin semua pekerjaan nantinya,” ucap Reksa pada Celine yang tampak muram di sisinya.
Celine menghela napas, lalu berkata, “Enak saja. Entah berapa jam lagi kamu selesai, sementara saat ini jam makan siang kamu saja belum habis. Lebih baik aku pulang saja deh. Buat cari-cari loker baru.”
“Hmm ... orang disuruh santai dulu, kenapa malah enggak sabar mau jadi budak perusahaan orang sih, Cel?”
Reksa benar-benar tidak senang. Ia memiliki banyak uang, aset, perusahaan, dan yang terpenting ia masih bertanggung jawab sebagai seorang suami. Belakangan ini, ia juga sudah mengatur jatah bulanan untuk Celine. Namun, istrinya itu belum juga mau menyerah untuk hidup secara mandiri.
Celine memang mandiri, Reksa tahu tentang hal itu. Akan tetapi, Reksa juga ingin menjadi sosok suami yang baik. Benar, bahwa dirinya bukanlah pria bertutur kata lembut, juga bukan pria seperti Danurdara yang katanya begitu ramah dan penuh perhatian. Ia angkuh dan kontroversial, tetapi jika sudah sayang, maka Reksa tidak akan segan-segan untuk melakukan apa pun demi orang yang ia sayang. Baik orang tua, ataupun ... pasangan. Bahkan ia pernah mengeluarkan banyak uangnya demi si Mawar—sang mantan pacar.
“Apa uang yang aku kirim enggak masuk ke ATM kamu?” selidik Reksa, siapa tahu memang ada salah dalam pengiriman uang yang sudah ia lakukan, setelah diam-diam mencari nomor rekening milik sang istri. “Atau kamu saja yang pegang kartuku? Enggak apa-apa, asal kamu enggak pusing-pusing cari kerja lagi.”
“Bukan begitu, Reksa. Lagian, kartu kamu pasti elite banget, bisa bergetar tanganku memegangnya. Aku cuma ... ingin bekerja saja, menghabiskan waktu luang,” jawab Celine. “Dan uang yang kamu kirimkan sudah masuk. Tahu, enggak? Aku sampai melongo melihat isi ATM-ku sendiri. Gila banget! Kenapa kamu kasih uang se-begitu banyaknya? Malahan bisa buat beli rumah gedongan! Kamu enggak salah transfer, ‘kan, Sa?”
“Aku kan kaya, uang segitu enggak ada apa-apanya.”
Celine mendecapkan lidah. “Percaya deh, percaya. Tapi enggak boleh sombong begitu! Semua yang kamu miliki selama di dunia, hanyalah sebatas titipan dari Sang Maha Kuasa, Reksa. Ingat itu!”
“Aku tahu tentang itu, Cel. Tapi, semua orang juga sudah tahu kalau aku sombong, Cel. Jadi, enggak perlu dirasa aneh apa pun yang aku katakan. Sayangnya, walaupun aku sangat kaya, entah kamu, orang tuamu, bahkan termasuk adikmu selalu menolak uang dariku.”
Dahi Celine mengernyit. “Keluargaku?”
“Ya. Mau bagaimanapun mereka tetap keluargaku. Masa iya aku hidup penuh gelimang harta, sementara mereka masih berkutat dengan usaha kedai kecil mereka. Tapi, ya begitu, mereka selalu menolak, sebab mereka berpikir pernikahan kita bukan ajang jual beli anak. Mereka lebih senang hidup dengan usaha sendiri, dan mungkin hal itu juga sedang kamu rasakan saat ini. Kenny pun begitu, dia malah sempat menggertakku. Setelah lulus kuliah, aku punya rencana untuk merekrut Kenny, tapi dia benar-benar enggak mau. Pengen usaha sendiri katanya.”
Celine terenyuh mendengarnya. Baik Reksa, kedua orang tuanya, dan juga Kenny. Mereka sama-sama melakukan hal yang terpuji, meski pada akhirnya tetap tidak sejalan. Sejak kecil Celine dan Kenny selalu diajarkan tentang arti sebuah kerja keras. Hasil akhir akan jauh lebih berkesan, jika berasal dari usaha diri sendiri. Yah, meskipun kalau soal makanan gratis, Celine kerap kehilangan akal. Namun, di sisi lain, ia pun tidak segan mentraktir siapa pun ketika sedang ada uang lebih.
“Terima kasih, ya, kamu sudah memikirkan aku dan keluargaku. Tapi, kenyataannya memang begitu. Kalau orang tua mau uang dan koneksi, mungkin sejak dulu mereka akan menerima tawaran dari ayah kamu, Reksa. Selain sudah kerap bekerja keras, sepertinya alasan ayah dan ibuku enggak mau menerima uang dari kamu adalah demi menjaga perasaanku. Maklum, kita kan menikah karena perjodohan. Mungkin mereka takut, kalau aku menganggap perjodohan ini sebagai barter atas anak dengan harta milik keluarga kamu,” ucap Celine.
Reksa menghela napas lalu tersenyum. “Ya, sekarang pun aku menjadi tahu kenapa kedua orang tuaku begitu menyukai keluargamu, Cel. Karena kalian berbeda, dan seingatku, sejak SMA ayah kamu adalah satu-satunya teman terdekat ayahku. Tipikal kami, maksudku diriku dan ayahku, memang mirip sekali. Enggak pandai berteman. Tapi karena usia yang sudah semakin tua, tampaknya ayahku bisa mengubah karakternya yang buruk. Berbeda dengan aku yang justru semakin enggak terkendali.”
Celine mengulurkan tangan, kemudian berangsur mengacak rambut Reksa yang sebenarnya masih sangat rapi. Kata-kata Reksa terdengar menyedihkan, tetapi paras sendunya justru kelihatan menggemaskan. Tidak dapat menahan rasa gemas, akhirnya Celine memutuskan untuk memberikan kecupan di pipi suaminya itu. Dan tentu saja, sikap Celine membuat Reksa terkejut sembari melebarkan mata.
Reksa lantas tersenyum setelah menepis keterkejutannya, lalu memberikan balasan setimpal untuk istrinya. Ia tersenyum lagi, kemudian mencium istrinya lagi. Hingga beberapa kali, mereka saling memberikan kecupan sembari mencubit pipi satu sama lain.
“Ah!” pekik Celine sembari menepis tangan Reksa yang nyaris menyentuh salah satu bagian tubuhnya. “Jangan gila! Ini di kantor, selain itu sudah waktunya kamu kembali bekerja, Reksa!”
“Ah, iya ....” Reksa terkulai lesu. “Aku harus cepat-cepat bekerja, agar bisa kencan sama kamu. Tapi ... masih lima menit lagi lho jam makan siangnya. Kayaknya boleh deh kita ngobrol dulu.”
“Iya, iya.”
Celine terkikik pelan, melihat respons suaminya yang begitu pasrah. Dan tak lama kemudian, ia terdiam sembari menghela napas. Provokasi yang Ailen katakan beberapa saat yang lalu kembali terngiang di telinga Celine. Tentang Bali yang belum ia dengar sama sekali dari Reksa. Namun, selama beberapa menit ini ia mampu menahan diri untuk tidak membahasnya. Akan tetapi, perasaan penasarannya justru kembali menyapanya saat ini.
“By the way,” kata Celine. “Mm ... kamu mau ke Bali?”
“Bali?” sahut Reksa sembari menatap istrinya. “Oh, soal itu? Mungkin. Ada pekerjaan di sana.”
“Mm, sama Alien?”
“Ailen, Cel.”
“Ya itulah pokoknya!”
“Hmm ... entah. Dia juga ada pemotretan serta syuting sebagai brand ambassador kami di sana, dan setiap ada agenda itu, aku memang selalu hadir. Aku paling enggak suka hanya terima hasil yang bisa saja enggak sesuai keinginanku. Jadi, yah, demi meminimalisir pengulangan kerja, aku selalu datang. Selama enggak ada acara yang lebih penting tentunya.”
“Kapan? Berapa lama? Bali sebelah mana? Kamu satu hotel dengan Alien? Yang lain enggak ikut? Kamu kan CEO kenapa harus—“
“Hahaha. Pelan-pelan!” potong Reksa. “Cemburu ya?”
“Enggak! Penasaran doang! Lagian, si Alien kenapa kayak sengaja banget ngomongnya pas ada aku? Buat apa? Why?! Dia suka sama kamu terus mau bikin aku kepanasan begitu? Terus, kenapa dia suka sama kamu yang jelas-jelas sombong dan ketus begini, sih? Dia kan sudah banyak yang suka, tapi kenapa malah melirik suami orang coba? Mending kalau lebih cantik dari aku! Orang bentukannya kayak begitu, banyak tambalan di mana-mana. Menang gede di itunya doang!”
Reksa tergelak mendengar semua pertanyaan Celine yang diucapkan dengan sangat cepat dan nyaris tanpa jeda. Ekspresi Celine pun beragam, dan membuat Reksa benar-benar tidak tahan untuk langsung tertawa lebar.
“Kamu cemburu, Cel. Kamu jelas-jelas cemburu!” ucap Reksa.
Celine berangsur lesu. “Entahlah, aku enggak tahu! Yang pasti aku enggak suka sama dia!”
“Kamu cuma perlu percaya sama aku, Celine.” Reksa meraih jemari Celine dan lantas memberikan genggaman. “Entah spekulasimu tentang Ailen suka sama aku itu benar, atau salah. Yang pasti aku enggak bakalan menyeleweng. Buat apa? Mengurus kamu saja sudah bikin aku kerap kebingungan. Apa lagi cewek itu yang jelas-jelas lebih aneh dari kamu.”
“Aku percaya kok. Cuma ya, aku enggak suka saja sama Alien. Entah, aku jarang membenci orang. Tapi, sikap dia tadi benar-benar keterlaluan. Selain kayak sengaja bikin aku kepanasan, dia juga kayak menganggap aku enggak ada.”
“Mungkin, kita harus lebih sering kelihatan berdua, Cel. Biar semua orang tahu, kalau kamu sangat berharga buat aku.”
Berharga? Celine tercenung setelah mendengarnya. Yang tak lama kemudian, wajah hingga tubuhnya terasa menghangat. Reksa sudah berhasil membuat kecemasannya menghilang, bahkan pria itu sukses memancing perasaan malu-malu, yang seolah memiliki rona merah jambu.
***